Sekar Wening hidup sebagai gadis desa terbuang yang kelaparan di gubuk bocor dilereng bukit Menoreh. Ia dianggap pembawa sial, tak berguna, tak diinginkan.
Tak ada yang tahu, jiwanya adalah seorang profesor biohayati jenius yang mati dalam ledakan laboratorium.
Saat tanda lahir di jari manisnya bersinar, sebuah ruang ajaib terbuka. Tanah surga, air kehidupan, dan takdir baru menantinya. Dari gadis hina menjadi wanita yang mengguncang desa hingga Keraton, Sekar bersiap membalikkan nasib, dan tanpa ia sadari, di tengah kebangkitannya, hati seorang Pangeran Yogyakarta mulai terpikat padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Viral di Halaman Utama
Keheningan gubuk bambu yang biasanya tenteram, pecah oleh suara langkah kaki terburu-buru yang menapak di jalan setapak berbatu.
Bukan satu orang, tapi puluhan.
"Mbak Rahayu! Mbak Rahayu! Lihat ini!"
Suara Bu Tejo, tetangga yang biasanya paling pelit bicara, terdengar melengking histeris.
Sekar Wening baru saja selesai menyeduh teh melati tubruk di dapur. Uap panas mengepul dari cangkir tanah liat, membawa aroma jasmine yang menenangkan saraf.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Pintu depan gubuk digedor dengan tidak sabar.
Rahayu Ningsih, dengan wajah masih basah sisa air wudhu, tergopoh-gopoh membuka pintu.
"Ada apa to, Bu Tejo? Kok pagi-pagi sudah ribut?" tanya Rahayu lembut, menyembunyikan kekagetannya.
Tanpa permisi, Bu Tejo menyodorkan selembar koran harian lokal terbesar di Yogyakarta yang terbit pagi itu. Kertasnya berkeresek kasar saat berpindah tangan.
"Anakmu, Mbak! Anakmu masuk koran! Halaman depan pula! Gusti Allah, ini mimpi apa semalam!" seru Bu Tejo, matanya membelalak lebar seakan mau loncat keluar.
Rahayu menerima koran itu dengan tangan gemetar.
Sekar melangkah keluar dari dapur, meletakkan nampan teh di meja.
Wajahnya tenang, kontras dengan keriuhan di teras rumahnya. Dia melirik koran yang dipegang ibunya. Di sana, mendominasi separuh halaman muka, terpampang sebuah foto berkualitas tinggi.
Foto itu bukan sekadar dokumentasi jurnalistik biasa. Itu adalah karya seni.
Di dalam foto itu, Sekar sedang berdiri di tengah hamparan padi emas yang berkilauan ditimpa cahaya Golden Hour.
Dia tidak melihat ke kamera.
Wajahnya menunduk sedikit, menatap bulir padi di tangannya dengan tatapan penuh kasih sayang dan fokus yang intens. Cahaya backlight membuat ujung-ujung rambutnya yang terurai tampak bersinar seperti halo malaikat.
Komposisinya sempurna. Rule of thirds-nya presisi. Depth of field-nya membuat latar belakang bukit kapur yang gersang menjadi bokeh yang artistik, menonjolkan sosok Sekar sebagai satu-satunya kehidupan di sana.
Hanya seorang fotografer dengan mata terlatih dan kamera DSLR kelas atas yang bisa menangkap momen "candid" seindah ini.
Dan Sekar tahu persis siapa pelakunya.
Mas Arya.
Judul berita utama tertulis dengan huruf tebal berwarna hitam: "GADIS DESA PENYELAMAT PANGAN ISTANA: KEAJAIBAN DARI LAHAN TANDUS KULON PROGO"
"Ya Allah... Nduk..." suara Rahayu tercekat. Air mata bangga langsung menggenang di pelupuk matanya yang keriput. Dia mengelus foto hitam putih di kertas buram itu seolah sedang mengelus wajah asli anaknya.
"Ibu tidak menyangka wajahmu bisa ada di sini..."
Sekar mengambil alih koran itu perlahan. Matanya memindai teks berita dengan kecepatan membaca skimming khas akademisi.
Artikel itu memuji kualitas sayuran organik dan beras varietas baru yang berhasil tumbuh di tanah berbatu.
Disebutkan juga bahwa Koki Kepala Keraton memuji rasa bahan pangan ini sebagai "cita rasa yang hilang selama satu abad".
Di dalam benak Profesor Sekar, alarm kalkulasi risiko berbunyi nyaring.
Uncontrolled Variable.
Publikasi ini adalah variabel yang tidak terkendali. Dia menginginkan pertumbuhan bisnis yang organik dan low profile untuk menghindari atensi yang tidak perlu.
Namun, foto estetik ini mengubah segalanya.
Ini bukan sekadar berita pertanian. Ini adalah branding personal yang sangat kuat.
Arya, dengan segala niat baiknya atau mungkin strategi tersembunyinya, telah melempar Sekar langsung ke tengah panggung sorotan.
"Walah, Mbak Sekar! Pancen ayu tenan!" puji Pak RT yang tiba-tiba sudah ikut nimbrung di halaman.
"Pantesan orang Keraton sampai datang. Ternyata ada bidadari di kebun batu!"
Sekar tersenyum tipis. Senyum sopan yang ia latih untuk situasi sosial.
"Terima kasih, Pak. Ini cuma kebetulan saja fotografernya pintar ambil sudut," jawab Sekar merendah.
Namun di dalam hati, dia tahu badai baru saja dimulai.
Eksposur sebesar ini tidak hanya mengundang decak kagum.
Tapi juga mengundang lalat dan serigala yang lapar.
Tiga puluh kilometer dari gubuk bambu Sekar. Di jantung kota Yogyakarta yang sibuk.
Gedung Sekretariat Keraton berdiri megah dengan arsitektur kolonial yang dipadu ukiran Jawa klasik.
Lantai marmernya mengilap dingin, memantulkan bayangan orang-orang penting yang berlalu-lalang dengan langkah berirama.
Aroma kopi espresso mahal dan pengharum ruangan wangi cendana memenuhi udara di ruang kerja pribadi Radityo Adhiwijaya.
Pria paruh baya itu duduk di kursi kulitnya yang empuk.
Rambutnya disisir klimis ke belakang, tanpa satu helai pun yang berantakan. Kemeja batiknya licin, hasil setrikaan binatu mahal.
Namun, wajah Radityo pagi itu tampak kusut.
Ada kerutan dalam di keningnya. "Sialan," umpat Radityo pelan sambil melempar berkas proposal anggaran ke meja.
"Si Rangga itu lagi-lagi memotong jatah proyekku. Dia pikir karena dia keponakan Sultan, dia bisa seenaknya?"
Radityo memijat pelipisnya yang berdenyut. Ambisi politiknya sedang terhambat.
Dia butuh sebuah terobosan. Sesuatu yang bisa membuatnya terlihat "berjasa" di mata Sri Sultan Prabu Wirabhumi I, agar posisinya aman dari intrik istana.
Tok, tok.
"Masuk," perintah Radityo ketus.
Seorang staf muda masuk dengan tubuh membungkuk sopan, membawa nampan berisi kopi dan koran pagi.
"Permisi, Pak Radit. Ini kopi dan koran hari ini. Ada berita bagus tentang ketahanan pangan daerah yang sedang jadi perhatian Ngarso Dalem," lapor staf itu.
"Taruh saja di situ. Keluar," usir Radityo tanpa menoleh.
Staf itu meletakkan koran di atas tumpukan berkas, lalu mundur teratur.
Radityo menghela napas panjang. Dia menyeruput kopinya yang pahit. Matanya iseng melirik ke arah koran yang tergeletak di meja.
Dia berniat mengabaikannya, namun judul besar tentang "Istana" menarik perhatiannya.
Apapun yang berhubungan dengan Istana adalah urusannya. Radityo menarik koran itu malas-malasan.
"Gadis Desa Penyelamat Pangan Istana..." gumamnya membaca judul.
"Halah, paling pencitraan LSM..." Namun, kalimatnya terhenti di tenggorokan.
Cangkir kopi di tangan kanannya berhenti di udara, cairan hitamnya nyaris tumpah.
Mata Radityo terpaku pada foto besar di halaman utama itu. Dia mengenali kontur wajah itu.
Tulang hidung yang mancung, bentuk dagu yang tegas, dan mata yang...
Mata itu mirip sekali dengan mata Rahayu saat masih muda dulu, tapi sorot matanya berbeda.
Sorot mata gadis di foto itu tajam, cerdas, dan berkelas. Bukan sorot mata gadis desa bodoh yang dia ingat.
"Sekar?" bisik Radityo. Suaranya penuh ketidakpercayaan. Tangannya dengan cepat menyambar koran itu, mendekatkannya ke wajah.
Dia membaca caption foto kecil di bawahnya:
Sekar Wening (18), pemilik lahan inovatif di Kulon Progo, berhasil meneken kontrak eksklusif dengan Dapur Keraton Yogyakarta.
Jantung Radityo berdegup kencang.
Bukan karena rindu. Bukan karena rasa bersalah telah membuang darah dagingnya sendiri ke hutan beton kemiskinan.
Jantungnya berdegup karena adrenalin peluang.
Otak oportunisnya bekerja cepat, lebih cepat dari kalkulator. Dia ingat betul, terakhir kali dia melihat Sekar, gadis itu hanya anak ingusan yang sakit-sakitan dan dianggap pembawa sial oleh ibunya, Marsinah.
Tapi lihat sekarang. Gadis di foto ini terlihat seperti... aset.
"Kontrak eksklusif dengan Keraton..." desis Radityo, bibirnya perlahan menyunggingkan senyum.
Senyum yang tidak mencapai matanya. Senyum seorang pedagang yang baru saja menemukan barang berharga di tumpukan sampah.
Sri Sultan sangat peduli pada isu pertanian dan pemberdayaan rakyat kecil.
Jika Sultan tahu bahwa "Gadis Ajaib" ini adalah putri kandung Radityo Adhiwijaya, pejabat tingginya sendiri...
Bayangkan pujian yang akan dia terima.
Bayangkan narasi politik yang bisa dia bangun: Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Ayah pejabat yang kompeten, menghasilkan anak jenius yang berbakti pada negeri.
Radityo tertawa kecil. Tawa yang kering dan ambisius.
"Siapa sangka, anak pembawa sial itu ternyata punya kegunaan juga."
Dia menekan tombol interkom di mejanya dengan kasar. "Hendra! Masuk ruangan saya sekarang!"
Radityo berdiri, berjalan menuju jendela kaca besar yang menghadap ke halaman luas sekretariat.
Dia menatap bayangannya sendiri di kaca. Rasa jijik dan malu karena memiliki anak dari istri desa yang kampungan, kini lenyap tak berbekas. Digantikan oleh rasa kepemilikan yang mendadak muncul.
"Kamu milikku, Sekar," bisik Radityo pada kaca jendela. "Kesuksesanmu adalah namaku. Darahmu adalah darahku."
"Sudah waktunya Bapak menjemputmu pulang... demi masa depan Bapak."
Di gubuk bambu, Sekar merasakan telinganya berdenging pelan.
Firasat buruknya kembali muncul, lebih kuat dari sebelumnya.