Sinopsis – Aku Diculik Mafia Tampan
Alya, gadis sederhana yang bekerja keras demi menghidupi ibunya, tak pernah menyangka hidupnya berubah hanya karena satu kecelakaan kecil. Saat menabrak mobil mewah di tengah hujan, ia justru diculik oleh pemilik mobil itu—Kael Lorenzo, pria tampan, kaya raya, dan pemimpin mafia paling ditakuti di kota.
Dibawa ke mansion megah bak penjara emas, Alya dipaksa tinggal bersama pria berbahaya yang dingin dan kejam itu. Kael seharusnya menyingkirkannya, tetapi ada sesuatu pada Alya yang membuatnya tak mampu melepaskan.
Semakin Alya melawan, semakin Kael terobsesi.
Ia melarang Alya pergi.
Ia menghancurkan siapa pun yang mendekat.
Ia rela menumpahkan darah demi menjaga gadis itu tetap di sisinya.
Namun saat rahasia masa lalu Kael mulai terbongkar dan musuh-musuh mafia mengincar Alya, keduanya terjebak dalam permainan cinta yang berbahaya.
Bisakah Alya kabur dari pria yang menculiknya…
atau justru jatuh cinta pada mafia tampan yang menganggapnya milikny
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Wanita Bergaun Merah
Bab 8 – Wanita Bergaun Merah
PLAK!!!
Suara tamparan itu terdengar begitu nyaring dan keras, menggema di seluruh area pelabuhan yang masih dipenuhi bau mesiu dan asap tipis.
Suasana yang tadinya ricuh karena tembakan, seketika berubah menjadi hening total. Mati bisu.
Semua orang terpaku di tempat. Para bodyguard Kael menundukkan kepala kaku, tangan mereka memegang senjata tapi tak ada satu pun yang berani bergerak atau bersuara. Mereka tahu betul betapa mengerikannya bos mereka saat marah, tapi melihat seseorang berani menamparnya di depan umum... ini di luar nalar.
Alya membelalakkan mata lebar-lebar, mulutnya sedikit terbuka karena kaget setengah mati.
Seseorang... berani menampar Kael Lorenzo? Pria yang sehari-hari membuat orang gemetar hanya dengan tatapan mata? Dan orang itu masih berdiri tegap di sana tanpa terluka sedikit pun?
Kael sendiri tidak langsung bereaksi. Ia memalingkan wajahnya perlahan ke arah kanan karena tamparan itu. Bekas kemerahan mulai terlihat samar di pipi kirinya yang tampan, namun anehnya... ekspresi di wajahnya tetap datar. Tidak ada amarah yang meledak, tidak ada teriakan. Hanya ada ketenangan yang justru terasa lebih menakutkan.
Wanita di depannya itu benar-benar cantik luar biasa.
Ia mengenakan gaun panjang berwarna merah darah yang membalut tubuhnya dengan sempurna, terlihat sangat elegan dan mahal. Rambutnya hitam panjang bergelombang indah, bibirnya merah menyala dengan bentuk yang tajam, dan matanya memancarkan aura kemarahan yang membara. Ia terlihat seperti ratu yang sedang murka.
Dengan jari telunjuknya yang panjang dan bercat merah, ia menunjuk tepat ke arah wajah Alya.
“Perempuan rendahan ini... adalah alasanmu mengabaikanku selama ini? Alasan kau menghindariku?” tanyanya dengan suara yang bergetar menahan amarah.
Alya spontan mundur selangkah, terkejut diserang secara tiba-tiba.
“Eh, tunggu dulu! Saya nggak kenal siapa-siapa di sini! Saya nggak ada urusan apa-apa sama dia!” belanya cepat, mengangkat kedua tangan tanda tidak bersalah.
Wanita itu mendengus sinis, senyumnya terlihat merendahkan.
“Murahan.”
“Apa?!” Darah di tubuh Alya seketika naik ke kepala. Ia paling benci dihina.
Namun sebelum Alya sempat melontarkan makian, Kael bergerak lebih cepat.
Tangan kekarnya dengan sigap menangkap pergelangan tangan wanita itu saat ia hendak menunjuk lagi ke arah Alya. Cengkeramannya kuat, namun tidak sampai melukai.
“Jaga mulutmu, Serena.”
Nama itu terlontar dari mulut Kael dengan nada yang sedingin es dan sangat tajam.
Wanita bernama Serena itu menatap Kael dengan mata terbelalak, seolah tak percaya pria di depannya ini berani menahannya dan membela orang lain.
“Kau... kau membelanya? Kau membelanya melawanku, Kael?!”
“Aku hanya memperingatkanmu. Jangan bicara seenaknya.”
Alya berdiri di samping ibunya, menatap mereka bergantian dengan jantung yang berdebar aneh.
Jadi ini siapa? Mantan kekasih? Tunangan? Atau mungkin istri rahasia?
Entah kenapa, saat membayangkan kemungkinan itu... dada Alya terasa sesak dan tidak enak. Ada rasa perih yang timbul entah dari mana.
Serena menarik tangannya dengan kasar hingga lepas dari genggaman Kael.
“Aku datang kemari karena ayahmu mencarimu ke mana-mana! Dia khawatir! Dan apa yang kutemukan? Kau ada di tempat kotor ini, bermain rumah-rumahan dengan gadis kampungan seperti dia?!” teriaknya emosi.
“HEY! Jangan sembarangan omong!” bentak Alya tak terima, wajahnya memerah padam. “Aku bukan gadis kampungan! Aku gadis baik-baik!”
Serena menatap Alya dari ujung kaki sampai ke ujung kepala dengan tatapan jijik dan meremehkan.
“Lebih buruk dari itu.”
“Aaaa!!!” Alya sudah tidak tahan lagi. Ia hendak maju melabrak wanita itu, tapi bahunya langsung ditahan oleh tangan kokoh Kael dari belakang.
“Jangan. Dia tidak pantas dapatkan emosimu.”
“Tapi dia menghina aku! Dia menghina aku di depan ibuku!” protes Alya kesal.
Kael tidak menoleh ke Alya, ia justru menatap tajam ke arah Serena.
“Dan kau akan menyesal seumur hidup kalau kau menyentuhnya atau menyakiti hatinya sedikit saja,” ucap Kael pelan namun penuh dengan ancaman maut yang nyata.
Udara di sekitar mereka mendadak menjadi sangat tegang dan dingin.
Serena tertawa kecil, tapi tawanya terdengar pahit dan matanya terlihat sangat terluka.
“Jadi itu benar... Kau benar-benar berubah. Kau sudah bukan Kael yang kukenal dulu. Semua ini karena dia...”
Kael diam tak menjawab, tapi diamnya itu adalah jawaban yang paling menyakitkan.
Serena kembali menatap Alya dengan mata yang dipenuhi kebencian dan rasa iri.
“Berapa yang kau minta? Uang tunai? Rumah mewah? Mobil? Atau perhiasan? Bilang saja, aku bisa beli kau agar kau menjauh dari dia.”
Alya yang mendengar itu langsung menepis tangan Kael dari bahunya dengan kasar. Ia melangkah maju, menatap lurus mata wanita kaya itu.
“Aku minta satu hal saja dari kamu.”
Serena mengangkat sebelah alisnya, terlihat sombong. “Apa? Uang tambahan?”
“Pergi dari hadapanku sekarang juga. Dan jangan pernah muncul lagi. Wajahmu menyebalkan,” ucap Alya tegas tanpa ragu sedikit pun.
Para bodyguard yang berdiri berjaga di sekitar mereka seolah menahan napas serentak. Berani sekali gadis ini melawan wanita sekuat Serena!
Serena memandang Alya seolah melihat makhluk asing, tak percaya ada yang berani bicara seperti itu padanya.
Lalu ia tertawa dingin, tawanya terdengar menusuk.
“Kael... sungguh seleramu turun drastis sekali ya. Dulu kau suka yang berkelas, sekarang kau suka yang mulutnya tajam dan tidak tahu diri.”
Kael tidak membiarkan itu berlari lebih jauh. Ia melangkah maju selangkah, berdiri tepat di tengah-tengah antara Alya dan Serena, membelakangi Alya dan menghadap Serena. Tubuh tingginya seolah menjadi tameng yang kokoh.
“Cukup.”
Satu kata itu saja, namun terdengar seperti perintah maut yang tidak bisa ditawar lagi.
Serena menatap punggung lebar dan bahu kokoh pria itu cukup lama. Matanya mulai berkaca-kaca.
“Kau benar-benar memilih dia? Kau memilih gadis tidak jelas ini daripada aku, Serena yang sudah bersamamu bertahun-tahun?” tanyanya bergetar, berharap ada penolakan.
Kael menjawab tanpa ragu sedikit pun, tanpa jeda, dan dengan suara yang tegas.
“Ya.”
Jantung Alya seakan berhenti berdetak selama satu detik penuh.
“Apa?!” pekiknya kaget dari belakang Kael.
Serena mundur dua langkah seakan baru saja ditampar oleh kata-kata itu. Wajahnya pucat.
“Kau... kau pasti bercanda.”
“Aku tidak pernah bercanda soal hal serius.”
Air mata mulai mengalir di pipi mulus Serena. Ia menatap Alya dengan tatapan yang bisa membunuh, penuh dengan kebencian yang mendalam.
“Baiklah... Kalau begitu nikmati dia selagi kau bisa. Nikmati momen murahan ini.”
Wanita itu berbalik badan dengan anggun namun penuh emosi, berjalan meninggalkan mereka menuju mobil merahnya. Sebelum masuk ke dalam kendaraan, ia berhenti sejenak dan menoleh kembali.
“Dan ingat ini... Ayahmu, Tuan Lorenzo yang tua itu... tidak akan pernah menerima perempuan sekelas jalanan seperti kau masuk ke dalam keluarga kami!”
Setelah melontarkan kalimat pedas itu, pintu mobil ditutup keras. Sedan merah itu melaju kencang meninggalkan pelabuhan, menghilang di balik kabut malam.
Hening panjang kembali menyelimuti mereka.
Alya masih mematung. Perlahan ia menoleh tajam menatap sisi wajah Kael.
“Kenapa kamu bilang begitu? Kenapa kamu bilang memilihku?!” tanyanya kesal, pipinya terasa panas.
Kael menoleh menatapnya dengan wajah santai dan tenang, seolah baru saja tidak terjadi apa-apa.
“Karena itu memang kenyataan.”
“Bukan! Maksudku... aku nggak ikut memilih apa pun! Aku nggak tawar-menawar! Kamu seenaknya sendiri!”
Kael mendekat perlahan, membuat jarak mereka kembali sempit.
“Masalahnya bukan di kau mau atau tidak. Masalahnya adalah... aku sudah memilih. Dan keputusanku mutlak.”
Alya mundur selangkah, jantungnya berdegup kacau.
“Kamu ini benar-benar menyebalkan.”
“Tapi faktanya... kau tetap berdiri di dekatku sekarang. Kau tidak lari.”
“Aku cuma... cuma nggak lihat jalan! Jangan kepedean!” sanggah Alya gugup.
Kael tersenyum tipis. Senyum kecil yang sangat jarang muncul dan justru membuatnya terlihat sangat tampan dan mematikan.
Ibu Alya yang sejak tadi diam menyaksikan segalanya dengan wajah bingung dan takut, akhirnya berbisik pelan ke arah putrinya.
“Lya... Nak... Siapa pria ini sebenarnya? Kenapa rasanya dia seperti pemilik segalanya?”
Alya membuka mulut hendak menjelaskan, tapi sekali lagi Kael lebih cepat bicara.
Pria itu menatap Bu Rina dengan wajah sangat serius dan sopan, namun kata-katanya meledak seperti bom.
“Saya calon menantu Anda, Bu. Saya akan bertanggung jawab atas Alya.”
“KAEL LORENZO!!!” teriak Alya sekuat tenaga, wajahnya merah padam seperti kepiting rebus.
Ibunya sampai memegang dada karena kaget, matanya membelalak lebar tak percaya.
Para bodyguard di belakang berusaha sekuat tenaga menundukkan kepala dan menahan tawa, bahu mereka terlihat bergetar menahan geli melihat bos mereka yang jail.
Kael tetap terlihat polos dan tanpa dosa.
“Bercanda,” katanya datar.
Alya menggertakkan giginya hingga berbunyi. “Kamu sama sekali tidak lucu!”
“Kau marah dan wajahmu memerah. Berarti itu lucu.”
Alya rasanya ingin meledak saat itu juga. Pria ini memang iblis yang menyamar jadi manusia!
Namun sebelum ia sempat membalas atau memukul dada Kael lagi, ponsel di saku jas pria itu berdering nyaring memecah suasana.
Kael mengambilnya dan melihat nama yang tertera di layar. Dalam sekejap mata, wajah yang tadi sedikit santai dan jail langsung berubah kembali menjadi sedingin es dan tegang. Rahangnya mengeras.
“Ayahku.”
Ia mengangkat telepon itu dan menempelkan ke telinga.
“Apa?” jawabnya singkat dan dingin.
Hening beberapa detik terdengar suara orang berbicara di ujung sana, terdengar keras dan marah meski tidak jelas isinya.
Wajah Kael semakin muram.
“Tidak. Aku tidak akan pulang malam ini.”
Tanpa menunggu jawaban di sana, Kael langsung mematikan sambungan telepon itu dengan kasar.
“Ada apa?” tanya Alya was-was, merasakan ada hal besar akan terjadi.
Kael menatap Alya lama, matanya menyapu wajah gadis itu dengan tatapan dalam.
Lalu ia berkata dengan tenang namun tegas.
“Ayahku ingin bertemu. Dia ingin bertemu dengan perempuan yang berani membuatku menolak Serena dan melawannya.”
Alya menunjuk dirinya sendiri dengan jari gemetar, matanya membelalak.
“Perempuan itu... maksudnya... aku?”
“Ya. Hanya kau.”
“Aku nggak mau! Aku nggak kenal ayahmu! Aku takut! Aku nggak mau!” Alya langsung menolak mentah-mentah, menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bayangan ayah Kael pasti sosok yang jauh lebih mengerikan daripada Kael sendiri.
Kael tidak peduli dengan penolakan itu. Ia meraih tangan kecil Alya dan menggenggamnya erat, tidak memberi kesempatan untuk melepaskan diri.
“Kau ikut denganku malam ini juga. Kita langsung ke rumah utama.”
“Aku bilang nggak mau! Lepas!”
Kael mendekatkan wajahnya, menundukkan kepalanya hingga mulutnya tepat berada di samping telinga Alya. Bisikan berat dan hangatnya menyapu leher gadis itu.
“Kalau kau menolak dan terus membantah...”
Napas Alya tercekat di tenggorokan, jantungnya berdegup kencang menunggu ancaman apa lagi yang akan keluar.
“Aku akan menculikmu... lagi. Dan kali ini, kau tidak akan pernah bisa kabur.”