"Hanya karena aku miskin, kau membuangku seperti sampah?"
Andra, seorang kurir yang bekerja keras 14 jam sehari, baru saja diusir dari kontrakannya dan diputuskan oleh kekasihnya demi pria bermobil mewah. Namun, di saat titik terendah hidupnya, sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Saldo Tak Terbatas Diaktifkan!]
[Level 1: Menghasilkan Rp 1.000 setiap detik secara otomatis.]
[Saldo saat ini: Rp 1.000... Rp 2.000...]
Dalam satu menit, ia mendapatkan Rp 60.000. Dalam satu jam, jutaan rupiah masuk ke rekeningnya tanpa melakukan apa pun. Dunia yang dulu menghinanya kini harus bersiap. Siapa pun yang pernah memandangnya rendah akan bersujud di bawah kakinya.
Bagi Andra, satu-satunya masalah sekarang bukan lagi cara mencari uang, tapi bagaimana cara menghabiskannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ruang_Magenta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Pulang Sebagai Raja
Setelah resmi menjadi pemilik Menara Kencana, Andra tidak langsung bersantai di kursi empuk kantor barunya. Ia teringat akan satu tempat yang menjadi saksi bisu penderitaannya selama bertahun-tahun: Gang mawar, kawasan pemukiman padat tempat kontrakannya berada. Ia ingin menutup bab masa lalunya dengan cara yang elegan.
Andra mengemudikan Ferrari LaFerrari emasnya membelah kemacetan, menuju gang sempit yang bahkan sulit dimasuki mobil biasa. Kedatangan mobil super seharga 60 miliar itu praktis menghentikan seluruh aktivitas warga. Anak-anak kecil berlarian mengejar, sementara para tetangga keluar dari rumah dengan wajah penuh keheranan.
Andra menghentikan mobilnya tepat di depan rumah kontrakan petak miliknya. Di sana, sudah berdiri Pak RT dan pemilik kontrakan, seorang wanita paruh baya bernama Bu Ida yang terkenal sangat pelit dan galak.
"Heh! Siapa kamu?! Berani-beraninya parkir mobil mewah di depan sini! Ini jalan warga!" teriak Bu Ida tanpa melihat siapa pengemudinya.
Andra membuka pintu mobilnya yang terbuka ke atas (butterfly doors), melangkah keluar dengan setelan jas yang harganya mungkin bisa membeli seluruh kontrakan Bu Ida. Begitu ia melepas kacamata hitamnya, Bu Ida hampir jatuh terjengkang.
"An... Andra? Kurir paket itu?" suara Bu Ida bergetar hebat.
"Selamat sore, Bu Ida. Saya datang untuk mengambil sisa barang saya dan... melunasi janji saya," ucap Andra dengan nada tenang namun berwibawa.
Dulu, Bu Ida sering mempermalukan Andra di depan warga karena telat membayar sewa dua hari saja. Bahkan kemarin, Bu Ida membuang barang-barang Andra ke tempat sampah karena ia dianggap tidak mampu membayar lagi.
"Andra, Nak... Maafkan Ibu, Ibu tidak tahu kalau kamu ternyata orang kaya yang sedang menyamar!" Bu Ida mendadak berubah menjadi sangat manis, wajahnya dipenuhi senyum palsu yang memuakkan.
Andra tidak menghiraukan wanita itu. Ia berjalan menuju Pak Jaka, rekan kurirnya yang tadi ia angkat menjadi manajer gudang, yang ternyata sedang berada di sana untuk membantu membereskan barang Andra.
"Pak Jaka, terima kasih sudah menjaga barang-barang saya. Sebagai rasa terima kasih, saya sudah membeli tanah di ujung gang ini. Saya akan membangun kompleks perumahan modern di sana, dan satu unit rumah paling besar adalah milik Anda secara gratis," ucap Andra dengan lantang agar seluruh warga mendengar.
Warga bersorak riuh. Namun, wajah Bu Ida mendadak pucat saat Andra menoleh padanya.
"Dan untuk Anda, Bu Ida... Saya sudah membeli seluruh sertifikat tanah di gang ini dari bank. Mulai detik ini, saya adalah pemilik sah lahan ini. Dan karena Anda pernah membuang barang-barang saya seperti sampah, saya minta Anda angkat kaki dari sini dalam waktu satu jam."
"T-tapi Andra! Ini rumahku!" teriak Bu Ida histeris.
"Dulu memang milikmu. Sekarang, ini milikku. Dan aku tidak butuh penyewa yang tidak punya empati seperti Anda," jawab Andra dingin.
Sistem di telinganya kembali berdenting.
[Ding! Tindakan Inang Sesuai dengan Karakter Penguasa!] [Bonus Reputasi Diaktifkan: Pengaruh Sosial Anda Meningkat!] [Saldo Berjalan: Rp 850.000.000... Rp 850.025.000...]
Andra masuk kembali ke dalam mobilnya. Ia melihat Siska berdiri di ujung gang, menatapnya dengan tatapan hancur dan penuh harap. Siska rupanya mengikutinya sampai ke sini setelah diusir dari dealer. Namun, bagi Andra, Siska hanyalah bagian dari debu masa lalu yang sudah ia bersihkan.
Ia menginjak pedal gas, deru mesin Ferrari itu menenggelamkan tangisan Bu Ida dan tatapan kosong Siska. Andra tidak lagi melihat ke belakang; matanya kini tertuju pada cakrawala Jakarta yang baru saja ia taklukkan.