NovelToon NovelToon
Kembalikan Cintaku Dokter

Kembalikan Cintaku Dokter

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cintapertama / One Night Stand / Konflik etika / Obsesi / Dokter
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: MissSHalalalal

Demi menyelamatkan nyawa suaminya yang kritis akibat kecelakaan, Melisa harus berhadapan dengan tagihan rumah sakit yang sangat besar. Di tengah keputusasaan, ia bertemu kembali dengan Harvey, dokter bedah yang menangani suaminya sekaligus mantan kekasih yang ia tinggalkan secara tragis saat SMA.
Terdesak biaya, Melisa terpaksa mengambil jalan gelap dengan bekerja di sebuah klub malam melalui bantuan temannya, Laluna. Namun, takdir kembali mempermainkannya: pria kaya yang menawar harganya paling tinggi malam itu adalah Harvey.
Kini, Harvey menggunakan kekuasaannya untuk menjerat Melisa kembali—bukan hanya untuk membalas dendam atas sakit hati masa lalu, tapi juga menuntut bayaran atas nyawa suami Melisa yang ia selamatkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MEMBUKA MATA

Setelah Harvey pergi, Melisa tidak tenggelam dalam tangisan. Ia segera mandi dan mengenakan pakaian tertutup untuk menyembunyikan jejak perlakuan Harvey. Melisa tahu ia diawasi, namun ia ingat ada pintu keluar darurat di dekat area dapur yang jarang dijaga ketat.

Ia memesan taksi melalui aplikasi dan meminta sopir menunggu di gerbang samping gedung. Dengan langkah tenang namun pasti, ia mengendap keluar melalui pintu servis, melewati koridor staf, dan berhasil mencapai taksi tanpa terdeteksi oleh pengawal yang berjaga di depan pintu utama.

"Ke Rumah Sakit Medika, Pak. Tolong cepat," pintanya cemas.

Di rumah sakit, Harvey sedang memimpin pemeriksaan di ruang ICU. Ia tampil sangat profesional, tanpa sedikit pun jejak kegelapan yang ia tunjukkan di kamar tadi pagi. Ia menjelaskan grafik perkembangan pasien kepada tim medis dengan nada tenang dan otoriter.

"Kondisi hemodinamik pasien stabil," ujar Harvey sambil memeriksa layar monitor. "Kita akan mencoba menyapih ventilator secara bertahap."

Saat tim medis keluar, Melisa muncul di depan pintu ICU. Harvey terkejut melihat keberanian Melisa, namun ia tetap menjaga topeng profesionalnya karena masih ada beberapa perawat di sekitar mereka.

"Dokter Harvey, saya ingin melihat suami saya," ujar Melisa dengan nada formal, meskipun matanya menyiratkan kemarahan.

Harvey mengangguk singkat, seolah Melisa hanyalah keluarga pasien biasa. "Silakan, Nyonya Melisa. Tapi tolong jangan terlalu lama, pasien masih butuh ketenangan."

Melisa masuk ke dalam. Di samping tempat tidur, ia menggenggam tangan Narendra. "Mas, aku datang. Tolong bangun... jangan biarkan dia menang," bisiknya lirih.

Tiba-tiba, jemari Narendra bergerak. Perlahan, matanya terbuka, menatap Melisa dengan pandangan sayu yang penuh kerinduan.

Narendra berusaha menggerakkan bibirnya, namun masker oksigen menghalanginya. Melisa menangis haru, ia segera menekan tombol panggil perawat.

Harvey masuk kembali ke ruangan dengan wajah datar. Di depan perawat, ia memeriksa pupil dan nadi Narendra dengan sangat teliti. Namun, saat perawat tersebut berbalik untuk mengambil peralatan, Harvey menatap Melisa dengan tatapan tajam yang seolah berkata, 'Ini belum berakhir.'

Setelah memastikan kondisi Narendra stabil, Harvey memberikan instruksi medis terakhir kepada perawat dengan nada tenang dan otoriter. Topeng profesionalismenya sangat sempurna; tak ada satu pun staf rumah sakit yang curiga bahwa pria di depan mereka adalah sosok yang baru saja menghancurkan mental Melisa pagi tadi.

Harvey merapikan jas putihnya, lalu menatap Melisa tanpa ekspresi. "Nyonya Melisa, bisa bicara sebentar di luar? Ada detail perkembangan pasien yang perlu saya sampaikan secara pribadi."

Melisa melepaskan genggaman tangannya dari Narendra dengan berat hati. Ia mengikuti Harvey keluar menuju lorong yang sepi di dekat ruang konsultasi. Begitu pintu tertutup dan mereka hanya berdua, suasana profesional itu seketika menguap, digantikan oleh aura dingin yang mencekam.

Harvey bersandar di dinding, melipat tangan di dada sambil menatap Melisa dengan tatapan merendahkan.

"Hebat juga kau bisa sampai ke sini dengan mengelabuhi penjagaan ku," ujar Harvey pelan, suaranya sedingin es. "Tapi jangan biarkan kesadaran suamimu membuatmu lupa daratan."

Melisa mengepalkan tangan. "Dia sudah bangun, Harvey. Kau tidak bisa lagi mengancamku dengan nyawanya. Aku akan membawa dia pergi dari rumah sakit ini."

Harvey terkekeh sinis, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Melisa berdiri. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga Melisa terpojok.

"Kau pikir kesadarannya mengubah segalanya? Tidak, Melisa," bisik Harvey tajam. "Ingat perjanjian kita. Kau menandatangani kesepakatan tertulis: tiga puluh hari untukku. Dan sekarang, kita baru melewati satu minggu."

"Narendra masih butuh perawatan intensif yang hanya bisa kuberikan di sini. Satu instruksi salah dariku, dan dia bisa kembali koma selamanya," lanjut Harvey sambil menyentuh dagu Melisa dengan ujung jarinya. "Jangan coba-coba melanggar kontrak itu, atau kau akan melihatnya mati tepat setelah dia membuka mata."

Melisa gemetar karena amarah dan ketakutan. "Kau iblis, Harvey."

"Aku adalah dokter yang menyelamatkan nyawanya," koreksi Harvey dingin. "Pulanglah sekarang. Aku akan mengurus pemindahan Narendra ke ruang perawatan biasa. Tapi ingat, sisa hari dalam perjanjian itu tetap berjalan. Kau tetap milikku sampai waktu itu berakhir."

Setelah pembicaraan dingin di lorong, Harvey memberikan instruksi singkat kepada tim medis. Tak lama kemudian, beberapa suster datang untuk memindahkan Narendra dari ruang ICU menuju kamar perawatan VIP.

Melisa hanya bisa mematung di sudut ruangan, memperhatikan suaminya dipindahkan ke atas brankar. Meskipun Narendra sudah sadar, tubuhnya masih sangat lemah. Matanya mengikuti setiap gerak-gerik Melisa, seolah ingin menanyakan sesuatu, namun masker oksigen masih membatasi suaranya.

"Hati-hati dengan kabel monitornya, Sus," ujar Harvey dengan nada sangat tenang dan profesional, seolah ia adalah dokter paling perhatian di dunia.

Para suster bekerja dengan cekatan. Mereka mendorong brankar melewati lorong rumah sakit menuju sayap VIP yang lebih privat. Melisa berjalan di samping suaminya, terus menggenggam tangan Narendra seerat mungkin, mencoba menyalurkan kekuatan—sekaligus perlindungan—dari bayang-bayang Harvey yang berjalan tepat di belakang mereka.

Setibanya di ruang perawatan, suster membantu memindahkan Narendra ke ranjang yang lebih nyaman. Setelah mengatur infus dan memastikan semua peralatan medis terpasang sempurna, salah satu suster menoleh pada Melisa.

"Kondisi Pak Narendra sudah jauh lebih baik, Nyonya. Dia hanya perlu istirahat total. Jika butuh sesuatu, silakan tekan tombol di samping ranjang," ucap suster itu dengan senyum ramah sebelum meninggalkan ruangan.

Kini, di dalam kemewahan ruang VIP yang sunyi, Melisa kembali terjepit di antara dua pria: suaminya yang baru saja kembali dari ambang maut, dan Harvey yang masih berdiri di ambang pintu dengan tatapan mengintimidasi.

***

Bersambung...

1
Dede Dedeh
oke lanjuttt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!