Satria tidak pernah meminta hidup yang mudah.*
> *Ia hanya ingin satu hal sederhana: dicintai dan dihargai.*
> *Tapi di hari ia datang melamar perempuan yang ia cintai,*
> *yang ia dapat bukan jawaban…*
> *melainkan ludah di kakinya dan tawa yang merobek harga dirinya.*
>
> *Dari situlah semuanya dimulai.*
> *Ia bangkit. Membangun hidup dari nol dengan gerobak cilok dan tangan yang kapalan.*
> *Sampai akhirnya ia bertemu perempuan yang ia kira adalah jawaban dari doanya.*
> *Ternyata… itu awal dari penjara.*
>
> *Enam tahun hidup dalam hinaan.*
> *Enam tahun menahan luka yang tidak terlihat.*
> *Enam tahun bertahan — bukan karena kuat,*
> *tapi karena ada satu anak kecil yang setiap hari berkata:*
> *"Ayah jangan sedih… Aini sayang Ayah."*
>
> *Karena pada akhirnya, bukan soal seberapa lama kita bertahan —*
> *tapi untuk siapa kita memilih untuk tetap hidup.*
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widianti dia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12. Perempuan Di Bangku Taman. (2018)
Dua tahun.
Dua tahun dari karburator yang hilang, dari sandal yang putus, dari cilok yang basah di tengah hujan. Dua tahun dari semua itu dan sekarang aku bisa bilang bahwa hidupku, meskipun masih jauh dari kata mudah, sudah punya bentuknya sendiri.
Langganan sudah ada. Bukan cuma anak sekolah lagi. Ada bapak-bapak kantor kelurahan yang mampir tiap siang. Ada ibu-ibu arisan yang pesen duluan kalau mau acara. Ada warung kecil yang nitip jual. Aku sudah pindah lokasi ke depan taman kota yang lebih ramai, dan penghasilan sudah cukup untuk kebutuhan rumah, untuk Ibu, untuk Agung yang sekarang sudah SMA dan tidak perlu lagi kerja di bengkel tiap sore karena aku yang menanggung.
Itu yang paling aku syukuri.
Agung bisa fokus sekolah. Itu saja. Itu sudah sangat cukup.
Malam itu pasar malam di alun-alun. Setahun sekali diadakan, dan pedagang dari mana-mana datang, ramai sekali, lampu-lampu gantung warna-warni di seluruh area, bau jajan dari berbagai penjuru yang campur aduk jadi satu, dan suara orang yang tidak pernah benar-benar bisa dibedakan satu dari yang lain karena semua bicara sekaligus.
Aku bukan pedagang di sana malam itu. Cuma mampir sebentar setelah beresin lapak, beli minum, duduk sebentar sebelum pulang.
Aku duduk di bangku taman di pinggir area pasar malam. Minum es teh yang aku beli dari pedagang di sebelah, melihat keramaian yang bergerak-gerak di depan.
Itulah waktu aku mendengar tangisan itu.
Bukan tangisan dewasa. Tangisan anak kecil. Tapi bukan tangisan biasa yang cengeng karena tidak dibelikan sesuatu. Ini tangisan yang berbeda, tangisan yang terdengar takut, yang terdengar kehilangan, yang terdengar dari seseorang yang mencari sesuatu dan tidak ketemu.
Aku berdiri.
Di bangku sebelahku, tiga bangku ke kiri, ada anak perempuan. Delapan tahun kira-kira, rambut dua kuncir, pakai baju merah muda yang ada kartunnya di depan. Duduk sendirian, lutut dirapatkan, kedua tangannya di wajah, dan bahunya naik turun dengan cara khas anak yang sudah menangis agak lama dan belum bisa berhenti.
Aku mendekat.
Jongkok di depannya, supaya tidak kelihatan mengancam dari atas.
"Hei." Pelan. "Kamu kenapa? Sendirian?"
Anak itu mengintip dari sela jarinya. Matanya merah dan basah, ada jejak air mata yang sudah kering di pipinya yang berarti dia sudah menangis dari tadi, mungkin sudah cukup lama sebelum aku dengar.
"Mama mana?" tanyaku.
Bibirnya bergetar. "Ilang."
"Ilang? Maksudnya ketinggalan di sini?"
Dia mengangguk pelan, sesenggukan.
Aku duduk di bangku di sebelahnya, tidak terlalu dekat supaya dia tidak kaget.
"Namamu siapa?"
Dia tidak langsung menjawab. Menatapku dengan mata yang masih ragu, cara semua anak kecil menatap orang asing, menimbang-nimbang apakah orang ini aman atau tidak.
"Wida," akhirnya dia bilang.
"Wida." Aku mengangguk. "Nama bagus. Aku Satria. Tadi kamu sama Mama dari mana? Masuk dari pintu mana?"
"Dari sana." Dia tunjuk ke arah timur, ke pintu masuk utama. "Terus rame banget, terus Wida nengok ada balon, terus Mama udah gak ada."
Balon. Anak kecil dan balon. Itu masuk akal.
"Oke. Mama tadi pakai baju warna apa?"
Wida mikir sebentar. "Ijo. Kerudung cokelat."
"Bawa tas?"
"Tas item kecil."
Aku berdiri. "Ayo, kita cari bareng. Aku temenin ya. Tapi kamu harus pegang tanganku supaya tidak ketinggalan lagi. Boleh?"
Wida menatap tanganku yang aku ulurkan. Ragu satu detik. Lalu tangannya yang kecil itu menggenggam tanganku dengan cara yang sangat erat, cara anak yang benar-benar takut terpisah lagi.
Kami masuk ke keramaian.
Setengah jam lebih. Aku angkat Wida di beberapa bagian supaya dia bisa lihat dari ketinggian yang lebih baik. Tanya ke beberapa pedagang, tanya ke petugas kebersihan, muter dari satu blok ke blok yang lain.
Dan kemudian Wida menarik tanganku keras.
"Itu Mama!"
Perempuan berkebaya hijau dengan kerudung cokelat berdiri di dekat stan mainan, kepalanya berputar ke kiri dan ke kanan dengan cara orang yang sudah panik mencari sesuatu cukup lama. Matanya basah sedikit di sudutnya.
"Mama!" Wida lepas tanganku dan berlari.
Perempuan itu berbalik, dan dalam satu detik ekspresi paniknya runtuh menjadi lega yang sangat besar, dia jongkok dan memeluk Wida sebelum anak itu sempai melambat.
"Ya Allah, Wida, Mama cari-cari dari tadi..."
"Wida ketemu Kak Satria, Ma. Dia baik."
Perempuan itu mengangkat kepalanya ke arahku.
Tiga puluh satu tahun, mungkin. Wajahnya tidak cantik dalam arti yang berlebihan, lebih ke wajah yang... biasa tapi ada sesuatu di dalamnya yang tenang dan sedikit lelah sekaligus. Mata yang sendu, bukan dari bawaan wajah, tapi dari sesuatu yang sudah cukup lama ditanggung. Aku kenal ekspresi itu. Aku lihat di cermin cukup sering.
"Makasih ya, Mas." Suaranya lembut. Agak serak sedikit, mungkin karena tadi menahan tangis. "Mas yang nemuin Wida?"
"Kebetulan duduk di dekat sana. Dia yang nangis sendiri di bangku."
Perempuan itu memeluk Wida sekali lagi, lebih erat, wajahnya menunduk ke kepala anaknya, dan aku bisa lihat dari sudut mataku bahwa dia benar-benar lega dengan cara yang sangat dalam, cara ibu yang baru saja mendapat kembali sesuatu yang tidak bisa digantikan.
"Boleh saya duduk sebentar, Mas? Kaki saya agak lemas."
Kami duduk di bangku yang tidak jauh, bertiga, Wida di tengah yang langsung merebut kantong plastik jajanannya yang tadi ditinggal Mamanya dan mulai makan dengan tekun seolah tidak terjadi apa-apa.
Perempuan itu memperkenalkan diri.
Nirmala.
Ceritanya keluar pelan-pelan, tidak seperti orang yang memang mau curhat, lebih seperti orang yang ditanya sederhana lalu jawabannya ternyata lebih panjang dari yang direncanakan. Suaminya pergi dua tahun lalu. Bukan meninggal, tapi pergi, dengan cara yang lebih menyakitkan dari meninggal karena tidak ada kepastian dan tidak ada penutupan dan tidak ada yang bisa dijadikan pegangan selain kenyataan bahwa sejak itu dia dan Wida sendiri dan nafkah tidak pernah datang.
Dia kerja di toko kain. Gajinya cukup untuk makan dan kontrakan. Tidak lebih.
Dia cerita dengan suara yang tidak dramatis. Datar, hampir, tapi bukan datar karena tidak merasakan, tapi datar karena sudah terlalu sering menceritakan hidup yang susah sampai nada suaranya sendiri sudah belajar untuk tidak naik turun supaya tidak menghabiskan tenaga.
Aku mendengarkan.
Tidak banyak bilang apa-apa. Cuma mendengarkan. Dan di sela-sela ceritanya, aku ambil beberapa tusuk cilok dari bagasi yang masih ada sisanya, aku kasih ke Wida yang langsung menerimanya dengan mata berbinar dan langsung masuk ke mulut tanpa tanya dulu.
Nirmala tertawa pelan melihat anaknya.
Tawa kecil yang keluar sebentar lalu hilang, tapi genuine, tawa yang lahir bukan dari sesuatu yang lucu melainkan dari sesuatu yang menghangatkan di tengah malam yang sudah cukup melelahkan.
Di dadaku ada sesuatu yang bergerak.
Sesuatu yang sudah sangat lama tidak bergerak. Sesuatu yang terakhir kali terasa waktu Aisyah menangis di depan gerbang pabrik dan aku memacu motor tanpa menoleh. Sesuatu yang sejak itu aku kunci rapat-rapat karena tidak mau dibuka lagi, tidak mau merasakan lagi, tidak mau menaruh sesuatu di tempat yang bisa hancur lagi.
Tapi malam ini sesuatu itu bergerak sendiri. Tanpa izin. Tanpa diundang.
Perasaan dibutuhkan. Sesederhana itu. Bukan dibutuhkan dalam arti yang besar dan dramatis. Tapi dibutuhkan dalam arti paling kecilnya: ada orang yang malam ini hidupnya sedikit lebih baik karena aku ada di bangku yang tepat di waktu yang tepat.
Itu saja. Dan itu terasa seperti sesuatu.
Sebelum berpisah, Nirmala berkata, "Boleh minta nomor Mas? Buat... ya kalau Wida mau beli cilok lagi." Dia tertawa kecil lagi, sedikit canggung, cara orang yang tidak biasa meminta nomor orang asing dan tahu itu terdengar agak kurang meyakinkan sebagai alasan.
Aku memberikan nomorku.
Dia memberikan miliknya.
Mereka pulang. Wida melambai dari jauh dengan tangan yang masih pegang tusuk cilok.
Aku duduk kembali di bangku itu sendirian, memegang ponselku, menatap nomor yang baru tersimpan.
Di dadaku ada sesuatu yang hangat tapi ada juga sesuatu yang lebih kecil di pinggirannya. Sesuatu yang berbisik pelan, sangat pelan, di sudut yang paling tidak ingin aku dengarkan.
Hati-hati.
Tapi aku abaikan.
Karena kali ini, dengan cara yang tidak bisa aku jelaskan sepenuhnya, aku ingin percaya bahwa yang ini berbeda.
Aku ingin percaya itu.
pesan buat author tetap berkarya jangan buat lelaki lemah.. lelaki harus istiqomah dan kuat pentingkan perasaaan sendiri bukan orang lain