NovelToon NovelToon
Fatih & Raisa

Fatih & Raisa

Status: sedang berlangsung
Genre:Dokter / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Romansa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Yahhh__

Muhammad Fatih Ar-rais, seorang dokter muda tampan yang terkenal dengan sifat dingin nya namun ramah pada semua pasien nya

Raisa Amira Al-hazm, Seorang Guru cantik yang terkenal dengan keramahan dan ketegasan nya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yahhh__, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

Lampu di sudut kamar yang bernuansa hitam itu memantulkan bayangan Muhammad Fatih Ar-Rais yang tengah terduduk di tepi ranjang.

butiran keringat memenuhi keningnya sementara nafas nya masih memburu

Di usianya yang baru menginjak 25 tahun, Fatih telah dikenal sebagai dokter muda yang sangat berprestasi. Dia lulusan S3 terbaik di luar negeri. Namun, di balik semua itu ia adalah sosok yang tertutup, misterius dan kaku. Teman teman nya sering menjulukinya dengan sebutan Pangeran Es karena sifatnya yang irit bicara serta ekspresi wajahnya yang selalu datar. dia tersenyum kecil hanya ketika menangani pasien nya.

Baginya, kesembuhan orang lain adalah tujuan utama nya, namun saat ini belum ada yang berhasil menembus pertahanan hatinya.

Malam ini, tidurnya terusik oleh sesuatu yang menurutnya sangat tidak masuk akal

Fatih memejamkan mata, mencoba mengusir sisa-sisa mimpi yang baru saja ia alami.

Di dalam mimpinya, ia mengenakan pakaian yang putih, dan berada di sebuah taman yang begitu indah di penuhi dengan bunga lili putih juga dihiasi dengan kupu kupu yang berterbangan, namun netra nya menangkap sosok perempuan asing dengan pakaian dan hijab sederhana yang berwarna putih.

" permisi, ini tempat apa? " ucap fatih mencoba berinteraksi dengan perempuan yang membelakangi nya itu

Deg

Perempuan itu tidak menjawab kemudian menoleh dan tersenyum pada fatih. senyum yang setenang dan sehangat matahari terbit. Fatih bahkan tidak mampu mengalihkan pandangan nya dari perempuan itu.

Fatih memutuskan untuk duduk di samping perempuan itu, ia memejamkan mata nya dan menikmati semilir angin yang menerpa wajah nya. fatih bingung kehadiran perempuan itu sama sekali tidak mengganggunya, bahkan dirinya terasa tenang dan nyaman saat berada di dekat perempuan yang tidak mengeluarkan sepatah kata pun itu.

Bagi Fatih yang belum pernah mengandalkan perasaan nya mimpi itu sangat mengganggu nya. Bahkan wajah dan senyum itu terus menari dalam pikiran nya.

ia mencoba mengingat apakah pernah bertemu dengan gadis itu, namun ingatan nya tidak ada yang mengarah pada gadis yang memiliki senyum teduh itu

" mungkin gara gara gue kelelahan " gumamnya pada diri sendiri.

Fatih memegang jantung nya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasa nya. Ia bahkan belum pernah merasakan hal yang seperti ini, seolah ada kerinduan yang mendalam tersimpan dalam dirinya.

Tidak mau ambil pusing Fatih beranjak menuju dapur, menuangkan air putih untuk mendinginkan kepalanya. Ia berdiri di depan jendela besar yang menampilkan gemerlap lampu kota, namun pikiran nya dipenuhi bayangan senyum teduh.

......................

Pagi itu, koridor rumah sakit terasa lebih dingin dari biasanya bagi Fatih. Meskipun matanya tampak sedikit lelah karena kurang tidur, ia tetap melangkah dengan tegap menuju bangsal rawat inap. Jas putihnya yang licin tanpa noda seolah mempertegas batas antara dirinya dan dunia sekitar.

Fatih berhenti di depan pintu kamar 302. Ia mengambil napas dalam, menetralkan pikirannya yang masih terbayang-bayang sosok perempuan dalam mimpinya semalam. Begitu ia membuka pintu, aura dingin di wajahnya seketika mencair, berganti dengan sorot mata yang fokus dan penuh perhatian.

Di atas ranjang, seorang wanita paruh baya bernama Bu Lina terbaring lemas. Di sampingnya, berdiri suaminya yang tampak cemas dan seorang anak laki-laki yang sedang menggenggam tangan ibunya.

"Selamat pagi, Bu Lina. Bagaimana perasaan Ibu hari ini? Apakah sesaknya sudah berkurang?" suara Fatih terdengar lembut.

Fatih mulai memeriksa Bu Lina dengan sangat teliti. Ia meletakkan stetoskopnya dengan gerakan yang halus, memastikan tidak mengejutkan pasiennya. Ia mendengarkan detak jantung dan suara paru-paru Bu Lina dengan saksama, seolah-olah hanya kesehatan wanita itu yang paling penting di dunia saat ini.

 "Detak jantungnya sudah lebih stabil, Pak," ucap Fatih sambil menoleh ke arah suami Bu Lina. "Tapi kita masih perlu memantau cairan di paru-parunya agar Ibu bisa bernapas lebih lega."

Anak laki-laki Bu Lina memperhatikan setiap gerak-gerik Fatih. Ia kagum melihat bagaimana cara dokter itu bekerja dan menyapa pasien nya dengan begitu lembut.

"Dokter Fatih sangat baik, ya," bisik Bu Lina lemah.

Fatih hanya tersenyum tipis. "Sudah tugas saya, Bu. Yang penting Ibu jangan banyak pikiran dulu. Fokus pada pemulihan saja."

Setelah memastikan semua catatan medis terisi dengan akurat dan memberikan instruksi khusus kepada perawat, Fatih berpamitan. Namun, saat ia berbalik menuju pintu, anak laki-laki Bu Lina memanggilnya.

"Dokter, terima kasih sudah merawat Ibu saya dengan sangat baik."

Fatih hanya mengangguk sopan, saat di luar ruangan raut wajah nya kembali datar. Namun, tepat saat ia melangkahkan kaki nya di koridor, langkahnya mendadak terhenti. Di ujung lorong, ia melihat seseorang yang sedang berjalan membelakanginya, seorang perempuan dengan tinggi badan dan postur yang sangat mirip dengan sosok dalam mimpinya semalam.

Jantung Fatih berdegup sedikit lebih kencang. Ia berusaha menyusul sosoj perempuan yang baru saja berbelok di ujung koridor. Ada dorongan kuat yang tidak bisa ia jelaskan keinginan untuk memastikan apakah wajah itu benar-benar pemilik senyum teduh yang mengusik tidurnya.

"Permisi..." Fatih nyaris memanggil, suaranya yang berat sudah berada di ujung tenggorokan.

Namun, tepat sebelum ia berhasil mencapai sudut lorong, suara suster menghentikan langkah fatih

"Dokter Fatih! keruang ICU sekarang!" seru seorang perawat yang berlari dari arah berlawanan.

Fatih tidak menoleh lagi ke arah perempuan tadi. Ia memutar tubuhnya dengan cepat, Ia berlari menuju lift khusus staf dengan secepat yang ia bisa.

Suasana di ICU sangat tegang. Bunyi statis dari monitor jantung yang menunjukkan garis datar memenuhi ruangan. Fatih masuk dan langsung mengambil posisi di samping tempat tidur pasien.

"Lakukan kompresi dada! Siapkan epinefrin satu miligram!" perintahnya dengan suara lantang dan tegas. Tidak ada keraguan, tidak ada ketakutan.

Tangannya yang kokoh bekerja dengan cekatan. Ia memimpin tim medis dengan koordinasi yang sempurna. Meski wajahnya tetap datar seperti es, setiap keputusannya menunjukkan betapa ia sangat menghargai nyawa di hadapannya. Peluh mulai membasahi pelipisnya, namun fokusnya tidak goyah sedikit pun.

Setelah beberapa menit yang terasa seperti selamanya, bunyi bip yang ritmis kembali terdengar dari monitor.

"Irama jantung kembali. Tekanan darah mulai naik," lapor perawat dengan nada lega.

Fatih menghela napas panjang, melepaskan sarung tangannya dengan sekali tarikan. Ia berdiri sejenak di depan wastafel ruang sterilisasi, membasuh wajahnya dengan air dingin.

Saat ia menatap pantulan dirinya di cermin, bayangan perempuan di koridor tadi kembali muncul di benaknya. Siapa perempuan itu?

Fatih keluar dari ICU dan berjalan kembali menuju lorong tempat ia melihat perempuan tadi. Namun, lorong tersebut kini sudah sepi, hanya menyisakan beberapa keluarga pasien dan perawat yang lalu lalang

"Fatih, kamu cari sesuatu?" tanya Dokter Adrian, seniornya, yang kebetulan lewat.

"Tidak, Dok. Hanya memastikan koridor bersih," jawabnya singkat sebelum melangkah pergi menuju ruangannya.

" tidak seperti biasa nya" ucap batin dokter adrian

1
Rian Moontero
lanjuuuutttt😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!