Setelah memergoki perselingkuhan suaminya, Kamila Andini mengalami tragedi hebat, ia terjatuh hingga kehilangan calon bayinya sekaligus harus menjalani pengangkatan rahim. Penderitaannya kian lengkap saat sang suami, Danu, menceraikannya karena dianggap tak lagi "sempurna".
Berharap mendapat perlindungan di rumah peninggalan ayahnya, Kamila justru dijadikan alat oleh ibu tirinya untuk melunasi utang kepada seorang konglomerat tua. Namun, kejutan menantinya. Bukannya dinikahi, Kamila justru dipekerjakan sebagai ibu susu bagi cucu sang konglomerat yang kehilangan ibunya saat persalinan.
Evan Anggara, ayah dari bayi tersebut, awalnya menentang keras kehadiran Kamila. Namun, melihat kedekatan tulus Kamila dengan putranya, tembok keangkuhan Evan perlahan runtuh. Di tengah luka masa lalu yang belum sembuh, akankah pengabdian Kamila menumbuhkan benih cinta baru di antara dirinya dan Evan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bertemu Tuan Chen
Lampu kristal yang menggantung di langit-langit ruang tamu kediaman Tuan Chen memancarkan cahaya kekuningan yang megah namun dingin. Bu Elma dan Mita duduk dengan punggung tegak dan tangan yang saling bertautan erat di pangkuan. Kemewahan di sekeliling mereka, guci-guci porselen setinggi manusia dan ukiran kayu jati yang rumit, bukannya membuat nyaman, malah membuat mereka merasa kerdil.
Langkah kaki yang berat dan teratur terdengar dari arah tangga besar. Tak lama kemudian, sosok yang ditunggu muncul, dikawal oleh empat pria berbadan tegap dengan setelan jas hitam yang rapi.
Bu Elma menahan napas. Pria itu adalah Tuan Chen. Di luar dugaannya, sosok yang selama ini ia sebut 'tua bangka bau tanah' ternyata memiliki karisma yang mengintimidasi. Rambutnya memang memutih sempurna, dan kerutan di sudut matanya menandakan usia yang tak lagi muda, namun perpaduan garis wajah Tionghoa dan pribumi itu memberikan kesan gagah yang dingin.
Tuan Chen duduk di kursi kebesaran yang tampak seperti singgasana, menatap lurus ke arah kedua wanita yang kini tertunduk lesu di atas lantai marmer yang dingin.
"Bagaimana? Apakah kalian sudah sanggup membayar semua hutang kalian?" tanya Tuan Chen. Suaranya berat dan menggema di ruangan yang luas itu, membuat bulu kuduk Mita meremang.
Mita hanya bisa menunduk, tak berani mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, Bu Elma, dengan sisa-sisa keberanian dan kelicikannya, mencoba memasang wajah paling manis yang ia miliki.
"Tuan Chen yang terhormat," ujar Bu Elma dengan nada suara yang dibuat selembut mungkin. "Mengenai hutang lima ratus juta itu, kami sadar bahwa uang sebanyak itu tidak mudah untuk kami kumpulkan dalam waktu singkat. Namun, saya datang membawa penawaran yang jauh lebih berharga daripada sekadar tumpukan uang kertas."
Tuan Chen menyandarkan punggungnya, menatap Bu Elma dengan sebelah alis terangkat. "Oh, jadi intinya kalian berdua tidak sanggup untuk membayar hutang, dan kalian akan menyerahkan seorang wanita untukku, betul begitu?"
Tatapan Tuan Chen seolah menembus langsung ke dalam rencana busuk mereka. Bu Elma dan Mita gemetar hebat, merasa seperti mangsa yang sedang dipojokkan.
"B... Betul sekali, Tuan," sahut Bu Elma terbata-bata. "Kebetulan putri saya yang kedua, Kamila, baru saja bercerai dan dia baru saja kehilangan anaknya. Saya sangat kasihan melihatnya selalu bersedih di rumah. Saya pikir... Kamila pasti akan sangat bahagia jika bisa mengabdi dan menjadi istri Tuan yang hebat ini."
Hening sejenak. Ruangan itu terasa semakin mencekam sebelum tiba-tiba Tuan Chen tertawa terbahak-bahak. Tawa yang kering dan tidak mengandung keramahan sedikit pun.
"Dasar manusia licik kalian ini!" seru Tuan Chen setelah tawanya mereda. "Berlaga sok peduli padahal hati kalian sungguh kejam. Menjual anak sendiri untuk menutupi kebodohan kalian berjudi?"
Bu Elma dan Mita semakin pucat, namun Tuan Chen melanjutkan dengan seringai tipis.
"Tapi baiklah. Saya terima tawaran kalian. Akan aku jadikan Kamila sebagai istriku, dan... hutang kalian saya anggap lunas."
Mata Bu Elma dan Mita seketika berbinar. Beban berat yang menghimpit dada mereka seolah terangkat seketika.
"Namun ingat satu hal," suara Tuan Chen berubah menjadi sedingin es. "Awas saja jika kalian sampai berbohong atau wanita itu melarikan diri, jika sampai itu terjadi, nyawa kalian berdua yang akan menjadi taruhannya. Segera bawa Kamila ke rumah ini, mengerti?!"
"Mengerti, Tuan! Sangat mengerti!" jawab Bu Elma cepat-cepat, hampir seperti menyembah.
Sepulangnya dari sana, di dalam taksi, wajah Elma dan Mita tidak lagi pucat. Mereka saling berpegangan tangan dengan senyum kemenangan yang menjijikkan.
"Kita berhasil, Mah! Kita bebas!" bisik Mita penuh semangat.
"Tentu saja. Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui," sahut Bu Elma licik. "Hutang lunas, dan si pembawa sial Kamila akan pergi dari rumah itu selamanya. Sekarang, kita hanya perlu memikirkan satu hal..."
"Apa itu, Mah?"
"Bagaimana cara menyeret Kamila ke sana tanpa dia curiga. Kita harus menggunakan 'senjata' terakhir kita," ujar Bu Elma sambil menatap ke luar jendela, otaknya mulai merangkai kebohongan besar untuk menjerat Kamila. "Kita akan bilang padanya bahwa ini adalah wasiat terakhir ayahnya sebelum meninggal yang baru kita temukan. Dia anak yang bodoh dan berbakti, dia pasti tidak akan bisa menolak."
.
.
Mobil hitam itu baru saja menghilang dari pandangan saat Kamila masih berdiri mematung di ambang pintu, memegangi perutnya yang berdenyut nyeri. Namun, belum sempat ia menenangkan diri, mobil itu sudah kembali. Bu Elma dan Mita turun dengan wajah yang diselimuti kesedihan yang dibuat-buat.
Melihat mereka kembali dalam keadaan utuh, Kamila langsung menghampiri dengan raut wajah cemas. Di mata Kamila, meski ia sering disakiti, mereka adalah satu-satunya keluarga yang tersisa setelah kepergian Ayahnya dan kehilangan bayinya.
"Ibu! Kak Mita! Kalian tidak apa-apa?" tanya Kamila parau, suaranya bergetar karena khawatir. "Apa yang mereka lakukan pada kalian?"
Tiba-tiba, tanpa aba-aba, Bu Elma menghambur memeluk Kamila. Ia terisak keras, air mata buayanya membasahi bahu Kamila. "Mila... maafkan Ibu, Mila! Ibu sudah tidak kuat lagi memikul beban ini sendirian!"
Kamila tertegun, tangannya yang gemetar perlahan membalas pelukan ibunya. "Ada apa, Bu? Apa yang terjadi?"
Bu Elma melepaskan pelukannya, menatap Kamila dengan mata sembab yang dipaksakan. "Semua hutang ini... ini semua sebenarnya bukan hutang Ibu, Mila. Ini semua peninggalan mendiang Ayahmu, Pak Jayadi."
Bak disambar petir, Kamila menggeleng cepat. "Apa? Tidak mungkin! Ibu jangan bohongi aku. Ayah mana mungkin melakukan hal seperti ini? Lagipula uang sebanyak itu untuk apa?"
"Mila, dengarkan!" sela Bu Elma dengan nada meyakinkan. "Selama ini kau hanya tahu beresnya saja. Kau tidak tahu kesusahan yang dialami oleh Ayahmu di akhir hayatnya. Usahanya kena tipu rekan bisnisnya, dan untuk mengganti kerugian pabrik agar tidak bangkrut, Ayahmu diam-diam meminjam uang dua miliar kepada Tuan Chen. Sekarang, dengan bunga yang menumpuk, hutang itu sudah mencapai tiga miliar!"
Kamila mundur selangkah, wajahnya pucat pasi. "Tiga miliar? Tapi kenapa baru sekarang?"
Mita ikut mendekat, memasang wajah prihatin seolah ia adalah korban yang paling menderita. "Sebenarnya, kami yang meminta anak buah Tuan Chen untuk berbohong tadi, Mila. Kami bilang hutangnya hanya lima ratus juta agar kau tidak jantungan. Tapi kenyataannya jauh lebih mengerikan. Itu semua bekas hutang Ayahmu. Ibu selama ini diam-diam mencicilnya sampai perhiasannya habis semua, tapi tetap saja tidak cukup."
Kamila memegangi kepalanya yang terasa pusing. "Aku tidak percaya... Ayah orang yang sangat berhati-hati. Ini tidak masuk akal."
"Percayalah, Mila!" Mita meyakinkan dengan suara yang hampir berteriak. "Tuan Chen sekarang menagih janji. Ada wasiat lisan dari Ayahmu bahwa jika hutang itu tidak bisa dilunasi, maka rumah ini, satu-satunya kenangan Ayah untukmu akan disita besok pagi! Ibu sudah menyerah, Mila. Ibu sudah tidak sanggup lagi membayar bunga-bunganya."
Kamila terdiam. Logikanya berteriak bahwa ada yang salah dengan cerita ini, namun rasa cintanya yang buta pada mendiang Ayahnya mengalahkan segalanya. Ia tidak akan membiarkan rumah peninggalan Ayahnya jatuh ke tangan orang asing.
"Besok pagi aku akan segera menemui Tuan Chen," ujar Kamila tegas, meski tubuhnya masih lemas. "Tolong berikan aku alamatnya, Bu. Aku tidak akan membiarkan rumah peninggalan Ayah diambil alih oleh pria itu. Aku akan bicara padanya, memohon agar dia memberi keringanan."
Bu Elma dan Mita saling melirik. Kilat kemenangan terpancar di mata mereka.
"Tentu saja, Mila, Ibu akan tuliskan alamatnya. Kau memang anak yang berbakti," ucap Bu Elma sambil mengusap air matanya yang sudah mengering. "Ibu tahu kau pasti bisa melunakkan hati Tuan Chen."
Malam itu, di kamar mereka, Bu Elma dan Mita tertawa tanpa suara.
"Dia benar-benar masuk perangkap, Mah," bisik Mita puas. "Besok pagi, begitu dia menginjakkan kaki di rumahnya Tuan Chen, dia tidak akan pernah bisa keluar lagi dari sana. Dia akan menjadi 'pembayaran' paling manis untuk hutang-hutang kita."
"Benar, Mita. Biarkan dia menikmati 'kemewahannya' bersama si tua bangka itu. Dan kita? Kita akan menguasai rumah ini sepenuhnya tanpa perlu mendengar keluhannya lagi," sahut Bu Elma sambil tersenyum licik, membayangkan masa depan mereka yang bebas dari bayang-bayang Kamila.
kopi untuk mu👍