Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.7
Gerbang Kota Batu menjulang setinggi dua puluh meter, tersusun dari balok-balok granit kelabu yang memancarkan aura dingin. Di atas gerbang, panji-panji berbagai warna berkibar, menandakan lambang klan dan sekte yang berkuasa di wilayah ini.
Bagi Shen Yu, pemandangan ini melumpuhkan akal sehatnya. Ribuan orang berlalu-lalang. Ada pedagang dengan kereta yang ditarik kuda bertanduk, pendekar pedang yang berjalan angkuh, hingga rakyat jelata yang memanggul barang dagangan.
"Tutup mulutmu, Saudara Shen," bisik Jin Bo sambil terkekeh pelan, menyenggol siku Shen Yu. "Lalat bisa masuk. Jangan biarkan mereka tahu kau baru pertama kali melihat kota."
Shen Yu segera menutup mulutnya, berusaha memasang wajah datar.
Setelah membayar pajak masuk (yang untungnya ditanggung oleh Jin Bo dengan sekeping pecahan perak), mereka melangkah masuk ke jalan utama yang padat.
"Kota Batu adalah gerbang menuju Sekte Awan Putih," jelas Jin Bo sambil mengipas-ngipas wajahnya. "Setiap tiga tahun, ribuan pemuda datang ke sini untuk ujian masuk. Lihat di sana? Itu murid Sekte Tinju Besi. Dan yang berbaju hijau itu dari Paviliun Herbal."
Shen Yu mengamati mereka dengan iri dan kagum. Mereka tampak begitu percaya diri, dikelilingi aura yang membuat orang biasa menyingkir secara otomatis.
Tiba-tiba, suara cambuk meledak di udara.
Ctarrr!
"Minggir! Minggir, anjing kampung!"
Sebuah kereta kuda mewah melaju kencang di tengah keramaian, dikawal oleh dua pemuda berseragam biru laut. Orang-orang berlompatan panik ke pinggir jalan.
Shen Yu, yang sedang terpesona melihat sebuah toko senjata, terlambat bereaksi.
Salah satu pengawal kereta itu, seorang pemuda berwajah tirus dengan tingkat Pemurnian Qi Tahap 2, mendengus kesal. Ia tidak memperlambat kudanya, malah mengayunkan sarung pedangnya ke arah bahu Shen Yu untuk menyingkirkannya.
"Enyahlah, sampah!"
Insting Shen Yu menjerit. Berkat latihan singkat dan persepsi dari Giok Retak, gerakan itu terlihat lambat di matanya. Ia memiringkan bahunya sedikit.
Sarung pedang itu meleset, hanya menyabet udara kosong. Karena kehilangan keseimbangan akibat pukulan yang meleset, pengawal itu hampir terjatuh dari kudanya.
"Hah?!" Pengawal itu menarik tali kekang, menghentikan kuda dengan kasar. Wajahnya memerah karena malu dilihat banyak orang.
Ia melompat turun, menghunus pedangnya setengah jalan. "Kau... berani menghindar? Kau membuatku terlihat bodoh!"
Kerumunan segera membentuk lingkaran. Hiburan gratis adalah hal favorit di Kota Batu.
Shen Yu mengerutkan kening. "Kau yang menabrakku. Aku hanya menghindar."
"Lancang!" bentak pemuda itu. "Aku, Luo Feng, murid luar Sekte Gelombang Azure, memberimu pelajaran, dan kau berani membantah?"
Shen Yu hendak meminta maaf agar masalah tidak panjang, tapi Jin Bo tiba-tiba melangkah maju, berdiri di samping Shen Yu dengan senyum provokatif.
"Wah, wah, Saudara Luo Feng yang terhormat," ujar Jin Bo keras-keras, sengaja menarik perhatian lebih banyak orang. "Temanku ini memang dari desa, tapi dia bilang teknik Gelombang Azure-mu lembek seperti air cucian piring. Dia bahkan tidak perlu bergerak untuk menghindarinya."
Mata Shen Yu terbelalak menatap Jin Bo. "Aku tidak pernah bilang begitu!"
"Diamlah," bisik Jin Bo cepat di telinga Shen Yu, matanya berkilat jenaka. "Di dunia ini, kalau kau menunduk saat diinjak, kau akan diinjak selamanya. Tunjukkan taringmu, atau pulanglah menanam padi."
Wajah Luo Feng kini merah padam, urat lehernya menonjol. Kehormatannya sebagai murid sekte (meski hanya sekte kecil) telah dinodai di depan umum.
"Bagus," desis Luo Feng, mencabut pedangnya sepenuhnya. "Kalian berdua, berlutut dan potong satu jari, atau aku akan mematahkan kedua kaki kalian!"
"Saudara Shen, dia menantangmu duel resmi!" seru Jin Bo, mundur teratur ke barisan penonton. "Hajar dia! Pertaruhkan nama Desa Qinghe!"
Shen Yu mengutuk dalam hati. Dia dijebak oleh teman barunya sendiri. Tapi saat melihat tatapan meremehkan Luo Feng dan pedang yang mengarah ke wajahnya, rasa panas menjalar di dada Shen Yu.
Kenangan tentang ayahnya yang membungkuk di sawah, tentang kultivator Sekte Darah Besi yang mengancam desanya...
Tidak lagi, batin Shen Yu. Aku tidak akan menunduk lagi.
Shen Yu membuang bungkusan barangnya ke tanah. Ia tidak menghunus parangnya yang retak. Ia memasang kuda-kuda sederhana, kedua tangan terkepal di depan dada.
"Maju," ucap Shen Yu singkat.
"Mati kau!" Luo Feng menerjang. Pedangnya dialiri Qi biru tipis, menciptakan suara desingan air. Teknik Pedang Arus Deras!
Serangan itu cepat dan beruntun. Trang! Srek!
Shen Yu terus mundur. Baju raminya tergores di beberapa tempat. Penonton mulai mencemooh.
"Hanya bisa lari?" ejek Luo Feng, semakin percaya diri. Ia mengerahkan tenaga penuh untuk satu tusukan lurus ke dada.
Saat itulah, mata Shen Yu menyipit.
Pola napas Luo Feng kacau. Setiap kali ia menusuk, sisi kirinya terbuka lebar. Giok di balik baju Shen Yu berdenyut dingin, mempertajam fokusnya hingga gerakan pedang itu seolah berhenti sejenak.
Sekarang!
Shen Yu tidak mundur. Ia justru maju selangkah, menepis sisi datar pedang Luo Feng dengan punggung tangan kirinya, membelokkan tusukan itu sedikit ke samping.
Luo Feng terbelalak. Jarak mereka kini nol. Pedang panjang tidak berguna dalam jarak sedekat ini.
Tangan kanan Shen Yu, yang sudah dialiri seluruh Qi Tahap 1 miliknya, melesat seperti peluru. Bukan pukulan teknik tinggi, tapi pukulan petani yang terbiasa memecah batu kali.
BUAGH!
Tinju itu mendarat telak di ulu hati Luo Feng.
"Uhuk!"
Mata Luo Feng melotot, mulutnya terbuka tanpa suara. Qi pelindung tubuhnya hancur seketika. Tubuhnya terlipat seperti udang, lalu jatuh berlutut, memuntahkan air liur bercampur darah.
Keheningan menyelimuti jalanan Kota Batu.
Seorang bocah desa tanpa teknik, baru saja menumbangkan murid sekte Tahap 2 dengan satu pukulan.
Shen Yu berdiri di atas lawannya, napasnya memburu tapi matanya tajam. Ia menatap tangannya sendiri, lalu menatap kerumunan yang kini memandangnya dengan rasa hormat bercampur takut.
Plok. Plok. Plok.
Jin Bo bertepuk tangan pelan, senyumnya semakin lebar. "Luar biasa. Pukulan tanpa nama, tapi efektif. Kau menang, Saudara Shen."
Shen Yu tidak tersenyum. Ia memungut bungkusannya, menatap Luo Feng yang mengerang kesakitan di tanah.
"Namaku Shen Yu," ucapnya dingin. "Ingat nama itu saat kau ingin membalas dendam."
Ia berbalik dan berjalan pergi, diikuti oleh Jin Bo yang tertawa riang. Namun, jauh di dalam kerumunan, sepasang mata tua menatap punggung Shen Yu dengan ketertarikan mendalam. Seorang tetua berjubah abu-abu mengelus jenggotnya.
"Benih yang menarik..." gumam tetua itu.