NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyah 19

Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 23

Keluarga kyai Fahmi sedang dalam perjalanan ke pesantren besannya. Asya yang semalam merengek minta menjenguk kakaknya. Ia juga bilang bahwa merindukan sahabatnya saat mondok dulu.

"Assalamualaikum," ucap kyai Fahmi

"Waalaikumsalam, mari masuk kyai sudah ditunggu," jawab abdi ndalem

Mereka semua masuk. Terlihat keluarga kyai Ahmad menyambut kedatangan besannya sumringah.

"Kakak," pekik Asya sambil memeluk Anisa

Semua orang tersenyum menatap keduanya.

"Adek kok nggak salam sama gurunya," tegur abi

Asya menepuk jidatnya pelan. Ia menoleh ke semua orang yang terkekeh.

"Assalamualaikum Umi," ucap Asya sambil mencium tangan umi Syakira

"Waalaikumsalam, Nak. Gimana kabarnya?," ucap umi Syakira sambil tersenyum

"Alhamdulillah sehat," jawab Asya

Asya mengatupkan kedua tangannya kepada kyai Ahmad dan gus Kafka. Setelah itu, Asya mendekati box bayi yang terdapat anak cantik gus Kafka dan Anisa. Zahra Farizi namanya.

Asya kebosanan diantara keluarganya. Ia menghela napasnya. Rasanya ingin keluar tapi sungkan.

"Asya kenapa?," tanya gus Kafka membuat semua orang menoleh kepada Asya

"Nggak papa kok Gus," ucap Asya kikuk

"Asya bisa nggak ganti panggilan ke gus kafka biar nggak terlalu formal. Gus Kafka kan udah jadi kakaknya Asya," usul kyai Ahmad

Asya menoleh ke Anisa, abi dan uminya. Mereka bertiga kompak mengangguk.

"Gimana kalo Asya panggil gus Kafka itu abang? Sama kayak panggil abang Raffa," usul Asya

"Boleh," ucap Anisa dan gus Kafka barengan

Semua orang tersenyum mendengarnya. Asya senang melihat kebahagiaan terpancar di wajah Anisa.

"Asya nggak ingin mengunjungi Rara?," tanya gus Kafka

"Iya dek. Sahabat kamu sekarang jadi ustadzah loh," sahut Anisa

"Wah beneran Kak, Bang?," tanya Asya girang

"Iya," jawab gus Kafka

"Udah sana daripada di sini bosan," ucap Anisa

"Ya udah Asya pamit mau nyari Rara dulu ya semuanya, assalamualaikum," pamit Asya

"Waalaikumsalam," jawab semua orang

Asya berjalan melewati koridor madrasah. Gus Kafka memberitahu bahwa Rara berada di aula. Hari ini semua pengajar mengadakan rapat untuk acara pensi minggu depan.

Dari kejauhan, Asya memicingkan matanya. Ia tersenyum lebar melihat sahabatnya itu sedang debat dengan salah satu ustadz. Apalagi Asya tau bahwa itu adalah ustadz Malik.

"Assalamualaikum Ustadz, Ustadzah. Apakah kehadiran saya mengganggu kalian?," ucap Asya sambil tersenyum

"Waalaikumsalam," jawab keduanya sambil menoleh

Rara membulatkan matanya. Ia terkejut sekaligus bahagia melihat kehadiran sahabatnya itu. Tanpa berkata, Rara langsung memeluknya erat. Ia terisak dalam dekapan Asya.

"Hei kok nangis? Nggak malu dilihatin ustadz Malik?," tanya Asya sambil mengelus punggung temannya pelan

"Kamu jahat banget sih nggak ada kabar selama 3 tahun," ucap Rara terisak

"Aku ganti nomor," ucap Asya terkekeh

"Tapi nggak ada niatan tanya kabarku. Jahat banget sumpah ih," kesal Rara sambil melepas pelukannya

"Bukannya gitu, tapi komunikasi aku batasi banget karena aku ingin kejar target. Jadi harus fokus banget" ucap Asya sambil tersenyum

"Lama nggak ketemu makin cantik aja kamu Sya," ucap ustadz Malik

"Bisa aja deh Ustadz. Gimana kabarnya?," ucap Asya

"Alhamdulillah baik," ucap ustadz Malik

"Kamu ke sini sama siapa?," tanya Rara

"Sama abi dan umi. Mereka lagi di ndalem," jawab Asya

"Asya udah move-," ucap ustadz Malik terpotong

"Assalamualaikum," ucap gus Kafka yang baru datang

"Waalaikumsalam," jawab ketiganya

"Saya baru saja mau ke ndalem buat bicarakan hasil rapatnya Gus," ucap ustadz Malik

"Saya saja yang ke sini nggak papa," ucap gus Kafka

Gus Kafka menoleh ke arah Asya. Ia menyodorkan sebuah ponsel ke adik iparnya itu. Asya menerimanya sambil tersenyum.

"Terima kasih Abang," ucap Asya

"Sama-sama. Lain kali jangan sampai ketinggalan. Takutnya ada telpon penting nantinya," ucap gus Kafka sambil tersenyum

"Iya Bang," ucap Asya

"Abang?," pekik ustadz Malik heran

Rara diam saja karena dia tau bahwa gus Kafka adalah kakak iparnya Asya. Ketiganya menoleh ke arah ustadz Malik.

"Kok Asya manggil gus Kafka abang sih?," tanya ustadz Malik heran

"Karena Asya adalah adik dari istri saya," jelas gus Kafka

"Apa? Jadi Asya adalah adiknya ning Anisa?," tanya ustadz Malik

"Iya benar sekali. 100 deh buat Ustadz," sahut Asya sambil tersenyum

"Kita pamit ke asrama dulu ya, assalamualaikum," pamit Rara sambil menyeret lengan sahabatnya

"Waalaikumsalam," jawab ustadz Malik dan gus Kafka

'Gak bisa bayangin gimana perasaan Asya saat orang yang dicintainya malah menikahi kakaknya sendiri' batin ustadz Malik

"Jadi Asya adalah adik ning Anisa?," celetuk ustadz Malik pelan

"Kita bicarakan di ruangan saya aja," jelas gus Kafka

Gus Kafka berjalan menuju ruangan pribadinya. Ustadz Malik mengikutinya dari belakang. Sesampainya di ruangan, mereka duduk saling berhadapan.

"Ayo jelasin sekarang juga. Gus Kafka utang cerita sama saya," ucap ustadz Malik

Gus Kafka menghela napasnya. Ia mulai menceritakan semua dari awal hingga akhir.

"Asya memutuskan kuliah di luar negeri dan nggak pulang selama 3 tahun. Bahkan saat acara pernikahan kalian, dia nggak ada kabar sama sekali?," ucap ustadz Malik

"Saya serba salah. Tapi saya juga nggak mungkin melawan keinginan orang tua," ucap gus Kafka

"Iya sih Gus. Kalo saya di posisi itu pasti bingung harus bagaimana," ucap ustadz Malik

"Semua sudah menjadi masa lalu. Kami juga sudah berdamai dan menerima takdir," ucap gus Kafka

"Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang tentukan," ucap ustadz Malik

"Iya benar. Sekuat apapun kita berusaha membawa dia ke pelaminan, jika takdir Allah mengatakan bahwa jodoh kita orang lain kita bisa apa," ucap gus Kafka terkekeh

"Berarti Asya masih single dong," ucap ustadz Malik tiba-tiba

"Iya tapi-," ucap gus Kafka terpotong

"Saya mau maju deh mau memenangkan hati Asya tapi biasanya kan kalo anak kyai pasti dijodohkan dengan yang sekufu. Saya jadi insecure dong," tekad ustadz Malik

"Tel-," lagi-lagi ucapan gus Kafka terpotong

"Gus Kafka kok kayak kesal gitu wajahnya? Menyesal ya tidak bisa bersatu dengan Asya?," ucap ustadz Malik heran

"Dari tadi mau ngomong tapi dipotong mulu," kesal gus Kafka

"Oh maaf Gus," ucap ustadz Malik terkekeh membuat gus Kafka mendengus

"Asya besok lamaran," celetuk gus Kafka

"Apa? Telat dong saya. Gus dari pesantren mana yang beruntung?," ucap ustadz Malik

"Ya emang telat banget. Calon suami Asya itu bukan gus tapi santri abi nya sekaligus teman kuliahnya," ucap gus Kafka

"Ini namanya kalah sebelum berperang. Beruntung banget bisa mendapatkan Asya," ucap ustad Malik lesu

Gus Kafka tertawa kecil. Ia tampak seolah memikirkan sesuatu. Lalu terbesit ide jail di kepalanya.

"Ada kok yang masih single ori belum dilamar sama siapapun," ucap gus Kafka

"Oh ya? Siapa?," tanya ustadz Kafka

"Rara," ucap gus Kafka

"Ih apaan sih Gus kok malah nawarin temannya Asya yang rese itu," ucap ustadz Malik kesal

"Kan kalo nggak dapat Asya bisa dapat temannya," ucap gus Kafka terkekeh

Ustadz Malik mendengus kesal dengan penuturan temannya itu. Lalu mereka mulai membahas hasil rapat hari ini.

1
Mrs. Ren AW
mampir baca, semoga menarik ceritanya 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!