NovelToon NovelToon
Tekad Gadis Desa

Tekad Gadis Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Keluarga / Teen Angst
Popularitas:163
Nilai: 5
Nama Author:

Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!

2. TGD.2

Udara di aula SMA Negeri itu terasa pengap, namun Shelly sama sekali tidak peduli. Pikirannya melayang pada percakapan rahasia bapak dan ibunya di dapur pagi tadi. Setiap kali ia melihat telapak tangan bapaknya yang kasar karena mencangkul, hatinya berdenyut nyeri. Ia tahu, kelulusan ini bukan sekadar seremoni memakai toga, melainkan penentuan nasib masa depannya dan beban punggung ayahnya.

Di sampingnya, Ibu berkali-kali merapikan kerudung Shelly yang sebenarnya sudah rapi. Bapak duduk tegak dengan kemeja batik terbaiknya yang sudah agak pudar warnanya. Sementara itu, abang dan adiknya menunggu di luar jendela aula karena kapasitas ruangan yang terbatas.

"Bapak, Ibu," bisik Shelly lirih di tengah keriuhan musik pembuka. "Kalau nanti Shelly nggak dapat beasiswa, Shelly nggak apa-apa kok kalau harus kerja dulu tahun depan."

Ibu menatap Shelly dalam-dalam, senyumnya dipaksakan meski matanya berkaca-kaca. "Nduk, tugasmu itu belajar. Masalah biaya, itu urusan Bapak sama Ibu. Gusti Allah pasti kasih jalan."

Bapak hanya mengangguk pelan, namun genggaman tangannya pada lutut terlihat sangat erat. Shelly tahu bapak sedang menyembunyikan kecemasannya.

Acara inti pun dimulai. Kepala Sekolah naik ke atas podium dengan mikrofon di tangan. Beliau membacakan laporan kelulusan tahun ini. Detak jantung Shelly semakin kencang, seirama dengan detak jarum jam di dinding aula.

"Tahun ini adalah tahun yang membanggakan bagi sekolah kita," ujar Kepala Sekolah. "Ada satu siswa yang meraih predikat lulusan terbaik dengan nilai ujian nasional hampir sempurna. Siswa ini juga telah dinyatakan lolos seleksi beasiswa penuh *Adik Bangsa* untuk melanjutkan kuliah kedokteran di universitas ternama di pusat kota."

Aula mendadak sunyi. Beasiswa *Adik Bangsa* adalah beasiswa bergengsi yang menanggung seluruh biaya hidup dan kuliah hingga lulus. Shelly menahan napas. Ia tahu hanya satu orang dari sekolah mereka yang mengajukan beasiswa itu.

"Selamat kepada, Shelly Anindya!"

Dunia seolah berhenti berputar. Shelly terpaku di kursinya. Ia baru tersadar saat Ibu memeluknya dengan isak tangis yang pecah. Bapak berdiri dengan gemetar, wajah lelahnya kini berganti dengan binar kebanggaan yang belum pernah Shelly lihat sebelumnya.

Shelly berjalan menuju panggung dengan kaki yang terasa ringan. Di kejauhan, melalui celah jendela, ia melihat abangnya melambaikan tangan dengan semangat, sementara adiknya melompat-lompat kegirangan. Di atas panggung, saat menerima map merah dan sertifikat penghargaan, Shelly menatap kedua orang tuanya dari ketinggian.

Dalam hatinya, Shelly berbisik, *"Terima kasih, ya Allah. Bapak tidak perlu menjual sawah sepetak itu. Ibu tidak perlu lagi menangis di dapur."*

Setelah acara selesai, mereka berkumpul di bawah pohon beringin depan sekolah. Abangnya langsung merangkul Shelly. "Tuh kan, abang bilang apa! Adik abang ini memang jenius. Nggak jadi abang merantau jadi kuli di kota kalau begini, abang fokus bantu Bapak di sawah saja biar kamu fokus belajar."

Bapak mendekat, menyentuh pundak Shelly dengan tangan gemetarnya. "Nduk, ini semua karena doa dan usahamu. Bapak bangga sekali. Maafkan Bapak yang tadi sempat bingung cari biaya."

Shelly menggeleng cepat, lalu mencium tangan bapak dan ibunya secara bergantian. "Shelly yang terima kasih, Pak, Bu. Tanpa sarapan yang Ibu masak pagi-pagi dan doa Bapak di setiap sujud, Shelly nggak akan sampai di sini."

Si bungsu yang sedari tadi cemberut akhirnya menarik-narik baju Shelly. "Berarti nanti Kakak pindah ke kota? Adek ikut ya?"

Gelak tawa pun pecah di antara keluarga kecil itu. Matahari siang itu terasa sangat terik, namun bagi Shelly dan keluarganya, hari itu adalah awal dari musim semi yang paling indah dalam hidup mereka. Sawah sepetak itu tetap milik mereka, dan masa depan Shelly kini bukan lagi sekadar mimpi di atas penggorengan dapur.

---

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!