"Menjadi adik dari 7 megabintang dunia adalah satu hal, tapi menjadi penulis misterius yang diperebutkan oleh 4 pangeran kampus sambil menyamar jadi siswi biasa adalah tantangan yang sesungguhnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3 : Deadline dan Dekapan
Pukul 02.00 dini hari.
Seluruh Mansion keluarga Kim sudah tenggelam dalam kegelapan, kecuali satu celah cahaya kecil yang merayap dari bawah pintu kamar Aira. Di dalam, suasana tampak seperti medan perang intelektual. Kertas-kertas riset berserakan di lantai, tiga cangkir kopi hitam yang sudah dingin berjajar di meja, dan layar monitor yang menampilkan ribuan kata yang harus diselesaikan sebelum fajar menyapa.
Aira menekan tombol backspace berkali-kali dengan frustrasi. Kepalanya terasa sangat berat, seolah ada ribuan jarum yang menusuk pelipisnya. Deadline naskah untuk penerbit di New York tinggal empat jam lagi, dan ia masih terjebak pada adegan klimaks yang emosional. Ironisnya, ia harus menulis tentang "Kejujuran", sesuatu yang bahkan tidak bisa ia lakukan di rumahnya sendiri.
"Ayo, Aira... sedikit lagi," bisiknya pada diri sendiri. Suaranya hampir hilang, tenggorokannya terasa terbakar.
Tiba-tiba, sebuah pesan muncul di layar laptopnya. Itu bukan dari editornya, melainkan dari Beomgyu melalui jalur komunikasi terenkripsi Golden Fourth Circle.
Beomgyu : "Aira, kau masih bangun? Aku baru saja mendeteksi serangan siber pada server cadanganmu. Seseorang sedang mencoba meretas lokasi pengiriman drafmu semalam. Ini bukan Guanlin, tekniknya jauh lebih kasar dan gelap. Aku menyebutnya 'The Watcher'. Dia meninggalkan pesan singkat di firewall-mu, 'Aku melihatmu di balik topeng, Gadis Kecil'."
Jantung Aira berdegup kencang. Ia mengabaikan rasa pening di kepalanya dan segera mengetik balasan.
Aira : "Alihkan jalur IP ke server dummy di Singapura sekarang. Jangan biarkan dia masuk lebih dalam. Ryujin, cari tahu dari mana asal sinyalnya. Aku tidak bisa fokus jika ada hantu yang mengawasiku."
Aira menutup aplikasi chat itu dan mencoba kembali pada naskahnya. Namun, tangannya mulai gemetar. Bukan hanya karena takut, tapi karena kelelahan fisik yang ekstrem. Penglihatan Aira mulai mengabur, huruf-huruf di layar seolah menari-nari menjauh darinya. Ia mencoba meraih cangkir kopi, namun tangannya justru menyenggol lampu meja hingga jatuh ke lantai dengan suara dentuman yang cukup keras di tengah keheningan malam.
Aira membeku. Ia menahan napas, berdoa agar tidak ada kakaknya yang terbangun. Namun, beberapa detik kemudian, suara langkah kaki yang berat namun teratur terdengar mendekati kamarnya.
Pintu kamar terbuka perlahan. Sosok Kim Yoongi berdiri di sana dengan kaos hitam longgar, matanya yang tajam langsung menangkap pemandangan kacau di dalam kamar adiknya. Tanpa mengucap sepatah kata pun, Yoongi melangkah masuk, memungut lampu meja yang jatuh, dan meletakkannya kembali ke atas meja.
Yoongi menatap layar laptop Aira yang masih menyala, lalu beralih menatap wajah Aira yang sangat pucat.
"Kak Yoongi... aku... aku hanya tidak sengaja menyenggolnya," ucap Aira terbata, mencoba menutupi layar laptopnya dengan tangannya yang kecil.
Yoongi tidak bertanya apa yang sedang ia tulis. Ia justru menarik kursi dan duduk tepat di depan Aira. "Aira-ya, lihat aku," suaranya rendah tapi penuh otoritas.
Aira mendongak perlahan, matanya langsung berkaca-kaca saat bertemu dengan tatapan kakaknya yang penuh kasih namun juga kekecewaan karena adiknya mengabaikan kesehatan. Yoongi menghela napas, ia meraih tangan Aira yang dingin dan menggenggamnya erat.
"Apa yang kamu kejar sebenarnya? Kenapa kamu menyiksa dirimu seperti ini?" Yoongi bertanya pelan. "Kami memberimu segalanya agar kamu bisa tidur nyenyak, bukan agar kamu begadang sampai nyawamu terasa hilang separuh."
Tangis Aira pecah. Ia tidak bisa menahannya lagi. Ia langsung menubruk dada Yoongi, memeluk pinggang kakaknya itu dengan sangat erat seolah-olah Yoongi adalah satu-satunya jangkar di tengah badai.
"Kak... hiks... aku hanya ingin menyelesaikannya... aku tidak mau mengecewakan siapapun... hiks..."
Yoongi membalas pelukan itu, mendekap Aira dan membiarkan adiknya menangis di dadanya. "Kamu tidak pernah mengecewakan kami, Aira. Bahkan jika kamu tidak melakukan apa pun, kamu tetap kebanggaan kami. Berhenti sekarang. Matikan laptopmu, atau aku yang akan menghancurkannya."
Yoongi kemudian menggendong Aira menuju tempat tidur, menyelimutinya dengan lembut. Ia duduk di pinggir tempat tidur sampai napas Aira mulai teratur karena kelelahan. Sebelum keluar, Yoongi sempat melirik ke arah laptop Aira. Ia melihat sebuah kutipan di layar, "Rahasia adalah beban yang paling berat bagi mereka yang memiliki hati yang jujur."
Yoongi terdiam lama. Ia mengusap kening Aira. "Siapa kamu sebenarnya, adik kecilku?" bisiknya sebelum mematikan lampu.
Pagi harinya, Aira berangkat ke sekolah dengan tubuh yang terasa sangat lemas. Meskipun Yoongi memaksanya untuk tetap di rumah, Aira bersikeras pergi karena hari ini adalah pengumpulan riset untuk proyek film Lai Guanlin. Ia tidak boleh absen, atau Guanlin akan mulai mencurigai ketidakhadirannya yang selalu bertepatan dengan momen penting Miss KA.
Saat Aira berjalan melewati gerbang sekolah, atmosfer terasa berbeda. Tidak ada Jennie yang berteriak, tidak ada tawa mengejek dari geng 'The Queens'. Justru, suasana terasa sangat sunyi, seolah semua orang sedang menahan napas.
Di papan pengumuman sekolah, sebuah foto besar tertempel. Foto itu diambil secara diam-diam dari sudut yang sulit. Itu adalah foto Aira saat sedang menangis di atap sekolah bersama Sunoo kemarin. Judul di atas foto itu sangat provokatif, "Gadis Cupu yang Menggoda Pangeran Rubah, Apakah Ini Skandal Baru?"
Aira merasakan dunianya berputar. Ini pasti pekerjaan 'The Watcher' atau suruhan Jennie. Namun, sebelum Aira bisa bereaksi, sebuah tangan besar menariknya menjauh dari kerumunan siswa yang mulai berbisik-bisik.
Itu Lai Guanlin. Wajahnya tampak sangat dingin, lebih dingin dari biasanya. Ia membawa Aira ke ruang audio yang kedap suara.
"Apa ini?" tanya Guanlin, menunjuk ponselnya yang menampilkan foto yang sama.
"I-itu tidak seperti yang mereka pikirkan, Kak. Kak Sunoo hanya... hanya lewat," jawab Aira gemetar.
Guanlin mendekati Aira, mengurungnya di antara lengannya yang bersandar pada meja. "Aira, aku tidak peduli dengan rumor konyol itu. Tapi aku peduli mengapa orang yang ada di foto itu, orang yang sedang menangis itu memiliki aura yang sama dengan Miss KA saat dia menulis tentang keputusasaan."
Aira menahan napas. "Apa maksud Kakak?"
"Miss KA baru saja membalas emailku pagi ini. Dia menolakku lagi. Tapi anehnya, kata-kata yang dia gunakan... persis dengan gaya bicaramu saat kau sedang ketakutan." Guanlin menatap lurus ke dalam mata Aira di balik kacamata tebalnya. "Katakan padaku, Kim Aira. Siapa yang sedang kau sembunyikan di balik kacamata ini?"
Tepat saat itu, pintu ruang audio terbuka dengan keras. Sunoo berdiri di sana dengan senyum menantang, tangannya memegang sapu tangan yang kemarin ia berikan pada Aira.
"Guanlin-ah, jangan menakutinya. Dia milikku hari ini. Kita punya kesepakatan, bukan?" Sunoo berjalan masuk dengan santai, seolah ia memegang semua kartu as di tangannya.
Aira merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang. Dua pangeran kini menatapnya dengan penuh selidik, sementara di luar sana, rahasianya sedang diincar oleh sosok misterius 'The Watcher'.
Di saat Aira terjebak dalam intimidasi Guanlin dan Sunoo di ruang audio, dua anggota The Golden Fourth Circle sedang bergerak cepat di area parkir belakang sekolah. Ryujin mengenakan jaket hoodie hitam yang menutupi wajahnya, sementara Beomgyu duduk di dalam sebuah van hitam yang terparkir tidak jauh dari sana, jarinya menari liar di atas keyboard laptop miliknya.
"Aku menemukannya, Ryujin! Sinyal 'The Watcher' berasal dari sebuah perangkat yang terhubung ke jaringan Wi-Fi sekolah, tapi dia menggunakan spoofing IP yang sangat rapi," bisik Beomgyu melalui earpiece nirkabel. "Dia ada di atap gedung olahraga. Cepat! Dia sedang mencoba mengunggah data pribadi Aira ke forum sekolah!"
Ryujin tidak membalas. Ia melompat melewati pagar pembatas dengan kelincahan seorang penari pro. "Diterima. Aku sedang menuju ke sana. Pastikan koneksi internet di gedung itu mati dalam sepuluh detik. Jangan biarkan satu byte pun terunggah."
"Dimengerti. Eksekusi sekarang!" Beomgyu menekan tombol enter. Seketika, seluruh jaringan Wi-Fi di Hanlim High School terputus.
Ryujin sampai di atap gedung olahraga tepat waktu. Ia melihat sesosok pria dengan topi dan masker sedang terburu-buru menutup laptopnya karena koneksi internet yang tiba-tiba hilang. Tanpa basa-basi, Ryujin melakukan tendangan memutar yang mengenai lengan pria itu, membuat laptopnya terlempar ke lantai beton.
"Siapa kau? Siapa yang menyuruhmu mengintai Miss KA?!" desis Ryujin dengan tatapan mematikan.
Pria itu terkejut, namun ia cukup tangkas untuk menghindar. "Kau bukan polisi... siapa kau?"
"Aku adalah mimpi burukmu," jawab Ryujin dingin.
Perkelahian singkat terjadi, namun pria itu berhasil melempar bom asap kecil dan melarikan diri melalui tangga darurat. Ryujin ingin mengejar, namun ia melihat laptop pria itu tertinggal. Ia mengambilnya dan segera kembali ke van.
"Dia kabur, Beomgyu. Tapi aku dapat alatnya," kata Ryujin saat masuk ke dalam van.
Beomgyu segera memeriksa laptop itu. Matanya membelalak. "Ryujin... ini bukan sekadar penguntit biasa. Dia punya folder foto Aira sejak dia kecil... bahkan foto saat dia bersama kakak-kakaknya di dalam rumah. Seseorang dari dalam industri hiburan sedang mencoba menghancurkan keluarga Kim lewat identitas Miss KA."
Kembali ke ruang audio, suasana semakin panas. Sunoo melangkah maju, menghalangi pandangan Guanlin ke arah Aira. "Guanlin, kau terlalu agresif. Kau tidak lihat dia gemetar?"
"Dia gemetar karena kau selalu muncul seperti hantu di sekitarnya, Sunoo!" balas Guanlin dingin.
Aira merasa dunianya seolah berputar. Suara perdebatan mereka, bayangan 'The Watcher' yang baru saja dijelaskan Ryujin lewat pesan rahasia di jam tangannya, dan kurangnya tidur selama berhari-hari membuat fisiknya menyerah. Pandangannya menggelap.
"Berhenti... kumohon berhenti..." suara Aira sangat lemah.
Tiba-tiba, pintu ruang audio terbuka kembali. Kali ini, Choi Soobin masuk dengan wajah pucat. "Kalian harus lihat ini. Foto Aira dan Sunoo di papan pengumuman... seseorang baru saja menyobeknya dan menggantinya dengan foto Aira yang sedang keluar dari mobil mewah Jungkook semalam. Rumornya sudah menyebar... mereka bilang Aira adalah 'simpanan' idol terkenal."
Mendengar kata-kata 'simpanan', jantung Aira seolah berhenti. Hinaan untuk dirinya bisa ia tahan, tapi fitnah yang melibatkan kakak-kakaknya adalah garis merah yang tidak boleh dilewati.
Aira tidak sanggup lagi. Ia jatuh terduduk di lantai, menutupi wajahnya dan menangis menjerit. "Bukan! Itu tidak benar! Hiks... kenapa kalian semua sangat jahat padaku?! Aku hanya ingin hidup tenang! Aku benci kalian semua!"
Sunoo, Guanlin, dan Soobin terpaku. Mereka tidak pernah melihat Aira meledak seperti ini. Biasanya ia hanya diam atau menangis pelan. Tapi kali ini, tangisannya terdengar seperti jeritan putus asa.
Aira bangkit dengan sisa tenaganya, mendorong Soobin yang mencoba menghalanginya, dan berlari keluar menuju gerbang sekolah. Ia tidak peduli dengan teriakan pangeran-pangeran itu yang memanggil namanya. Ia hanya ingin pulang.
Aira berlari keluar gerbang sekolah tepat saat sebuah mobil SUV hitam berhenti dengan suara rem yang mencit. Jungkook keluar dari mobil dengan wajah yang sangat tegang. Ia sudah mendengar rumor yang menyebar di internet tentang "gadis simpanan" dan langsung melesat ke sekolah.
Begitu melihat Aira berlari dengan wajah penuh air mata dan seragam yang berantakan, Jungkook tidak memedulikan tatapan ratusan siswa di sana. Ia menangkap tubuh Aira yang hampir ambruk.
"Aira! Sayang, Kakak di sini!" Jungkook mendekap adiknya sangat erat.
"Kak... hiks... bawa aku pulang... tolong bawa aku pergi dari sini..." Aira mencengkeram jaket Jungkook, menyembunyikan wajahnya di dada bidang kakaknya. Tubuhnya menggigil hebat.
Jungkook menatap kerumunan siswa dengan tatapan yang sangat mematikan. Aura superstar-nya yang biasanya ramah kini berubah menjadi predator yang siap menerkam siapa saja yang menyakiti miliknya. Ia melirik Guanlin, Sunoo, dan Soobin yang baru saja sampai di gerbang dengan napas tersengal.
Jungkook menunjuk mereka dengan jarinya tanpa melepaskan pelukan pada Aira. "Jika aku tahu salah satu dari kalian terlibat dalam tangisannya hari ini... aku bersumpah, bukan hanya karier kalian yang berakhir, tapi juga seluruh hidup kalian."
Jungkook mengangkat Aira ke dalam mobil dan melesat pergi, meninggalkan para pangeran dalam keheningan yang menyesakkan.
Di dalam mobil, Aira hanya bisa meringkuk di pelukan Jungkook. Ia menangis sampai suaranya hilang. "Kak... aku minta maaf... aku membohongi kalian... hiks..."
Jungkook hanya mengusap punggung adiknya, air matanya sendiri ikut menetes melihat betapa hancurnya Aira. "Ssttt... jangan minta maaf. Kakak ada di sini. Semua akan baik-baik saja. Tidurlah, Adik kecil. Kakak tidak akan membiarkan siapapun menyentuhmu lagi."
Di kamarnya nanti, Aira akan menyadari bahwa ia baru saja melewati cerita yang paling menyakitkan, tapi ini barulah awal dari perang yang sebenarnya melawan 'The Watcher'.
[TO BE CONTINUED]
📢 PARAH BANGET! Aira difitnah jadi simpanan kakaknya sendiri?! 😱 Jungkook beneran murka dan bikin Hanlim High School gemetar! Tapi gimana nasib identitas Miss KA sekarang setelah laptop 'The Watcher' ditemukan?
👇 VOTE [LOVE] kalau kalian mau Jungkook segera bongkar siapa pelakunya dan bikin mereka nyesel!
💬 KOMEN: Menurut kalian, siapa 'The Watcher' sebenernya? [A] Orang suruhan agensi rival [B] Fans fanatik pangeran [C] Seseorang dari masa lalu BTS?
🔔 SUBSCRIBE & FAVORITE! Episode selanjutnya bakal ada momen 'Golden Fourth Circle' yang mulai serangan balik besar-besaran!
⭐ KASIH RATING 5 STARS biar Aira cepet sembuh dan bisa nulis mahakaryanya lagi!
BehindTheSpotlight #MangaToonOriginal #AiraMissKA #JungkookProtective #TheWatcherMystery #GoldenFourthCircle #180BabSaga