(SEASON 2)
Dengan Inti Emas Iblis di Dantian-nya, Shen Yuan kini meninggalkan benua kelahirannya. Ia melangkah menembus Gerbang Lintas Benua menuju jantung peradaban Sembilan Cakrawala, siap membawa badai darah mematikan bagi para dewa palsu yang pernah merenggut segalanya darinya. Perburuan yang sesungguhnya baru saja dimulai!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan di Neraka Es
Penjara bawah tanah di Puncak Neraka Es bukanlah tempat untuk memenjarakan tubuh, melainkan tempat untuk membekukan jiwa. Balok-balok es abadi yang menyusun dinding sel ini memancarkan hawa Yin yang begitu mutlak, hingga suara rintihan para tahanan di sel lain terdengar seperti kaca yang berderit.
Di tengah selnya yang gelap, Shen Yuan duduk bersila layaknya patung batu kuno.
Selama satu malam penuh, ia tidak memejamkan mata. Kesadaran spiritualnya terjaga, namun hawa murni Inti Emas Iblis-nya ditarik hingga ke dasar terdalam Dantian-nya, digantikan oleh putaran Sutra Penelan Surga yang bekerja bagaikan pusaran air rahasia.
Kabut dingin berwarna biru pucat yang menguar dari jeruji es terus-menerus ditarik masuk ke dalam pori-pori kulit Shen Yuan.
"Energi Yin di tempat ini benar-benar berkualitas tinggi," suara Leluhur Darah bergema memecah keheningan batin Shen Yuan. "Hawa murni Inti Emas milik Jian Wushuang yang kau telan sebelumnya memiliki unsur Yang yang sangat kuat. Menyerap hawa es abadi ini menyeimbangkan Dantian-mu dengan sempurna. Fondasi Inti Emas Tahap Awal-mu kini seimbang, solid, dan tak tergoyahkan seperti gunung karang."
Shen Yuan membuka matanya pelan. Tidak ada uap napas yang keluar dari mulutnya; ia telah sepenuhnya menyatu dengan suhu beku di ruangan itu.
"Sekte ini mengunci para tahanan di sini agar mereka mati perlahan, tapi bagi kita, mereka baru saja memberikan ruang kultivasi tingkat tinggi secara cuma-cuma," batin Shen Yuan.
Tiba-tiba, telinganya yang tajam menangkap suara langkah kaki dari ujung lorong. Bukan satu, melainkan tiga pasang kaki. Salah satu dari langkah kaki itu tidak mengeluarkan suara ketukan sepatu, melainkan seolah-olah penggunanya melayang setipis helaian rambut di atas lantai es.
Udara di dalam penjara itu mendadak menjadi sangat berat. Suhu yang tadinya membekukan, kini terasa menyesakkan dan menindas. Bahkan para tahanan di sel lain yang sedari tadi merintih seketika terdiam, jiwa mereka terguncang oleh kedatangan sosok yang mutlak.
Shen Yuan segera merubah sikap tubuhnya. Ia menjatuhkan diri ke lantai es, meringkuk memeluk lututnya, dan membuat tubuhnya sedikit gemetar, memerankan sosok manusia fana yang sedang menderita kedinginan.
Klang!
Gembok es di pintu sel Shen Yuan hancur seketika oleh jentikan jari dari luar. Pintu jeruji berderit terbuka.
Tiga sosok melangkah masuk. Di sebelah kiri adalah Penatua Wu. Di sebelah kanan adalah Tuan Muda Bai Chen, yang wajahnya masih memancarkan senyum meremehkan. Namun, perhatian Shen Yuan—meski matanya tertunduk ke lantai—langsung terkunci pada sosok yang berdiri di tengah.
Pria itu mengenakan jubah perak panjang yang sangat bersih, tanpa setitik pun debu. Rambut putih keperakannya diikat rapi dengan mahkota giok berbentuk matahari. Wajahnya tidak lagi tertutup topeng, menampakkan garis wajah yang tampan namun luar biasa dingin, tanpa sedikit pun emosi manusiawi.
Aura yang dipancarkannya tidak meledak-ledak seperti ahli Inti Emas, melainkan terasa seperti jurang tak berdasar. Hukum alam di sekitar pria ini seolah tunduk padanya; bahkan udara es di ruangan itu berputar menghindarinya.
Ranah Peleburan Jiwa. Pelindung Bintang Tujuh Kuil Dewa Perak... Bai Luo!
Jantung Shen Yuan berdetak satu ketukan lebih cepat. Kepingan Darah Purbakala di dadanya bergetar, merespons amarah dan kebencian yang mendidih dari kedalaman tulang sumsum Shen Yuan. Ini dia. Pria yang telah memenggal ayahnya sepuluh tahun yang lalu kini berdiri kurang dari dua tombak darinya.
"Tahan! Kunci Nadi Iblismu sekarang juga!" bentak Leluhur Darah dengan panik.
Shen Yuan menggigit lidahnya hingga berdarah, memaksakan akal sehatnya untuk menguasai emosinya. Ia mengunci Sutra Penelan Surga sepenuhnya, mengubah dirinya menjadi cangkang kosong yang hanya memiliki kekuatan jasmani.
Bai Luo melangkah maju. Tatapannya yang sedingin mata pisau jatuh pada sosok Shen Yuan yang meringkuk di lantai.
"Ini 'Kuali Darah' yang kau bicarakan, Chen'er?" suara Bai Luo bergema, halus namun membawa gema yang menusuk langsung ke gendang telinga.
"Benar, Paman," Bai Chen menundukkan kepala dengan hormat. "Pemuda fana ini bernama Mo Yuan. Ia tidak memiliki bakat untuk membuka pembuluh nadinya, namun ia memenangkan Sayembara Darah Murid Luar hanya dengan mengandalkan kekuatan jasmani. Tubuhnya telah mencapai batas Kesempurnaan Fana murni tanpa setitik pun hawa murni."
Bai Luo tidak langsung menjawab. Ia menatap Shen Yuan, lalu mengulurkan tangan kanannya yang pucat.
Tanpa ada sentuhan fisik, sebuah kekuatan hisapan tak kasat mata menarik tubuh Shen Yuan dari lantai, mengangkatnya ke udara hingga setinggi dada Bai Luo. Shen Yuan membiarkan tubuhnya lemas layaknya boneka tali.
Wuuuuung!
Kesadaran spiritual dari Ranah Peleburan Jiwa yang sangat mengerikan menyapu seluruh tubuh Shen Yuan. Pemindaian itu terasa seperti ribuan jarum kecil yang menembus kulit, memeriksa kepadatan otot, tulang, dan organ dalamnya.
Di dalam Dantian Shen Yuan, Inti Emas Iblis menyusut menjadi sekecil debu, dilindungi oleh selubung kegelapan dari Sutra Penelan Surga. Hukum penelanan mutlak dari ilmu iblis ini membuktikan kehebatannya; bahkan ahli Peleburan Jiwa pun gagal mendeteksi keberadaan hawa murni iblis di dalamnya!
"Tulang yang sekeras perunggu, organ dalam yang sepadat batu giok..." gumam Bai Luo, matanya sedikit berbinar. "Tubuhnya tidak memiliki jalur nadi yang terbuka, tidak ada hawa murni yang bisa memberontak. Sebuah wadah fana yang sempurna. Chen'er, kau membawa barang yang cukup bagus kali ini."
Mendengar pujian dari pamannya, Bai Chen tersenyum bangga. "Semuanya demi kesuksesan terobosan Paman."
Bai Luo melepaskan kekuatan hisapannya, membiarkan Shen Yuan jatuh berdebum ke lantai es. Shen Yuan berpura-pura terbatuk keras, memegangi dadanya dengan wajah ketakutan.
"Bawa dia ke Kuali Penempaan Darah di ruang rahasiaku," perintah Bai Luo dingin, berbalik menuju pintu keluar. "Persiapkan Esensi Darah Binatang Purba. Hari ini, aku akan menguji apakah wadah ini sanggup menahan racun dari Darah Tuan Tanah Hantu yang berhasil kusarikan."
Kata "Darah Tuan Tanah Hantu" seketika membuat Shen Yuan menahan napasnya.
Tuan Tanah Hantu?! Makam yang ia masuki di Benua Awan Gelap? Bukankah warisannya hanya berupa Pecahan Gigi Naga dan Gulungan Pedang Penelan Langit?
"Sialan!" umpat Leluhur Darah di dalam batin Shen Yuan. "Pantas saja makam di Benua Awan Gelap itu terasa aneh. Tuan Tanah Hantu adalah legenda kuno. Ia pasti meninggalkan banyak warisan di berbagai benua. Pria berambut perak ini pasti telah menjarah makam utama atau menemukan sisa-sisa darah esensi Tuan Tanah Hantu di Benua Pusat!"
"Dan dia membutuhkan tubuh fana yang sangat kuat untuk 'menyaring' racun dari darah tersebut sebelum ia bisa menyerapnya sendiri," batin Shen Yuan, menyambung potongan teka-teki itu. "Itulah gunanya Kuali Darah."
Penatua Wu melangkah maju, mencengkeram kerah jubah belakang Shen Yuan, dan menyeretnya keluar dari sel penjara layaknya menyeret seekor anjing. Shen Yuan tidak meronta. Ia membiarkan dirinya diseret melewati lorong-lorong es yang panjang, menyusuri perut Gunung Pilar Langit.
Setelah berjalan selama seperempat jam, mereka tiba di sebuah pintu perunggu raksasa yang dijaga oleh dua patung singa perak yang bisa bernapas. Begitu pintu itu dibuka, hawa panas yang sangat luar biasa menyapu keluar, berbenturan dengan udara dingin di luar dan menciptakan kabut putih tebal.
Ruangan di balik pintu itu berbentuk bundar dan sangat luas. Dindingnya terbuat dari batu merah yang memancarkan pendaran api. Di tengah ruangan, sebuah kuali raksasa dari perunggu hitam, setinggi tiga tombak, berdiri dengan kokoh di atas susunan aksara api yang menyala terang.
Kuali Penempaan Darah.
Di sekeliling ruangan, terdapat rak-rak kristal yang menyimpan organ-organ binatang buas yang masih berdenyut, serta tabung-tabung kaca berisi darah berbagai makhluk. Ini adalah tempat penyiksaan dan ruang peracikan rahasia milik sang Pelindung Bintang Tujuh.
"Masukkan dia ke dalam Kuali," perintah Bai Luo yang sudah berdiri di depan meja peracikan, mempersiapkan berbagai cairan beracun.
Penatua Wu menyeret Shen Yuan menaiki tangga batu menuju bibir kuali raksasa tersebut, lalu melempar tubuh pemuda itu ke dalam.
Bruk!
Shen Yuan mendarat di dasar kuali yang terbuat dari logam khusus. Suhu di dalamnya sangat panas, sanggup memanggang manusia biasa dalam hitungan detik. Di empat sisi dinding kuali, terdapat rantai besi yang memancarkan hawa dingin penekan jiwa.
Penatua Wu segera mengikat kedua tangan dan kaki Shen Yuan ke rantai-rantai tersebut, merentangkannya dalam posisi menyilang di dasar kuali. Rantai itu mengunci erat, dirancang untuk mencegah korban meronta saat percobaan berdarah itu dimulai.
"Semoga kau bertahan lebih dari setengah batang dupa, Nak. Jangan sampai Tuan Pelindung kecewa terlalu cepat," cibir Penatua Wu sebelum melompat keluar dari kuali.
Dari atas, wajah dingin Bai Luo muncul di bibir kuali, menatap ke bawah pada Shen Yuan yang kini terikat tak berdaya. Bai Chen berdiri di sampingnya, tersenyum sinis menikmati pertunjukan.
"Tubuh fana, bersyukurlah," ucap Bai Luo tanpa emosi. "Daging dan tulangmu yang hina akan menjadi penyaring bagi Darah Esensi Purba. Jika kau hancur, kau akan menjadi bagian dari kekuatanku. Jika kau bertahan... kau tetap akan mati."
Bai Luo membalikkan tangannya. Sebuah botol kristal kecil yang memancarkan kabut darah hitam keunguan melayang di atas kuali. Cairan di dalamnya bergolak ganas, memancarkan jeritan ribuan jiwa yang disiksa—Aura mutlak dari Tuan Tanah Hantu.
"Buka segel apinya," perintah Bai Luo.
Seketika, susunan aksara di dasar kuali menyala terang. Api biru pucat meledak dari dinding-dinding kuali, membakar ruangan di sekitar Shen Yuan.
Bersamaan dengan itu, Bai Luo menuangkan isi botol kristal tersebut. Tetesan darah hitam keunguan yang mengandung energi Yin dan racun pelebur tingkat tinggi jatuh tepat ke dada Shen Yuan.
"Aaaaaarrrgghh!"
Shen Yuan memekik keras, sebuah pekikan yang sengaja ia keluarkan untuk memuaskan telinga para penyiksanya. Darah Tuan Tanah Hantu menembus jubahnya, membakar kulit Emas Gelap-nya, dan mencoba menyusup paksa ke dalam jantungnya. Rasa sakitnya luar biasa nyata. Bai Luo berniat menggunakan tubuhnya sebagai tungku hidup untuk membuang racun mematikan dari darah tersebut, sebelum memanen hawa murninya.
Di bibir kuali, Bai Luo dan Bai Chen mengamati dengan mata berbinar, menunggu tubuh fana itu mulai meleleh.
Namun, di dasar kuali, di bawah kobaran api biru yang menyilaukan pandangan musuhnya...
Shen Yuan yang terikat pada rantai perlahan membuka matanya. Tidak ada rasa sakit atau keputusasaan di sana. Yang ada hanyalah kilatan hitam pekat dari jurang Sembilan Neraka.
"Kuali Darah... kau bilang?" bisik Shen Yuan dalam batinnya, menyeringai dengan gigi yang berlumuran darahnya sendiri.
Di dalam Dantian-nya, Inti Emas Iblis yang sedari tadi bersembunyi kini meledak bagaikan naga yang lepas dari kerangkeng!
"Terima kasih atas hidanganmu, Sang Pelindung!"
Sutra Penelan Surga, Putaran Mutlak Pelahap Bumi!
Pusaran hisapan yang sangat rakus meletus dari seluruh pori-pori tubuh Shen Yuan. Alih-alih dihancurkan oleh Darah Tuan Tanah Hantu, Nadi Iblis Penelan Surga menyambut racun purba itu layaknya air hujan di tengah gurun, menelan energi berharga itu bulat-bulat, dan bersiap untuk mengubah kuali penyiksaan ini menjadi tungku kebangkitan sang Iblis!