Di balik tembok gedhe SMA Dirgantara, ada lima cowok paling kece dan berkuasa yang jadi most wanted sekaligus badboy paling disegani: ALVEGAR. Geng ini dipimpin Arazka Alditya Bhaskara, si Ketua yang mukanya ganteng parah, dingin, dan punya rahang tegas. Pokoknya dia sempurna abis! Di sebelahnya, ada Rangga Ananta Bumi, si Wakil Ketua yang sama-sama dingin dan irit ngomong, tapi pesonanya gak main-main. Terus ada Danis Putra Algifary, si ganteng yang ramah, baik hati, dan senyumnya manis banget. Jangan lupa Asean Mahardika, si playboy jago berantem yang hobinya tebar pesona. Dan yang terakhir, Miko Ardiyanto, lumayan ganteng, paling humoris, super absurd, dan kelakuannya selalu bikin pusing kepala tapi tetep jago tebar pesona.
AlVEGAR adalah cerita tentang cinta yang datang dari benci, persahabatan yang solid, dan mencari jati diri di masa SMA yang penuh gaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yunie Afifa ayu anggareni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Prolog dan Bab 1 (perang dingin di koridor utama)
PROLOG ALVEGAR
Selasa sore di Jakarta, langit udah mulai oranye, tapi di SMA Dirgantara, suasana malah makin panas. Di balik gerbang besi, sekolah itu kayak kerajaan kecil mereka. Dan di sana, lima nama paling top mendominasi.
Loe gak bisa ngaku anak Dirgantara kalau gak kenal ALVEGAR. Mereka bukan cuma geng motor biasa. Mereka adalah level tertinggi dari cowok keren. Terlalu ganteng, terlalu berkuasa, dan terlalu bahaya buat dilawan.
Arazka Alditya Bhaskara jalan paling depan, kayak king yang lagi inspeksi. Jaket kulit andalannya dipake sempurna. Tatapannya dingin kayak es batu, gak pernah ramah. Wajahnya yang perfect dengan rahang tegas itu selalu sukses bikin siswi-siswi pada speechless.
Di belakang Arazka, ada Rangga Ananta Bumi yang auranya sama misteriusnya, diem-diem tapi karismanya gokil. Terus ada Danis Putra Algifary yang beda sendiri, dia nyapa-nyapa ringan dengan senyum manisnya. Lalu Asean Mahardika, sibuk flirting sama semua cewek yang dilewatinya. Terakhir, Miko Ardiyanto, sibuk celoteh ngaco yang bikin Danis cuma bisa geleng-geleng kepala.
"Bro, Dirgantara itu surga kita. Jangan murung kayak mau ke kuburan, Rangga!" seru Miko.
"Diem, Ko," balas Rangga singkat, tapi matanya tetep fokus ke depan.
Mereka itu ALVEGAR. Hidup mereka udah teratur, kekuasaan ada di tangan mereka. Gak ada yang berani ganggu. Sampai akhirnya, muncul satu cewek yang berani bikin ulah.
Maura Ayudia Samanta.
Cewek rambut panjang, style-nya keren, cantik, pinter, dan paling penting: tegas. Dia punya tatapan mata yang gak kenal takut, bahkan ke Arazka. Dia adalah badai yang datang tiba-tiba, musuh bebuyutan Arazka yang hobi banget ngajak perang. Tiap ketemu, pasti ada aja yang diributin, entah itu masalah lomba atau parkiran.
Tapi ya gitu, musuh terberat ternyata bisa jadi yang paling menarik. Awalnya mereka pikir itu cuma benci, tapi lama-lama, percikan adu bacot itu kayak nyalain api di hati mereka.
Dunia ALVEGAR mau gak mau harus berubah. Gak cuma soal berkuasa lagi, tapi soal cinta yang tumbuh dari permusuhan, dan persahabatan yang bakal diuji habis-habisan.
Bersambung.....
📚 Bab 1: Perang Dingin di Koridor Utama
Senin pagi di Dirgantara itu selalu tegang, bukan karena ada ulangan mendadak, tapi karena jam kedatangan geng ALVEGAR. Koridor utama langsung silent. Semua orang tahu, lima most wanted udah nongol.
Arazka jalan paling depan, langkahnya santai tapi tegas. Jaket kulit hitamnya matching sama seragam yang rapi. Dingin. Tegas. Perfect.
"Pagi-pagi udah rame banget," kata Rangga, suaranya pelan.
"Rame karena ada kita, bro. Mereka butuh liat wajah ganteng buat semangat sekolah," sahut Asean sambil ngedipin mata ke cewek-cewek yang udah nahan teriak.
"Aduh, Neng, jangan jerit-jerit gitu dong. Nanti damage kegantengan gue berkurang!" timpal Miko heboh, bikin Danis cuma bisa ketawa kecil.
Danis geleng-geleng. Senyum manisnya kelihatan. "Loe berdua emang drama banget, Ko, Sean."
"Ini namanya show, Danis! Kalau sepi, kita dikira sekolah hantu!" Miko ngegas.
Mereka baru aja belok ke area loker yang sepi, saat DUK!
Sebuah map merah jambu, isinya kertas-kertas penting, jatuh persis di depan sepatu Arazka. Map itu mantul pelan, dan berhenti di ujung sepatu kulitnya yang bersih.
Arazka langsung berhenti. Keempat temannya ikut diam. Semua mata langsung tertuju pada si pemilik map.
Maura Ayudia Samanta.
Maura berdiri tegak, rambut panjangnya tergerai. Dia kelihatan kesel banget. Dia baru aja nabrak tiang saking buru-burunya, bikin map proyeknya lepas.
"Sorry," ujar Maura datar, tanpa nada nyesel sama sekali, "tapi minggir dikit, please. Gue mau ambil."
Arazka gak gerak. Dia cuma natap Maura, matanya yang dingin seolah lagi ngehukum. Mereka ini udah musuhan dari kelas sepuluh. Arazka benci cara Maura yang terlalu dominan dan pinter, sementara Maura benci dominasi Arazka yang sombong.
"Loe nabrak gue," desis Arazka, suaranya menusuk.
"Loe yang ngalangin jalan gue, Arazka. Itu cuma map, bukan bom," balas Maura, sama sekali gak takut.
Danis nahan senyum. Rangga diem aja. Asean sama Miko udah siap jadi penonton setia drama pagi ini.
"Ambil map loe, Maura," perintah Arazka.
Maura mendengus, lalu nunduk buat ambil map-nya. Tangan kirinya udah nyaris nyentuh kertas, tapi sepatu Arazka bergerak, nginjak ujung map itu.
"Apa-apaan sih, Loe?" Suara Maura mulai naik.
"Minta maaf yang bener," kata Arazka.
"Buat apa? Loe yang nahan barang gue!"
"Loe yang jatuhin di kaki gue, bikin sepatu gue kotor. Minta maaf atau loe tahu akibatnya."
Maura berdiri tegak lagi. Dia kesel setengah mati. Dia Maura Ayudia Samanta, dan dia gak pernah mau nurut sama siapapun, termasuk Ketua ALVEGAR.
"Denger, Arazka. Gue sibuk. Ambil aja sepatu kotor loe itu dan map jelek gue ini. Dan jangan pernah ngalangin jalan gue lagi," ancam Maura, tegas banget.
Arazka bukannya marah, dia malah senyum tipis, senyum yang jarang banget dia tunjukin. Senyum yang keliatan ganteng sekaligus berbahaya.
"Menarik," bisik Arazka, lalu dia ngangkat kakinya.
Maura langsung nyamber map-nya, mungutin kertas yang tercecer, dan tanpa ngomong apa-apa lagi, dia balik badan dan jalan cepet pergi, ninggalin lima cowok most wanted yang masih bengong.
Miko langsung ngakak keras. "Edan! Cuma Maura yang bisa bikin Ketua kita skakmat!"
Asean geleng-geleng. "Nyali cewek itu gak ada obatnya. Emang musuh yang seimbang, Bro."
Arazka ngeliat punggung Maura yang udah hilang. Senyum tipisnya masih ada. Dia ngerasa aneh—bukan kesel kayak biasa, tapi semangat buat saingan yang bikin deg-degan.
"Dia musuh," kata Arazka lagi, meyakinkan dirinya sendiri.
Tapi di dalam hatinya, dia berbisik: Loe cantik dan keras kepala, Maura. Dan gue suka itu.
Bersambung.....