Li Zhen terbangun di ranjang jerami yang gatal, menggaruk kepalanya dengan wajah bingung. Dia menyadari dirinya terlempar ke Benua Awan Surgawi, masuk ke tubuh pemuda lemah dengan nama yang sama.
Alih-alih berlatih ilmu kanuragan seperti kultivator lain, Li Zhen hanya menguap lebar sambil menatap langit-langit yang bocor. Dia memilih menggunakan lidahnya yang setajam pisau untuk bertahan hidup di dunia persilatan yang kejam ini.
Dia tidak pernah sekalipun memukul lawan, namun musuhnya sering menangis tersedu-sedu sambil memeluk lutut. Ini adalah kisah berputar-putar tentang seorang pemuda yang mengacaukan dunia kultivasi hanya dengan ocehan tanpa henti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ikyar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Arsitektur Penindasan
Matahari kembar di langit Benua Awan Surgawi perlahan mulai merendah, memancarkan semburat cahaya berwarna ungu kemerahan yang sangat menyilaukan mata telanjang. Awan-awan berarak pelan membentuk gulungan ombak raksasa di angkasa, menciptakan ilusi lautan darah yang menggantung tepat di atas puncak pegunungan.
Angin sore bertiup cukup kencang membawa aroma pinus yang terbakar, menyapu debu-debu merah dari permukaan tanah yang kering kerontang. Suara nyanyian burung gagak bermata empat terdengar saling bersahutan dari balik rimbunnya hutan bambu, menambah kesan mistis dan suram di lereng gunung tersebut.
Li Zhen duduk bersila di atas kasur bulu angsa mewahnya, meletakkan cangkir teh porselen kekaisaran yang sudah kosong ke atas nampan kayu jati. Dia menghela napas panjang dengan ekspresi wajah yang sangat puas, mengusap perutnya yang kenyang sambil mendecakkan lidahnya berkali-kali.
"Kualitas teh fana ini benar-benar tidak bisa diremehkan, rasanya jauh lebih baik daripada air rebusan daun ajaib yang biasa diminum orang-orang gila di sini," gumamnya pelan. Dia meregangkan kedua lengannya ke atas hingga terdengar bunyi gemeretak dari persendian tulangnya yang kaku.
Pemuda itu bangkit berdiri dari ranjang empuknya, melangkah gontai dengan jubah compang-campingnya yang dibiarkan terbuka di bagian dada. Dia berjalan perlahan menuju ambang pintu gubuk yang terbuka lebar, berniat memeriksa hasil kerja keras pasukan elit sekte yang menjadi budak dadakannya.
Di halaman depan gubuk yang luas itu, pemandangan yang tersaji benar-benar mampu meruntuhkan kewarasan kultivator manapun di seluruh dunia persilatan. Tokoh-tokoh paling sakti dan dihormati di Sekte Teratai Angin sedang mandi keringat layaknya pekerja kasar yang belum dibayar selama berbulan-bulan.
Kepala Sekte Zhao Wuji sedang berjongkok di dekat pagar, tangannya yang kapalan karena berlatih pedang kini dipenuhi oleh lumpur hitam yang bau. Wajah pria paruh baya itu sangat pucat dan terus meringis kesakitan, karena korset baja yang menyiksa perutnya semakin mempersempit jalur pernapasannya.
Zhao Wuji menggigit bibir bawahnya hingga berdarah setiap kali dia harus membungkuk untuk memungut batu-batu tajam yang berserakan di tanah. Air matanya sesekali menetes jatuh bercampur dengan keringat, meratapi nasibnya yang tragis karena harus tunduk pada pemuda tanpa kultivasi.
Di sudut lain, Penatua Penegak Hukum Mo Jian sedang mengayunkan sebuah kapak berkarat yang matanya sudah sangat tumpul untuk membelah gelondongan kayu keras. Pria tua berbaju zirah perak itu terengah-engah hebat, janggut putih panjangnya yang menjadi kebanggaannya kini kotor oleh serpihan kayu dan tanah.
Dia tidak berani menggunakan energi spiritual sedikit pun untuk mempermudah pekerjaannya, karena takut Li Zhen akan membongkar rahasia koleksi boneka kelincinya lagi. Setiap ayunan kapaknya memancarkan rasa putus asa yang mendalam, bahunya merosot lemas seakan kehilangan seluruh tujuan hidupnya sebagai seorang pendekar pedang.
Sementara itu, murid jenius Chen Feng masih berada di dalam selokan berlumpur, tubuhnya yang dulu selalu wangi kini berbau seperti bangkai tikus yang membusuk. Pemuda tampan itu menyikat dinding selokan menggunakan sikat jerami yang rusak, tangannya gemetar parah hingga sikat itu sering terlepas dari genggamannya.
Chen Feng menangis tersedu-sedu dalam diam, matanya bengkak dan merah karena tidak berhenti meratapi kehancuran citranya sebagai idola sekte. Dia tidak berani menatap wajah para tetua yang lain, merasa sangat kotor dan hina setelah rahasia mesumnya ditelanjangi tanpa ampun di depan umum.
Li Zhen melipat kedua lengannya di dada, menyandarkan bahu kirinya pada bingkai pintu dengan postur yang sangat arogan dan merendahkan. Matanya yang tajam menyapu seluruh halaman layaknya seekor elang yang sedang mengawasi sekumpulan tikus tanah yang sedang bekerja.
"Hei, Penatua Mo, apakah kau sedang mencoba mengelus kayu itu atau sedang membelahnya?" suara Li Zhen memecah keheningan yang tegang. Bentakan itu menggema keras, membuat semua kultivator di halaman tersebut langsung menghentikan gerakan mereka karena terkejut.
Penatua Mo Jian seketika membeku, kapak tumpul di tangannya tertahan di udara dengan posisi yang sangat canggung dan kaku. Pria tua itu perlahan menoleh ke arah gubuk, wajahnya menunjukkan ketakutan luar biasa layaknya mangsa yang sudah tertangkap oleh pemangsanya.
"J-junior ini sedang berusaha sekuat tenaga, Senior Agung," jawab Mo Jian dengan suara yang bergetar hebat. Dia buru-buru menurunkan kapaknya, menundukkan kepalanya dalam-dalam karena tidak berani menatap langsung ke arah wajah Li Zhen yang tersenyum sinis.
Li Zhen mendecakkan lidahnya dengan suara yang sangat nyaring, melangkah menuruni undakan tanah dan berjalan perlahan menghampiri pria tua berbaju zirah itu. Langkah sepatunya yang bolong sengaja diseret-seret untuk menciptakan suara gesekan yang mengganggu dan mengintimidasi mental.
"Berusaha sekuat tenaga? Kau mengayunkan kapak itu dengan tenaga yang lebih lemah dari ayunan tangan seorang nenek tua yang sedang menyapu lantai," ejek Li Zhen tajam. Dia menunjuk ke arah potongan kayu di atas tunggul yang sama sekali belum terbelah sempurna, hanya memiliki sedikit goresan dangkal di permukaannya.
Wajah Mo Jian langsung memerah padam menahan rasa malu yang luar biasa, urat-urat di lehernya menonjol keluar karena menahan gejolak emosi di dadanya. Namun, dia hanya bisa menelan ludah dan memaksakan sebuah senyuman memelas yang terlihat sangat menyedihkan di wajah keriputnya.
"Apakah memeluk boneka kelinci merah muda setiap malam telah membuat otot-otot di lenganmu berubah menjadi selembut kapas?" serang Li Zhen semakin kejam tanpa belas kasihan. Hinaan mematikan itu langsung menghantam titik terlemah dari pertahanan mental sang penegak hukum yang sudah hancur lebur sejak awal.
Mo Jian terbatuk keras hingga dadanya sesak, memuntahkan sedikit darah kotor yang menodai zirah peraknya yang mahal. Pria tua itu langsung jatuh berlutut di atas tanah berbatu, kedua tangannya meremas tanah dengan kuat sambil menangis meraung-raung meratapi nasibnya.
[Ding! Target Penatua Mo Jian mengalami trauma psikologis berulang. Mendapatkan +8.000 Poin Sampah.]
Suara notifikasi dari sistem di kepalanya terdengar sangat merdu, membuat senyuman di wajah tirus Li Zhen mengembang semakin lebar dan mengerikan. Dia membiarkan pria tua itu menangis di tanah, lalu memutar tubuhnya untuk mencari korban selanjutnya yang bisa dia peras poin emosionalnya.
Mata Li Zhen tertuju pada Kepala Sekte Zhao Wuji yang sedang pura-pura sibuk mencabut rumput liar dengan gerakan yang sangat kaku dan lambat. Penguasa sekte itu sengaja membelakangi Li Zhen, berharap kehadirannya tidak disadari oleh pemuda bermulut berbisa yang bisa membunuhnya hanya dengan kata-kata tersebut.
Namun, harapan itu hancur berkeping-keping saat Li Zhen berjalan dengan santai dan berhenti tepat di belakang punggung lebar sang Kepala Sekte. "Kau mencabut rumput liar atau sedang berlatih menahan napas karena korset bajamu itu sudah mulai mencekik organ dalammu?" sapa Li Zhen pelan.
Zhao Wuji tersentak kaget hingga tubuhnya melompat kecil, tangannya secara refleks memegangi perutnya yang memang terasa sangat sesak dan menyakitkan. Pria paruh baya itu perlahan membalikkan badannya, menatap Li Zhen dengan mata yang memancarkan kepanikan tingkat dewa dan keputusasaan yang absolut.
"S-Senior Agung, mohon jangan sebutkan benda itu lagi, wajah junior ini mau ditaruh di mana jika Senior terus mengungkitnya," ratap Zhao Wuji dengan suara memelas. Dia menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada, memohon belas kasihan layaknya seorang pesakitan yang menunggu eksekusi mati di tiang gantungan.
Li Zhen tertawa terbahak-bahak, tawanya terdengar sangat nyaring dan lepas hingga menggema ke seluruh lereng gunung yang sepi itu. Dia menunjuk hidung Kepala Sekte itu dengan jari telunjuknya yang dipenuhi noda debu, matanya menyipit memancarkan aura dominasi yang mutlak.
"Wajahmu sudah jatuh menempel di lumpur sejak kau membiarkan nafsu rakusmu mengalahkan akal sehatmu setiap tengah malam," sindir Li Zhen dengan nada yang sangat merendahkan. "Seorang Kepala Sekte yang menangis memohon ampun hanya karena rahasia lemak perutnya terbongkar, benar-benar sebuah lelucon abad ini."
Kata-kata itu menghancurkan sisa-sisa harga diri yang masih dipertahankan oleh Zhao Wuji dengan susah payah sejak pagi tadi. Pria itu menutupi wajahnya dengan kedua tangan yang kotor oleh lumpur, bahunya berguncang hebat karena isak tangis penyesalan yang tidak bisa dibendung lagi.
[Ding! Target Kepala Sekte Zhao Wuji mengalami degradasi martabat stadium akhir. Mendapatkan +12.000 Poin Sampah.]