NovelToon NovelToon
Asal Mula Pedang Buta

Asal Mula Pedang Buta

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Kebangkitan pecundang / Fantasi Timur / Balas Dendam
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Baldy

Di Benua Tianyuan, kekuatan adalah segalanya. Namun, Ren Zhaofeng hanyalah seorang murid pelayan buta di Sekte Awan Hijau yang bertugas menyapu halaman. Tanpa penglihatan dan tanpa latar belakang, ia dianggap tidak lebih dari debu di bawah kaki para jenius yang berlomba mengejar keabadian.

Namun, dunia tidak tahu bahwa di balik kain penutup matanya, Zhaofeng memiliki "Hati Pedang Tanpa Cela". Ketika orang lain hanya melihat wujud, ia mendengar napas semesta.

Di bawah bayang-bayang Monumen Daftar Naga Langit yang agung, Zhaofeng memulai langkah pertamanya. Bukan untuk melihat puncak dunia, tetapi untuk memaksa dunia mendengarkan gema pedangnya. Dari penyapu hina menjadi legenda yang membelah langit—inilah kisah asal mula Sang Pedang Buta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Penyapu di Halaman Pedang

Di Benua Tianyuan, luasnya langit dan bumi tak terukur. Di dunia ini, kekuatan adalah satu-satunya mata uang yang berlaku.

Dari ribuan sekte yang tersebar bagai bintang, ada tiga entitas raksasa yang berdiri di puncak piramida kekuasaan: Tiga Sekte Suci. Titah mereka adalah hukum, dan murid-murid mereka dipuja layaknya dewa muda. Namun, bagi sekte-sekte kecil di wilayah pinggiran seperti Sekte Awan Hijau, kemegahan itu hanyalah mimpi yang jauh.

Namun, ada satu hal yang menyatukan setiap kultivator, dari pengemis jalanan hingga kaisar di istana emas. Sebuah ambisi yang terukir di langit.

Jauh di ufuk timur, menembus lautan awan, bayangan samar sebuah pilar batu raksasa terlihat menggantung di angkasa. Itu adalah Monumen Daftar Naga Langit. Artefak kuno yang konon berasal dari Alam Atas, mencatat 100 nama jenius terkuat di bawah usia tiga puluh tahun.

Bagi Ren Zhaofeng, monumen itu tidak terlihat. Namun, ia bisa merasakan "dengungan" keberadaannya.

Srek... Srek... Srek...

Pagi itu, di Halaman Latihan Pedang Sekte Awan Hijau, suara sapu lidi yang bergesekan dengan lantai batu terdengar berirama.

Ren Zhaofeng, seorang pemuda berusia enam belas tahun dengan kain putih bersih menutupi matanya, bergerak dengan ketenangan yang tidak wajar. Punggungnya tegak, gerakannya efisien. Tidak ada satu pun daun kering yang lolos dari sapuannya.

"Angin pagi ini membawa aroma pinus dari Puncak Utama," gumam Zhaofeng pelan. "Para Tetua pasti sedang meracik pil."

Meskipun dia hanyalah seorang Murid Pelayan—kasta terendah di dunia kultivasi yang bahkan belum menyentuh ambang pintu keabadian—Zhaofeng tidak terlihat menyedihkan. Pakaian abunya bersih, rambut hitamnya diikat rapi.

Di dunia ini, jalur kultivasi dimulai dengan Penempaan Tubuh. Sembilan tahap menyakitkan untuk mengubah tubuh fana menjadi wadah Qi.

Zhaofeng, karena kebutaannya dan kurangnya sumber daya, masih tertahan di ambang pintu, dianggap sebagai manusia biasa. Namun, ia memiliki sesuatu yang tidak dimiliki orang lain: kesabaran seluas samudra.

"Hei, lihat itu. Si Buta sudah menyapu lagi."

Suara tawa terdengar dari arah gerbang halaman. Sekelompok Murid Luar berpakaian biru muda baru saja tiba. Mereka adalah murid resmi yang telah mencapai setidaknya Penempaan Tubuh Tahap 1. Langkah kaki mereka lebih berat dan bertenaga daripada manusia biasa.

"Biarkan saja," sahut yang lain. "Setidaknya halamannya bersih. Sayang sekali, dia berada di sekte bela diri tapi tidak bisa melihat ujung pedangnya sendiri."

Zhaofeng tidak berhenti menyapu. Dia mendengar ejekan itu, tapi baginya, suara mereka hanyalah gangguan kecil dalam simfoni pagi.

Yang mereka tidak tahu adalah, Zhaofeng "melihat" lebih banyak daripada mereka.

Dia mendengar detak jantung mereka. Dia mendengar aliran darah mereka.

"Semuanya, berbaris!"

Suara lantang menggema, disertai tekanan udara yang membuat dada sesak. Seorang pemuda bertubuh kekar dengan pedang besar di punggungnya melangkah maju.

Itu adalah Li Dong, murid senior di antara para Murid Luar.

Zhaofeng bisa mendengar otot-otot Li Dong yang bergesekan seperti kawat baja yang ditarik kencang. Itu adalah tanda khas dari kultivator Penempaan Tubuh Tahap 4 (Tahap Tulang Besi). Di tahap ini, tulang seseorang sekeras logam, dan tenaga fisiknya setara dengan banteng mengamuk.

"Hari ini kita akan melatih 'Teknik Pedang Angin Membelah'. Perhatikan baik-baik!" seru Li Dong dengan bangga.

Sring!

Li Dong mencabut pedangnya. Dia mulai memperagakan jurus. Pedangnya menyabet udara, menciptakan suara desingan tajam.

Wush! Wush!

Para murid junior bertepuk tangan kagum. "Luar biasa! Pedang Kakak Li begitu cepat! Dengar suara angin itu? Itu tanda dia hampir mencapai Tahap 5!"

Namun di sudut halaman, Zhaofeng menggelengkan kepala pelan tanpa sadar.

Di telinganya, tarian pedang Li Dong terdengar... bising.

Ada terlalu banyak gesekan yang tidak perlu. Li Dong mengandalkan kekuatan otot Tahap 4-nya secara kasar, tapi melupakan kehalusan teknik. Suara pedangnya terdengar "kasar", seperti orang yang sedang memukul air dengan tongkat, bukan membelah air.

"Hah..." Zhaofeng menghela napas kecewa. Jika ini standar jenius di Sekte Awan Hijau, pantas saja tidak ada satu pun murid sekte ini yang pernah masuk ke Daftar Naga Langit dalam seratus tahun terakhir.

Tanpa sadar, helaan napas Zhaofeng terdengar di saat hening setelah Li Dong menyelesaikan jurusnya.

Li Dong menoleh tajam, matanya menyipit ke arah si penyapu buta. Telinganya yang tajam karena kultivasi menangkap suara remeh itu.

"Hei, Penyapu Ren!" panggil Li Dong dengan nada tersinggung. "Kenapa kau menghela napas? Apa kau punya masalah dengan teknik pedangku?"

Para murid lain langsung menyingkir, memberi ruang. Suasana menjadi tegang. Tekanan aura Tahap 4 Li Dong menyebar, membuat murid-murid yang lebih lemah merasa mual.

Tapi Zhaofeng tetap berdiri tegak. Dia tidak memiliki Qi untuk menahan tekanan itu, tapi dia memiliki tekad.

"Murid pelayan ini tidak berani," jawab Zhaofeng, suaranya tenang dan jernih, membungkuk sopan. "Saya hanya lelah karena menyapu sejak subuh."

Li Dong mendengus. Dia ingin memamerkan kekuasaannya. Di dunia ini, yang kuat berhak menindas yang lemah. Itu aturan alam.

"Kalau begitu, beristirahatlah sejenak," kata Li Dong dengan senyum licik. "Kebetulan aku butuh target untuk mendemonstrasikan akurasi. Berdirilah di sana, pegang daun ini."

Li Dong memetik sehelai daun lebar dan melemparkannya ke arah Zhaofeng dengan jentikan tenaga dalam. Daun itu melesat cepat seperti anak panah.

Plap.

Zhaofeng menangkap daun itu di udara tanpa kesulitan. Gerakan refleksnya membuat beberapa murid terkejut.

"Letakkan daun itu di atas kepalamu," perintah Li Dong. "Aku akan membelahnya tanpa melukaimu. Jangan bergerak. Kalau kau bergerak dan matamu tergores... ah, lupakan, kau kan sudah buta."

Gelak tawa meledak di halaman.

Zhaofeng terdiam sejenak. Dia meletakkan daun itu di atas kepalanya. Dia berdiri tegak seperti tombak yang menantang langit.

"Bagus," Li Dong menyeringai. Dia mengambil kuda-kuda. Otot kakinya menegang, lantai batu di bawahnya sedikit retak karena tekanan tenaganya.

"Hiaaa!"

Li Dong menerjang maju. Pedangnya menusuk lurus ke arah dahi Zhaofeng.

Di mata murid lain, tusukan itu secepat kilat. Di telinga Zhaofeng, itu penuh dengan peringatan.

Zhaofeng mendengar kontraksi otot kaki Li Dong sebelum pria itu melangkah. Dia mendengar pergeseran udara di ujung pedang.

Dia membidik terlalu rendah. Niat pedangnya goyah. Dia tidak akan membelah daun, dia akan menusuk mataku.

Zhaofeng tidak panik. Tepat saat ujung pedang itu berjarak satu inci dari wajahnya, Zhaofeng memiringkan kepalanya sedikit ke kiri. Gerakan yang sangat tipis, efisien, dan tanpa suara.

Wus!

Pedang Li Dong menusuk udara kosong di samping telinga Zhaofeng. Karena kehilangan sasaran, Li Dong kehilangan keseimbangan. Tenaga besar yang dia salurkan ke pedang itu menyeret tubuhnya sendiri.

Bruk!

Li Dong jatuh terjerembap ke lantai batu yang baru saja disapu Zhaofeng, tepat di kaki si penyapu buta.

Hening.

Semua orang ternganga. Seorang murid Tahap 4, calon elit masa depan, terjatuh di depan pelayan buta yang bahkan belum memulai kultivasi?

"Maafkan saya, Kakak Senior," kata Zhaofeng cepat, wajahnya tetap datar. "Ada nyamuk di telinga saya barusan, jadi saya refleks bergerak."

Wajah Li Dong memerah padam, semerah kepiting rebus. Dia bangkit dengan cepat, membersihkan debu di jubahnya. Harga dirinya hancur.

"Cih! Keberuntungan si Buta," gerutu Li Dong, berusaha menyelamatkan muka. "Sudahlah! Latihan selesai! Bubar!"

Para murid bubar sambil berbisik-bisik, menatap punggung Zhaofeng dengan pandangan baru.

Zhaofeng kembali menyapu sisa-sisa daun. Namun di dalam hatinya, api ambisi mulai menyala lebih terang dari sebelumnya.

Sebulan lagi, batinnya. Ujian Promosi Murid Luar.

Dia menyelesaikan tugasnya, lalu berjalan menuju gubuk kayunya di pinggiran hutan sekte.

Di dalam gubuk yang sunyi itu, Zhaofeng menarik sebuah kotak kayu panjang dari bawah tempat tidurnya. Di dalamnya, terbaring sebilah pedang yang tampak menyedihkan. Penuh karat, bergerigi, dan berat.

Zhaofeng menggenggamnya. Seketika, aura pelayan yang ramah lenyap.

Dia tidak butuh mata untuk melihat pedang. Dia merasakan "jiwa" pedang itu beresonansi dengan detak jantungnya. Pedang yang konon adalah serpihan dari senjata yang jatuh saat perang di Alam Atas ribuan tahun lalu.

"Dunia ini memuja Daftar Naga Langit," bisik Zhaofeng, mengusap badan pedang yang kasar itu. "Mereka melihat ke atas, memuja nama-nama yang bercahaya."

Dia mengarahkan pedang karatnya ke langit-langit gubuk, seolah menunjuk ke arah monumen tak terlihat di angkasa.

"Tapi kita akan mulai dari lumpur, kawan. Kita akan memanjat. Dan suatu hari nanti... mereka akan mendengar gema kita, bahkan sampai ke Langit Kesembilan."

Perjalanannya baru saja dimulai.

1
Nanik S
Gadis Cantik....
Nanik S
Gagang pedang yang berlokasi dg pecahan... cari celah
Nanik S
Gagang pedang.... yang dicari Zhaofeng ada diKlan Phonik
Nanik S
Garis darah Zhao feng atau Xiao Yu dg gadis yang ada didalam kereta
Apliti warman
alumrnya bagus, cara penulisannya dah expert nih, lanjut thor, ada yg hilang thor, tentang penguasaan jurus 2 mc, menarik cara othor menjelaskan, juga ranah mc, naikkan dikit...😁
Nanik S
Lanjutkan
Nanik S
Panen Zhaofeng.... dan bersihkan harta karun Duanmu
Nanik S
Krek., hancur sudah tulangnya
yos helmi
lanjut
Nanik S
Nyonya Merah mengerikan juga, banjir Darah dibilang ramai
Nanik S
Jual barang rampasan
Nanik S
Xiao Yu... ikut saja Zhaifeng
Nanik S
Lanjutkan dan tetap semangat Tor
Nanik S
Mantap Pooool
Nanik S
Lanjutkan Zhaofeng dan bantai semua Taring naga
Nanik S
Demi melindungi Sekte Zhaofeng rela meninggalkan Sekte
Nanik S
Lanjut mengembsra
A 170 RI
cerita pendekar buta cukup menarik
A 170 RI
trus berkarya jangan hiatus ya thor..
💪
Nanik S
Zhaofeng perusak rencana
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!