"Aku membelimu seharga 10 miliar. Jadi, jangan harap bisa melarikan diri dariku, bahkan ke sekolah sekalipun."
Gwen (18 tahun) hanyalah siswi SMA tingkat akhir yang bercita-cita kuliah seni. Namun, dunianya runtuh saat ayahnya kabur meninggalkan hutang judi sebesar 10 miliar kepada keluarga terkaya di kota itu.
Xavier Aradhana (29 tahun), CEO dingin yang dijuluki 'Iblis Bertangan Dingin', memberikan penawaran gila: Hutang lunas, asalkan Gwen bersedia menjadi istri rahasianya.
Bagi Xavier, Gwen hanyalah "alat" untuk memenuhi syarat warisan kakeknya. Namun bagi Gwen, ini adalah penjara berlapis emas. Ia harus menjalani kehidupan ganda: menjadi siswi lugu yang memakai seragam di pagi hari, dan menjadi istri dari pria paling berkuasa di malam hari.
Sanggupkah Gwen menyembunyikan statusnya saat Xavier mulai menunjukkan obsesi yang tak masuk akal? Dan apa yang terjadi saat cinta mulai tumbuh di tengah kontrak yang dingin?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mr. Awph, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Hutang Sepuluh Miliar Ayah
Tatapan yang sangat menuntut dari Xavier membuat Gwenola merasa seolah seluruh oksigen di dalam paru-parunya ditarik paksa keluar. Ia memandang lembaran kertas di atas meja kayu yang berdebu dengan pandangan buram karena air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Pimpinan perusahaan raksasa itu masih berdiri tegak dengan keangkuhan yang nyata, menunggu jawaban dari bibir mungil yang kini nampak bergetar hebat.
Gwenola mencoba menelan ludah meski tenggorokannya terasa sangat kering dan mencekat. Ia menatap deretan angka nol yang berbaris rapi di dalam dokumen tersebut, sebuah nominal yang tidak akan pernah bisa ia bayangkan jumlahnya secara nyata.
Sepuluh miliar adalah angka yang terlalu besar untuk ditanggung oleh seorang siswi sekolah menengah atas sepertinya.
"Sepuluh miliar itu bukan jumlah yang sedikit, dan ayahku tidak mungkin melakukan hal sekeji itu padamu," rintih Gwenola sambil menggelengkan kepala perlahan.
Xavier melangkah maju, memangkas jarak hingga bayangannya yang besar menyelimuti tubuh mungil gadis di hadapannya. Ia meletakkan kedua tangannya di pinggiran meja, mengunci pergerakan sang gadis dengan tatapan yang sangat tajam dan mengintimidasi.
Aroma kayu cendana yang mahal dari tubuh pria itu kini bercampur dengan bau hujan yang masih menderu keras di luar rumah.
"Bukti transaksi ini sudah cukup untuk menyeret ayahmu ke balik jeruji besi selama sisa hidupnya," suara Xavier terdengar sangat berat dan penuh penekanan.
Ia menunjukkan beberapa lembar bukti transfer yang ditandatangani oleh sang ayah di bawah tekanan hutang judi yang menjerat keluarga mereka. Gwenola menutup mulutnya dengan telapak tangan yang gemetar karena rasa terkejut yang luar biasa.
Ia menyadari bahwa pahlawan hidupnya selama ini ternyata menyembunyikan sisi gelap yang sangat mengerikan.
"Kenapa ayah harus melakukan ini kepada kami, kenapa beliau meninggalkan aku sendirian menghadapi iblis sepertimu?" bisik Gwenola dengan suara yang nyaris hilang ditelan kebisingan badai.
Mendengar sebutan iblis, Xavier justru menunjukkan sebuah senyuman tipis yang sangat misterius dan penuh maksud tersembunyi. Ia mengulurkan jari telunjuknya, menyentuh lelehan air mata di pipi gadis itu dengan gerakan yang sangat pelan namun terasa sangat mengancam.
Keberadaan pria ini di rumahnya terasa seperti sebuah kutukan yang sangat indah namun mematikan.
"Iblis ini adalah satu-satunya orang yang bisa menjamin ibumu tetap mendapatkan perawatan di rumah sakit terbaik," ucap Xavier dengan nada yang sangat tenang.
Pernyataan itu seketika membuat jantung Gwenola berdenyut menyakitkan karena teringat akan ibunya yang sedang berjuang melawan penyakit gagal ginjal kronis. Jika dukungan dana dari perusahaan pria ini dicabut, maka nasib ibunya akan berakhir dalam hitungan hari saja.
Kesadaran itu membuat pertahanannya runtuh sepenuhnya dan ia pun jatuh terduduk di atas lantai yang sangat dingin.
"Kau sangat licik karena menggunakan nyawa ibuku sebagai senjata untuk menjeratku dalam kontrak gila ini," ucap Gwenola dengan sisa keberanian yang ia miliki.
Xavier ikut berjongkok, menyamakan tingginya dengan gadis yang nampak sangat hancur itu. Ia memegang dagu sang gadis, memaksa mata yang sembab itu untuk menatap langsung ke dalam manik matanya yang sehitam malam.
Tidak ada belas kasih di sana, yang ada hanyalah ambisi dan keinginan yang sangat kuat untuk memiliki.
"Dunia bisnis tidak mengenal belas kasih, dan aku hanya sedang mengamankan investasiku yang paling berharga," balas Xavier dengan suara yang sangat dingin.
Ia memberikan pena berwarna emas itu sekali lagi ke tangan Gwenola yang sudah kehilangan arah tujuan hidupnya. Gadis itu menatap pena tersebut seolah benda itu adalah sebilah belati yang siap menikam jantungnya sendiri kapan saja.
Dengan napas yang sesak, ia mulai membayangkan bagaimana masa depannya sebagai siswi sekolah menengah atas akan berubah menjadi sebuah rahasia besar.
"Jika aku menandatangani ini, apakah kau benar-benar akan melunasi hutang ayah dan menyembuhkan ibuku?" tanya Gwenola dengan penuh keraguan yang mendalam.
Xavier mengangguk perlahan sambil terus menatap wajah istrinya di masa depan dengan pandangan yang sangat posesif. Ia tahu bahwa mulai saat ini, gadis di hadapannya tidak akan pernah bisa melarikan diri dari jangkauan kekuasaannya yang sangat luas.
Ia akan menjadi pemilik sah atas jiwa dan raga gadis remaja yang masih nampak sangat murni ini.
"Aku memegang janji lebih kuat daripada nyawaku sendiri, jadi segera selesaikan tanda tanganmu sebelum aku berubah pikiran," perintah Xavier dengan nada yang sangat tegas.