Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.
Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.
Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TEMAN SEBAYA DI AKADEMI
Setelah beberapa hari menjalani pelatihan dasar, Evan mulai mengenal lebih jauh teman-teman sekelompoknya. Meskipun awalnya semua orang fokus pada menyelesaikan setiap tugas dengan baik, ikatan persahabatan mulai terbentuk perlahan-lahan melalui kerja sama dan dukungan satu sama lain dalam menghadapi tantangan pelatihan.
Rio dari Medan tetap menjadi teman dekat Evan sejak hari pertama mereka bertemu di asrama. Keduanya sama-sama diterima dalam program khusus Korps Medis, sehingga sering ditempatkan bersama dalam kegiatan pelatihan dan pembelajaran.
"Saya benar-benar kagum dengan ilmu pengobatan tradisional yang kamu pelajari dari leluhurmu," ujar Rio saat mereka beristirahat sebentar setelah latihan pagi yang keras. "Di Medan juga ada banyak pengobatan tradisional, tapi tidak sebanyak yang kamu ketahui."
Evan tersenyum dan menjawab, "Kakek saya mengajarkan saya sejak kecil. Dia selalu bilang bahwa ilmu tradisional dan modern bisa saling melengkapi. Mungkin kita bisa berbagi pengetahuan nanti ya?"
Rio mengangguk dengan antusias. "Tentu saja! Saya juga bisa mengajarkan kamu tentang tanaman obat yang biasa digunakan di daerah kita. Banyak yang memiliki khasiat luar biasa lho."
Kedua sahabat ini sering menghabiskan waktu luangnya untuk berdiskusi tentang ilmu kedokteran dan kesehatan militer. Rio yang memiliki latar belakang keluarga prajurit juga sering berbagi cerita tentang kehidupan militer yang membantu Evan lebih memahami budaya di akademi.
Siti dari Jakarta adalah satu-satunya perempuan di Kelompok 3, namun ia menunjukkan kemampuan yang tidak kalah dengan calon prajurit laki-laki lainnya. Ia memiliki latar belakang pendidikan di sekolah kedinasan dan sudah memiliki pengalaman dalam organisasi kepemimpinan.
Pada hari pelatihan kerja sama tim, ketika kelompok Evan harus menyelesaikan tantangan lintasan rintangan dengan waktu terbatas, Siti muncul sebagai pemimpin yang mampu mengatur dan memotivasi semua anggota kelompok.
"Kita perlu membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing!" teriak Siti dengan suara yang jelas saat mereka menghadapi pagar tinggi yang harus dilompati bersama. "Evan dan Rio, kalian yang lebih tinggi bisa membantu yang lain naik. Saya akan mengatur urutan agar tidak ada yang tertinggal!"
Berkat kepemimpinan Siti, Kelompok 3 berhasil menyelesaikan lintasan dengan waktu tercepat di antara semua kelompok. Setelah selesai, Siti tidak mengambil pujian untuk diri sendiri melainkan memberikan apresiasi pada semua anggota kelompok.
"Kita bisa berhasil karena kita bekerja sama," ujarnya dengan senyum hangat. "Setiap orang memiliki peran penting yang tidak bisa digantikan oleh yang lain."
Evan sangat menghargai sikap Siti yang rendah hati dan mampu melihat potensi setiap orang. Mereka sering berdiskusi tentang cara meningkatkan efisiensi kerja tim dan bagaimana menjadi pemimpin yang mampu membawa kebaikan bagi semua orang.
Bima dari Surabaya adalah sosok yang selalu mampu membuat suasana menjadi lebih ringan dengan humornya. Meskipun ia sering bercanda, ia sangat serius ketika menghadapi pelatihan dan tugas yang diberikan.
Pada hari pelatihan fisik yang sangat berat, ketika banyak calon prajurit mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan, Bima muncul dengan leluconnya yang khas.
"Hei teman-teman, ingat ya – setiap keringat yang kita keluarkan hari ini adalah investasi untuk menjadi prajurit yang kuat besok!" ujarnya sambil mencoba membuat gerakan lucu saat melakukan push-up.
Meskipun instruktur sedikit mengingatkannya untuk lebih fokus, lelucon Bima berhasil membuat semua orang tersenyum dan mendapatkan semangat baru untuk melanjutkan latihan.
Bima juga memiliki kemampuan khusus dalam hal navigasi dan orientasi medan. Ia sering membantu teman-teman yang kesulitan dalam pelatihan membaca peta dan menemukan lokasi tertentu di alam terbuka.
"Saya belajar dari ayah saya yang bekerja sebagai petani dan sering harus menjelajahi hutan mencari lahan baru," ujar Bima ketika menjelaskan kemampuannya. "Dia mengajarkan saya bagaimana membaca alam dan menemukan jalan keluar dari tempat yang sulit."
Evan dan Bima sering berlatih bersama untuk meningkatkan kemampuan fisik dan teknik beladiri. Bima yang memiliki latar belakang beladiri lokal dari Surabaya juga berbagi beberapa teknik yang berbeda dengan yang diajarkan Kakek Darmo kepada Evan.
Setelah sekitar dua minggu menjalani pelatihan bersama, ikatan antara Evan, Rio, Siti, dan Bima semakin kuat. Mereka membentuk sebuah kelompok kecil yang selalu saling membantu dan mendukung satu sama lain dalam setiap tantangan.
Pada malam hari sebelum ujian praktik pertama, mereka berkumpul di sudut asrama untuk belajar bersama. Siti membantu menjelaskan materi tentang tata tertib militer, Rio berbagi pengetahuan tentang dasar-dasar kesehatan, Bima memberikan tips tentang cara menghadapi tes fisik, dan Evan berbagi ilmu tentang pengobatan dasar menggunakan tanaman obat yang bisa digunakan di lapangan.
"Kita seperti memiliki keahlian yang saling melengkapi ya," ujar Siti dengan senyum. "Jika kita terus bekerja sama seperti ini, tidak ada yang tidak bisa kita lakukan."
Rio mengangguk setuju. "Benar sekali. Di dalam militer, kerja sama tim adalah segalanya. Dan saya merasa sangat beruntung memiliki teman-teman seperti kalian."
Bima kemudian mengeluarkan beberapa camilan yang ia simpan secara diam-diam – sesuatu yang tidak sepenuhnya diperbolehkan namun sering dilakukan oleh calon prajurit untuk memberikan energi tambahan.
"Hei, ini rahasia kita ya," ujarnya dengan suara pelan sambil membagikan camilan tersebut. "Camilan kecil untuk menjaga semangat kita tetap tinggi."
Evan merasa sangat bersyukur telah menemukan teman-teman seperti mereka. Meskipun jauh dari keluarga dan kampung halamannya, ia merasa telah menemukan keluarga baru di antara rekannya di akademi.
"Saya berharap kita bisa tetap bersama bahkan setelah selesai pelatihan," ujar Evan dengan penuh harapan. "Kita bisa saling mendukung dan bekerja sama untuk mencapai tujuan kita masing-masing."
Semua orang menyetujui dengan antusias. Mereka membuat janji untuk selalu saling menjaga dan membantu satu sama lain, tidak hanya selama masa pelatihan namun juga di masa depan ketika mereka telah menjadi prajurit yang resmi.
Sebelum waktu tidur tiba, mereka berdoa bersama untuk keselamatan dan keberhasilan semua orang. Meskipun masing-masing memiliki latar belakang dan tujuan yang berbeda, mereka memiliki satu tujuan yang sama – menjadi prajurit yang baik yang bisa melayani negara dengan segenap hati.
"Semoga kita semua bisa lulus dengan baik dan menjadi prajurit yang bisa membuat keluarga dan negara bangga," ujar Siti sambil memimpin doa bersama.
Evan merasa hati nya penuh dengan rasa syukur dan semangat. Ia tahu bahwa perjalanan pelatihan masih panjang dan penuh tantangan, namun dengan memiliki teman-teman seperti Rio, Siti, dan Bima di sisinya, ia merasa bahwa tidak ada yang tidak mungkin untuk dicapai.