Rumi sudah tiga tahun menikah dengan Fathur. Sebenarnya rumah tangga mereka baik-baik saja. Hanya saja menjadi tidak baik-baik karena selalu di recoki oleh ibu dan keluarga Fathur lainnya.
Hingga akhirnya saat Rumi kembali hamil, namun untuk kedua kalinya juga dia harus kegu guran karena ulah sang ibu mertua. Bu Sri tak pernah ingin jika Fathur memiliki anak dari Rumi.
Rumi jelas marah dan pun cak amarahnya saat Bu Sri membawa mantan dari Fathur ke dalam kehidupan ruang tangga mereka. Fathur bahkan tak mampu untuk membela istrinya.
Apakah dengan kenyataan seperti ini Rumi siap menjadi janda? Ataukah dia malah lebih memilih bertahan dengan kenyataan seperti itu?
"Jangan banyak membantah jika kamu tak ingin di Jan da kan oleh Fathur!" ancam Bu Sri.
"Jadi Jan da? Siapa takut Bu!" jawab Rumi membuat suami dan ibu mertuanya melongo tak percaya.
Ikuti terus kisah Arumi selengkapnya. Jangan lupa baca sampai akhir, karena ada banyak keseruan dari Rumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi Janda? Siapa Takut? 10
"Dek ..." panggil Fathur merasa tak nyaman setelah seharian kemarin di diamkan oleh Rumi.
Setelah kejadian kemarin, Rumi lebih banyak diam dan hanya menjawab seperlunya. Sedangkan Fathur setelah kejadian itu di panggil ibunya untuk mengantarnya berbelanja bulanan. Sehingga terpaksa dia meninggalkan Rumi. Dan dia berada di rumah ibunya seharian, malam baru pulang dan Rumi suda tidur.
"Iya," jawab Rumi tanpa melihat ke arah suaminya.
"Besok malam ibu minta kita datang ke rumahnya," ujar Fathur.
"Kita apa kamu saja, Mas? Karena sepertinya aku tak pernah di harapkan datang selama ini. Kalau ada pertemuan keluarga juga aku akan berada di dapur untuk menyiapkan kudapan dan makanan untuk kalian," tanya Arumi membuat Fathur merasa sangat bersalah.
"Dek ..."
"Kamu saja datang sendiri Mas, aku kali ini absen lagi menjadi ba bu keluargamu. Maaf aku hanya ingin menyelamatkan kewarasanku," jawab Arumi karena suaminya hanya memanggil begitu saja.
Mungkin Fathur bingung mau menjawab apa, akhir-akhir ini Arumi selalu bisa membuat dia bungkam.
"Aku berangkat dulu, Mas!" pamit Arumi.
"Mas antar!"
"Terserah, kalau tidak merepotkan!" jawab Rumi.
Fathur hanya bisa menghela napas panjang, melihat mode istrinya marah seperti ini. Sejujurnya dia lebih suka Rumi yang mengomel dan juga terus berceloteh. Dari pada Rumi yang diam dan sekalinya bicara menusuk ulu hatinya.
"Dek, pulang jam berapa? Nanti mas jemput!" tanya Fathur saat mereka tiba di toko roti tempat Rumi bekerja.
"Jam lima," jawab Rumi.
"Ya sudah nanti Mas jemput, nanti malam kamu juga ikut ke rumah ibu ya, Dek!" ujar Fathur namun Rumi tidak menjawab dan lebih memilih menyalami tangan suaminya. Fathur bisa diam dan mengalah nafas. Wajah istrinya juga terlihat pucat, Fathur sedikit khawatir mungkin Rumi juga sudah banyak pikiran.
"Rum, kok wajah kamu pucat apa kamu sakit?" tanya Asti saat melihat keadaan Rumi yang pucat.
"Mungkin aku kurang istirahat saja, Asti," jawab Rumi.
"Apa Mak Lampir kembali membuat ulah dan menyakiti hati kamu lagi?" tanya Asti. Rumi hanya tersenyum.
"Suami kamu juga masih tetap diam dan tak membela kamu?"
"seperti biasanya, Mas Fathur selalu berusaha menjadi anak yang berbakti kepada ibunya,"
"Iya, tapi juga dia sekarang memiliki kamu sebagai tanggung jawab yang utama. Seharusnya dia membela dan memikirkan perasaan kamu lebih dahulu. Apalagi mulut ibunya itu pedes banget. Oseng mercon aja kalah sama mulut mertuamu itu!" omel Asti yang kesal.
Rumah Asti tidak jauh dari rumah kontrakan milik Rumi. Dan setiap kali Bu Sri menggedor pintu kontrakan pasti terdengar, begitupun dengan teriakan Bu Sri saat memaki Arumi terdengar jelas. Karena kadang Bu Sri enggan masuk ke dalam rumah dan seperti sengaja ingin mempermalukan Rumi di depan semua orang.
"Rum, besok kamu sama aku kerja di rumah Bu Viona. Kita membantu Bu Viona membuat kue di rumahnya, karena ada acara. Berangkat subuh, nanti aku samper ke rumah kamu, Deket rumah Asti kan?" ucap Mbak Yuli.
"Iya mbak Yuli, maaf jadinya merepotkan, karena aku nggak punya kendaraan sendiri," jawab Rumi merasa tak enak hati.
"Santai saja Rum, lagian biar enak loh. Kalau berdua ada teman ngobrol!" Jawab Mbak Yuli.
Rumi merasa beruntung karena teman-teman di tempat kerjanya sangat baik. Mereka bahkan menerima Rumi, tanpa mempermasalahkan penampilan ataupun hal-hal lainnya. Berada bersama dengan mereka, Rumi merasa di hargai dan di anggap seperti manusia pada umumnya.
Selama ini yang dia dapat hanya di rendahkan dan tak pernah di hargai setiap pekerjaan yang sudah dia lakukan. Sedangkan sang suami hanya bisa diam dan meminta maaf kepadanya. Tanpa ada pembelaan yang berarti untuk dirinya. Andai saja Fathur tak lagi mencintainya, dia tak tahu harus bagaimana. Dia bertahan karena hanya memiliki Fathur, dan suaminya juga sampai detik ini masih bertanggung jawab padanya. Jika tidak, dia lebih baik memilih hidup sendiri.
"Ayo dek,!" ajak Fathur saat mereka akan pergi ke rumah Ibunya.
ueeeeekkkk
Ueeeeekkkk
Rumi kembali mual dan muntah. Entahlah rasanya perut dia seperti di aduk-aduk. Fathur ikut mendekat dan membantu Rumi mengusap tengkuknya.
"Dek, ini seperti ... Apa mungkin kamu telat datang bulan dek?" tanya Fathur.
"Nggak tahu Mas, aku lupa. Tapi di laci sepertinya masih ada sisa tes-pack ..." jawab Rumi dengan wajah yang sudah pucat.
"Sebentar, kamu duduk dulu, Dek! Mas ambilkan dulu," Fathur terlihat bersemangat.
"Ayo kita ke kamar mandi dan cek sendiri, bismillah, semoga kali ini kita di percaya memiliki momongan ya, Dek!" Fathur benar-benar sangat bersemangat.
Mereka masuk ke dalam kamar mandi untuk mengeceknya sendiri. Keduanya harap-harap cemas menunggu garis yang muncul di sana. Mata Rumi berkaca-kaca saat melihat dua garis dengan jelas di sana. Dia hamil.
"Dek, Alhamdulillah. Kamu hamil, Dek!" Fathur memeluk istrinya dengan erat. Sedangkan Rumi hanya menangis bahagia. Karena pada akhirnya dia kembali di percaya untuk hamil.
"kamu istirahat dek, apa masih mual? Besok kita ke bidan untuk periksa," tanya Fatur antusias.
"Iya mas aku sedikit lemas sama mual," jawab Rumi.
"Ya sudah kamu istirahat, mas buatkan dulu teh lemon ya ..." Fathur pergi ke dapur dan membuatkan teh lemon untuk Rumi.
Drrrrttt
Drrrrttt
Ponsel Fathur berbunyi saat dia sedang tersenyum bahagia sambil mengusap perut Rumi. Di dalam sana ada calon anak mereka. Anak kedua semoga, kali ini dia lahir dengan selamat dan sehat. Setelah sebelumnya Rumi harus keguguran karena kelelahan.
"Ibu?" tanya Rumi saat Fathur melihat ponselnya.
"Kamu dimana Fathur? Kenapa kalian belum datang? Ini sudah jam berapa? Mana istri kurang ajarmu itu? Apa dia sudah tak mau lagi datang ke sini dan membantu ibu saat ada tamu? Mentang-mentang dia sudah kerja! Semakin kurang ajar saja kelakuannya!" Emosi Bu Sri saat panggilan baru saja terhubung.
"Bu, bukan begitu ... Maaf malam ini kami tak bisa datang, karena saat ini Rumi sedang ..." Rumi menahan tangan suaminya dan menggeleng.
"Kenapa lagi istrimu? Dia ngambek? kamu terlalu memanjakan dia Fathur! Sehingga dia semakin tak tahu diri saja! sudah mandul, miskin tak punya otak!" Maki Bu Sri.
"Bu ... Jangan begitu! Rumi tidak ..."
"Halah! Kamu lebih sayang dia di banding ibumu Fathur! Kamu tahu kalau malam ini ada tamu penting hah?" Emosi Bu Sri.
"Bu, maaf Fathur tutup dulu teleponnya!" Fathur menutup teleponnya saat melihat Rumi kembali berlari ke dalam kamar mandi dan mun-tah kembali. Bahkan dia mematikan telepon saat Bu Sri masih mengoceh.
nnti penyesalan akn tiba tempat pda waktu ny ,, disaat semua terjadii mungkin Rumi udh pergiii atau udh menjadi sosok yg gx mereka kiraa sebelum ny ,, 😒😒😒😒
bukan sama manusia ,, bner kata Rumi ,, rencana manusia tu baik ,, tp rencana Tuhan tu luar biasa ,,, semangat trus rumii ,, Tuhan tu tdak tidur ,, /Smile//Smile//Smile/