Sofia hamil anak dari Jabez suaminya namun Layla merebut kebahagian itu dari Sofia dengan mencuri Test Pack milik Sofia, dan Layla mengaku-ngaku bahwa dia lah yang hamil anak dari Jabez.
Mendengar kabar baik atas kehamilan Layla, tentu saja membuat Jabez menjadi senang karena selama ini, dia sangat mendambakan seorang anak untuknya sebagai penerus keturunan Gurita kerajaan perusahaan EZAZ RAYA.
Layla merupakan istri pertama dari Jabez Ezaz yang digadang-gadang semua orang untuk meneruskan garis keturunan keluarga Ezaz Raya.
Mampukah Sofia menjalani pernikahan ini bersama Jabez serta membuktikan pada semua orang bahwa Layla berbohong akan kehamilannya. Dan kembali merebut hati suaminya agar Jabez mencintainya lagi serta menendang kekuasaan Layla dari istana Alhambra.
Mohon dukungannya ya pemirsa yang budiman 🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reny Rizky Aryati, SE., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1 ISTANA ALHAMBRA
Sofia tersenyum ceria, melangkah ringan sepanjang jalan di area selasar istana Alhambra yang terhubung dengan taman Bougenville.
Istana Alhambra merupakan kediaman Jabez Ezaz, putra dari kaisar Aarash Ezaz sekaligus ahli waris dari Kerajaan Ezaz Raya yang menggurita kekuasaannya.
Senyum manis di wajah Sofia membayang teduh namun sorot matanya tegas menandakan bahwa dia bukan sosok biasa saja.
Sofia merupakan selir kedua dari Jabez Ezaz, salah satu wanita paling disayangi oleh Jabez setelah Layla, istri pertamanya.
"Aku sudah tidak sabaran lagi jumpa Jabez, kuharap dia ada di ruangan istirahatnya sekarang..."
Sofia terus melangkahkan kakinya yang terbungkus sepasang sepatu kaca berhiaskan berlian menuju ruangan istirahat suaminya, Jabez di istana Alhambra ini.
Senandung suaranya yang merdu terdengar ringan saat dia berjalan melewati ruangan luas berlantai granit emas.
Sofia meneruskan laju langkahnya ke arah ruangan istirahat di area ruangan granit emas ini kemudian dia bertemu dengan seorang ibu pengasuh.
"Sofia, kau terlihat ceria hari ini, nak..."
"Ya, ibu Saba, aku sangat gembira hari ini dan kau tahu kenapa hatiku dipenuhi kegembiraan ?"
"Apakah yang membuat hatimu diwarnai kegembiraan itu, Sofia ?"
"Mmmm... ?!"
Sofia melirik ke arah samping kanan dan kiri secara bergantian.
"Ssst... Ini rahasia... Sampai aku memberitahukan pada Jabez tentang kabar gembira ini, Ibu Saba !"
"Ayolah, tidak perlu kau sampaikan dulu pada putraku Jabez, dia bisa menunggu setelah kau memberitahukan kabar bahagia itu padaku, sayangku Sofia."
"Tapi bukan lagi surprise buat Jabez jika aku memberitahukan padamu terlebih dulu tentang kabar bahagia ini, Ibu Saba tercinta..."
"Bukan masalah besar jika kau tidak memberitahukan kabar gembira ini pada putraku Jabez karena aku akan senang sekali mendengar kabar baik itu daripada Jabez sendiri, Sofia..."
"Bagaimana ya, ibu Saba, aku ingin kabar gembira ini menjadi awal kabar menggembirakan bagi Jabez selain orang lain..."
"Jadi selama ini kau anggap ibu Saba orang lain, Sofia ?"
"Bu-bukan begitu, aku tidak menganggap ibu Saba orang lain melainkan orang paling terpenting di istana Alhambra ini, ibu Saba."
"Tadi kau bilang pada ibu Saba bahwa kau menganggap bahwa ibu adalah orang lain kalau begitu ibu kecewa padamu, Sofia."
"Bukan, bukan begitu, Sofia hanya salah kata saja, baiklah, Sofia akan memberitahukan tentang kabar menggembirakan ini pada ibu Saba terlebih dulu."
"Ya, baiklah, ibu akan mendengarkannya dengan suka rela..."
"Tapi..., ibu harus merahasiakan hal ini dari orang lain sebelum Jabez sendiri yang mengumumkannya nanti pada semua orang..."
"Baiklah, ibu Saba berjanji akan merahasiakan kabar menggembirakan ini pada siapa pun juga !"
Ibu Saba mengatupkan bibirnya seraya mengarahkan ujung jari telunjuknya pada bibirnya menandakan dia akan menyimpan rahasia Sofia pada siapa pun juga di istana Alhambra ini.
"Coba ibu Saba ulurkan tangan ibu ke depan Sofia !"
"Ehk... Baiklah, ibu akan mengulurkan tangan ibu ke depanmu, Sofia..."
"Mmm, baiklah, sekarang arahkan telapak tangan ibu ke atas !"
"Seperti ini ?"
"Yup, benar sekali, seperti itu, ibu Saba !"
"Yah, baiklah lantas sekarang apa, Sofia ?"
"Tunggu sebentar..."
Sofia tersenyum-senyum senang sembari meletakkan Test Pack di atas telapak tangan ibu Saba.
Seketika ibu Saba tersentak kaget, wajahnya berubah lain ketika dia melihat alat Test Pack tanda kehamilan milik Sofia di telapak tangannya.
"Wow ?!"
Ibu Saba memekik terkejut dengan kedua mata terbelalak lebar, tak percaya dengan apa yang dilihatnya bahwa Sofia hamil.
"K-kau hamil, Sofia ???"
"Ya, aku hamil, ibu Saba !"
"Demi Tuhan, Sofia !"
"Aku hamil, ibu Saba !"
"Selamat untukmu sayangku, Sofia..."
"Terima kasih, ibu Saba."
"Aku tidak tahu kado terbaik apakah yang harus kuberikan kepadamu, Sofia sayang !"
"Jangan pikirkan soal kado terbaik untukku, ibu Saba !"
"Tapi aku harus memberimu kado spesial, sayangku..."
"Nanti ibu Saba pikirkan kado terbaik untukmu, Sofia sayang !"
"Oh, ibu Saba, Sofia sangat berterima kasih pada ibu sebab telah bersedia mendengarkan ucapan Sofia tentang kabar bahagia ini."
"Sebentar, Sofia !"
Ibu Saba melirik pelan ke arah gelang berlian yang dipakainya lalu dia memberikan benda kesayangan miliknya itu pada Sofia sebagai hadiah atas kehamilannya.
Sebuah gelang emas terbuat dari onyx hitam dengan butir-butir berlian disekelilingnya serta mata zamrud dipakaikan ke pergelangan tangan Sofia oleh Ibu Saba.
"Terima hadiah kecil tak berharga ini dariku, nak. Sebab aku tidak bisa memberikan apa-apa padamu selain gelang satu-satunya ini yang merupakan kesayangan ibu, Sofia."
"Tidak ibu Saba, Sofia tidak bisa menerima hadiah terbaik ini sebab gelang ini merupakan hadiah pemberian kaisar Aarash Ezaz sebagai hadiah ulang tahun ibu Saba..."
"Jangan menolaknya, Sofia, jika gelang ini berharga buat ibu maka tentunya gelang ini sama berharganya bagi Sofia !"
"Tapi gelang ini adalah pemberian kaisar Aarash Ezaz untuk ibu Saba karena ibu telah lama mengabdi sebagai ibu pengasuh di istana Alhambra ini..."
"Jika kau menolak pemberian dari ibu maka kau sama artinya tidak menghormati ibu Saba disini, Sofia."
"Kumohon padamu ibu Saba, bukan begitu maksud ucapan Sofia namun Sofia sangat menghormati ibu, hanya saja gelang ini termasuk gelang pusaka bagi anda."
"Tidak lagi sekarang ini sebab ibu Saba telah memberikan gelang berharga pemberian kaisar Aarash Ezaz untukmu, Sofia sayangku."
"Oh, ibu Saba, apa yang harus kuucapkan pada anda atas kemurahan hati ibu pada Sofia ?"
"Jangan sungkan karena sekarang buat Sofia adalah kebahagiaan Sofia sendiri serta anak yang dikandung olehmu ini, sayangku !"
Sofia tersenyum senang seraya mengelus-elus bagian perutnya yang berisi calon bayi.
"Terima kasih, ibu Saba..."
"Sama-sama, sayangku !"
Ibu Saba segera mencium kening Sofia lalu mendekapnya erat-erat.
"Selamat untukmu, Sofia sayang !"
"Terima kasih, ibu Saba..."
"Semoga Tuhan Yang Maha Esa senantiasa memberkatimu dari atas sana, Sofia sayangku !"
"Amien..."
"Suatu kabar paling menggembirakan bagi kerajaan Ezaz Raya karena akhirnya kita akan memiliki calon penerus berikutnya dari keturunan Jabez Ezaz yang merupakan ahli waris langsung dari kerajaan ini dan merupakan putra dari kaisar Aarash Ezaz."
Sofia tersenyum ceria sembari menunduk ketika ibu Saba mengusap kepala Sofia untuk memberi berkat atas kehamilannya.
"Semoga berkat Tuhan senantiasa menyertai perjalanan cintamu bersama Jabez Ezaz di masa sekarang dan masa depan nanti, sayangku Sofia !"
"Amien..."
Ibu Saba memeluk Sofia sekali lagi seraya menepuk kedua bahunya pelan lalu tertawa senang.
"Aku ucapkan selamat untukmu dan berbahagialah selalu, sayangku Sofia !"
"Terima kasih, ibu Saba."
Sofia mengangkat kepalanya lurus-lurus menghadap ke arah ibu Saba yang berdiri di hadapannya seraya tersenyum manis.
Kebahagiaan langsung terpancar cerah dari raut wajah Sofia ketika dia memandang kepada ibu Saba, setelah menerima berkat serta ucapan selamat dari ibu Saba kemudian Sofia segera berpamitan pergi untuk melanjutkan lagi tujuannya menuju ruangan istirahat suaminya yaitu Jabez Ezaz.