Aruna Prameswari tidak pernah tahu bagaimana hidupnya berubah menjadi runyam. Semenjak Kedatangan sosok Liam Noah Rajasa, Atlet bola sekaligus Pengusaha ibukota. Hidupnya dibuat kacau balau sejak laki-laki itu selalu merecoki harinya yang gitu-gitu aja. Kerja, lembur, nongkrong, dan pulang.
Laki-laki itu semakin gencar mendekati dirinya ketika tahu kalau dirinya baru saja putus dari pacarnya, padahal Aruna masih belum begitu move on. Namun Liam dengan segala usahanya hingga membuat dirinya menyerah dan cinta itu datang tiba-tiba.
akankah Cinta Aruna yang datang tiba-tiba berakhir dengan indah atau malah sebaliknya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nisa_prafour, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21
Noah menatap gadis disampingnya yang masih setia terdiam sejak ia duduk di kursi penumpang miliknya, Noah tidak berani menegurnya atau mengajaknya berbicara. Mereka terlalu canggung.
Padahal Noah sendiri yang meminta tukar kursi dengan Arina agar ia bisa duduk bersama dengan Aruna. Namun yang menjadi tanya besar Noah adalah kenapa wanita disebelahnya ini sama sekali tidak melayangkan protes ketika mengetahui ia tiba-tiba yang duduk disebelahnya, Aruna bahkan mempersilakan Noah begitu saja.
"You okay?" Setelah memutuskan untuk menyudahi kecanggungan Noah bersuara. Lagipula ia sudah cukup menahan kebodohannya yang tidak berdasar dengan mendiami gadis itu.
Hanya perkara perkataan Cave yang konyol ia jadi menghindari Aruna.
Kini Aruna yang terdiam menolehkan kepalanya pada Noah. Gadis itu menatapnya sebentar sebelum kembali menatap arah jendela pesawat, "Ya. I'm oke"
"Run?"
"Hmm?"
"Makan dulu?"
"No. Nanti aja"
Noah menghela nafas pelan, Ia tidak tahu apa yang terjadi dengan gadis disampingnya ini. Yang jelas hanya aura mendung yang terlihat diwajah ayunya.
"Aku mau ke toilet. Nitip barangku sebentar ya"
Belum sempat Noah menjawab, Aruna sudah berdiri. Dan dengan cepat tubuh ramping Aruna menghilang dibalik tirai pembatas dalam pesawat. Noah lagi-lagi menghembuskan nafasnya pelan lalu kedua matanya tanpa sengaja melirik ponsel Aruna yang terlihat menyala diatas kursinya.
Dengan berbagai pertimbangan dan sedikit lancang, akhirnya Noah mengambil ponsel Aruna yang menyala. Bukan tanpa alasan sebenarnya kenapa Noah yang tiba-tiba penasaran dengan ponsel menyala itu.
Karena sejak awal Noah memang sudah curiga dengan ponsel itu, Jelas kemurungan Aruna ada hubungannya dengan isi ponselnya yang sejak ia mendudukkan dirinya di pesawat, Aruna terus menerus menatap benda datar itu. Dan benar saja, riwayat Chat dengan kontak bernama Marinos terpampang jelas disitu.
Sialan! Bajingan! Jadi kemurungan gadis itu gara-gara Laki-laki ini? Maksudnya Marinos? Dan lebih parahnya, Marinos ternyata masih sering mengirimi Aruna pesan.
Sialan!
"Noah what are you doing?"
Gelagapan, Noah dengan cepat mengembalikan ponsel milik Aruna ke tempatnya dan secepat mungkin merangkai alasan agar gadis itu tidak menyemburnya marah, "Kudengar ada bunyi ponsel tadi. Kukira milikmu jadi ku cek. Tapi ternyata bukan"
Seharusnya kamu jadi aktor saja bro! Bukan pemain bola. Dasar brengsek!
Noah mengumpat dalam hati untuk dirinya sendiri. Lalu ia kembali menatap Aruna yang sepertinya tampak lebih baik ketimbang sebelumnya. Wajahnya terlihat lebih rileks dan mendung itu sedikit berkurang.
"Noah?"
"Iya?"
"You have eaten?"
"No. You want to?"
"Temani aku?"
"Of course" Dengan senyum tipis Noah membantu Aruna menyiapkan makanan yang memang sudah disediakan oleh pihak kabin, Tidak ada suara yang melingkupi keduanya. Hanya dentingan alat makan yang terdengar pelan sampai makanan keduanya benar-benar tandas.
.
.
.
"Aku baru sadar kenapa kamu ikut dengan penerbangan ke Jakarta? Bukankah harusnya kamu kembali ke Italia?"
Suara Aruna berhasil mengalihkan Noah dari pandangannya yang sibuk dengan ponselnya sejak landing setengah jam yang lalu. Iya, keduanya memang tengah berada di ruang tunggu bandara sambil menunggu jemputan. Hanya mereka berdua karena Arina, langsung menuju tempatnya magang karena ada tugas dadakan. Bahkan travel bagg nya ia tinggalkan begitu saja pada Aruna.
"Aku memang berencana menetap di Indonesia Run"
"Bercanda!"
"Seriously"
"Bagaimana dengan team mu di Italia?"
"Aku akan kembali kesana jika ada jadwal match atau lainnya. Tapi untuk 2 bulan kedepan aku free dari team asalku"
"Do you have a place to live in Jakarta?"
"Kalau nggak kamu mau menampungku?"
"Nouken you!"
"Bercanda Run. Aku ada apartemen di Jakarta. Ada rumah saudaraku disini?"
Aruna tertawa lebar lalu menepuk pelan pundak Noah, "aaah begitu"
"Yes Mrs. Prameswari "
"Darimana kamu tahu nama panjang ku?!"
"Apapun tentang kamu I know Run"
"Bullshit!"
"Run?"
"Apa?"
"Kamu pulang bersamaku kan?"
"Enggak! Siapa bilang? Aku disini juga nunggu jemputan. Bukan cuma kamu aja"
"Who? Kurasa keluarga mu sibuk semua"
"Yang bisa jemput aku bukan cuma keluarga aku aja dong. Transportasi online kan bisa juga"
"Kamu naik taxi?"
"Enggak. Aku minta tolong temanku buat jemput. Tapi dia belum ada balasan"
"Yasudah. Kenapa repot-repot? Kamu dengan ku aja"
"No Noah, Aku sudah banyak banget ngerepotin kamu" Aruna serius dengan kalimatnya, Ia memang terlalu bayak merepotkan Noah akhir-akhir ini. Padahal mereka hanya sebatas kenalan saja. Ia bahkan berharap setelah ini ia dan Noah tidak bertemu lagi. Namun, sepertinya takdir berkata lain.
"Aku nggak akan culik kamu. Serius!"
"Emang kamu berani culik aku?!"
"Kamu kira aku takut?! Sekarang pun aku bisa membawamu keliling dunia dan nggak akan biarin kamu pulang-- AKHH!"
Noah mengaduh sakit ketika dengan sengaja Aruna mencubit pinggangnya. Gadis yang memakai terusan off shoulder dipadukan jaket hitam miliknya itu melotot garang padanya.
"Mulutmu itu kalau ngomong mulus sekali ya"
"Come on! Jemputan ku sudah di lobby"
"No -- NOAH!!!"
Aruna menjerit tertahan ketika Noah membawa salah satu travel bagg nya begitu saja, Dan itu sukses membuatnya dengan cepat mengikuti langkah Noah hingga pria itu benar-benar masuk kedalam mobil range Rover nya di kursi belakang.
Tidak ada pilihan lain selain ia ikut masuk kedalam mobil juga kan? Menolak pun laki-laki konyol ini jelas akan memaksa hingga ia mau mengikutinya.
"Hai mbak!! Salam kenal aku Mikie. Panggil Mik aja. Sepupu Noah"
Aruna yang baru menjejakkan bokongnya pada kursi mobil dikejutkan oleh sosok wanita cantik yang postur wajahnya hampir mirip dengan Noah. Ditambah suara nyaring gadis itu yang sedikit memekakkan telinganya.
"O-ooh hai! Aku Aruna. Salam kenal"
Gadis itu tersenyum lebar. Dan sukses membuat Aruna terpanah akan kecantikannya. Ditambah lagi, gadis bernama Mikie itu amat begitu lancar berbahasa Indonesia padahal, jika dibandingkan dengan Noah wajah Mikie terlalu bule sekali menurutnya. Tapi bahasa Indonesia gadis itu patut diacungi jempol, Bahkan memanggilnya dengan sebutan 'mbak' yang jarang orang lain memakainya jika bukan dari daerah tertentu.
"Aku sepupu Noah mbak, dari pihak ayahnya. Aku tinggal di Jakarta"
"Jangan panggil mbak. Aruna saja, Kamu lebih tua"
"Nggak enak mbak. Udah terbiasa panggil gitu ke teman-teman cewek Noah"
Sepertinya gadis ini cukup humble dengan orang-orang yang baru dikenalnya, "Turunin aku di lampu merah ke dua aja Mik ngga papa. Aku bisa cari taxi nanti"
"Kita searah kok mbak jadi santai aja ya"
"Ngerepotin aku jadinya"
"We are friends mba. Jadi nggak ada kata merepotkan"
Aruna hanya menganggukkan kepalanya pelan. Lalu ia otomatis menoleh kesamping dimana Noah duduk. Kepalanya menggeleng lagi ketika mendapati pria itu sudah tertidur pulas dengan kepala yang menyender Di jendela mobil.
Sedangkan Mikie diam-diam mengamati dua sosok manusia yang tengah duduk di bangku penumpang mobilnya itu dari spion dalam mobilnya. Lalu sedetik kemudian bibirnya menarik sebuah senyuman ketika melihat sepupuny yang tertidur tiba-tiba bergerak dan menyenderkan kepalanya pada pundak Aruna hingga gadis itu terkejut.
Fuck you Noah!!
Dasar modus!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...