NovelToon NovelToon
TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

TRANSMIGRASI: DIKIRA ISTRI BODOH, TERNYATA RATU BISNIS

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: Savana Liora

​Blurb:

​Dulu, Sora Araminta hanyalah "Istri Sampah" yang gila harta. Kini, tubuhnya diisi oleh Elena, konsultan bisnis legendaris yang lebih galak dari preman pasar.

​Saat sang suami, Kairo Diwantara, melempar cek dengan tatapan jijik agar Sora tutup mulut, dia pikir istrinya akan girang. Salah besar.

​Elena justru melempar balik surat cerai tepat ke wajah CEO sombong itu.

"Aku resign jadi istrimu. Simpan uangmu, kita bicara bisnis di pengadilan."

​Elena pikir Kairo akan senang bebas dari benalu. Namun, pria itu malah merobek surat cerainya dan menyudutkannya ke dinding dengan tatapan berbahaya.

​"Keluar dari kandangku? Jangan mimpi, Sora. Kamu masih milikku."

​Sial. Sejak kapan CEO dingin ini jadi seobsesif ini?!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Savana Liora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Dewi Investasi

​​"Pak Kairo! Ya ampun, Pak Kairo!"

​Kairo belum sempat melangkah masuk sepenuhnya ke dalam ruangan VIP yang berantakan itu ketika tubuhnya tiba-tiba dihadang. Nyonya Tan—istri dari salah satu raja properti Jakarta—menyambar tangan Kairo dan mengguncangnya dengan antusias yang berlebihan.

​Wajah wanita cantik itu masih pucat sisa kepanikan, tapi matanya berbinar penuh rasa syukur saat menatap Kairo.

​"Istri Bapak... Istri Bapak benar-benar luar biasa!" seru Nyonya Tan, suaranya bergetar. "Kalau bukan karena peringatan Jeng Sora barusan, saya pasti sudah rugi sepuluh miliar! Sepuluh miliar, Pak! Uang itu nyaris hangus di tambang bodong si Bella!"

​Kairo mengerjap, bingung. Dia menatap wanita di depannya, lalu melirik ke arah Elena yang masih duduk santai di kursi utama.

​"Maksud Ibu... Sora menyelamatkan uang Ibu?" tanya Kairo, memastikan telinganya tidak salah dengar.

​"Bukan cuma menyelamatkan! Dia memberi kami pencerahan!" Nyonya Rudi ikut nimbrung, menyenggol Nyonya Tan agar bisa ikut menyalami Kairo. "Pak Kairo beruntung sekali punya istri secerdas Jeng Sora. Wah, saya tidak menyangka. Selama ini orang bilang Sora cuma tahu belanja. Ternyata? Dia pakar investasi! Analisisnya tajam sekali, Pak. Langsung ke inti masalah!"

​Kairo terdiam. Mulutnya sedikit terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar.

​Dia sudah bersiap untuk skenario terburuk: Sora menangis, Sora dipermalukan, Sora minta dibela. Dia datang ke sini dengan mode "suami pelindung" yang siap mengamuk.

​Tapi yang dia temukan justru sebaliknya.

​Istrinya tidak butuh perlindungan. Istrinya justru sedang disembah oleh para wanita yang biasanya paling hobi nyinyir di Jakarta Selatan.

​Kairo menatap Elena.

​Wanita itu perlahan berdiri dari kursinya. Dia menepuk-nepuk sisa remah kue di celana bahannya yang mahal, lalu memberi isyarat pada Reza untuk membereskan kabel dan tablet.

​Elena berjalan menghampiri Kairo. Langkahnya tenang, dagunya terangkat angkuh. Dia melewati Bella Winata yang masih sesenggukan di lantai tanpa menoleh sedikitpun, seolah Bella hanyalah sampah plastik yang mengganggu pemandangan.

​"Sudah kubilang, kan?" kata Elena saat dia berhenti tepat di depan Kairo.

​Dia tidak tersenyum. Wajahnya datar, sedikit bosan. Dia mengambil kacamata hitamnya dari saku blazer yang terkena noda teh, lalu memakainya. Menutupi tatapan tajamnya, tapi tidak bisa menutupi aura dominannya.

​"Aku sudah membersihkan nama baikmu, Kairo. Dan sebagai bonus, aku juga menyelamatkan dompet teman-temanku yang gullible (mudah ditipu) ini," lanjut Elena santai. "Sekarang ayo pulang. Aku lelah. Bau parfum di ruangan ini bikin mual. Terlalu banyak bau kepalsuan."

​Elena tidak menunggu jawaban Kairo. Dia melenggang keluar ruangan, membelah kerumunan sosialita yang memberinya jalan dengan hormat bak membelah Laut Merah.

​Reza buru-buru menyusul di belakang sambil menenteng tas kerja. "Permisi, Bu. Permisi."

​Kairo masih berdiri di sana selama dua detik, memproses situasi. Dia melihat Nyonya Tan dan Nyonya Rudi menatap punggung Elena dengan pandangan memuja.

​"Hebat ya," bisik Nyonya Rudi. "Dingin, tapi smart banget. Cocok jadi istri CEO."

​Kairo tersentak mendengar komentar itu.

​Cocok jadi istri CEO.

​Sudut bibir Kairo berkedut. Ada perasaan aneh yang meledak di dadanya. Perasaan hangat yang menjalar cepat, mendesak keluar rasa amarah yang tadi dia bawa dari mobil.

​Itu bukan rasa marah. Itu rasa bangga.

​Rasa bangga yang arogan. Ya, wanita hebat itu milikku, batin Kairo.

​Dia mengangguk singkat pada para nyonya itu. "Terima kasih. Permisi."

​Kairo berbalik dan berjalan cepat mengejar istrinya. Langkahnya terasa lebih ringan. Dia tidak lagi merasa harus menyeret Elena pulang sebagai tahanan. Dia merasa sedang berjalan berdampingan dengan seorang ratu.

​Di dalam mobil Alphard yang melaju membelah kemacetan Jakarta sore hari.

​Suasana di dalam kabin hening, tapi bukan keheningan yang canggung. Ini keheningan yang padat. Penuh dengan pertanyaan yang belum terucap.

​Elena duduk bersandar di kursi penumpang, memejamkan mata di balik kacamata hitamnya. Dia melepas sepatu hak tingginya, membiarkan kakinya beristirahat di atas karpet mobil yang tebal.

​Kairo duduk di sebelahnya. Matanya tidak melihat jalanan, tapi terus menatap profil samping wajah Elena. Dia mengamati garis rahang wanita itu, leher jenjangnya, dan noda teh yang mengering di blazer putih mahalnya.

​Noda itu seharusnya membuat Elena terlihat berantakan. Tapi anehnya, di mata Kairo, noda itu justru terlihat seperti tanda jasa. Bekas pertempuran yang dimenangkan dengan telak.

​"Darimana kau tahu?" tanya Kairo tiba-tiba, memecah kesunyian.

​Elena tidak membuka matanya. "Tahu apa?"

​"Soal izin tambang Winata yang dicabut. Beritanya baru rilis satu jam lalu. Bahkan tim riset kantorku belum mengirim memo soal itu padaku," kata Kairo, nadanya penuh rasa ingin tahu yang tidak bisa ditutupi. "Kau tidak punya akses ke Bloomberg Terminal di tablet itu. Kau cuma pakai internet biasa. Bagaimana kau bisa tahu sebelum orang lain tahu?"

​Elena membuka matanya di balik lensa gelap. Dia menoleh, menurunkan kacamata hitamnya sedikit ke hidung, menatap Kairo dengan tatapan malas.

​"Data publik, Kairo," jawab Elena simpel.

​"Data publik tidak secepat itu," bantah Kairo. "Pasti ada orang dalam yang memberitahumu. Siapa? Budi si agen properti itu?"

​Elena mendengus geli. Dia menegakkan duduknya, lalu mengambil botol air mineral yang tadi dia bawa dari hotel.

​"Kamu ini CEO, tapi kadang cara pikirmu linear sekali," cibir Elena. "Aku tidak butuh orang dalam. Aku cuma butuh membaca footnote (catatan kaki)."

​"Catatan kaki?" Kairo mengernyit.

​"Iya. Laporan Tahunan PT Winata Coal tahun lalu," jelas Elena, tangannya bergerak di udara seolah sedang menggambar grafik. "Di halaman 154, paragraf ketiga, bagian 'Risiko Hukum'. Di sana tertulis kecil sekali, pakai font ukuran delapan, bahwa ada sengketa lahan dengan warga desa di tiga lokasi tambang utama mereka sejak dua tahun lalu."

​Kairo terdiam, mendengarkan dengan seksama.

​"Orang bodoh cuma baca grafik profit yang hijau," lanjut Elena, matanya berkilat cerdas. "Tapi orang pintar membaca apa yang disembunyikan perusahaan di bagian paling bawah. Sengketa lahan ditambah isu lingkungan yang sedang gencar digalakkan pemerintah bulan ini? Itu bom waktu. Aku cuma tinggal mencocokkan tanggal putusan pengadilan di website Mahkamah Agung yang bisa diakses siapa saja."

​Elena mengangkat bahu.

​"Aku mengecek website pengadilan tadi pagi. Putusannya keluar kemarin sore: Izin dicabut. Jadi, saat Bella pamer cincin berlian hasil 'kesuksesan' tambang, aku tahu dia sedang memegang bom yang sudah meledak."

​Kairo menatap istrinya lekat-lekat.

​Darahnya berdesir. Jantungnya berdegup kencang, tapi kali ini bukan karena cemburu atau marah.

​Ada sensasi aneh yang merayapi tengkuknya. Sensasi menggelitik yang turun ke perutnya.

​Dia ter4ngsang.

​Bukan secara s3ksual murni, tapi secara intelektual. Kairo belum pernah merasa seksi melihat seorang wanita menjelaskan tentang laporan keuangan dan putusan pengadilan.

​Kecerdasan itu... ketajaman analisis itu... keberanian Elena mengambil kesimpulan di saat orang lain buta...

​Itu menghipnotis.

​Selama ini, Kairo dikelilingi wanita cantik yang hanya tahu cara menghabiskan uang. Atau wanita karir yang kaku dan membosankan.

​Tapi Elena? Dia adalah kombinasi yang mematikan. Dia punya wajah bak malaikat yang bisa bikin pria menoleh dua kali, tapi otaknya setajam silet yang bisa memotong leher musuh tanpa berdarah.

​"Kau..." Kairo membasahi bibirnya yang kering. Suaranya menjadi serak. "Kau benar-benar berbahaya, Sora."

​"Terima kasih," jawab Elena datar. Dia menyandarkan kepalanya lagi. "Sekarang diamlah. Aku mau tidur sebentar. Menghancurkan mental orang itu butuh energi."

​Kairo tidak bicara lagi. Tapi matanya tidak lepas dari Elena sepanjang perjalanan pulang. Dia melihat istrinya dengan kacamata baru.

​Wanita di sebelahnya ini bukan lagi "Sora si Istri Pajangan".

​Wanita ini adalah aset. Aset berharga yang nilainya undervalued (di bawah harga pasar) dan baru saja Kairo sadari potensinya.

​Dan sebagai pebisnis yang serakah, Kairo tidak akan melepaskan aset berharga.

​Tidak akan pernah.

​Mobil Alphard itu berhenti mulus di depan lobi rumah mewah mereka. Langit sudah gelap sepenuhnya.

​Pak Danu mematikan mesin. Reza yang duduk di depan buru-buru turun untuk membukakan pintu bagi Elena.

​Tapi Kairo lebih cepat.

​Dia menahan pintu mobil dari dalam agar tidak terbuka.

​"Tunggu," kata Kairo.

​Elena yang sudah siap turun, menoleh dengan kening berkerut. "Apa lagi? Kita sudah sampai. Aku mau mandi, bajuku lengket kena teh manis murahan itu."

​"Soal paspor," kata Kairo.

​Mata Elena langsung berbinar waspada. "Ya? Kau mau mengembalikannya? Sesuai janji?"

​"Belum," jawab Kairo santai.

​Wajah Elena langsung berubah masam. "Pembohong. Kau bilang kalau aku berhasil membungkam Bella..."

​"Kau berhasil membungkam Bella, itu benar. Kerja bagus," potong Kairo. "Tapi kau belum membuktikan kalau kau tidak akan kabur lagi."

​"Ck. Dasar penipu!" Elena mendecih kesal. Dia mendorong tangan Kairo yang menghalangi pintu. "Minggir. Aku mau turun. Percuma bicara bisnis sama penipu."

​Elena turun dari mobil dengan hentakan kaki kasar. Dia berjalan cepat menaiki tangga teras, sepatu hak tingginya berbunyi tak-tak-tak penuh emosi.

​Kairo menyusul di belakangnya dengan langkah lebar. Dia tidak marah melihat Elena ngambek. Justru, dia merasa tertantang.

​Tepat saat Elena hendak membuka pintu utama, Kairo menahan pintu itu dengan telapak tangannya. Dia mengurung Elena di antara tubuhnya dan pintu kayu jati yang kokoh.

​"Dengar dulu," bisik Kairo di belakang telinga Elena.

​Elena berbalik badan cepat, menatap Kairo dengan tatapan mematikan. "Apa? Mau tambah masa tahanan rumah? Atau mau pasang CCTV di kamar mandi?"

​Kairo menatap mata istrinya yang menyala-nyala. Dia mencondongkan tubuhnya, menatap Elena intens.

​"Malam ini," kata Kairo rendah, suaranya penuh otoritas namun ada nada lain di sana—nada kebutuhan. "Jangan kunci pintu ruang kerjamu."

​Elena mengangkat alis tinggi-tinggi. Dia bersedekap dada, melindungi dirinya.

​"Kenapa? Kau mau menyelinap masuk lagi pakai kunci master? Atau kau mau menagih 'hak suami'?" tanya Elena sinis. "Maaf, Pak Kairo. Aku lagi tidak mood melayani nafsu priamu."

​Kairo tersenyum miring. Dia mendekatkan wajahnya, menatap bibir merah Elena yang masih menyisakan polesan lipstik maroon tadi sore.

​"Bukan nafsu itu, Sayang," bisik Kairo.

​Dia mengambil tangan Elena, lalu meletakkan sebuah flashdisk kecil berwarna hitam ke telapak tangan istrinya.

​Elena menatap benda itu bingung. "Apa ini?"

​"Data mentah proyek Cikarang," jawab Kairo. Tatapannya berubah serius, tatapan seorang CEO kepada mitra bisnisnya. "Proyek perumahan Greenlight City yang macet itu. Tim audit internalku bilang semuanya bersih, tapi uangnya terus bocor dan warga terus demo."

​Kairo menggenggam tangan Elena yang memegang flashdisk itu.

​"Aku butuh mata lain. Mata yang bisa melihat apa yang disembunyikan orang-orangku di footnote."

​Elena terdiam. Dia menatap flashdisk di tangannya, lalu menatap Kairo.

​Ini bukan sekadar tugas. Ini adalah akses. Akses ke data rahasia perusahaan. Kepercayaan. Kairo sedang membuka pintu brankasnya sendiri untuk Elena.

​"Kau memintaku mengaudit perusahaanmu?" tanya Elena pelan. "Kau tahu nggak tarifku mahal?"

​"Aku tahu," Kairo menyeringai. "Kalau kau bisa menemukan di mana kebocorannya malam ini... besok pagi paspormu kembali. Dan aku akan tambah bonus satu apartemen atas namamu. Bagaimana?"

​Mata Elena berbinar. Itu tawaran yang tidak bisa ditolak.

​Apartemen gratis? Paspor kembali? Dan kesempatan untuk membongkar kebobrokan manajemen Kairo?

​"Dua apartemen," tawar Elena cepat. "Satu di Kuningan, satu di Menteng. Dan aku mau akses penuh ke server keuangan pusat, bukan cuma data mentah di flashdisk ini."

​Kairo tertawa kecil. Tawa yang jarang sekali keluar.

​"Rakus," komentar Kairo, tapi matanya bersinar kagum. "Oke. Deal."

​Elena tersenyum menang. Dia menggenggam flashdisk itu erat.

​"Baiklah, Pak Kairo. Pintu ruang kerjaku buka jam delapan malam. Jangan telat. Dan bawa kopi. Aku tidak bisa kerja tanpa kopi."

​Elena mendorong dada Kairo pelan, lalu masuk ke dalam rumah dengan langkah ringan.

​Kairo berdiri di teras, menatap punggung istrinya yang menghilang di balik pintu. Dia melonggarkan dasinya, merasakan adrenalin yang terpompa kencang.

​Malam ini akan jadi malam yang panjang. Dan untuk pertama kalinya, Kairo tidak sabar untuk menghabiskannya bersama istrinya. Bukan di ranjang, tapi di depan layar monitor penuh angka.

​Benar-benar hubungan yang aneh. Tapi Kairo tak masalah dengan itu.

1
Rossy Annabelle
next,,seruuuu iih🤯
Savana Liora: #terbit🤭
total 3 replies
wwww
ayok ges ramaikan novelnya seru loh ceritanya 😍
Savana Liora: iyaa ayok mari mari sinii
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!