Nara tumbuh dengan luka ditinggalkan setelah orang tuanya bercerai. Trauma itu terbawa hingga pernikahannya, membuat ia mencintai terlalu berlebihan dan akhirnya kehilangan suaminya.
Di balik perpisahan mereka, Nara menyimpan sebuah rahasia ia hamil, namun memilih menyembunyikan benih itu demi melindungi dirinya dan sang anak dari luka yang sama.
Takdir membawanya kembali bertemu Albi, sahabat lama yang memilih menjadi ayah bagi anak yang bukan darah dagingnya. Di sebuah desa yang tenang, mereka membangun keluarga sederhana, hingga penyakit leukemia merenggut Albi saat anak itu berusia sembilan tahun.
Kehilangan kembali menghantam Nara dan anaknya, sampai masa lalu datang menyapa mantan suami Nara muncul tanpa tahu bahwa ia adalah ayah biologis dari anak tersebut.
Penasaran saksikan selanjutnya hanya di Manga Toon dan Novel Toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Malam beranjak naik, sejak sore tadi wanita cantik itu menunggu kedatangan suaminya di depan ruang TV, tatapannya nanar, ia tidak benar-benar melihat acara TV itu, bayangannya terlalu sibuk memikirkan suaminya yang sejak tadi belum kunjung pulang.
"Astaga Mas, sebenarnya kamu ada di mana? dari tadi sore teleponku tidak diangkat," ujar Nara, hatinya benar-benar merasa cemas.
Jam dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun suara yang ia rindukan tak kunjung datang, setiap kali suara motor melintas, Nara mengira itu suara kendaraan suaminya, namun sayang sudah beberapa kali ia mendengar deru motor dan sayangnya bukan milik suaminya.
Hingga akhirnya Nara memilih tetap menunggu diantara kecemasan hatinya yang harus ia hadapi setiap hari.
Wanita itu bukan tanpa alasan, melakukan itu semua. Sedari kecil Nara sudah ditinggal ayah dan ibunya, ia diasuh oleh neneknya hingga remaja, sampai neneknya berpulang.
Sejak itulah Nara benar-benar sendiri memeluk lukanya, dan ia sempat berjanji disaat punya pasangan nanti ia akan memberikan kasih sayang yang luas, cinta yang tak bertepi, itu semua ia lakukan agar laki-laki yang ia cintai tidak pernah meninggalkannya, karena ia begitu takut dengan perpisahan.
Nara masih duduk di depan televisi, hingga suara motor yang ia nantikan benar-benar berhenti di depan rumahnya.
Ia langsung berdiri dari duduknya, remote televisi ia letakkan, ponsel yang sedari sore digenggamnya dimasukkan ke saku daster. Napasnya tertahan, seolah setiap langkah yang mendekat menjadi nafas dan kehidupannya.
Pintu terbuka, Nara langsung menghampiri. "Kamu pulang," katanya cepat bahkan terlalu cepat.
Ardan hanya mengangguk sambil melepas sepatu. Tidak menatap Nara. Jaketnya digantung asal, langkahnya lurus menuju kamar.
“Kamu belum makan,” Nara menyusul. “Aku hangatin supnya, ya? Dari jam tujuh aku tungguin—”
“Nara,” potong suaminya, suara lelah. “Aku capek.”
Kalimat itu sederhana. Tapi seperti dinding yang mendadak berdiri di antara mereka.
Nara berhenti. Tangannya yang sudah meraih lengan suaminya terhenti di udara. Ia tersenyum kecil, berusaha memahami. Selalu berusaha memahami.
“Iya, aku tahu kamu capek,” ujarnya pelan. “Aku cuma khawatir. Kamu nggak ngabarin dari siang. Aku nelepon berkali-kali, aku hanya takut kamu kenapa-napa Mas."
“Aku kerja,” sahut Ardan kini menoleh. Ada sesuatu di matanya. Bukan marah. Lebih ke… letih yang sudah terlalu lama dipendam. “Seperti biasa, aku lembur semuanya juga untuk memenuhi kebutuhan," katanya datar.
Nara menelan ludah. Pernikahan mereka sudah tiga tahun. Tiga tahun ia belajar menjadi istri yang hadir, yang peduli, yang memastikan suaminya baik-baik saja. Bukankah itu tugasnya?
“Aku cuma pengin tahu kamu di mana,” katanya lirih. “Itu salah, ya?”
Ardan menghela napas panjang. Terlalu panjang, ia juga ingin diberi ruang tanpa harus ditanya-tanya dan memberikan laporan setiap hari.
“Yang bikin salah bukan nanyanya,” katanya akhirnya. “Tapi caranya.”
Nara mengernyit. “Caranya?”
“Iya,” Ardan menyandarkan tubuh ke dinding, menutup mata sejenak. “Kamu nanya seolah aku selalu akan pergi. Seolah aku harus lapor tiap detik biar kamu tenang.”
Itu bukan tuduhan, tapi terdengar seperti vonis, Nara membulatkan matanya, ia sempat terkejut ternyata perhatiannya membuat suaminya salah paham.
“Aku hanya takut,” Nara jujur. Suaranya bergetar tanpa ia kehendaki. “Aku cuma takut kamu kenapa-kenapa. Atau… nggak pulang.”
Mata suaminya terbuka. Menatap Nara lama. Ada iba di sana, tapi juga jarak.
“Aku pulang, Nara,” katanya. “Setiap hari aku pulang. Tapi rasanya seperti aku tetap nggak pernah sampai.”
Kalimat itu menghantam tepat di dada Nara.
Ia ingin bilang bahwa semua ini karena cinta. Bahwa ia hanya tidak ingin kehilangan. Bahwa diam suaminya selalu membuatnya panik, Nara juga ingin merasakan perhatian, ditanya terlebih dahulu. Tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokan.
“Aku istrimu,” ucapnya lirih. “Kalau aku nggak peduli, lalu siapa lagi?”
“Kamu terlalu peduli,” jawab suaminya pelan, nyaris berbisik. “Sampai aku nggak punya ruang bernapas.”
Hening menyeruak di tengah-tengah mereka,
rumah itu mendadak terasa sempit. Dinding-dindingnya seperti mendekat. Nara berdiri terpaku, sementara suaminya melangkah masuk ke kamar, menutup pintu tanpa suara keras justru itu yang paling menyakitkan.
Nara perlahan duduk kembali di sofa. Tangannya gemetar. Matanya kosong menatap televisi yang masih menyala, menampilkan acara yang tak ia dengar sejak tadi.
Ia memeluk dirinya sendiri, lagi-lagi perhatiannya dianggap berlebihan, ketakutannya tidak didengarkan, kehadirannya seolah tidak diinginkan sama sekali, lantas kehidupan apa yang tengah ia jalani.
"Ibu ... Ayah ....," panggilnya lirih seolah kedua orang tuanya sedang mendengar. "Apa aku tidak pantas memiliki rumah yang selalu mendengar rintihan ku."
Tangis itu kembali pecah, dalam diam, bahkan tanpa suara, air mata lolos tanpa diminta jatuh membasahi wajahnya yang lelah, lelah berusaha sendiri agar terlihat.
Saat ini kepalanya hanya ada satu ketakutan lama yang kembali berbisik:
"Kalau aku berhenti menjaga, aku akan ditinggalkan."
Dan tanpa Nara sadari, rasa takut itulah yang perlahan merusak pernikahan yang telah ia jaga mati-matian selama tiga tahun.
☘️☘️☘️☘️☘️
Keesokan harinya. Matahari kembali bersinar, wanita cantik itu sudah menyiapkan semua keperluan suaminya tanpa diminta, ia selalu sigap, bahkan ia mengesampingkan lukanya sendiri yang tak berdarah.
"Mas, tasnya sudah ada diatas meja," ucapnya dengan lembut.
Lalu langkahnya mulai berbalik ke dapur mengambil kotak bekal yang berisi makanan serta cemilan kesukaan suaminya. "Mas ini ada nasi kuning, dan juga martabak manis kesukaanmu," ujar Nara.
Ardan hanya mengangguk kecil tanpa ada ucapan terima kasih ataupun senyuman kecil, tatapannya langsung menunduk ke sepasang sepatu yang dari tadi sudah disiapkan oleh istrinya.
"Mas ....," panggil Nara.
"Heeeemb," sahut Ardan.
"Nanti pulangnya agak sorean bisa?" tanya Nara hati-hati.
Ardan mendongakkan kepalannya, tatapannya bertemu dengan wajah istrinya."Kenapa kamu bertanya seperti itu?"
"Aku hanya ingin mempunyai waktu lebih," sahut Nara. "Apa itu salah?"
"Tidak," sahut Ardan dengan cepat. "Tapi kalau nanti ada lembur lagi gimana? Apa iya aku harus mengorbankan pekerjaanku demi menuruti permintaan konyolmu itu."
Deg!!!
Kalimat itu datar, tapi menusuk, lagi-lagi keinginan kecil Nara dianggap beban ataupun pengganggu, padahal selama tiga tahun ini Nara sudah berusaha untuk menjadi yang terbaik, namun apalah daya jika suaminya itu selalu menganggapnya berlebihan.
"Apa aku tidak boleh meluangkan waktu bersama mu?" tanya Nara dengan suara bergetar seperti menahan tangis. "Bahkan waktu libur pun kau buat ngumpul dengan teman-temanmu," lanjut Nara.
"Nara," potong Ardan segera. "Enam hari aku selalu bekerja dan pulang padamu, hanya satu hari saja aku berkumpul dengan teman-temanku, tapi seolah aku tidak ada waktu untukmu, plis Nara jangan selalu berderama seolah hidup ini hanya tentang kamu saja," ucap Ardan.
Nara meremas ujung bajunya, dadanya mendadak sesak mendengar kalimat yang menyayat, sebagai istri ia hanya ingin di dengar bukan selalu dituduh dan dianggap berlebihan.
Bersambung ....
Tahun baru ... Buku baru ....
Semoga para pembaca suka ya!