Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 14 - Hutan Bambu Ungu
Long Chen kembali menghampiri Meng Wu dengan langkah yang masih terasa berat setelah perpisahan tadi. Di hadapannya, sebuah pedang terbang melayang tenang di udara, memancarkan kilau halus seolah menunggu perintah.
Ia menatapnya sejenak sebelum akhirnya naik dengan hati-hati, kakinya sedikit ragu saat pertama kali menginjak permukaan yang seharusnya tidak mungkin ia pijak.
“Jaga keseimbanganmu,” kata Meng Wu dengan suara tenang dari belakangnya.
Long Chen mengangguk kecil, tubuhnya masih tegang, berusaha menyesuaikan diri dengan sensasi yang asing itu. “Ini… aman, kan?” tanyanya dengan nada sedikit gugup, matanya melirik ke bawah pada jurang yang tertutup kabut.
Meng Wu tertawa kecil, nada tawanya ringan namun meyakinkan. “Tenang saja,” ujarnya santai. “Kau tidak akan jatuh.”
Pedang itu melesat dengan kecepatan tinggi, membelah udara di antara pegunungan yang diselimuti awan, meninggalkan jejak angin yang berputar di belakangnya. Long Chen berdiri di atasnya dengan tubuh yang masih menyesuaikan, namun perlahan mulai stabil seiring perjalanan berlangsung.
Ia menoleh ke belakang.
Dari kejauhan, ia masih bisa melihat tiga sosok yang pernah selalu berada di sisinya. Xiao Yan, Ye Fan, dan Han Li juga telah bergerak, masing-masing mengikuti pemimpin divisi mereka ke arah yang berbeda, menjauh sedikit demi sedikit hingga akhirnya hanya tersisa bayangan yang samar di antara kabut.
Ia menatap ke bawah dari atas pedang terbang, pandangannya menyapu luasnya wilayah Sekte Pedang Langit yang terbentang di antara puncak-puncak gunung. Para murid masih terlihat berlatih di lapangan, gerakan mereka kecil dari kejauhan namun tetap teratur dan penuh kekuatan, seperti titik-titik yang bergerak dalam dunia yang jauh lebih besar dari dirinya.
Dunia itu terasa begitu luas dan jauh lebih luas dari desa kecil yang pernah ia kenal.
Dan untuk pertama kalinya, Long Chen benar-benar menyadari bahwa langkah yang ia ambil bukan sekadar meninggalkan masa lalu, melainkan memasuki sesuatu yang jauh lebih besar, lebih keras, dan lebih kejam.
Tak lama kemudian, perjalanan mereka berakhir di sebuah wilayah yang benar-benar berbeda dari tempat sebelumnya, suasananya sunyi, hampir tanpa suara, namun justru itulah yang membuat aura di sekitarnya terasa begitu kuat dan menekan, seolah setiap helaan napas mengandung energi yang dalam.
Di hadapan Long Chen terbentang hamparan luas bambu berwarna ungu, batang-batangnya tinggi menjulang dengan daun yang bergoyang pelan tertiup angin, memancarkan kilau samar yang tidak biasa. Cahaya matahari yang menembus sela-selanya menciptakan bayangan yang bergerak perlahan di tanah, memberi kesan bahwa hutan ini hidup dengan caranya sendiri.
Meng Wu berdiri di sampingnya, menatap ke arah hutan itu dengan ekspresi tenang. “Ini adalah Hutan Bambu Ungu,” ucapnya singkat, namun nada suaranya mengandung makna yang dalam.
Long Chen menatap hamparan bambu itu dengan kagum, matanya mengikuti warna ungu yang berkilau halus di bawah cahaya, sesuatu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. “Bambu ini warnanya… berbeda ya, tidak seperti biasanya,” ucapnya pelan, jelas terpukau oleh pemandangan di hadapannya.
Meng Wu berdiri tenang di sampingnya, lalu berkata dengan nada santai namun penuh arti, “Ini bukan bambu biasa. Bambu ini memiliki kekuatan alami yang membuatnya jauh lebih keras dari baja, bahkan orang biasa tidak akan mampu memotongnya meski menggunakan pedang.”
Ia kemudian menoleh ke arah Long Chen, sedikit mengangkat alisnya. “Mau melihat aku memotongnya?”
Mata Long Chen langsung berbinar, rasa penasarannya muncul tanpa bisa ditahan. “Iya, Guru, aku mau lihat!” jawabnya cepat, penuh semangat.
Meng Wu perlahan mengeluarkan pedangnya dari sarung, gerakannya tenang namun penuh tekanan, lalu dalam satu tarikan halus ia langsung menghunus bilah itu sepenuhnya hingga kilau logamnya memantulkan cahaya di antara bambu-bambu ungu.
Dalam sekejap, petir ungu menyelimuti pedang tersebut, menjalar di sepanjang bilahnya seperti makhluk hidup, berkelok dan bergerak liar menyerupai naga yang mengaum tanpa suara. Aura di sekitarnya berubah drastis, udara bergetar halus seolah tidak mampu menahan kekuatan yang terkandung di dalamnya.
Tanpa peringatan, tubuh Meng Wu menghilang dari tempatnya.
Atau lebih tepatnya, ia bergerak terlalu cepat untuk bisa dilihat oleh mata biasa.
Hanya suara yang tersisa.
Srrt! Srrt! Srrt!
Tebasan demi tebasan terdengar tajam, membelah udara dalam waktu yang hampir bersamaan, meninggalkan jejak petir yang hanya muncul sesaat sebelum lenyap.
Beberapa detik kemudian, semuanya kembali tenang.
Meng Wu sudah berdiri di tempat semula, seolah tidak pernah bergerak, dan pedangnya perlahan masuk kembali ke dalam sarung dengan suara halus.
Lalu—
Krak…
Suara retakan terdengar.
Lima batang bambu ungu di hadapan mereka perlahan terbelah, bagian atasnya bergeser sebelum akhirnya jatuh dengan potongan yang begitu bersih, seakan tidak pernah ada perlawanan sama sekali.
Long Chen membeku di tempat, matanya masih terpaku pada batang-batang bambu yang terbelah dengan sempurna, sementara pikirannya belum sepenuhnya mampu mengejar apa yang baru saja terjadi. “…Aku bahkan tidak bisa melihatnya…” gumamnya pelan, suaranya dipenuhi ketidakpercayaan sekaligus kekaguman yang tulus.
Tatapannya perlahan beralih ke arah Meng Wu, kini dipenuhi rasa hormat yang jauh lebih dalam. “Guru… sangat hebat…” ucapnya, hampir seperti bisikan.
Meng Wu hanya tersenyum tipis, ekspresinya tetap tenang seolah apa yang baru saja ia lakukan hanyalah hal biasa. “Itu baru permulaan,” katanya ringan.
Ia kemudian menatap Long Chen dengan lebih serius, sorot matanya dalam namun tidak menekan. “Suatu hari nanti, kau juga akan bisa seperti itu,” lanjutnya, nadanya tidak berlebihan, namun justru terasa lebih meyakinkan.
Mereka melanjutkan perjalanan menyusuri hutan bambu ungu, langkah mereka menyatu dengan suara angin yang berdesir di antara batang-batang tinggi yang bergoyang pelan. Cahaya matahari menembus sela dedaunan, menciptakan bayangan bergerak di tanah, membuat suasana terasa tenang namun penuh energi yang tersembunyi.
Beberapa saat kemudian, sebuah bangunan besar muncul di hadapan mereka.
Rumah itu berdiri kokoh di tengah hutan, dengan halaman luas yang tertata rapi, dikelilingi bambu ungu yang seolah menjadi penjaga alami. Struktur bangunannya megah namun tidak berlebihan, memancarkan aura ketenangan yang dalam, seolah tempat ini bukan hanya untuk tinggal, tetapi juga untuk menempa diri.
Long Chen terdiam.
Matanya membesar saat ia mengamati setiap sudut tempat itu, dari gerbang hingga halaman yang luas.
“Ini… besar sekali…” ucapnya pelan, jelas masih sulit percaya.
Ia kemudian menoleh ke arah Meng Wu, wajahnya masih dipenuhi keterkejutan. “Apakah benar… aku akan tinggal di sini? Ini terlalu besar,” lanjutnya, nada suaranya campuran antara kagum dan ragu.
Meng Wu tertawa ringan melihat ekspresi Long Chen yang masih dipenuhi keterkejutan. “Sekarang kau sudah menjadi bagian dari Divisi Pedang Petir, jadi tentu saja tempat ini juga rumahmu,” ucapnya santai, seolah hal itu adalah sesuatu yang wajar.
Ia kemudian melanjutkan dengan nada yang tetap tenang, “Selain dirimu, ada empat murid lain yang tinggal di sini, jadi sekarang total kalian berlima.”
Long Chen sedikit terkejut, alisnya terangkat. “Begitu ya…?” gumamnya, mencoba membayangkan seperti apa orang-orang yang akan menjadi rekan latihannya nanti.
Meng Wu mengangguk. “Dua di antaranya perempuan, usia mereka tidak jauh darimu, sementara dua lainnya laki-laki dan sedikit lebih tua,” jelasnya.
Tatapannya kemudian berubah sedikit lebih serius, suaranya pun menjadi lebih dalam. “Mereka… juga memiliki masa lalu yang tidak jauh berbeda denganmu.”
Meng Wu menambahkan dengan nada santai namun tetap tegas, “Nanti kalau sudah bertemu, panggil mereka senior.”
Long Chen langsung mengangguk tanpa ragu. “Baik, Guru,” jawabnya patuh, menunjukkan keseriusan untuk mengikuti aturan yang ada.
Meng Wu kemudian melangkah menuju pintu utama, gerakannya tenang namun pasti. Ia mendorong pintu itu perlahan, lalu menoleh sedikit ke arah Long Chen. “Ayo masuk,” ujarnya singkat.
Ia melanjutkan dengan nada yang lebih ringan, “Aku akan memperkenalkanmu pada mereka. Mereka pasti akan senang mendapat teman baru.”
Pintu terbuka sepenuhnya.
Dan di balik pintu itu , menunggu kehidupan baru yang belum pernah Long Chen bayangkan sebelumnya.
End Chapter 14