Menceritakan Jihan seorang pemuda berusia 14 tahun, lahir dengan akar spiritualnya yang rusak. Demi ibunya yang sakit, ia menentang takdir dan menapaki jalan kultivasinya sendiri, sebuah jalan yang tak pernah terbayangkan bahkan oleh langit sekalipun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ohmyzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2
Pagi merambat begitu cepat. Mentari, yang semula melukiskan semburat jingga di ufuk timur, kini telah menjulang tinggi, menumpahkan cahaya hangat yang menari di antara siluet pepohonan dan gubuk-gubuk kayu.
Jauh dari drama yang menyelimuti gubuk reot tempat tinggal Jihan, dunia luar berdenyut dengan kehidupan. Riuh suara penduduk bekerja, bercampur dengan tawa riang anak-anak yang berlarian tanpa alas kaki, menciptakan harmoni sederhana di tempat terpencil ini.
Tersembunyi di wilayah perbatasan Kerajaan Muria, Desa Batu Sungai terbentang damai. Dikelilingi pepohonan dari segala penjuru dan dibelah aliran sungai yang gemericik di sisi utara, desa ini tampak seperti anomali yang hidup di tengah keheningan hutan. Konon, dari sungai inilah nama desa itu berasal.
Letaknya yang strategis, dengan sungai yang mengalir membelah tanahnya, menjadikan Desa Batu Sungai tumbuh subur sepanjang tahun. Tanahnya yang gembur menumbuhkan pepohonan rindang serta ladang biji-bijian yang menguning saat musim panen tiba. Penduduknya pun hidup selaras dengan alam… menghabiskan hari-hari mereka di ladang dan hutan, menekuni keterampilan yang diwariskan turun-temurun. Dari tangan dan tanah itu, lahirlah hasil bumi dan kerajinan yang kini dikenal hingga ke kota-kota sekitarnya.
Namun, dibalik semua reputasi itu, setiap detik di desa ini adalah sebuah perjuangan.
Siang itu, setelah mendengar permintaan lirih dari ibunya, Jihan melangkah keluar. Pintu kayu gubuknya berderit pelan saat terdorong, mengeluarkan suara parau yang memecah keheningan. Udara luar menyambutnya dengan semilir lembut, namun tak mampu menepis bebannya yang mengendap di matanya… beban yang bukan dari kurang tidur, melainkan dari penderitaan yang ia pikul dalam diam.
Pandangannya terangkat ke langit yang cerah, tempat cahaya mentari menari di pelupuk matanya yang setengah terpejam. Perlahan, tangan kanannya terulur, lalu mengepal di udara seolah ingin menggenggam sinar itu, menggenggam harapan. Di balik gerakan itu, terpatri tekad yang belum padam, sebuah janji untuk menyembuhkan sang ibu.
Di tengah keheningan itu, pikirannya bergema.
‘Matahari terbit menggantikan kegelapan... Ibu benar, aku tidak perlu khawatir. Aku yakin, masih ada cara untuk menyembuhkannya. Cara yang belum pernah kupikirkan!’
Tak lama, suara langkah kaki terdengar mantap. Jihan meninggalkan gubuk reyot di belakangnya, menyusuri jalan setapak yang dipenuhi daun-daun gugur dan tanah kering. Hari baru saja dimulai, dan bersamaan dengan itu, keyakinan yang ia tanam dalam benaknya mulai tumbuh… keyakinan bahwa sesuatu akan berubah hari ini.
Gubuk tempat tinggal Jihan berdiri di ujung desa, di atas dataran yang sedikit lebih tinggi, menghadap langsung ke derasnya aliran Sungai Batu. Wilayah itu rawan longsor di musim hujan, lerengnya mudah terkikis, dan hanya dihuni oleh segelintir kepala keluarga. Banyak yang menganggapnya berbahaya dan tak layak ditinggali. Tapi bagi Jihan, tempat terpencil itu adalah satu-satunya pelindung, saksi bisu hari-harinya bersama sang ibu.
Langkah Jihan terus berlanjut, menyusuri jalan yang mulai dipenuhi hiruk-pikuk pagi. Sesekali, ia berpapasan dengan beberapa tetangga yang menatapnya dengan sorot simpati. Bocah tiga belas tahun itu melangkah dengan bahu kecil yang tampak ringkih, namun memikul beban hidup yang terlalu berat bagi usianya… beban yang seharusnya tidak menjadi tanggung jawabnya.
Mereka tahu penderitaan yang dipikul Jihan, tapi tak banyak yang bisa dilakukan. Untuk bertahan hidup saja, mereka telah berjuang sekuat tenaga. Maka, yang bisa mereka berikan hanyalah sapaan lirih, dan penuh iba.
“Jihan, hendak ke mana gerangan?”
Pertanyaan itu melayang dari salah satu gubuk di depannya, berasal dari Sakmah, seorang wanita tua yang tinggal bersama cucunya.
“Ah, Nenek Sakmah. Jihan seperti biasa, hendak berkunjung ke kediaman kepala desa. Bagaimana kabar Nenek sendiri hari ini?”
“Puji Syukur, dewa masih memberkati, nak…”
“…Lalu, tentang ibumu, apakah ia sudah menunjukkan tanda-tanda membaik?”
“Aih, Sungguh disayangkan. Padahal dulu ibumu, Wulandari, adalah seorang wanita muda yang cantik danperiang. Saat Nenek pertama kali mendengar kabar bahwa ia jatuh sakit, hati Nenek sungguh terpukul. Maafkan jika Nenek belum bisa banyak membantu.”
Mendengar permintaan maaf itu, Jihan menggeleng pelan, lalu dengan sikap hormat membalasnya. Ia berusaha membohongi diri sendiri, meyakinkan bahwa kondisi ibunya kini jauh lebih baik
“Tidak, tidak… nenek tidak perlu meminta maaf, bagaimana pun Jihan berterimakasih atas makanan yang nenek bagikan tempo hari. Adapun dengan kodisi ibu…”
“… Saat ini kondisinya jauh lebih baik, Jihan memintanya untuk beristirahat.”
Sakmah hanya bisa menatap Jihan dalam diam. Sebagai seorang yang telah hidup puluhan tahun, ia dapat merasakan kebohongan yang terpancar dari pupil matanya, meski Jihan berusaha keras menyembunyikannya di balik sikap tenang.
“Jika demikian, semoga berkah dewa menyertai ibumu, Nak”
Jihan mengangguk pelan, lalu melanjutkan langkahnya menuju kediaman kepala desa. Seharusnya, jarak dari gubuknya hanya memakan waktu sekitar lima menit. Namun, perjalanan itu terasa lebih lama dari yang ia perkirakan. Beberapa tetangga terus-menerus menyapanya, dan meski singkat, percakapan-percakapan itu perlahan menguras energinya.
‘Tak kusangka... hal sesederhana ini bisa menguras energiku sedalam ini,'
Namun, saat ia tengah berhenti mengambil napas, dari salah satu kedai tak jauh dari tempatnya, terdengar bisik-bisik dari beberapa orang yang tertangkap jelas oleh indra pendengarannya.
“Hei, kau tahu tidak? Kemarin Pangeran Kedua datang ke Kota Mandala!”
“Benarkah itu?!”
“Dasar bodoh! Aku melihatnya sendiri dengan mata kepalaku! Ia datang bersama adiknya—”
“Adiknya? Jangan bilang nona muda yang usil itu?”
“Hikk, aku ingat sekali! Waktu itu aku sedang menuju Ibu Kota Kerajaan. Gadis itu menghentikan karavan kami. Dia berseru, ‘Atas nama Kerajaan, karavan ini harus diperiksa!’ Kami pikir ada aturan baru apalah... ternyata itu hanya akal-akalannya supaya bisa duduk santai di kereta kami sambil ngemil buah!”
“Ssttt! Jaga ucapanmu! Jika sampai mata-mata Kerajaan tahu, bisa-bisa kau dipenggal olehnya, hahaha!”
“Tapi memang begitulah katanya, nona muda itu memang agak... aneh. Tak seperti bangsawan lainnya. Mungkin terlalu ikut campur, entahlah.”
“Tapi tetap saja, Kau pikir mereka datang ke Mandala untuk apa?”
“Hikk… itu dia yang membuatku penasaran. Kota ini bukan kota penting, hanya jalur dagang kecil di ujung selatan. Mengapa keluarga kerajaan repot-repot datang ke sini?”
“Jangan bilang... ada masalah yang mereka sembunyikan...”
"Aku juga nggak yakin ini saling berkaitan, tapi... bukankah desa kita belakangan mengalami hal-hal aneh? Lihat saja Sungai Batu airnya menyusut terus tiap tahun, kan?"
"Ah, dasar bodoh. Apa hubungannya dengan itu? Itu cuma efek kemarau panjang, siklus tahunan yang biasa terjadi!"
Jihan berdiri membeku di tempatnya. pikirannya menerjemahkan potongan berita itu. Seorang Pangeran, seorang Putri... sebuah dunia yang begitu jauh dari gubuknya. Dunia para bangsawan yang hidupnya mungkin tak pernah terusik oleh harga sebutir pil obat. Ironisnya, mereka semua bernaung di bawah langit yang sama dan merasakan terik matahari yang sama pula.
Seakan menyadari keberadaannya, tatapan beberapa dari mereka kini beralih kepadanya.
“Hm? Anak itu... bukankah dia dari rumah Bu Wulandari?”
“Ya… kasihan. Ibunya sakit-sakitan, dan anak itu sering terlihat mondar-mandir mencari obat.”
Mendengar bisikan-bisikan itu, Jihan merasakan panas menjalar di pipinya. Tanpa berani mengangkat wajah, ia hanya menunduk sedikit sebagai bentuk sapaan, lalu mempercepat langkahnya menjauh dari tatapan penuh simpati yang terasa menyesakkan.
Namun, di balik langkah yang terburu itu, pikirannya bergulir gelisah. Ia tahu, keluarga kerajaan tak mungkin datang ke wilayah terpencil seperti ini tanpa alasan, dan kehadiran mereka bisa jadi pertanda bahwa kedamaian akan segera berakhir.