"Dia mencintaiku untuk sebuah taruhan. Aku menghancurkannya untuk sebuah keadilan."
Kirana percaya bahwa Arka Mahendra adalah pelabuhan terakhirnya. Di pelukan pria itu, ia merasa aman, hingga sebuah malam di pesta megah mengoyak dunianya. Di balik tawa mahal dan denting gelas sampanye, Kirana mendengar kenyataan pahit, cintanya hanyalah sebuah objek taruhan, dan harga dirinya hanyalah alat untuk memenangkan kontrak bisnis keluarga Mahendra.
Dikhianati, dipermalukan, dan dibuang hingga ke titik nol tak membuat Kirana menyerah. Ia menghilang, mengubur gadis naif yang penuh cinta, dan terlahir kembali sebagai wanita sedingin es yang haus akan pembalasan.
Tiga tahun kemudian, ia kembali. Bukan untuk memohon maaf, tapi untuk mengambil setiap keping kekayaan, kehormatan, dan kewarasan pria yang telah menghancurkannya.
Selamat datang di Cerita Kirana, di mana cinta adalah racun dan pengkhianatan adalah senjatanya.
By: Miss Ra
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Ra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 15
Suasana di depan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pagi itu tampak seperti medan perang media. Puluhan kamera televisi dan fotografer sudah bersiaga di depan gerbang. Mobil-mobil mewah pengacara papan atas terparkir berjajar. Hari ini adalah sidang perdana kasus 'Manipulasi Aset Mahendra' yang menyeret nama Kirana, CEO Nirmala Capital, sebagai terdakwa atas laporan dari pihak Bram.
Kirana turun dari mobil dengan langkah yang tenang namun penuh wibawa. Ia mengenakan setelan jas berwarna putih gading, sebuah simbol bahwa ia datang untuk membersihkan namanya. Tidak ada ketakutan di wajahnya, meskipun ia tahu bahwa di dalam ruang sidang, Bram telah menyiapkan jebakan hukum yang sangat mematikan.
Di Ruang Sidang Utama - pukul 10:00 WIB
Hakim Ketua mengetukkan palu, menandakan persidangan dimulai. Di kursi pemohon, duduk tim hukum Bram yang dipimpin oleh pengacara kondang, Pengacara Hadi. Di sisi lain, Kirana duduk didampingi oleh Reza dan tim hukumnya.
"Saudara terdakwa Kirana," ujar Hakim Ketua dengan nada berat. "Saudara dituduh melakukan manipulasi dokumen elektronik dan melakukan tekanan mental terhadap saksi kunci, Arka Mahendra, untuk menyerahkan aset keluarga Mahendra secara ilegal. Bagaimana tanggapan Saudara?"
Kirana berdiri, suaranya jernih bergema di seluruh ruangan. "Semua tuduhan itu adalah fitnah yang dirancang untuk menutupi kejahatan yang jauh lebih besar, Yang Mulia. Saya memiliki bukti bahwa penyerahan aset tersebut adalah bentuk pengakuan dosa dari Arka Mahendra sendiri."
Pengacara Hadi segera menyela dengan nada sinis. "Pengakuan dosa? Atau hasil dari rayuan maut Anda, Nona Kirana? Semua orang tahu Anda memiliki hubungan asmara dengan Arka. Anda menggunakan cinta sebagai senjata untuk merampas kekayaannya!"
Pengunjung sidang mulai berbisik-bisik. Narasi 'Wanita Penggoda' yang dibangun Bram di media mulai bekerja.
Bram masuk ke ruang sidang sebagai saksi utama. Ia berjalan dengan angkuh, mengenakan setelan jas hitam yang sangat mahal. Saat ia duduk di kursi saksi, ia sempat melirik Kirana dengan senyum kemenangan yang tipis.
"Tuan Bram," tanya Jaksa. "Apa hubungan Anda dengan keluarga Mahendra?"
"Saya adalah rekan bisnis lama Surya Mahendra," jawab Bram dengan nada yang dibuat sedih. "Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana Kirana mendekati Arka saat Arka sedang hancur. Dia memberikan janji-janji palsu tentang masa depan, hanya untuk membuat Arka menandatangani surat-surat yang merugikan keluarganya."
Kirana menahan amarahnya. Ia merogoh tasnya, menyentuh foto lama dari dompet hitam Arka yang ia temukan semalam. Ia memberikan kode kepada pengacaranya untuk segera masuk ke tahap pembuktian balik.
"Yang Mulia," ujar Pengacara Kirana, "Kami memiliki bukti baru. Sebuah kode deposit box yang ditinggalkan oleh Arka Mahendra sebelum ia diserang di dalam penjara."
Wajah Bram sedikit berubah saat mendengar nama Arka. Ia mengira Arka sudah benar-benar bungkam.
Sementara persidangan berlangsung, di ruang ICU, Arka masih berjuang melawan maut. Monitor jantungnya kembali berbunyi tidak stabil. Dokter dan perawat berlarian masuk.
"Pasien mengalami gagal napas! Siapkan defibrilator!" teriak dokter.
Di ambang kesadarannya yang gelap, Arka seolah melihat bayangan Kirana. Ia teringat saat mereka di pantai Bali, saat Kirana tersenyum tulus kepadanya. Rasa bersalah yang mendalam seolah menjadi satu-satunya alasan jiwanya masih enggan meninggalkan raga yang hancur itu.
"Jangan... jangan biarkan dia... menang..." bisik batin Arka.
Secara ajaib, grafik pada monitor yang tadinya hampir mendatar kembali menunjukkan denyut yang lemah namun stabil. Arka melewati masa kritisnya untuk kedua kalinya.
Kembali ke Ruang Sidang
Pengacara Kirana menampilkan sebuah dokumen hasil pemindaian scan dari deposit box di Singapura yang baru saja didapatkan melalui kerja sama antar-kantor hukum. Dokumen itu berisi catatan aliran dana dari yayasan amal 'Bunda Mahendra' langsung ke rekening pribadi Bram di Kepulauan Cayman.
"Yang Mulia," lanjut pengacara Kirana, "Yayasan ini seharusnya digunakan untuk anak-anak panti asuhan yang sering dikunjungi Kirana dan Arka. Namun, Tuan Bram menggunakannya sebagai tempat pencucian uang dari bisnis gelapnya. Arka mengetahui hal ini dan itulah sebabnya dia memutuskan untuk memberikan data-data tersebut kepada klien kami."
Ruang sidang geger. Bram berdiri dengan emosi. "Itu palsu! Itu dokumen yang direkayasa oleh Arka karena dia dendam pada saya!"
"Dendam?" Kirana berdiri, menatap langsung ke mata Bram. "Arka tidak dendam pada Anda. Arka merasa jijik pada Anda. Anda menggunakan nama mendiang ibunya untuk menutupi darah dan kotoran dari bisnis Anda. Dan Anda pikir, Anda bisa membunuhnya di penjara untuk menghilangkan jejak?"
"Apa maksud Anda?!" teriak Bram.
"Kami memiliki rekaman CCTV dari koridor penjara saat penyerangan terjadi," sahut Kirana sambil menunjuk layar besar. "Meskipun wajah pelaku tertutup, pelaku tersebut adalah mantan narapidana yang baru saja dibebaskan atas jaminan dari firma hukum yang berafiliasi dengan Anda, Tuan Bram."
Bram terdiam. Keringat dingin mulai bercucuran di dahi pria yang tadinya merasa di atas angin itu.
Tiba-tiba, pintu ruang sidang terbuka. Seorang petugas medis masuk dengan tergesa-gesa dan menyerahkan sebuah tablet kepada Jaksa Penuntut Umum.
"Yang Mulia," lapor Jaksa. "Kami baru saja mendapatkan pernyataan resmi melalui panggilan video darurat dari Rumah Sakit Bhayangkara. Saksi kunci, Arka Mahendra, telah sadar dan bersedia memberikan kesaksian singkat melalui telekonferensi."
Seluruh ruangan hening. Layar besar di ruang sidang kini menampilkan wajah Arka yang terpasang masker oksigen, namun matanya terbuka dan terlihat sangat tajam.
"Arka Mahendra," tanya Hakim. "Apakah benar Anda menyerahkan aset Mahendra Group kepada Kirana secara sukarela?"
Arka mengangguk perlahan, suaranya sangat lemah namun terdengar jelas melalui speaker. "Iya... saya menyerahkannya... sebagai bagian dari pengampunan saya. Kirana... tidak bersalah. Bram... dialah yang memanipulasi ayah saya... dialah yang memerintahkan penyerangan terhadap saya..."
Bram mencoba berdiri untuk pergi, namun petugas keamanan segera mencegatnya.
"Tuan Bram, Anda dilarang meninggalkan ruangan ini," tegas petugas kepolisian.
Arka terus menatap layar, pandangannya tertuju pada Kirana. "Kirana... maafkan aku... aku sudah memberikan semuanya... bersihkan namamu..."
Kirana tidak bisa menahan air matanya lagi. Ia melihat pria yang dulu ia benci sebagai penipu, kini tampil sebagai satu-satunya orang yang membelanya di depan hukum, dengan sisa-sisa nyawanya.
Setelah melalui debat yang sengit dan bukti-bukti yang tak terbantahkan, Hakim Ketua akhirnya mengetukkan palunya.
"Menimbang bukti-bukti baru dan kesaksian dari saksi kunci, maka pengadilan memutuskan untuk membatalkan tuntutan terhadap terdakwa Kirana. Sebaliknya, pengadilan memerintahkan pihak kepolisian untuk segera menahan Saudara Bram atas dugaan pencucian uang, penipuan, dan percobaan pembunuhan berencana."
Gemuruh tepuk tangan terdengar di ruang sidang. Kirana terduduk lemas di kursinya. Beban berat yang ia pikul selama berbulan-bulan seolah terangkat. Namun, pikirannya tidak pada kemenangannya. Pikirannya ada pada pria yang sedang terbaring di rumah sakit itu.
Bram digiring keluar ruangan dengan tangan terborgol, berteriak-teriak bahwa ini belum berakhir. Kirana tidak mempedulikannya. Ia segera berlari keluar, mengabaikan wartawan yang mencoba mewawancarainya.
Di Rumah Sakit Bhayangkara - Sore Hari
Kirana sampai di depan kamar Arka. Kali ini, penjagaan polisi sudah sangat ketat untuk melindungi Arka. Ia masuk ke dalam dengan langkah pelan.
Arka sedang beristirahat, namun ia membuka matanya saat mencium aroma parfum yang sangat ia kenal.
"Kau menang... Ratu..." bisik Arka, mencoba tersenyum di balik masker oksigennya.
Kirana duduk di sampingnya, memegang tangan Arka yang kurus. "Kita menang, Arka. Kau sudah melakukan hal yang benar."
"Apakah... masih ada tempat... untukku?" tanya Arka lirih.
Kirana menatap Arka lama. Luka di hatinya mungkin tidak akan pernah hilang sepenuhnya, tapi rasa benci itu telah berubah menjadi rasa hormat. "Sembuhlah dulu. Dunia ingin melihat bagaimana seorang Mahendra bangkit dari abunya sendiri."
Kirana menyadari bahwa balas dendam terbaik bukanlah dengan menghancurkan musuh, tapi dengan melihat musuh tersebut berubah menjadi orang yang lebih baik dan membantu memperbaiki apa yang telah ia rusak.
Malam itu, di bawah langit Jakarta yang mulai gelap, Kirana menyadari satu hal. Ia telah mendapatkan kembali hartanya, perusahaannya, dan namanya. Tapi yang lebih penting, ia telah menyelamatkan jiwa seorang pria yang sempat tersesat dalam keserakahan.
...----------------...
Next Episode....