NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Suasana koridor yang biasanya hanya berisi tawa mendadak pecah oleh suara teriakan dan benturan keras.

Di depan laboratorium biologi, kerumunan murid melingkar. Di tengahnya, dua orang siswa, satu dari kelas XI-IPA 3, dan satu lagi dari kelas XI-IPS 2 kelas bimbingan raisa, sedang terlibat perkelahian hebat.

Mereka saling tarik kerah baju, wajah mereka merah padam karena amarah yang memuncak.

Beberapa guru piket mencoba melerai, namun emosi remaja yang sedang membara itu sulit dipadamkan. Hingga akhirnya, langkah sepatu yang mantap terdengar mendekat.

Murid-murid yang menonton langsung membelah jalan seolah memberi ruang bagi sosok yang sangat mereka segani.

Raisa Amira Abraham berdiri di sana. Ia tidak berteriak. Ia tidak berlari. Ia hanya berdiri tegak dengan tangan bersedekap, menatap lurus ke arah dua murid yang sedang bergumul tersebut.

"Lepaskan," ucapnya singkat. Suaranya tidak melengking, namun memiliki frekuensi yang membuat siapa pun yang mendengarnya merasa perlu untuk patuh.

Kedua murid itu masih keras kepala. Mereka seolah tidak mendengar dan terus saling dorong.

Melihat peringatan verbalnya tidak diindahkan, Raisa mengambil napas dalam. Wajah ramahnya hilang, digantikan oleh raut muka yang dingin dan tegas. Ia mulai menghitung dengan nada yang sangat tenang dan penuh penekanan.

"Satu..."

Kerumunan mendadak senyap. Murid-murid lain yang menonton menahan napas. Mereka tahu, jika Bu Raisa sudah mulai menghitung, itu adalah peringatan terakhir.

"Dua..."

Kedua murid yang tadinya saling cengkeram itu tiba-tiba membeku. Tangan mereka yang tadinya mengepal mulai gemetar. Mereka saling melirik, lalu secara perlahan melepaskan kerah baju lawan masing-masing. Aura ketegasan Raisa terasa begitu menekan hingga nyali mereka menciut seketika.

Belum sempat Raisa mengucap angka terakhir, keduanya sudah berdiri tegak dengan kepala tertunduk, menjauh satu sama lain sejauh dua meter.

"Tiga."

Raisa menutup hitungannya tepat saat suasana benar-benar sunyi. Ia berjalan mendekat, menatap kedua murid itu bergantian.

"Kalian punya tenaga besar, tapi sayang sekali hanya digunakan untuk ini," ujar Raisa sambil merapikan sedikit kerah baju muridnya yang berantakan.

Ia tidak langsung menyeret mereka ke ruang BK. Sebaliknya, ia memberikan pilihan pada mereka berdua

"Ibu tidak akan menghukum kalian sekarang. Tapi Ibu ingin kalian berdua berdiri di sini, saling menatap, sampai kalian sadar apa alasan konyol yang membuat kalian merasa harus saling menyakiti. Setelah kalian tahu jawabannya, temui Ibu di ruang guru."

Kekuatan Raisa bukan pada fisiknya, melainkan pada integritas dan wibawa yang ia bangun setiap harinya. Murid-murid bubar dengan perasaan segan, menyadari bahwa menghormati Bu Raisa adalah aturan tak tertulis yang tak boleh dilanggar.

Sekitar lima belas menit kemudian, pintu ruang guru diketuk dengan pelan. Dua siswa tadi, Rendi dari kelas XI-IPA 3 dan rian dari kelas XI-IPS 2, masuk dengan langkah gontai. Wajah mereka yang tadinya beringas kini pucat pasi, tak berani mengangkat dagu.

Raisa sedang duduk di kursinya, menyesap teh hangat sambil memeriksa beberapa tumpuk tugas. Ia tidak langsung menyapa. Ia membiarkan keheningan di antara mereka bekerja sebagai hukuman selama beberapa saat.

Setelah meletakkan cangkirnya, Raisa menatap mereka bergantian. Kehangatan yang biasanya terpancar kini berganti dengan ketenangan yang dingin.

"Sudah ketemu jawabannya? Apa yang kalian perebutkan sampai harus lupa cara menghormati sesama?" tanya Raisa.

Rian bergumam pelan, "Hanya karena saling senggol di kantin, Bu... lalu dia mengejek kelas kami."

Raisa menghela napas, bukan karena marah, tapi karena kecewa. "Rian, kamu tahu Ibu paling tidak suka kekerasan. Dan Dimas, mengejek orang lain tidak akan membuat kelasmu terlihat lebih hebat. Kalian berdua baru saja membuktikan bahwa otot kalian lebih cepat bekerja daripada otak kalian."

Raisa kemudian mengeluarkan dua lembar kertas kosong dan dua buah pulpen. Ia mendorongnya ke arah mereka.

"Ibu tidak akan memberikan poin pelanggaran hari ini, tapi dengan satu syarat," ujar Raisa.

Kedua murid itu mendongak, merasa ada harapan. Namun, syarat dari Raisa Amira bukanlah hal yang mudah.

"Kalian tuliskan di kertas ini, minimal 500 kata, tentang apa yang akan kalian rasakan jika orang tua kalian dipanggil ke sekolah hanya untuk melihat anak-anak mereka berkelahi karena masalah sepele. Tuliskan juga janji apa yang ingin kalian berikan kepada Ibu agar kejadian ini tidak terulang."

Raisa condong ke depan, suaranya melembut namun tetap menusuk. "Ibu menghargai kalian sebagai murid cerdas. Jangan paksa Ibu untuk melihat kalian sebagai preman."

Rian dan Dimas mengerjakan tugas itu di meja samping Raisa. Selama satu jam, mereka menulis dengan sungguh-sungguh. Ketegasan Raisa yang tidak menggunakan emosi meledak-ledak justru membuat mereka merasa sangat kecil dan malu.

Saat mereka selesai dan menyerahkan kertas tersebut, Raisa membacanya sekilas, lalu tersenyum tipis, senyum ramah yang dirindukan murid-muridnya.

"Saling minta maaf, lalu kembali ke kelas. Dan ingat," Raisa menahan langkah mereka sejenak " menghargai sesama lebih baik dari apa pun "

"Paham, Bu," jawab mereka serempak, lalu saling berjabat tangan dengan tulus di depan Raisa sebelum keluar dari ruangan.

Tidak ada yang berani mencoba-coba membuat keributan jika Raisa Amira Al-hazm sudah berdiri di dekat mereka.

......................

Sore itu, suasana sekolah sudah mulai sepi. Raisa Amira Al-hazm memiliki kebiasaan untuk berkeliling kecil sebelum pulang, sekadar memastikan tidak ada siswa yang tertinggal atau fasilitas kelas yang lupa dimatikan.

Langkah kakinya terhenti saat melewati area taman belakang yang rimbun dengan pohon-pohon besar. Ia mendengar suara isakan halus.

Raisa mendongak dan mendapati Manda, salah satu murid kelasnya yang biasanya ceria, sedang duduk di dahan pohon mangga yang cukup tinggi. Gadis itu memeluk lututnya, wajahnya sembap karena air mata.

"Manda? Sedang kamu disana?" tanya Raisa dengan nada bercanda yang lembut, berusaha tidak mengejutkan muridnya.

Manda tersentak, lalu mengusap air matanya cepat-cepat. "Eh, Bu Raisa... Maaf, Bu. Saya cuma mau sendiri sebentar."

Raisa tidak menyuruhnya turun dengan nada tegas seperti biasanya. Sebaliknya, ia meletakkan tasnya di bangku taman, lalu tanpa ragu ikut memanjat dahan bagian bawah agar bisa lebih dekat, meski tetap menjaga jarak yang nyaman.

"Pohon ini memang tempat yang bagus untuk melihat dunia dari sudut yang berbeda," ujar Raisa tenang. "Sepertinya beban mu cukup berat sampai harus dibawa naik ke atas sini, ya?"

Melihat gurunya tidak marah dan justru menunjukkan empati, pertahanan Manda runtuh. Ia mulai bercerita dengan terisak

" ibu tahu kan kalau manda tidak pernah masuk peringkat paralel seperti dara, vina dan gavin "

raisa mengangguk dengan seksama, manda memang cerdas namun kecerdasan nya itu belum cukup untuk membawa nya masuk ke tingkat paralel

" ayah dan ibu manda pengen manda masuk ke tingkat paralel, bahkan mereka marah sama manda karena selalu kalah dari vina, juga mereka mengatakan malu punya anak seperti manda kalau manda tidak masuk peringkat paralel. manda capek bu, manda sudah belajar mati matian, bahkan setiap pulang sekolah manda pergi kursus. Bahkan manda tidak sempat melakukan sesuatu yang manda sukai. Manda takut mengecewakan ayah dan ibu manda "

Raisa mendengarkan dengan saksama dan mengangguk, memberikan ruang bagi Manda untuk menumpahkan seluruh sesak di dadanya.

"Manda, dengarkan Ibu," kata Raisa setelah Manda mulai tenang. "Kamu itu seperti pohon ini. Untuk tumbuh tinggi, kamu butuh waktu, air, dan cahaya yang pas. Jika dipaksa tumbuh dalam semalam, dahanmu bisa patah. Nilai itu penting, tapi kesehatan mentalmu adalah akar yang menjaga kamu tetap berdiri."

Raisa memberikan sapu tangan dari saku blazer nya. "Ibu senang kamu mau berbagi. Ingat, tegas pada diri sendiri itu bagus untuk disiplin, tapi jangan lupa untuk bersikap ramah pada dirimu sendiri juga. Kamu manusia, bukan mesin."

Manda tersenyum tipis, merasa bebannya terangkat sebagian. Ia baru menyadari bahwa gurunya yang terkenal sangat tegas di kelas ini ternyata memiliki hati yang sangat luas untuk menampung kesedihan muridnya.

"Terima kasih, Bu Raisa. Saya merasa jauh lebih baik," ucap Manda tulus.

"Sama-sama. Sekarang, mari kita turun sebelum satpam mengira adalah hantu penunggu pohon mangga," canda Raisa sambil mengulurkan tangan untuk membantu Manda turun dengan aman.

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!