NovelToon NovelToon
Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Jauh Di Hati, Dekat Di Ranjang

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / One Night Stand / Trauma masa lalu
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: phiiiew

Malam itu di hotel, Vandini melihat sosok suaminya bersama wanita lain.

Apa yang lebih menyakitkan daripada pengkhianatan?

Apa lagi kalau bukan kenyataan bahwa pria yang ia cintai selama bertahun-tahun sama sekali tidak merasa bersalah. Satura bahkan berani bilang itu hal biasa dan mencoba menutupi semua luka itu dengan uang.

"Ambil transferannya. Itu bukti kalau aku masih bertanggung jawab," begitu katanya santai.

Seakan cinta, kepercayaan, dan janji setia yang dulu dia ucapkan bisa dibeli dengan lembaran rupiah.

Kini, Vandini harus menanggung segalanya sendirian. Menghadapi tatapan iba dan bisikan jahat tetangga yang menggunjingnya habis-habisan, menahan air mata demi anak-anaknya, serta berjuang memulihkan harga diri yang terinjak-injak.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon phiiiew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Sesi Terapi

Vandini menempelkan telepon genggam ke telinga. Ia berjalan mondar-mandir di kamar sambil bicara.

"Aku makan malam sama Satura kemarin malam," ucapnya, berusaha terdengar santai seolah pengakuan itu tak sarat dengan emosi yang bahkan ia sendiri tak paham.

Ada jeda hening di seberang sana.

"Makan malam?" tanya Melody tak percaya. "Van, kamu... kamu beneran makan malam sama dia?"

Vandini menghela napas panjang lalu memejamkan mata. "Iya, Melody. Cuma makan malam biasa. Sama anak-anak juga." Ia sadar nada bicaranya mulai terdengar membela diri.

"Kamu mau bilang ini semua 'demi anak-anak'?"

Kalimat Melody begitu tajam, menembus pertahanan tipis yang baru saja Vandini bangun.

"Vandini, dia selingkuhin kamu. Kamu sendiri yang lihat. Tapi sekarang kamu makan malam sama dia seolah-olah nggak ada apa-apa yang terjadi?"

Vandini mengepalkan tangan memegangi ponsel. Dadanya terasa sesak.

"Aku nggak butuh kuliah, Melody. Kamu nggak ngerti betapa rumitnya situasi ini."

"Rumit? Vandini, ini rumit karena kamu biarin dia putar balikkan fakta. Dia lagi berusaha masuk lagi ke hati kamu, dan kamu malah kasih dia kendali," balas Melody, suaranya sedikit melunak. "Aku cuma nggak mau kamu sakit hati lagi."

Vandini mengatupkan rahang, berusaha menahan luapan emosi yang siap meledak.

"kamu kira aku nggak tahu semua itu? Kamu pikir aku nggak rasain sakitnya apa yang dia lakuin? Aku nggak butuh kamu ngingetin terus!"

"Aku nggak mau ngingetin," sahut Melody, suaranya terdengar tegang seolah menyembunyikan sesuatu. "Aku cuma... khawatir. Kamu pantas dapat yang lebih baik, Van. Jangan biarin dia ambil itu dari kamu."

Vandini menghela napas. Perasaan marah bercampur sedih menyerbu dirinya.

"Kamu mungkin nggak ngerti, tapi ini hidup aku. Aku nggak perlu izin kamu buat milih siapa yang mau aku ajak makan."

Keheningan menyelimuti percakapan mereka. Desahan napas Melody terdengar samar, tapi Vandini bisa merasakan kekecewaan temannya itu.

"Oke, oke," ucap Melody akhirnya pasrah. "Tapi... jangan sampai kamu hilang kendali cuma karena pura-pura kuat, paham?"

Nada suara Vandini melunak, meski dadanya masih terasa perih. "Aku tahu apa yang aku lakuin, Melody. Aku cuma berharap kamu percaya sama aku."

"Selalu percaya, Van," jawab Melody, suaranya kini lebih lembut. "Tapi aku bakal selalu ada buat kamu, apa pun yang terjadi."

Vandini menelan ludah dan mengangguk. "Makasih, Melody," gumamnya. Ada rasa hangat yang menyelingi sakit di dadanya. "Nanti aku telepon lagi ya."

Panggilan terputus, namun ketegangan itu masih tertinggal. Vandini menatap layar ponsel yang gelap, merasa begitu rapuh dan gelisah sendirian.

...***...

Di sudut lain di waktu yang sama, Satura duduk di hadapan terapisnya dengan tangan saling menggenggam erat. Pandangannya terpaku pada karpet usang di lantai.

Sesi konseling ini perlahan mengupas lapisan demi lapisan dirinya. Setiap minggu, hal-hal yang selama ini ia coba abaikan dan hindari perlahan muncul ke permukaan.

"Satura," suara terapis itu terdengar tenang namun tegas. "Aku lihat pikiran kamu melayang ke mana-mana. Sekarang kamu ada di mana?"

Satura menghela napas panjang. "Aku... mikirin dia. Aku nggak bisa berhenti mikirin Vandini." Suaranya nyaris berbisik, sarat rasa malu. "Mikirin gimana aku bisa hancurin segalanya. Dan sekarang, apa pun yang aku omongin, rasanya nggak pernah cukup."

Terapis itu hanya mengangguk, memberi waktu bagi Satura untuk meluapkan isi hatinya. Tatapannya tegas namun sabar, mendorong Satura untuk terus bicara.

"Aku nggak berhenti mikir, kenapa aku bisa ngelakuin itu?" lanjut Satura, suaranya terdengar parau. "Semua alasannya terdengar konyol banget. Dia segalanya buat aku... masih segalanya. Tapi aku hancurin semuanya seolah itu nggak berarti apa-apa. Kenapa? Cuma demi momen singkat yang bahkan sekarang udah kabur ingatannya?"

Terapis itu mencondongkan tubuh, jari-jarinya saling bertaut. "Kamu udah bilang semua itu ke dia?"

Satura menelan ludah, mengangguk pelan. "Udah. Tapi... dia nggak percaya. Dan aku nggak bisa nyalahin dia. Gimana caranya benerin barang yang udah hancur lebur begini?"

"Menurut kamu, apa yang Vandini butuhin dari kamu sekarang?" tanya terapis itu setelah hening sejenak.

Pikiran Satura langsung tertuju pada wajah Vandini. Ia bisa melihat jelas rasa sakit, kerapuhan, dan ketakutan di sana. Sosok itu seolah ingin percaya lagi, tapi tak sanggup mengambil risiko.

"Dia butuh... rasa aman," jawab Satura akhirnya, suaranya tercekat oleh emosi. "Dia butuh tahu kalau aku bilang cinta bukan cuma karena aku mau dimaafin, tapi karena emang beneran cinta. Aku sayang dia dengan cara yang bahkan susah dijelasin, walaupun aku tahu mungkin sekarang itu semua udah nggak guna."

"Cinta macam apa itu, Satura?" Tatapan terapis itu makin dalam, suaranya lembut. "Apa artinya mencintai dia, terutama sekarang, setelah semua yang terjadi?"

Satura memejamkan mata, wajah Vandini begitu jelas terbayang. Kelembutan, amarah, dan lukanya bercampur menjadi satu kekuatan yang selalu membuatnya takjub.

"Artinya ada buat dia, bahkan saat dia nggak sanggup lagi natap mata aku," ucap Satura pelan. "Artinya ngutamain apa yang dia butuhin, biarin dia ngerasain apa pun yang harus dia rasain, tanpa aku nuntut dia cepet-cepet maafin atau lupain kesalahan aku."

Tangannya terkepal erat, tekad baru membara di dadanya.

"Artinya berbakti buat dia sebisa mungkin. Aku nggak tahu apa dia bakal percaya lagi sama aku atau nggak, tapi aku bisa jadi laki-laki yang pantas dia dapetin sekarang, walaupun mungkin udah telat."

Terapis itu menatapnya lekat-lekat, lalu mengangguk perlahan. "Kedengarannya kamu siap buat ada di sana buat dia, apa pun yang terjadi. Tapi ini jalan yang nggak mudah, Satura. Kamu mau jalanin ini semua tanpa ada jaminan hasilnya akan gimana?"

Satura mengangguk mantap. Ada kesedihan namun juga secercah harap di matanya. "Iya. Aku mungkin nggak bakal bisa maafin diri aku sendiri, tapi aku bakal ada di sana. Demi dia, aku bakal kasih segalanya."

"Dan bagian dari 'ada buat Vandini'," ucap terapis itu pelan, "artinya kamu juga harus ada buat diri kamu sendiri. Kamu nanggung rasa sakit dia dan rasa bersalah kamu sendiri. Kalau mau sembuh, kamu harus hadapin keduanya. Kamu siap?"

Satura menarik napas dalam-dalam, suaranya tegas namun tenang. "Aku bakal lakuin apa aja. Demi dia... aku siap nanggung semuanya."

1
Yuni Ngsih
Authoooot ceritramu bgs bangeeeet ,tp bikin ku sediiiih kasian yg punya ceritra Vandini disakiti sm susmi yg dzolim ....smg suaminya cepat cepat karmanya kasihan Vandini smg setelah badai akan muncul pelangi buat Vandini ....semangat .....lanjut Thor
Fifi: yampun, ada yg baca rupanya, makasi kak🙏
total 1 replies
Anonim
wanjay
Anonim
betul itu ...BUNUH DIA
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!