Aku adalah Raka. Seorang Pebisnis yang telah mapan sebelum usia kepala tiga. Aku mempunyai kekasih seorang janda beranak satu, hubunganku di tentang oleh mama dengan alasan perbedaan pandangan adat dan statusnya.
Aku dijodohkan dengan seorang wanita yang sama sekali tidak aku kenal. Akankah mama berhasil menjdohkanku atau mama akan luluh dengan pilihanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ica Marliani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Drama Kantor
"Mana Laras?" itulah ucapan yang pertama keluar dari bibir mama. Tidak menanyakan kabarku atau Kania.
Kami saling berpandangan, baik aku atau Kania sama-sama bingung harus menjelaskan apa pada mama.
"Mama nanya, kok malah pada bingung?"
"Mana istrimu Raka?" suara mama mulai meninggi.
"Begini Ma, Kak Laras minta izin sama abang ikut penerbangan lagi," suara Kania terdengar sayup. membuat mama kebingungan.
"Laras izin terbang lagi Ma. Tapi itu sudah atas persetujuan Raka," kalimat itu keluar dengan lancar. Mam terdiam cukup lama.
"Apa-apaan ini Raka. Kamu bikin kecewa Laras? Kalian bertengkar?"
"Tidak, Ma. Ini keinginan Laras, tapi Raka mengerti mungkin ia jenuh. Raka beberapa minggu ini terlalu sibuk dengan urusan kantor,"
Mama hening untuk beberapa saat. Tapi ekspresi wajahnya sudah mewakilkan kegundahannya.
"Kamu masih berhubungan dengan perempuan itu?"
Tiba-tiba saja pertanyaannya ngelantur pada Ningsih.
"Ini semua nggak ada hubungannya Ma, aku dan Laras baik-baik saja."
"Mama nggak mau tahu, jauhi perempuan itu!"
Muka mama memerah. Ia tak menolehku.
"Bagaimana mau jauh ma, perempuan itu kerja di perusahaan abang!"
Ucapan Kania benar-benar jadi pisau tajam bermata dia untukku. Ini bukan lagi becandaan, tapi aduan yang pasti bikin mama meledak.
Aku melirik Kania. Mukanya pucat, kali ini dia pasti merasa bersalah. Candaannya sudha berlebihan.
"Antar hari ini Mama ke kantormu!"
"Untuk apa Ma?"
"Mama harus pastikan wanita itu diusir dari kantormu!"
Kepalaku terasa mau pecah. Mama kalau sudah berniat tak akan ada yang bisa menghentikannya.
"Nak, langsung ke kantor saja,"
Kulihat di kaca spion Dimas tampak ragu-ragu. Ia melirikku. "Nggak usah minta saran bosmu, langsung ke kantor aja sekarang!"
Dimas seperti tak punya pilihan yang memutar arah mobil ke jalan kantorku. Habis sudah aku hari ini, mama pasti akan mempermalukan Ningsih di kantor.
Ku lirik Kania, wajahnya juga tampak sangat panik.
"Kita sudah sampai Bu,"
suara Dimas memecah konsentrasi. Bom. itu akan segera meledak, sementara aku tak punya pilihan untuk mematikannya.
"Ma, kita bicarakan baik-baik di rumah. Jaga nama baik Raka di kantor Ma."
'Kamu mau jaga nama baikmu? usir perempuan itu!"
"Ma, ini tempat umum. Kita bicarakan baik-baik saja di rumah. Abang pasti punya alasan masih mempekerjakan dia di perusahaan." Kania berusaha membelaku.
"Mama yang nggak Terima alasan apapun, bukannya abangmu sudah memberikan kompensasi untuk kehamilannya!"
Kami tak lagi berani membantah. Aku dan Kania hanya berpandangan.
Mama turun dari mobil tergesa-gesa lalu menyerobot masuk ke dalam kantor. Angga petugas keamanan berusaha mencegah tapi aku kode untuk menjauh.
Perempuan itu langsung mencak-mencak di depan resepsionis. Mungkin menanyakan ruangan Ningsih. Alhasil aku dan Kania jadi bahan tontonan karyawan sendiri.
Mama terus berjalan menyusuri lorong kantor menuju ruangan Ningsih, ia ditemani Rini staf resepsionisku. Aku dan Kania menyusulnya dari belakang.
"Maafkan Kania bang, jika bercandanya audah keterlaluan."
Muka memelas Kania tak lagi ku pedulikan.
Aku terus membuntuti langkah kaki Mama.
Brak! ia membuka pintu ruangan Ningsih dengan kasar.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu Bu?" ucap Ningsih basa-basi. Namun sebuah tamparan keras mendarat di pipinya. Aku berlari menghadang.
"Minggir kamu Raka!" bentaknya. Emosinya makin memuncak, melihatku membela Ningsih.
"Perempuan tak tahu malu! Sekarang juga kamu harus keluar dari perusahaan anakku!"
Kania meraba bahu mama, namun wanita itu mengibaskan tangan Kania dengan kasar.
"Kalau hari ini kamu tidak juga keluar, besok akan aku buat malu di depan semua orang!"
Aku melirik Ningsih, perempuan itu meraba pipinya yang terkena tamparan Mama.
"Anak tante yang ngejar aku duluan! tapi setelah ia menghamiliku kalian menjodohkannya begitu saja!"
Ningsih setengah menjerit.
"Cukup!" bentak ku membuat mereka semua terdiam.
"Kania bawa mama pulang, dan kamu Ningsih urus surat PHK-mu ke ruangan HRD."
Kalimat yang sudah payah aku bangun, mama dan Ningsih sukses mempermalukan aku di depan semua karyawan.
Ningsih melirikku sambil menyeringai.
"Aku bakal bikin perhitungan denganmu Raka, aku pastikan kamu juga hancur sepertiku!"
Matanya menatapku penuh kebencian. Dadaku berdebar tak menentu. Keringat dingin mengucur di sekujur tubuhku. Malu! itu ungkapan pertama yang bisa aku gambarkan.
Di depan semua karyawan Ningsih mengatakan aku menghamilinya. Kutinju meja dengan sangat keras. Mama mengelus punggungku tapi aku menepis tangannya. Untuk pertama kalinya aku kasar pada mama.
"Puas Mama, bikin Raka kehilangan muka?" dadaku sesak. Ini bukan lagi soal Ningsih tapi soal harga diri yang selama ini aku bangun. Hancur begitu saja dengan kalimat sederhana Ningsih, aku menghamilinya di depan semua karyawan kantorku.