NovelToon NovelToon
Rumus Gitar Cinta

Rumus Gitar Cinta

Status: tamat
Genre:Ketos / Bad Boy / Diam-Diam Cinta / Cintapertama / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Tamat
Popularitas:119
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Sekolah SMA Pelita Bangsa terancam tidak bisa mengadakan Pensi tahunan karena masalah dana. Kepala Sekolah memberikan syarat: Pensi boleh jalan kalau rata-rata nilai ujian satu angkatan naik. Julian (Ketua OSIS) terpaksa menjadi tutor privat bagi siswa dengan nilai terendah di angkatan, yang ternyata adalah Alea. Di antara rumus fisika dan lirik lagu rock, mereka menemukan bahwa mereka memiliki luka yang sama tentang ekspektasi orang tua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Dua Kutub Berlawanan

Matahari pagi di Jakarta Selatan tidak pernah sopan. Pukul 06 : 55 aspal jalanan sudah memancarkan hawa panas yang membuat ubun-ubun mendidih. Tapi bagi Alea, panas matahari bukan masalah utama. Masalah utamanya adalah gerbang besi berwarna hitam setinggi dua setengah meter yang kini berdiri angkuh di depannya.

​Tertutup rapat.

​"Sialan," umpat Alea pelan, menyeka keringat yang meluncur di pelipisnya.

​Napasnya masih memburu. Ia baru saja berlari dari halte busway—jarak yang lumayan jauh, apalagi dengan beban gigbag gitar elektrik di punggung yang beratnya serasa dosa masa lalu. Seragam putih abu-abunya yang tadi pagi disetrika rapi oleh Bi Inah kini sudah kusut di bagian pinggang, dan dasinya miring entah ke arah mana.

​Alea melirik jam tangan G-Shock merah di pergelangan tangannya. 06.58.

​"Telat tiga menit doang, elah. Pak Satpam pasti masih ngopi," gumamnya menyemangati diri sendiri.

​Ia mendekati celah gerbang, mengintip ke pos satpam. Kosong. Ini kesempatan emas. Biasanya, Pak Ujang—satpam sekolah yang kumisnya setebal sapu ijuk—akan berbaik hati membukakan gerbang sedikit kalau disogok senyuman manis dan alasan klise seperti "ban bocor" atau "kucing saya melahirkan".

​Alea menggoyangkan gembok gerbang. Terkunci. Ia mendongak, menatap ujung pagar yang runcing. Memanjat? Dengan gitar di punggung? Itu namanya bunuh diri konyol.

​"Mencari celah buat menyusup, nona Rockstar?"

​Suara itu terdengar datar, dingin, dan sangat menyebalkan.

​Alea membeku. Ia kenal suara itu. Semua murid di SMA Pelita Bangsa kenal suara itu. Itu adalah suara yang biasanya terdengar lewat pengeras suara setiap upacara Senin, membacakan tata tertib dengan intonasi yang membuatnya terdengar seperti robot diprogram untuk membasmi kesenangan.

​Alea menoleh perlahan.

​Di balik gerbang, berdiri sosok yang merupakan antitesis dari segala kekacauan yang ada pada diri Alea. Seragamnya putih bersih tanpa satu kerutan pun, dimasukkan rapi ke dalam celana abu-abu yang potongannya pas. Lengan kemejanya digulung rapi hingga siku. Di lengan kirinya, melingkar ban lengan berwarna biru dengan tulisan bordir emas: KETUA OSIS.

​Julian Pradana.

​Si jenius kebanggaan sekolah. Pemenang Olimpiade Fisika tingkat nasional. Manusia yang, menurut teori Alea, tidak pernah kentut atau punya kotoran hidung saking sempurnanya.

​"Minggir, Jul. Gue mau masuk," kata Alea tanpa basa-basi. Ia mencoba terdengar galak, meski posisinya tidak menguntungkan.

​Julian tidak bergerak seinci pun. Wajahnya lempeng, dibingkai kacamata berbingkai tipis yang memantulkan cahaya matahari. Ia melihat jam tangannya, lalu menatap Alea lagi.

​"Gerbang ditutup pukul 06.55. Sekarang pukul 07.00. Kamu terlambat lima menit, Aleandra," katanya. Suaranya tenang, tapi ketenangannya itulah yang membuat Alea ingin melempar pick gitar ke jidatnya.

​"Lima menit doang, astaga! Toleransi dikit napa? Tadi busway mogok di Pancoran," Alea berbohong lancar. Padahal ia telat bangun karena maraton nonton konser Green Day di YouTube sampai jam tiga pagi.

​"Tidak ada toleransi untuk kedisiplinan," jawab Julian, mengeluarkan buku catatan kecil dari saku kemejanya. Ia mencabut pulpen, menekan ujungnya. Klik. Suara itu terdengar seperti vonis hakim.

​"Nama: Aleandra Kamila. Kelas: XI IPS 3. Pelanggaran: Terlambat. Atribut tidak lengkap—dasi miring, kaus kaki tidak sesuai standar," gumam Julian sambil menulis cepat.

​"Heh! Kaus kaki gue putih, ya!" protes Alea, mengangkat sedikit celana panjangnya. "Standar apanya yang nggak sesuai?"

​"Di atas mata kaki minimal sepuluh senti. Itu cuma lima senti," Julian menunjuk kaki Alea dengan pulpennya tanpa ekspresi. "Dan rambutmu..." Tatapan Julian beralih ke rambut Alea yang diwarnai highlight merah gelap di bagian ujung dalam. "...pewarnaan rambut dilarang di Pasal 4 Bab 2 Tata Tertib Siswa."

​Alea mendengus kasar. "Ini inner color, woy! Nggak kelihatan kalau nggak diikat. Lo tuh matanya setajam elang atau emang hobi nyari kesalahan orang?"

​"Tugas saya menegakkan aturan. Bukan mencari kesalahan," koreksi Julian. Ia merobek kertas dari buku catatannya, lalu menyelipkannya di sela-sela gerbang besi. "Ini surat poin pelanggaranmu. Ambil, lalu lapor ke guru piket. Pak Hadi sudah menunggu di lobi."

​Mendengar nama Pak Hadi, nyali Alea sedikit ciut. Guru BK itu punya aura yang bisa membuat preman pasar insyaf mendadak. Tapi rasa kesalnya pada Julian jauh lebih besar.

​"Gue nggak bisa masuk kalau gerbangnya nggak lo buka, Tuan Ketua OSIS yang terhormat," sindir Alea.

​Julian menatapnya sejenak. Ada kilatan aneh di matanya—mungkin lelah, atau mungkin muak melihat wajah Alea pagi-pagi buta—tapi ia segera menyembunyikannya. Ia berbalik, memberi kode pada Pak Ujang yang baru saja muncul dari toilet sambil membetulkan celana.

​"Pak, tolong buka pintu kecil. Satu siswa terlambat. Sudah dicatat."

​Pak Ujang tergopoh-gopoh membukakan pintu kecil di samping gerbang utama. Alea melangkah masuk, menyambar kertas pelanggaran dari tangan Julian dengan kasar. Saat mereka berpapasan, bahu Alea sengaja menyenggol lengan Julian.

​"Kaku banget sih lo jadi cowok. Nanti cepet tua, lho," bisik Alea sinis.

​Julian tidak bergeming. Ia hanya membetulkan letak kacamatanya. "Dan kamu, kalau terus-terusan melanggar aturan, masa depanmu yang akan cepat tua karena susah cari kerja."

​Alea menggeram, menahan diri untuk tidak memukul wajah tampan tapi menyebalkan itu dengan gitar. Ia menghentakkan kaki, berjalan cepat menuju lobi sekolah. Di dalam hati, ia bersumpah. Hari ini resmi menjadi hari yang buruk. Dan Julian Pradana adalah nama yang ia tulis paling atas di daftar "Hal-Hal yang Paling Alea Benci di Dunia", tepat di atas "senar gitar putus saat manggung" dan "kuota habis saat streaming".

​Lorong sekolah SMA Pelita Bangsa sudah sepi saat Alea berjalan menuju ruang piket. Suara langkah kakinya bergema, diiringi bunyi creek-creek dari sepatu kets-nya yang agak kotor.

​Di lobi, Pak Hadi berdiri dengan tangan bersedekap. Guru bertubuh gempal dengan kepala plontos itu tersenyum, tapi senyumannya mengerikan.

​"Selamat pagi, Aleandra," sapa Pak Hadi. "Sudah lama kita tidak ngopi pagi di ruangan saya. Berapa poin hari ini?"

​Alea menyerahkan kertas dari Julian dengan wajah masam. "Cuma telat lima menit, Pak. Si Julian aja yang lebay. Lebay kuadrat."

​Pak Hadi membaca kertas itu. "Terlambat, atribut, rambut... hmmm. Julian memang teliti. Dia aset sekolah kita. Seharusnya kamu mencontoh dia, Alea. Nilai bagus, sopan, disiplin."

​Mencontoh Julian? Alea rasanya ingin muntah pelangi.

​"Iya, Pak. Nanti saya contoh. Saya botakin rambut saya biar rapi kayak Pak Hadi sekalian," jawab Alea asal.

​"Jangan kurang ajar kamu," Pak Hadi melotot, tapi tidak benar-benar marah. Alea memang langganan masuk BK, tapi guru-guru tahu dia bukan anak jahat. Cuma... terlalu ekspresif. "Sana masuk kelas. Tapi gitar itu titip di sini. Pulang sekolah baru boleh ambil."

​"Yah, Pak! Nanti senarnya karatan kena AC ruangan Bapak!"

​"Titip atau Bapak sita satu semester?"

​Alea cemberut, meletakkan gigbag-nya di sofa tamu ruang piket dengan berat hati. "Awas ya Pak, kalau lecet, Bapak ganti pakai gaji ke-13."

​Setelah lolos dari Pak Hadi, Alea berlari menuju kelas XI IPS 3 yang ada di lantai dua. Napasnya kembali ngos-ngosan. Sesampainya di depan kelas, ia mengintip lewat jendela kaca. Bu Rina, guru Sejarah yang kalau mengajar suaranya seperti lagu pengantar tidur, sedang menulis di papan tulis.

​Alea mengetuk pintu pelan. Tok tok tok.

​Seluruh isi kelas menoleh. Bu Rina berhenti menulis.

​"Assalamualaikum, Bu. Maaf telat," kata Alea sambil nyengir kuda, masuk dengan langkah yang berusaha dibuat santai.

​"Waalaikumsalam. Aleandra lagi," Bu Rina menghela napas panjang, seolah beban hidupnya bertambah sepuluh kilo melihat Alea. "Jam berapa ini?"

​"Jam belajar Sejarah, Bu. Makanya saya semangat banget mau masuk," elak Alea.

​Teman-teman sekelasnya terkikik. Di pojok belakang, Raka—drummer band-nya sekaligus sahabatnya sejak SMP—mengacungkan jempol sambil menahan tawa.

​"Duduk sana. Jangan bikin keributan. Kita sedang membahas Perang Dunia I," perintah Bu Rina.

​Alea melempar tasnya ke bangku di sebelah Raka, lalu menghempaskan pantatnya ke kursi.

​"Abis 'pacaran' sama Ketos lagi lo di gerbang?" bisik Raka saat Bu Rina kembali menulis.

​"Jijik!" Alea melotot. "Si Robot itu nyegat gue. Sumpah ya, Ka, gue curiga dia itu sebenernya cyborg ciptaan pemerintah buat nyiksa siswa SMA. Nggak punya hati, nggak punya perasaan. Lempeng banget mukanya kayak tembok yang baru diaci."

​Raka tertawa kecil. "Tapi ganteng, Le. Cewek-cewek kelas sebelah pada rebutan pengen dihukum sama dia."

​"Ganteng tapi kalau kelakuan kayak sipir penjara, buat apa? Mending gue sama tiang listrik. Sama-sama kaku, tapi tiang listrik berguna buat nyalain lampu."

​Alea mengeluarkan buku tulisnya yang sampulnya penuh coretan lirik lagu dan gambar tengkorak. Ia mencoba menyalin tulisan di papan tulis, tapi pikirannya melayang.

​Ia teringat tatapan Julian tadi. Tatapan yang merendahkan. Tatapan yang seolah bilang, kamu cuma sampah yang mengotori sekolah ini. Alea benci tatapan itu. Ia tahu ia bukan murid pintar. Matematika baginya adalah bahasa alien, dan Fisika adalah ilmu hitam. Tapi ia punya musik. Ia punya suara. Ia punya passion yang tidak dimiliki anak-anak robot seperti Julian.

​"Liat aja nanti," gumam Alea sambil menekan pulpennya kuat-kuat hingga kertasnya sobek. "Gue bakal buktiin, gue bisa sukses tanpa harus jadi robot penurut."

​Sementara itu, di Ruang OSIS yang ber-AC dingin.

​Julian duduk di kursi kebesarannya. Di mejanya, tertumpuk proposal kegiatan yang harus ia periksa. Di sebelah kanannya, buku tebal berisi kumpulan soal Fisika Kuantum terbuka lebar.

​Ia memijat pangkal hidungnya. Kepalanya berdenyut.

​"Jul, lo nggak apa-apa?"

​Suara lembut itu datang dari Sarah, Sekretaris OSIS yang duduk di meja seberang. Gadis cantik, pintar, dan penurut. Tipe ideal yang selalu dijodoh-jodohkan guru dengan Julian.

​"Nggak apa-apa, Sar. Cuma kurang tidur," jawab Julian singkat.

​"Gara-gara ngurusin proposal Pensi?" tanya Sarah prihatin.

​Julian mengangguk samar. Sebenarnya bukan itu. Tadi malam, ayahnya—seorang dokter bedah syaraf ternama—masuk ke kamarnya pukul dua pagi. Bukan untuk mengucapkan selamat tidur, tapi untuk mengecek apakah Julian masih belajar atau sudah tidur. Ketika melihat Julian tertidur di atas meja belajar dengan buku Biologi terbuka, ayahnya hanya berkata dingin, "Kalau mau tidur, di kasur. Jangan biasakan malas-malasan di meja belajar. Nilai try out-mu turun 0,5 poin. Jangan bikin Papa malu."

​Kata-kata itu masih terngiang. Jangan bikin Papa malu.

​Julian menghela napas, matanya tertuju pada lembaran kertas di depannya. Itu adalah salinan surat pelanggaran Aleandra Kamila yang baru saja ia tulis. Tulisan tangannya rapi, tegak bersambung, kontras dengan kepribadian pemilik nama itu.

​Alea. Gadis itu seperti badai. Datang-datang bikin ribut, berantakan, tapi... hidup.

​Tadi pagi, saat Alea memprotes soal kaus kaki, Julian sempat melihat plester luka di jari-jari tangan gadis itu. Luka kapalan. Bekas pemain gitar. Julian tahu rasa sakit itu. Dulu, ia juga punya kapalan yang sama di ujung jari kirinya. Dulu, sebelum ayahnya mematahkan gitar akustik pertamanya dan membakarnya di halaman belakang karena ketahuan bermain musik saat minggu ujian.

​Sejak saat itu, jari Julian mulus. Bersih. Dan kosong.

​"Jul?" panggil Sarah lagi.

​Julian tersentak kembali ke realita. Ia menutup buku catatan pelanggaran itu dan memasukkannya ke laci. Mengunci memori tentang gitar dan jari kapalan itu rapat-rapat.

​"Ya. Kita harus rapat nanti istirahat kedua," kata Julian, suaranya kembali datar dan berwibawa. "Kepala Sekolah memanggil saya tadi pagi. Ada masalah soal dana Pensi."

​"Masalah lagi?" keluh Sarah.

​"Besar kemungkinan Pensi tahun ini dibatalkan," ucap Julian dingin, seolah ia sedang membacakan berita cuaca, padahal hatinya mencelos.

​Pensi adalah satu-satunya hal di sekolah ini yang ia nikmati—walaupun hanya sebagai panitia di balik layar. Melihat panggung, melihat lampu sorot, melihat orang-orang bebas berekspresi. Jika Pensi batal, sekolah ini benar-benar hanya akan menjadi penjara baginya.

​Dan ironisnya, ia tahu siapa orang yang akan paling mengamuk jika berita ini tersebar.

​Gadis berambut highlight merah yang tadi pagi ia hukum di gerbang.

​"Siapkan mental kalian," kata Julian pada pengurus OSIS lainnya yang mulai berdatangan. "Perang dunia ketiga akan segera dimulai."

​[

​BERSAMBUNG...

Terima kasih telah membaca💞

Jangan lupa bantu like komen dan share ❣️

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!