NovelToon NovelToon
Mahkota Untuk Aurora

Mahkota Untuk Aurora

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi
Popularitas:97
Nilai: 5
Nama Author: apel manis

Di malam gerhana darah yang terkutuk, Kerajaan Aethelgard kehilangan jantungnya. Putri Aurora Lyris Valerius, sang pewaris tunggal yang baru berusia satu tahun, diculik dalam kabut sihir hitam, meninggalkan tujuh kakak angkatnya dalam penyesalan abadi. Delapan belas tahun berlalu, sang Putri tidak tumbuh di atas ranjang sutra,melainkan di bawah cambukan dingin Kerajaan Noxvallys. Dikenal hanya sebagai "Ara", ia hidup sebagai pelayan rendahan yang disiksa oleh Putri Morena Valeska yang semena-mena.


Warning!!Cerita asli dan murni dari pikiran penulis.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon apel manis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22

Pagi pertama setelah perang besar terasa sangat berbeda. Matahari terbit dengan warna emas yang bersih, tidak lagi tertutup asap hitam atau kabut sihir. Namun, di dalam istana, kesibukan baru telah dimulai. Rakyat yang mengungsi mulai kembali ke rumah mereka, dan para prajurit bekerja sama membersihkan puing-puing reruntuhan.

Di balkon menara utama, Alistair berdiri sendirian. Ia menatap telapak tangannya yang kini tertutup sarung tangan kulit hitam. Di balik sarung tangan itu, rasa panas seperti terbakar terus menjalar. Ia perlahan membukanya dan mendesis kesakitan. Garis hitam yang sebelumnya kecil, kini telah memanjang hingga ke pergelangan tangannya, menyerupai urat nadi yang mati.

"Kutukan darah..." bisik Alistair pada dirinya sendiri. "Malakor, kau benar-benar licik."

"Kak Alistair?"

Suara lembut Aurora membuat Alistair tersentak. Dengan cepat, ia mengenakan kembali sarung tangannya dan berbalik, memasang wajah setenang mungkin.

"Oh, Aurora. Kau sudah bangun? Harusnya kau istirahat lebih lama. Kau baru saja menyelamatkan dunia kemarin," ucap Alistair sambil tersenyum tipis.

Aurora berjalan mendekat, ia membawa nampan berisi dua cangkir teh hangat. "Aku tidak bisa tidur. Setiap kali aku memejamkan mata, aku masih mendengar suara ledakan itu. Lagipula, aku ingin bicara denganmu."

Aurora meletakkan nampan di meja kecil. Ia menatap Alistair dengan saksama. "Kak, sejak kemarin kau terus memakai sarung tangan itu. Bahkan saat makan malam tadi. Ada apa? Apa tanganmu terluka?"

Alistair terdiam sejenak. Ia melihat mata biru adiknya yang begitu tulus. Ada dorongan dalam hatinya untuk menceritakan semuanya, namun ia takut. Jika Aurora tahu bahwa sisa kekuatan Malakor kini berpindah ke tubuh kakaknya sendiri, Aurora pasti akan menyalahkan dirinya lagi.

"Hanya luka goresan biasa, Aurora. Terkena serpihan pedang musuh yang berkarat. Caspian bilang aku harus menutupinya agar tidak terkena debu," bohong Alistair. Ia merasa hatinya mencubit saat melihat Aurora mengangguk percaya.

"Syukurlah kalau begitu. Aku sempat takut kalau sihir hitam itu mengenaimu," ucap Aurora lega. "Ngomong-ngomong, Kak, aku sudah bicara dengan Ayahanda. Aku ingin melakukan perjalanan ke desa-desa yang hancur. Aku ingin menggunakan kekuatan Permata Zamrud untuk membantu memulihkan ladang dan menyembuhkan mereka yang terluka."

Alistair mengerutkan kening. "Perjalanan lagi? Kau baru saja pulang, Aurora. Kerajaan masih belum sepenuhnya aman."

"Justru karena itu aku harus pergi, Kak," Aurora memegang tangan Alistair yang bersarung tangan. Alistair sedikit berjengit karena rasa panas di tangannya beradu dengan kekuatan suci Aurora. "Rakyat butuh melihat bahwa Putri mereka peduli. Aku tidak ingin menjadi putri yang hanya duduk di singgasana sementara rakyatku menderita."

Di ruang makan bawah, suasana jauh lebih berisik. Gideon sedang berebut potongan terakhir pai daging dengan Fabian, sementara Benedict hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengasah kapak besarnya.

"Hei! Berikan padaku, Fabian! Aku yang paling banyak menembak laba-laba kemarin! Aku butuh protein lebih banyak!" teriak Gideon sambil menarik piringnya.

"Aku yang menahan sayap Morena agar dia tidak memakanmu, Bodoh! Aku lebih berhak atas pai ini!" balas Fabian tak mau kalah.

Brak!

Benedict memukul meja pelan, namun cukup membuat kedua adiknya itu diam. "Kalian berdua seperti anak kecil. Lihat itu, Aurora dan Alistair datang. Bersikaplah sopan sedikit."

Aurora masuk ke ruangan sambil tertawa melihat tingkah kakak-kakaknya. "Biarkan saja, Kak Benedict. Kalau mereka tidak rebutan, rasanya bukan istana Aethelgard namanya."

"Aurora!" Gideon langsung melupakan painya dan berlari menghampiri adiknya.

"Dengar-dengar kau mau pergi keliling desa? Aku ikut! Aku akan jadi pemandumu yang paling tampan!"

"Enak saja! Aku yang ikut!" sahut Fabian. "Gideon hanya akan membuat kuda-kuda kita ketakutan dengan nyanyian sumbangnya."

"Aku setuju dengan rencana Aurora," suara berat Alaric terdengar dari pintu masuk. Sang Raja berjalan masuk didampingi Ratu Elara.

"Aethelgard butuh harapan. Tapi, Aurora tidak akan pergi sendirian."

Raja Alaric menatap ketujuh putranya. "Alistair, kau pemimpin tim. Benedict dan Gideon akan ikut mengawal. Sisanya tetap di sini untuk membantuku membangun kembali tembok kota dan menjaga keamanan perbatasan."

Alistair mengangguk. "Siap, Ayahanda."

Persiapan keberangkatan dilakukan dengan cepat. Mereka hanya membawa barang-barang seperlunya. Perjalanan pertama mereka adalah menuju Desa Eldervale, tempat yang pertama kali diserang oleh pasukan bayangan.

Sepanjang perjalanan, pemandangan di pinggir jalan masih memperlihatkan bekas-bekas peperangan. Pohon-pohon yang hangus dan tanah yang hitam. Namun, setiap kali mereka melewati desa kecil, orang-orang akan keluar dari rumah mereka dan bersorak saat melihat panji naga emas Aethelgard berkibar.

"Lihat itu, Aurora! Mereka semua memanggil namamu," bisik Gideon bangga.

Aurora turun dari kudanya saat mereka sampai di pusat desa Eldervale. Desa itu masih hancur, namun orang-orang sedang berusaha membangun kembali rumah mereka. Seorang anak kecil mendekati Aurora dengan kaki yang diperban.

"Putri... apakah desa kami bisa kembali hijau seperti dulu?" tanya anak itu dengan mata berkaca-kaca.

Aurora berlutut di depan anak itu. Ia mengeluarkan tongkatnya. Permata Zamrud yang berwarna hijau mulai bersinar lembut. "Tentu saja, Sayang. Hutan dan tanah ini mencintai kalian. Mereka hanya sedang beristirahat sebentar."

Aurora menempelkan ujung tongkatnya ke tanah. Cahaya hijau merambat seperti akar di bawah tanah, menyebar ke seluruh penjuru desa. Dalam hitungan detik, rumput-rumput kecil mulai tumbuh dari tanah yang tadinya hangus. Pohon-pohon apel yang sudah mati perlahan menumbuhkan tunas baru yang segar.

Rakyat desa terperangah. Mereka langsung bersorak gembira, ada yang menangis sambil memeluk tanah mereka yang kembali subur.

"Ini ajaib!" teriak warga desa.

Alistair melihat adiknya dari kejauhan. Ia merasa sangat bangga, namun tiba-tiba rasa sakit di tangannya kembali menyerang. Kali ini lebih kuat. Ia memegangi lengannya dan sedikit terhuyung.

"Kak Alistair?" Benedict yang berada di dekatnya segera menahan tubuh Alistair. "Kau pucat sekali. Apa lukamu benar-benar hanya goresan?"

Alistair berkeringat dingin. "Aku... aku hanya butuh air, Benedict. Jangan beri tahu Aurora. Aku tidak ingin merusak momen bahagia ini."

Benedict menatap Alistair dengan curiga.

Sebagai orang yang paling lama berlatih fisik dengan Alistair, ia tahu kakaknya itu punya daya tahan tubuh yang luar biasa. Sangat aneh jika ia lemas hanya karena perjalanan singkat.

"Ada yang kau sembunyikan, kan?" bisik Benedict tajam.

"Nanti, Benedict. Bukan sekarang," jawab Alistair sambil mengatur napasnya.

Malam harinya, mereka berkemah di tepi hutan dekat desa. Gideon sedang sibuk membakar ikan hasil tangkapannya di sungai, sementara Aurora duduk di dekat api unggun, menulis sesuatu di buku catatannya.

Benedict menarik Alistair menjauh dari perkemahan, menuju kegelapan di bawah pohon besar. "Sekarang, buka sarung tanganmu," perintah Benedict tegas.

"Benedict, jangan sekarang..."

"Buka, atau aku akan memaksa dan membuat Aurora melihatnya!" ancam Benedict.

Alistair menghela napas pasrah. Ia perlahan membuka sarung tangan hitamnya. Di bawah cahaya bulan yang redup, Benedict terkesiap. Urat hitam itu kini tidak hanya sampai pergelangan tangan, tapi sudah mulai merayap naik ke arah siku. Urat itu tampak berdenyut, seolah ada sesuatu yang hidup di dalamnya.

"Sihir Malakor..." bisik Benedict ngeri. "Bagaimana bisa? Kita sudah menghancurkannya!"

"Saat ledakan terakhir itu terjadi," Alistair memulai dengan suara parau. "Aku berdiri paling depan. Aku merasakan sebagian dari esensi gelapnya mencoba masuk ke arah Aurora. Aku tidak punya pilihan, Benedict. Aku menjulurkan tanganku untuk menepisnya, dan energi itu justru meresap ke dalam darahku."

"Kita harus memberi tahu Ayahanda! Atau Caspian! Dia pasti tahu cara menyembuhkannya!" ucap Benedict panik.

"Jangan! Malakor merancang ini sebagai kutukan terakhir. Jika aku mencoba menghapusnya dengan sihir paksa, energi ini akan meledak dan bisa menghancurkan siapa pun di sekitarku. Termasuk Aurora," jelas Alistair. "Aku harus mencari cara untuk menekannya sendiri."

"Tapi Kak, kau perlahan-lahan sedang diracuni oleh kegelapan itu! Lihat wajahmu, kau semakin terlihat layu!"

Tanpa mereka sadari, Aurora berdiri tidak jauh dari sana. Ia awalnya hanya ingin membawakan ikan bakar untuk kakak-kakaknya, namun ia mendengar segalanya. Piring kayu yang ia bawa jatuh ke tanah, menimbulkan bunyi yang membuat Alistair dan Benedict menoleh dengan cepat.

"Aurora..." Alistair membeku.

"Kau berbohong padaku lagi..." air mata mulai mengalir di pipi Aurora. "Kau terluka karena melindungiku, dan kau menyembunyikannya?"

Aurora berlari mendekat. Ia meraih tangan Alistair, mengabaikan protes kakaknya. Ia mencoba menempelkan Permata Zamrud ke arah urat hitam itu, namun saat cahaya hijau menyentuh kulit Alistair, Alistair menjerit kesakitan dan terpental ke belakang.

"Jangan, Aurora! Cahayamu... cahayamu justru menyakitiku sekarang karena kegelapan ini sudah menyatu dengan darahku!" teriak Alistair sambil memegangi dadanya.

Suasana menjadi sangat memilukan. Gideon yang mendengar keributan segera berlari mendekat. Ia melihat Aurora menangis dan Alistair yang tergeletak lemah di tanah dengan tangan yang tampak mengerikan.

"Apa yang terjadi?!" teriak Gideon bingung.

"Kegelapan Malakor belum benar-benar pergi," ucap Benedict dengan nada rendah yang penuh kesedihan. "Dia bersembunyi di dalam diri Kak Alistair."

Aurora berlutut di samping Alistair, ia memegang tangan kakaknya yang tidak terkena kutukan. "Maafkan aku, Kak... ini semua karena aku."

Alistair menggelengkan kepala, mencoba tersenyum meskipun ia sangat menderita. "Tidak, Aurora. Ini pilihanku. Dan aku akan melakukan hal yang sama seribu kali lagi jika itu artinya kau selamat."

"Kita akan menemukan obatnya," ucap Aurora dengan tekad yang tiba-tiba muncul di balik isak tangisnya. "Jika di dunia ini tidak ada obatnya, maka aku akan mencarinya ke ujung dunia sekalipun. Kita tidak akan kehilangan satu anggota keluarga lagi."

Malam yang seharusnya menjadi malam perayaan atas pulihnya desa Eldervale, kini berubah menjadi awal dari perjuangan baru. Mereka menyadari bahwa kemenangan kemarin hanyalah babak pertama. Musuh sejati mereka sekarang bukan lagi raja dari kerajaan lain, melainkan kegelapan yang mencoba memakan kakak tertua mereka dari dalam.

"Kita akan pergi ke Pegunungan Terasing," ucap Benedict tiba-tiba. "Di sana ada para pertapa kuno yang tahu rahasia tentang kutukan darah. Itu satu-satunya harapan kita."

Alistair menatap adik-adiknya. Ia melihat api semangat di mata Aurora dan Gideon, serta kesetiaan yang kokoh di mata Benedict.

Meskipun kegelapan mulai merayapi tubuhnya, ia merasa hatinya kembali hangat.

"Baiklah," bisik Alistair. "Mari kita hadapi ini bersama."

Besok pagi, tujuan mereka bukan lagi hanya menyembuhkan rakyat, tapi menyelamatkan sang naga sulung dari kehancuran jiwanya sendiri.

1
leci_mannis
alurnya benerbenerr dibuat campur aduk ada rasa kasihan, kesel, bahagia, dan romantis.
apalagi ngebayangin 7 pangeran yang hebat, dan penasaran banget sama akhirnya gimana dan nasib putri jahat nya gimana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!