Dulu Salma Tanudjaja hidup dalam kebodohan bernama kepercayaan. Kini, ia kembali dengan ingatan utuh dan tekad mutlak. Terlahir Kembali, Aku Tidak Akan Bodoh Lagi adalah kisah kesempatan kedua, kecerdasan yang bangkit, dan balas dendam tanpa cela. Kali ini, Salma tak akan jatuh di lubang yang sama, ia yang akan menggali lubang itu untuk orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa Ratu Drama yang Sebenarnya
Wajah semua orang di koridor itu berubah suram, terutama Manda. Namun, yang paling tak terima adalah Jessi, antek setia Manda di OSIS.
"Ngomong apa lo barusan?" Jessi merangsek maju, wajahnya merah padam menahan emosi. "Salma! Lo percaya nggak, gue bisa bikin lo nggak betah dan ditendang dari Citra Bangsa?"
Salma menggeser tubuhnya santai, menghindari telunjuk Jessi yang menuding wajahnya. Tatapannya dingin, menusuk. "Lo pikir lo siapa? Cuma anggota OSIS rendahan. Lo percaya nggak, justru gue yang bisa bikin lo lenyap dari sekolah ini besok pagi?"
Wajah Jessi makin keruh. "Kurang ajar! Gue mau lihat seberapa hebat lo!"
Habis kesabaran, Jessi menerjang. Mengandalkan sedikit bela diri yang pernah dipelajarinya, ia berniat memukul Salma.
Bibir Salma melengkung sinis. Ia berkelit lincah ke samping, tangan kirinya bergerak cepat menepuk punggung Jessi dengan tenaga terukur.
Bruk!
Jessi kehilangan keseimbangan dan jatuh mencium lantai dengan posisi memalukan. Jeritan nyaring keluar dari mulutnya, membuat anggota OSIS lain yang awalnya menonton dengan angkuh kini ternganga.
Dengan santai, Salma menapakkan satu kakinya di punggung Jessi, menahannya agar tak bisa bangun. Tatapannya beralih tajam pada Farel Barata.
"Ketua Farel," suara Salma datar namun menekan. "OSIS pimpinanmu benar-benar membuka mataku. Selain hobi memutarbalikkan fakta, ternyata anggotanya juga preman pasar yang main fisik. Lo nggak punya komentar?"
Farel tertegun. Ia tak menyangka Salma akan membalikkan keadaan secepat ini dan langsung menyerangnya sebagai pemimpin.
"Salma, lepasin! Berani-beraninya lo nyerang OSIS! Gue laporin ke kepala sekolah biar lo di-DO!" teriak Jessi histeris di bawah kaki Salma.
Melihat situasi makin kacau, Manda bergegas maju, memasang wajah malaikat penolong. "Salma, kalau ada masalah bicarakan baik-baik. Jangan main fisik, nanti kamu dihukum, lho."
Salma menatap kakak angkatnya dengan tatapan mencemooh. "Kakakku sayang, mata lo rabun? Nggak lihat siapa yang nyerang duluan?"
Manda tercekat. Semua saksi mata melihat Jessi yang memulai.
"Salma, tolong lepaskan Jessi. Kakak minta maaf kalau ucapan kami..."
Belum sempat Manda menyelesaikan kalimatnya, Farel melangkah maju. Wajah tampannya tak lagi dihiasi senyum ramah. Ia berdiri di depan Salma, lalu membungkuk hormat sembilan puluh derajat.
"Maafkan saya."
Salma menarik kakinya. "Ketua Farel, kalau caramu memimpin selemah ini, saya ragu kamu pantas jadi Ketua OSIS."
Wajah Farel memerah. Ia sadar ia salah karena membiarkan Jessi bertindak bodoh. Ia menoleh pada anggotanya dengan tatapan tajam. "Jessi, masalah ini dimulai dari kalian. Besok, kalian semua harus minta maaf secara terbuka pada Salma di depan seluruh siswa!"
Jessi hendak membantah, tapi nyalinya ciut melihat kilatan marah di mata Farel.
"Saya pastikan mereka memberimu keadilan," ucap Farel pada Salma.
Salma tersenyum miring, aura dominasinya menguar. "Ada yang nggak terima? Maju sini. Gue mau lihat siapa yang bakal nggak bisa bertahan di Citra Bangsa. Jangan mentang-mentang punya jabatan kecil, kalian lupa siapa gue. Keluarga Tanudjaja jauh lebih punya kuasa dibanding lencana OSIS kalian itu."
Salma berbalik dan melenggang pergi bak ratu, meninggalkan Jessi yang gemetar menahan malu.
Farel menatap Manda dingin. "Manda, kamu juga bertanggung jawab. Besok, kalian semua harus minta maaf. Bubar!"
Farel pergi begitu saja. Manda menggertakkan gigi, berusaha keras menahan ledakan emosinya.
Sialan lo, Salma! Gara-gara lo Farel jadi marahin gue!
Begitu keluar gerbang sekolah, Salma mendengar suara familiar. Di seberang jalan, di bawah pohon rindang, berdiri pemuda berkacamata tebal dengan rambut berantakan. Aksa Abhimana.
Mata Salma berbinar jenaka. Bukannya anak ini bolos seharian? Kok nongol di sini?
Aksa menengok kanan-kiri sebelum menyeberang menghampirinya.
"Kamu kok nggak masuk kelas?" tanya Salma.
Aksa menggaruk kepalanya canggung. "Aku... takut Bagas nyari masalah lagi."
Salma menaikkan alis. "Kemarin kan kamu berani banget ngelawan mereka? Kok hari ini ciut?"
Aksa tersenyum malu-malu. "Kemarin itu... darurat. Aku takut mereka nyakitin kamu, jadi nggak mikir panjang. Tapi sekarang aku jadi takut. Cuma, aku nggak nyesel kok."
Tatapan Aksa begitu tulus saat mengatakannya, membuat jantung Salma berdesir hangat. Meskipun Aksa terlihat lemah, keberaniannya melindungi Salma kemarin sulit dilupakan.
"Makasih, ya," ucap Salma tulus.
"Aku nunggu aman dulu baru masuk sekolah lagi," kata Aksa.
Salma menepuk bahu Aksa. "Tenang aja, ada aku. Kalau Bagas macem-macem, dia harus ngadepin aku dulu."
Mata di balik lensa tebal itu berkilat jenaka. "Jadi kayak kamu ngelindungin 'orangmu' sendiri, gitu?"
"Iya, dong!"
Senyum Aksa melebar. "Kalau gitu, mulai sekarang aku jadi 'orangmu' ya?"
Salma tertawa, mengira Aksa bercanda. "Oke, mulai sekarang kamu jadi orangku!"
"Aku pegang omonganmu ya, nggak boleh ditarik lagi."
Tanpa Salma sadari, ia baru saja masuk perangkap manis pemuda itu. Bertahun-tahun kemudian, ia baru sadar si cupu ini sudah mengklaimnya sejak hari ini.
"Oh ya, ngapain kamu di sini?" tanya Salma.
"Ngecek Bagas nyegat kamu lagi atau nggak," jawab Aksa polos.
"Tadi bilangnya takut, sekarang malah mau ngelindungin. Kamu ini takut atau berani sih?"
"Sama mereka aku takut. Tapi buat kamu, aku punya keberanian," jawab Aksa mantap.
Mereka berjalan pulang bersama, mengobrol seru. Ternyata wawasan Aksa sangat luas, membuat Salma curiga jangan-jangan Aksa hanya pura-pura bodoh selama ini.
Sampai di depan gerbang megah kediaman Tanudjaja, Aksa pamit. Salma melambaikan tangan ceria.
Namun begitu punggung Salma menghilang, postur tubuh Aksa yang membungkuk langsung tegak. Tatapan matanya berubah tajam dan dingin, memancarkan aura penguasa yang berbahaya, sama sekali tak mirip siswa SMA biasa.
Masuk rumah, Salma disambut Bi Surti yang panik.
"Non Salma! Non Manda kecelakaan!"
Langkah Salma di tangga terhenti. Manda kecelakaan? Lagi? Intuisinya mengatakan ini drama baru.
"Non Manda dibawa ke Rumah Sakit Medika. Tuan dan Nyonya belum bisa dihubungi, Non bisa tolong cek ke sana?" Bi Surti gemetar.
"Siapa yang nelpon tadi, Bi?"
"Suara Non Manda sendiri, kedengeran kesakitan banget."
Sakit banget tapi masih bisa nelpon? Salma tersenyum sinis dalam hati. Ia harus ke sana sebelum orang tuanya datang dan Manda memutarbalikkan fakta.
Sesampainya di RS Medika, Salma menemukan kamar Manda. Ia tak langsung masuk, tapi mengintip dari kaca pintu.
"Manda, orang tuamu belum datang?" suara Jessi terdengar.
"Mungkin masih rapat," jawab Manda. Suaranya jernih, tak terdengar seperti orang sekarat.
Salma mengeluarkan ponsel, merekam kejadian di dalam lewat kaca.
"Manda, kita cuma mau kasih pelajaran ke Salma. Kalau dibiarin, dia makin ngelunjak! Inget, lo putri kesayangan keluarga Tanudjaja, dia itu cuma benalu!" hasut Jessi.
Manda menghela napas, memasang wajah sedih. "Aku cuma jatuh sedikit kok, kalian lebay banget bawa ke rumah sakit. Tapi... Salma emang keterlaluan. Aku bohong demi ngelindungin dia, tapi dia malah nyerang kalian."
"Salma emang nggak tahu diuntung!"
"Udah, jangan jelek-jelekin dia. Walaupun dia kasar, pemarah, dan nggak punya sopan santun, dia tetap adikku."
Mendengar Manda terus menjelek-jelekkannya dengan nada 'kakak teraniaya', Salma merasa mual.
Cukup sudah buktinya. Salma menyimpan ponsel, lalu mendobrak pintu kamar sambil memasang wajah panik yang dibuat-buat.
"Kakak! Kakak kenapa?!" teriak Salma histeris.
Suasana kamar hening seketika. Manda dan teman-temannya pucat pasi, takut Salma mendengar obrolan busuk mereka.
Salma menerjang ke sisi ranjang, menggenggam tangan Manda dengan air mata buaya yang sempurna. "Kak, maafin aku... aku nyesel pulang duluan tadi. Aku denger Kakak kakinya patah ya? Ya ampun, Kakak jangan takut! Papa pasti cari dokter terbaik buat nyambungin kaki Kakak! Kakak orang baik, pasti sembuh!"
Manda melongo. Jessi membatu.
"Tenang aja, Kak! Kita bakal cari pelakunya dan penjarain dia!" lanjut Salma, matanya basah tapi sorotnya dingin menghunus.
Manda buru-buru menarik tangannya. "Salma... kamu salah paham. Cuma lecet dikit, nggak ada yang patah."
"Hah?" Salma menghapus air matanya, ekspresinya berubah bingung yang jenaka. "Nggak patah? Tadi di telepon bilangnya parah banget sampai mau mati? Syukur deh kalau cuma lecet. Bikin jantungan aja."
Lo berharap gue mati kan! batin Manda menjerit.
"Aku nggak apa-apa, beneran. Cuma kepeleset," Manda memaksakan senyum, hatinya dongkol setengah mati karena gagal mendramatisir keadaan.
Pintu kembali terbuka. Seno Tanudjaja dan istrinya, Shintia, masuk dengan wajah khawatir.
"Manda, kamu nggak apa-apa, Nak?" tanya Shintia cemas.
"Nggak apa-apa, Ma. Cuma kaget aja," jawab Manda, kembali ke mode anak manis.
Seno menghela napas lega, lalu menatap Salma dengan nada menegur. "Salma, bukannya kalian pulang bareng? Kenapa Manda bisa sampai begini?"
Manda tegang. Ia takut Jessi membongkar kejadian di sekolah, jadi ia buru-buru menyela, "Pa, ini bukan salah Salma. Tadi aku lagi ngumpul sama temen-temen, nggak nyuruh Salma nunggu."
Namun, Jessi si 'teman bodoh' salah menangkap kode. Ia pikir ini saatnya menjatuhkan Salma.
"Om, Tante, maaf kalau saya lancang," sela Jessi lantang. "Sebenarnya Manda celaka karena Salma! Salma iri karena Manda populer, jadi dia sengaja mendorong Manda ke jalan raya! Untung mobilnya ngerem mendadak!"
Hening. Wajah Manda memucat seperti mayat. Kebohongan itu terlalu bodoh!
"Kamu bilang apa?" Suara Seno memberat, auranya sebagai penguasa bisnis menguar. "Anak saya, Salma, mendorong kakaknya ke jalan raya?"
"I-iya, Om..." jawab Jessi gagap, mulai sadar ia salah langkah.
"Manda, apa itu benar?" Seno menatap Manda tajam.
"Nggak, Pa! Jessi bohong! Salma udah pulang duluan!" teriak Manda panik. Ia tidak mau ikut terseret kebodohan Jessi.
Namun, nasi sudah menjadi bubur. Salma sudah siap dengan akting terbaiknya. Air matanya kembali menetes, kali ini terlihat sangat terluka.
"Jessi... Gue ngga tahu kenapa lo benci banget sama gue. Lo bilang gue nggak punya sopan santun, oke gue terima, tadi di sekolah lo mau nampar gue, wajar dong kalau gue menghindar, dan ngga sengaja bikin lo jatuh sendiri, tapi sekarang Lo nuduh gue mau bunuh kakak sendiri? Itu jahat banget." Isak Salma pilu.
Manda rasanya ingin pingsan. Tamat sudah.
"Kamu bilang anak saya nggak punya sopan santun, sampai kamu mau nampar dia?" Seno bertanya pada Jessi, nadanya rendah namun mematikan.
Jessi mundur ketakutan. "S-saya nggak bilang gitu..."
"Pa, Ma... aku nggak pernah cerita karena takut kalian khawatir, tapi di sekolah, Jessi ini dan temen-temennya sering banget bully aku, ngatain aku..." Salma menangis di pelukan Shintia.
Shintia memeluk putrinya erat, menatap Jessi dengan marah. "Berani-beraninya kalian menindas anak saya! Dan kamu, Manda!" Shintia menoleh pada Manda, "Adikmu dibully seperti itu, kenapa kamu diam saja? Kamu malah berteman dengan mereka? Kenapa kamu nggak pernah lapor sama kami?"
Manda gelagapan. "Ma, a-aku..."
Salma menyembunyikan wajahnya di bahu ibunya, bibirnya menyunggingkan senyum kemenangan. Rasain lo semua. Mau main drama? Ayo kita lihat siapa ratu drama yang sebenarnya.
penampilan cupu ternyata suhu 😂