NovelToon NovelToon
NAFSU SUAMI IMPOTEN

NAFSU SUAMI IMPOTEN

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Wanita Karir / CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:4.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ratu Darah

Michelle Valen seorang seniman muda terkenal yang meninggal karena penghianatan sahabat dan tunangannya, ia berpindah jiwa kedalam tubuh Anita Lewis.
Diberikan kesempatan hidup kedua ditubuh orang lain, ia memulai pembalasan dendam dan merebut kembali identitas dirinya yang telah direbut oleh mereka.
Pernikahan dadakan dengan Dion Leach sang CEO gila yang terkena racun aneh, menjadikannya batu loncatan demi bertahan hidup, keduanya sama-sama saling memanfaatkan dan menguntungkan.

Mau tau kelanjutan dan keseruan ceritanya?
Silahkan mampir guys....
Happy reading, semoga cukup menghibur...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ratu Darah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Bab 25 Penyakit Kambuh Bagaikan Iblis

Dorrr!

Anita mendongak ke atas ketika suara keras bergema dari lantai dua.

Brak!

Seperti sesuatu jatuh menghantam lantai keras. Lalu disusul deretan suara lain, bam! bam! bam! menggema tanpa henti. Seisi rumah seolah berguncang.

Ia bisa merasakan ketegangan menanjak di dadanya. Tanpa pikir panjang, Anita mengangkat kaki hendak naik, namun tangan keriput Drake menahan pergelangan tangannya dengan kuat.

“Anita, apa yang kau lakukan?” tanya kakeknya cemas.

“Aku harus melihat Dion,” suara Anita tegas, matanya menatap ke arah atas. “Aku tak bisa membiarkan dia terus seperti itu.”

Drake menariknya kembali, wajahnya berubah pucat pasi. “Tidak! Kau tidak boleh pergi! Dia sedang kambuh. Saat begini, dia tidak mengenali siapa pun. Kalau kau mendekat, bisa-bisa kau terluka parah… atau......” suaranya tercekat, nyaris tak sanggup melanjutkan kata mati.

Dari lantai dua terdengar lagi suara benda dihantam, crash! lalu prang! pecahan kaca beterbangan. Anita menatap tajam ke atas, napasnya memburu. Ia tahu, serangan Dion kali ini jauh lebih parah dari sebelumnya.

Tak lama kemudian, delapan pengawal bergegas masuk. Langkah kaki mereka berat di tangga, dan suara benturan terdengar saat mereka mendobrak pintu lantai atas.

DOR! gema pintu yang terbuka paksa itu membuat Anita menahan napas.

Ia sempat melirik ke arah jendela dan mendapati sosok samar di luar , seorang penembak jitu yang sudah bersiaga, berdiri diam dalam bayangan pohon. Laras senjatanya menatap ke arah rumah. Semua telah disiapkan untuk skenario terburuk.

“Aku mau ke atas,” Anita berkata mantap, “Aku tak akan membiarkan mereka memperlakukan Dion seperti binatang.”

Drake menggenggam lengannya makin kuat, nyaris putus asa. “Tidak, Anita! Kau terlalu rapuh! Kalau naik ke sana, kau bisa mati! Bahkan wanita-wanita yang dulu dikirim untuk menemaninya pernah dipukuli hingga masuk rumah sakit. Kau tak tahu seberapa berbahayanya dia saat serangan datang!”

Anita menggertakkan gigi. “Aku tidak akan tinggal diam!”

Dari atas, suara perkelahian meledak , thud! brak! klang! Di sela-selanya terdengar teriakan pria dan benturan keras tubuh melawan tembok. Rumah seolah bergetar.

Tiba-tiba prang! dua pengawal terlempar keluar dari pintu atas dan jatuh berguling di lantai bawah. Darah menetes dari pelipis salah satu dari mereka.

Anita menepis tangan kakeknya. “Ini tidak akan berhasil. Aku harus ke atas!”

Drake berusaha menahan, tapi sebelum sempat berbicara lagi, suara berat dan tegas terdengar dari arah pintu masuk.

“Hentikan dia.”

Para pengawal yang jatuh di dekat tangga segera bangkit dan menghadang Anita di anak tangga pertama. Mereka membuat barisan, menghalangi jalannya.

Anita mendongak ke arah suara itu. Seorang pria berpenampilan rapi masuk dari pintu depan , berkacamata berbingkai emas, dengan sorot mata tajam namun lembut. Aura elegannya menyamarkan bahaya di balik sikap tenangnya.

Drake memandangnya seolah melihat penyelamat. “Jaccob! Kau akhirnya datang!” serunya dengan lega. “Segera periksa Dion, tenangkan dia sebelum terlambat!”

Jaccob hanya mengangguk singkat. Ia menaiki tangga perlahan, lalu berhenti di samping Anita, menatapnya dengan tenang dari atas ke bawah.

Suara Jaccob lembut namun tegas, “Kalau kau masuk ke sana sekarang, kau hanya akan memperburuk keadaannya. Dia tidak sadar. Dan jika dia melihatmu, reaksinya bisa mematikan.”

Anita terdiam, tetapi napasnya tetap berat. Di kejauhan terdengar crang! suara rantai yang diseret, lalu boom! seperti meja dihantam tembok.

Ketegangan itu membuat kulit leher Anita menegang. Ia menggigit bibir, hatinya menolak tinggal diam, tapi mata Jaccob menunjukkan keyakinan bahwa ia tahu apa yang sedang dilakukan.

Drake di bawah menunduk, dadanya naik turun, suaranya bergetar berdoa pelan. Di luar, penembak jitu tetap siaga, ujung larasnya berkilat tertimpa cahaya bulan. Peluru khusus di dalamnya bukan untuk membunuh , melainkan untuk menenangkan.

Di atas, suara amukan Dion kian menggila. Bam! Thud! Prang! lalu teriakan berat yang membuat bulu kuduk berdiri.

Rumah itu hening beberapa detik, seolah semua orang menahan napas menunggu ledakan berikutnya.

Anita mengepalkan tangan, matanya merah karena takut sekaligus cemas. Ia tahu di balik amukan itu, Dion sedang berjuang dengan dirinya sendiri. Dan setiap teriakan yang ia dengar, terasa seperti belati yang menusuk langsung ke dadanya.

Jaccob melangkah perlahan menuju pintu kamar Dion. Cahaya redup dari lorong menyinari wajahnya yang serius.

Sementara Anita hanya bisa berdiri di ujung tangga, tubuhnya gemetar menahan air mata, berharap Jaccob bisa menyelamatkan Dion sebelum semuanya terlambat.

Anita menatap Jaccob dengan tajam, napasnya perlahan tapi berat.

“Kau yakin dengan apa yang kau katakan?” suaranya terdengar datar tapi bergetar halus di ujungnya.

Jaccob menghela napas pendek, menatapnya dengan ekspresi sulit dibaca.

“Anita, kau tahu kenapa Dion bisa tiba-tiba mengalami serangan itu?” tanyanya perlahan.

Anita menggeleng pelan. Ia benar-benar tidak tahu.

Jaccob menatap ke arah tangga menuju kamar atas, kemudian menatap Anita lagi.

“Setiap kali Dion kambuh, dia akan benar-benar membenci kehadiran wanita. Kalau ada perempuan di dekatnya, serangannya justru makin parah.”

Alis Anita berkerut dalam. “Apa-apaan itu? Penyakit aneh macam apa…” gumamnya, setengah tak percaya.

Jaccob hanya menggeleng, langkahnya kembali naik satu anak tangga sambil berkata datar, “Kalau kau masih ingin hidup, jangan naik ke atas. Tapi kalau kau ingin mati, silakan… asal jangan menyakitinya.”

Tap. Tap. Tap.

Suara langkah Jaccob bergema di tangga marmer, diikuti tatapan dingin dari para pengawal yang berdiri di sisi kanan dan kiri. Mereka menyingkir memberi jalan untuknya.

Anita tetap berdiri di tempat, memandangi punggung Jaccob yang menghilang di balik belokan tangga. Ia lalu menoleh ke arah Tuan Leach tua.

Tuan Leach tua menghela napas panjang, wajahnya tampak lelah.

“Dia tidak berbohong, Anita. Tidak ada gunanya kau ke sana sekarang. Ayo keluar. Aku khawatir mereka tidak bisa menahan Dion dan dia bisa keluar menyerang siapa pun.”

Namun Anita tidak menjawab. Pandangan matanya justru semakin keras. Dalam satu gerakan cepat, ia melangkah menaiki tangga.

“Anita! Jangan keras kepala!” seru Tuan Leach tua di belakangnya.

Seorang pengawal berdiri di puncak tangga, menghalangi jalannya.

“Nyonya Leach, mohon turun kembali. Atau jangan salahkan kami kalau.....”

Brak!

Ucapan itu terhenti di tengah kalimat. Tubuh sang pengawal terhempas keras ke lantai setelah Anita menendangnya tanpa ragu.

Semua orang terdiam sepersekian detik. Tuan Leach tua terpaku, lalu berteriak, “Apa yang kalian tunggu? Cepat hentikan dia!”

Beberapa pengawal segera bergerak. Whoosh! Suara langkah kaki berat bergema, tapi satu per satu mereka justru terpelanting.

Dugh! Plak! Brak!

Anita menghajar mereka tanpa basa-basi, gerakannya cepat, dingin, presisi.

Tuan Leach tua sampai membeku di tempat. Ia baru sadar latihan bela diri Anita setiap pagi bukan sekadar gaya-gayaan. Ia benar-benar bisa bertarung.

Dalam hati, ia bahkan mulai berharap semoga hanya Anita yang mampu menenangkan Dion kali ini.

Ketika Anita sampai di depan kamar, ia melihat Jaccob sedang membuka kotak obat di tangan, mengeluarkan sebotol cairan bening dari dalamnya.

Suara rantai berdenting dari dalam ruangan. Klang! Klang!

Suara itu diiringi geraman rendah dan teriakan penuh amarah.

Anita menatap botol itu dan bertanya tajam, “Jaccob, kau mau menggunakan penenang Noan padanya?”

Jaccob terkejut dan menatap Anita penuh curiga.

“Kau tahu soal obat ini?”

Anita menatapnya dingin. “Obat itu punya efek samping berat. Bisa bikin ketagihan. Kau menyebut ini cara untuk menyelamatkannya?”

Jaccob mengangkat bahu, ekspresinya tegang tapi tetap dingin.

“Kalau obat penenang biasa tak mempan, ini satu-satunya pilihan. Efek sampingnya tidak seberapa dibandingkan dengan kematian.”

Bang!

Tiba-tiba terdengar suara keras dari dalam kamar. Seorang pengawal terlempar keluar, menabrak dinding dan jatuh tak sadarkan diri.

Graak! Suara rantai terdengar lagi. Dion di dalam kamar meraung, suaranya berat dan mengerikan.

Delapan pengawal di dalam sana sudah berusaha menahannya dengan rantai, tapi tubuh pria itu terlalu kuat, auranya bagaikan binatang buas yang tak bisa dijinakkan.

Anita tak bicara lagi. Ia melangkah masuk.

“Anita!” Jaccob berteriak, mencoba menahan lengannya. “Kalau kau masuk, kau bisa mati, dengar?! Kalau kau ingin...... Argh!”

Sebuah pukulan telak mendarat di wajahnya. Plak!

Jaccob terhuyung, hidungnya berdarah, tak sempat membalas. Anita sama sekali tidak menoleh.

Ia melangkah masuk ke kamar yang remang, udara di dalam terasa panas dan mencekam.

Clang! Clang!

Rantai besar terikat di pergelangan tangan kanan Dion, membatasi geraknya tapi tak cukup kuat menahan tenaga liarnya.

Matanya merah menyala, urat di lehernya menonjol, napasnya berat dan terputus-putus.

“Arghhh!” raungnya seperti binatang terluka.

Anita berdiri di ambang pintu, menatap pria yang biasanya tenang dan anggun itu kini berubah jadi sosok buas.

Sama sekali bukan Dion yang ia kenal.

Ia melangkah pelan, suaranya lembut tapi tegas.

“Dion.”

Pria itu berhenti sejenak. Bahunya naik-turun cepat, napasnya kasar.

Namun matanya tidak memandangnya seperti manusia, lebih seperti serigala lapar yang baru menemukan mangsanya.

Dalam pandangannya, ruangan telah berubah menjadi merah gelap.

Dan Anita... bukan lagi Anita.

Di matanya, perempuan itu tampak seperti siluet hitam dengan aura iblis yang berkilat.

Langkahnya yang perlahan justru terdengar menakutkan. Tap... tap... tap...

Dion menggeram, rantainya bergetar keras. Clang! Craaak!

Suara logam yang tegang itu menggema bersamaan dengan napas Anita yang menahan ketegangan.

Seketika itu, dunia di antara mereka seakan berhenti bergerak , antara manusia dan binatang, antara cinta dan bahaya.

Dan di dalam ruangan yang penuh aura darah itu,

Anita sadar…

bahwa kali ini, dia bukan datang untuk menolong.

Dia datang untuk menjadi mangsanya.

Tubuh Dion tegang. Dari matanya yang merah pekat, terpancar bahaya yang belum pernah Anita lihat sebelumnya. Nafasnya memburu, haaah… haaah…, seperti binatang buas yang baru keluar dari kandang.

Tiba-tiba ia meraung keras. Raaaghhh!

Tinju besarnya meluncur ganas ke arah Anita atau tepatnya, ke arah “iblis” yang dilihatnya dalam penglihatan kabur itu.

Brakk!

Udara bergetar, rantai di pergelangan tangannya ikut berdentang keras, clang! clang! clang!

Anita spontan melompat mundur, menghindari serangan itu. Gerakannya lincah, tapi tidak agresif. Ia menatap Dion dengan mata lembut dan bersuara pelan, menenangkan,

“Dion… ini aku. Anita. Tenanglah, sayang…”

Namun suara itu yang bagi Dion biasanya menenangkan, kini terdengar seperti desisan setan. Di telinganya, suara Anita terdistorsi, menyeramkan, seolah menggoda dan mengancam sekaligus.

Dugg! Dugg! Brak!

Tinju-tinju Dion menghantam udara, meja, dinding. Setiap pukulan diarahkan ke titik-titik vital di tubuh Anita. Ia bertarung tanpa kesadaran, sepenuhnya dikuasai amarah dan sakit di pikirannya.

“Dion! Dengarkan aku!” Anita masih mencoba memanggilnya di sela-sela napas, terus menghindar. Tapi bagi Dion, bayangan di hadapannya hanyalah iblis yang harus dihancurkan.

Di sisi lain ruangan, Jaccob menutup hidungnya yang masih berdarah akibat pukulan Anita sebelumnya. Darah merembes dari sela jarinya, menetes ke lantai, titik… titik…

“Kau malah memperburuk keadaan!” teriaknya keras. “Dia tidak akan mendengarkanmu, bodoh! Kau ingin mati, ya?!”

Amarahnya memuncak, bukan hanya pada Dion yang tak bisa dikendalikan, tapi juga pada Anita yang menurutnya sok tahu. “Perempuan sialan… sok suci!” gumamnya penuh geram.

Sementara itu, Dion makin mengamuk. Raaahh! Brakkk!

Rantai di tangannya menegang, besi menjerit di dinding tempat rantai itu terikat. Tubuhnya seperti monster yang berusaha lepas dari penjara.

Jaccob tahu mereka sudah kehabisan waktu. Ia menoleh ke arah luar ruangan dan berteriak,

“Penembak jitu! Bersiap!”

Suara melalui alat komunikasi menjawab singkat, “Siap, Tuan.”

Ia mengeluarkan sebotol kecil cairan dari saku jasnya. “Kalau penenang biasa gagal, kita pakai Noan,” desisnya, rahangnya menegang. “Ini opsi terakhir.”

Anita terus berusaha menenangkan Dion, tapi gagal. Tubuh pria itu bergerak makin cepat, pukulannya makin mematikan. Akhirnya, Anita berhenti menghindar. Ia menarik napas dalam dan menegakkan tubuhnya.

Swiiish!

Dalam sekejap, serangan Dion dibalas. Gerakan Anita berubah lembut, tapi bertenaga. Ia menangkis tinjunya, lalu memutar pergelangan tangan Dion dan mendorongnya keras ke belakang.

Braaak!

Tubuh Dion menghantam dinding, membuat plester dan debu berjatuhan.

Seketika itu juga, swiing! sebuah jarum suntik melesat di udara, menembus ruangan, tapi hanya menancap di dinding beberapa sentimeter dari kepala Dion.

“Gagal!” seru Jaccob frustasi. Ia menoleh tajam ke arah Anita.

“Berhenti ikut campur! Kau bukan pahlawan! Sialan!”

Anita tidak menggubris. Tubuhnya kini bergerak berhadapan langsung dengan Dion, setiap langkahnya diiringi bunyi napas berat dan benturan keras.

Dugg! Tak! Brakk!

Mereka seimbang. Tubuh Anita yang ramping menahan setiap hantaman Dion, tapi keringatnya mulai membasahi pelipis.

Dari luar jendela, penembak jitu kembali menembakkan beberapa jarum penenang. Psshh! Psshh!

Namun semuanya meleset , terhalang oleh pergerakan Anita yang terus berpindah posisi.

“Target tidak stabil,” suara dari alat komunikasi. “Tembakan terakhir.”

“Lakukan!” bentak Jaccob. “Kalau perlu, tembak saja wanita bodoh itu juga!”

Matanya memerah, separuh karena kemarahan, separuh karena keputusasaan. Dion tak bisa terus begini, setiap detik serangannya bisa membuat jantungnya pecah.

“Bidik dia! Jangan ragu!” teriak Jaccob lagi.

Penembak jitu mengatur napas, membidik dengan stabil. Di dalam ruang bidiknya, Anita dan Dion tampak seperti dua bayangan yang saling menelan.

“Tiga… dua… satu…”

Psshh!

Jarum penenang melesat lagi, menembus udara dengan suara lirih.

Namun Anita punya pendengaran tajam. Seketika, ia menangkap arah suara itu.

Clang!

Ia meraih rantai Dion dan memutarnya, membuat jarum itu mental ke arah lain tanpa menoleh sedikit pun.

Di saat bersamaan, ssst! Jaccob merasa lengannya perih. Ia menunduk dan terkejut melihat sebuah jarum suntik tertancap di sana.

“Sial.... !” katanya, sebelum tubuhnya limbung. Pandangannya buram. Beberapa detik kemudian, dug! tubuhnya ambruk ke lantai, tak sadarkan diri.

Di tengah kekacauan itu, Anita mencengkeram rantai yang melilit pergelangan Dion.

Dengan satu gerakan cepat, ia melilitkannya di tubuh pria itu, memutar badannya, lalu.....

Braaak!

Dion terbanting ke dinding lagi, rantai menegang keras di dadanya.

Anita mendekat, wajahnya setengah berpeluh, setengah dingin. Bibir merahnya menunduk, menyentuh bibir Dion dengan perlahan, berbisik pelan tapi penuh peringatan,

“Tuan Leach…” suaranya serak namun menggoda,

“kalau Anda tidak mau tenang… saya bisa jauh lebih kejam dari ini.”

Hening.

Yang tersisa hanya napas dua insan itu yang saling berburu, saling menelan udara yang sama.

Dan di antara rantai, darah, dan keringat… tak ada yang tahu siapa yang benar-benar memburu siapa.

---

Bersambung.....

1
Maycosta
Tetap sehat dan semangat sukses selalu ya
Noona Manis Manja: Terimakasih kk 😍
Salam sukses untukmu juga 🤗
total 1 replies
Binay Aja
tetap semangat nulisnya 💚
Noona Manis Manja: Terimakasih kk , tetap semangat juga untukmu ... salam kenal juga 🙏🏻
total 1 replies
Binay Aja
Hai, kak. Salam kenal cerita nya seru. jika berkenan singgah ke rumah ku yuk, Sentuhan Takdir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!