Rowena Scarlett adalah manusia setengah vampir, tetapi sama sekali tidak menyadari jati dirinya. Tante dan om, satu-satunya keluarga yang ia miliki, justru menganggap Rowena mengalami gangguan mental. Anggapan itu berujung pada keputusan untuk menitipkannya di rumah sakit jiwa.
Rowena didiagnosis mengidap gangguan delusi akibat obsesinya terhadap darah. Kondisi tersebut bahkan membuatnya hampir melakukan percobaan pembunuhan demi memuaskan rasa penasarannya. Padahal, dorongan itu merupakan insting yang wajar bagi seseorang yang memiliki darah vampir.
Nahas, di tempat itu Rowena bertemu Darcel, dokter terapis barunya yang ternyata seorang vampir psikopat. Ketika Rowena terjebak dalam genggamannya, ia dijadikan kambing hitam atas pembunuhan-pembunuhan yang dilakukan oleh Darcel.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dr. Darcel
...୨ৎ R O W E N A જ⁀➴...
Di hari anak-anak seangkatanku tampil keren di panggung wisuda SMA, aku malah berdiri di depan hakim, di ruang sidang.
Teman-temanku semuanya dapat tepuk tangan, jabat tangan, ucapan selamat, sama ijazah ... sementara aku?
Cuma diberi segepok kertas berisi perintah rehabilitasi.
Berengsek.
Aku memutar mata sambil bersandar di kursi kemudi, menatap gedung kusam yang menjulang di bawah malam.
Semua orang seusiaku sudah siap kuliah, sementara aku harus sibuk menjalani rehab selama setahun ke depan bersama Dokter Terapi perilaku kognitif.
Dan Dokter Terapi baruku, yang bahkan belum pernah aku lihat wajahnya, Dr. Darcel Vallon, kemungkinan dia sedang duduk di kantornya sekarang. Mengecek jam sambil berpikir apa dia harus menelpon pengawas untuk melaporkanku sebagai pasien hilang.
Karena hampir semua kantor di gedung itu gelap, tapi di lantai dua ada satu lampu yang menyala. Mungkin saja itu dia. Sumpah, ingin sekali rasanya aku lempar molotov buat memastikannya.
Dokter Terapi selalu membuatku mual, bosan, melelahkan, dan penuh sandiwara. Aku harus pintar-pintar berbagi cerita, cukup untuk bikin mereka senang, tapi jangan terlalu banyak sampai mereka merasa perlu mengurungku di rumah sakit jiwa.
Harusnya sih aku memang perlu dirawat di Rumah Sakit Jiwa, tapi … ya itu masalah mereka, bukan masalah aku.
Aku enjoy kok menjadi orang liar setengah gila begini, meskipun … ya, kadang kesepian juga. Mungkin kalau masuk Rumah Sakit Jiwa, aku bisa kenalan sama orang-orang yang satu frekuensi.
Menarik juga kayaknya.
Aku buka pintu mobil. Merapikan rok mini, lalu berjalan dengan bunyi ketukan sepatu di aspal. Aku enggak bisa terus-terusan menghilang dan bikin Dokter terapi baru ini panik. Kalau aku bikin ribut, ujung-ujungnya bisa digeret ke penjara.
Katanya, terapi ini untuk merapikan sisi brutalku … ya Tuhan, dia sampai sebegitunya.
Di depan gedung, sepi banget. Langit sudah hitam, ada satu tiang tinggi menopang lampu kuning yang dikerubuti serangga. Angin menghempas dedaunan pohon besar di depan pintu masuk.
Lobi besar itu bau cairan pembersih. Ada papan kuning bertuliskan "Awas Licin" tanda petugas kebersihan sudah pulang.
Janji temu di jam 9 malam tuh sebenarnya agak menyeramkan, tapi aku memaksa naik juga ke ruang 203. Ini bukan terapi pertamaku, jadi aku pasti bisa survive dari pertanyaan-pertanyaan idiot itu.
Aku menyibak rambutku dari wajah, terus masuk ke kantor itu dengan langkah kesal. Bahkan sebelum bertemu orang ini, aku sudah ingin memaki-makinya. Tapi ya, siapa pun dia, Dr. Darcel, mungkin cuma pegawai negeri biasa.
Ruang tunggunya kosong.
Gelap.
Di balik meja resepsionis, cuma ada satu lampu mendesis, menyorot ke karpet abu-abu. Seseorang berambut pirang berseragam rumah sakit, nametag-nya "Audy" meremang bicara di balik akrilik.
Aku menyodorkan berkas registrasi melalui lubang kecil, bilang kalau aku telat untuk sesi ini. Aku sempat mau minta maaf … tapi, come on, itu bukan gaya aku.
“Kalau udah terlambat—” Aku berhenti, berharap dia bilang aku boleh pulang saja.
“Enggak kok, silakan masuk, Bu Scarlett.”
Sial.
Menyebalkan.
Dia mengarahkanku ke koridor, dan sumpah ... tempat ini tampak seperti gedung yang sudah bangkrut. Semua pintu ruangan konsultasi dikunci. Semua lampu mati. Enggak ada dokter, enggak ada pasien. Bahkan lampu lorong saja dimatikan entah kenapa.
Mereka enggak sanggup bayar listrik apa bagaimana?
“Ini ruangannya,” kata Audy.
Aku melirik, tarik napas panjang dan bergumam dalam hati, "Setahun. Cuma setahun lagi sama Dr. Darcel."
Aku berkedip ke arah cowok yang berdiri di depanku.
“Nona Rowena Scarlett, saya khawatir Anda tidak datang,” suaranya lembut, sopan, profesional dan enak di telinga.
Aku cuma bisa berdiri bengong, enggak memikirkan apa-apa, sementara cowok itu berdiri cuma tiga meter dari aku.
“Duduklah,” katanya, lengan berototnya menunjuk ke kursi. Aku pun mengangguk terus duduk.
Dr. Darcel duduk seperti pangeran. Tegap, elegan, santai, dan berwibawa. Rompi mewahnya cocok banget di badan itu. Aku langsung bingung harus taruh tangan di mana.
Di pangkuan?
Gantung saja di sisi kursi?
Atau aku cuma lagi halu?
Dan aroma dia ... humm, harum banget.
Enggak pernah aku terpikirkan ada manusia bisa wangi begini. Si resepsionis tadi saja baunya seperti chemical.
Adem banget melihat setiap gerakan dia. Dokter lain biasanya canggung, kasar, terlalu banyak bicara, tapi dia berbeda. Lembut, halus, rapi, kuat.
Dia tersenyum.
Dan matanya … ungu.
Please deh.
Itu kan enggak masuk akal.
Aku sampai menelan ludah untuk meyakinkan diri kalau dia cuma ilusi. Tapi dia nyata. Jelas banget nyata. Dan berbeda dari semua orang yang aku kenal, yang biasanya terlalu ribut, terlalu menyengat, terlalu mengganggu saraf sensitifku.
Dia enggak.
Dia membuatku nyaman.
Dan itu … menakutkan.
“Rowena, sebelum kita mulai, saya mau bilang sesuatu,” katanya, nadanya berubah serius. “Saya ada di sini untuk bantu kamu.”
Aku langsung buang napas kecewa. Ini dia moment cringe itu ... pidato.
“Kamu bisa percaya sama saya, saya enggak seperti orang lain.”
Dr. Darcel memperhatikan reaksiku, terus dia bersandar sambil menatapku. Aku malah fokus ke setelannya. Mahal, elegan dan terlalu bagus untuk dipakai bekerja sampai lembur.
Untuk beberapa detik, dia membalas tatapanku.
Berengsek.
Dia tersenyum.
Senyum sombong. Dan dia tahu kalau wajahku sedang memerah.
Tiba-tiba, dia condong ke depan, ambil salah satu kartu nama di meja, terus tulis sesuatu di belakangnya. Dia dorong kartu itu ke arahku.
Nomor telepon.
“Ini nomor pribadi saya. Kamu boleh hubungi saya di luar sesi terapi.”
Aku ambil kartu itu, memperhatikan tulisan tangannya yang melengkung rapi.
“Aku enggak suka telepon!" ceplosku.
Dia malah tersenyum miring.
Dan, ya ampun ... lesung pipit itu muncul lagi.
Sial.
Tentu saja aku bisa merasakan pipiku langsung panas lagi. Aku coba menepis rasa malu itu, tapi malah makin merah.
“Kalau kamu enggak suka telepon, kamu bisa chat saya aja. Saya selalu balas,” katanya.
Aku melewati wajahnya, terbengong. Nyaris saja tertawa. Aku harus telan ludah biar enggak tertawa.
“Jadi, kenapa kamu ada di sini?” suaranya lembut, hangat.
Mata ungunya … ya ampun. Itu jelas alasan kenapa aku merasa terhipnotis. Itu juga alasan kenapa mulutku tertawa, dan mulai menjelaskan kejadian yang lalu sambil menyelipkan kartu namanya ke saku.
“Hemmm ... Itu sebenarnya bukan penculikan ... sumpah,” jelasku.
Dr. Darcel cuma tersenyum dan mengangguk. Aku malah memperhatikan tangan kekarnya waktu dia menyingsing lengan kemeja.
Terus dia menembakku, “Anak laki-laki dari sekolah itu ikut sama kamu, kan?”
“He'emm, dia naksir aku,” jawabku.
“Bukannya dia memohon biar kamu lepasin dia?”
Aku memutar mata.
“Akhirnya, iya. Terus aku lepasin dia.” Padahal kenyataannya dia yang berhasil mengalahkanku dan kabur. “Cekik-cekikan itu cuma bercanda, kok.”
Tapi sebenarnya ... ya, aku memang sempat mencoba membunuh dia.
“Dan dia seneng banget naik mobil sama aku karena ....” Suaraku tersangkut. Ragu untuk membicarakan itu di depan dia.
“Kenapa?” tanya Dr. Darcel pelan, sudut bibirnya menahan senyum.
“Yah .…” Aku gigit bibir.
“Kalian berdua berhubungan intim?” tanyanya sambil tertawa.
“Itu idenya dia!”
Ya Tuhan, sejak kapan aku jadi malu begini?
“Kapan mulai kacaunya?” Dia fokus ke aku, dan entah kenapa aku malah ingin ceritakan semuanya. Toh semuanya sudah terbongkar di pengadilan.
Tapi sebelum aku buka mulut, dia bicara, “Kamu mencoba menggorok lehernya, kan?”
Jelas dia sudah baca dokumen kasusnya.
Aku telan ludah dan mengangguk.
“Rowena, bagian selanjutnya penting.”
“Apa selanjutnya?” Aku mulai gelisah. Tatapanku melirik ke pintu.
“Kamu pingin minum darahnya?”
Aku langsung melotot dan mundur. Pipiku panas banget. Aku hanya mendesis, suaraku gemetar.
Sialan.
Mana semua rencanaku untuk jadi badgirl?
Aku harus me-reset ulang strategi.
“Semuanya aman, Rowena. Aku suka kejujuranmu. Terutama soal itu.”
“Oke,” jawabku ragu. Setengah percaya, setengah takut. Tapi dia tenang banget.
Aku usap bibir, taruh tangan lagi di meja. Kalau dia rileks, aku juga harus bisa.
“Kamu pernah minum darah manusia?”
“Apa?” pekikku, tertawa gugup.
Dr. Darcel condong ke arahku, dekat banget. Tangan dia menyentuh tanganku dengan lembut. Sentuhan itu membuat seluruh tubuhku panas.
“Pernahkah kamu meminum darah manusia?” ulangnya lagi, matanya fokus ke aku.
Aku menggeleng.
Bagaimana dia bisa tahu?
Siapa yang kasih tahu dia?