Nasib Shafiya terjebak dalam pernikahan yang dimulai dengan niat dendam dari seorang pria bernama Arash. Kematian kekasihnya yang tidak mendapat pertanggungjawaban dari keluarga Shafiya membuat pria tempramental itu menikahi kekasih yang seharusnya menjadi istri dari tunangannya.
Shafiya harus menerima takdirnya menjalani pernikahan dengan laki-laki yang tidak mencintainya, rumitnya pernikahannya dengan lika-liku drama pernikahan yang dia alami.
Apakah Shafiya akan bertahan dalam pernikahannya? atau justru pada akhirnya Shafiya menyerah karena lelah? tetapi apakah Arash akan melepaskannya?"
Jawabannya hanya ada di bab-bab berikutnya...
Jangan lupa di follow Ig saya.
ainunharahap 12
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5 Dia Begitu Dingin
Shafiya pagi ini sudah berada di ruang tamu dengan 2 koper berada di sisi kirinya. Kedua orang tuanya ada di ruang tamu bersama dengan Kanaya.
Shafiya memang tidak bisa membatalkan pernikahannya, Shafiya harus memikirkan semuanya secara matang-matang, tidak mungkin menikah kemudian bercerai dan menikah lagi dengan laki-laki yang berbeda.
"Kita sudah bisa berangkat?" tanya Arash berdiri dari tempat duduknya.
Wajahnya terus saja memberikan ekspresi datar, tidak terlalu ramah kepada keluarga Shafiya dan bahkan ketika dia datang ke rumah itu untuk bertamu menjemput istrinya, dia hanya sekedar menyampaikan keinginannya bahkan tidak mencium punggung tangan kedua mertuanya itu.
"Shafiya kamu hati-hati dengan pesan Umi kepada kamu, kamu sekarang sudah menjadi istri dan kamu mengerti tugas dan kewajiban seorang istri," ucap Laina memeluk putrinya itu dengan berat hati melepaskan sang Putri.
Shafiya hanya menganggukkan kepala dan juga berpamitan pada Thoriq.
"Kamu tetap putri di rumah kami dan rumah ini tetap menjadi tempat untuk pulang kampung. Abi berdoa untuk selalu kebahagiaan dalam pernikahan kamu," ucap Abi.
"Iya. Abi," sahut Shafiya.
"Saya ada pertemuan dengan klien 20 menit lagi, apa tidak bisa dipersingkat saja berpamitannya," ucap Arash bahkan tidak sempat membuat Shafiya ingin memeluk Kanaya.
"Sudah sana Shafiya, kasihan suami kamu masih memiliki pekerjaan lain," ucap Umi.
Shafiya menganggukkan kepala, tidak terlalu banyak bicara dan mengucapkan salam perpisahan kepada kedua orang tuanya. Arash juga bahkan tidak mengatakan apapun pergi begitu saja tanpa membawa kedua koper istrinya itu.
Laina dan Thoriq saling melihat satu sama lain, sebagai orang tua perasaan mereka sudah mulai tidak enak.
"Kenapa aku jadi khawatir pada Shafiya," ucap Kanaya ketika pasangan pengantin baru itu sudah pergi dari rumah mereka.
"Kita berdoa saja dan terus berpikir positif. Insyallah tidak akan terjadi apapun dan semua akan baik-baik saja," sahut Thoriq berpikir positif dan padahal perasaannya juga sebagai ayah mulai tidak tenang.
****
Saat ini Shafiya berada di dalam mobil duduk di sebelah Arash yang fokus pada ponselnya. Keduanya disetiri oleh sopir dan sejak tadi dalam mobil tersebut tidak ada komunikasi apapun.
Shafiya hanya melihat bagaimana wajah datar sang suami benar-benar dingin, tidak ada niat mengajaknya mengobrol.
"Hmmmm," Shafiya berdehem begitu lembut membuat Arash menoleh langsung ke arahnya dengan tatapan mata sinis.
Terlihat pria tampan yang sejak tadi menutup mulutnya itu tidak menyukainya.
"Ada apa?" tanya Arash.
"Apa rumah Mas masih jauh?" tanyanya dengan gugup.
"Tunggu saja, nanti juga akan sampai," jawab Arash terlihat cuek dan kembali fokus pada ponselnya.
"Ya Allah, apa mungkin hanya perasaan hamba saja, mengapa beliau cara menjawabnya seperti itu," batin Shafiya memilih untuk tidak bertanya lagi.
Sampai akhirnya mobil itu berhenti di depan rumah mewah berlantai 3. Rumah itu tampak begitu luas dengan bangunan klasik Eropa. Supir turun dari mobil terlebih dahulu dan membuka pintu mobil untuk Arash dan kemudian bergantian dengan Shafiya. Tidak lupa Shafiya mengucapkan terima kasih pada sopir tersebut yang sekarang sedang membuka bagasi mobil untuk mengeluarkan kopernya.
Shafiya mengangkat kepala melihat rumah mewah itu. Shafiya melihat di sekelilingnya dan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut Arash yang saat ini melangkah menaiki anak tangga terlebih dahulu untuk menuju pintu utama.
Tidak mengajak Shafiya, membuat Shafiya memilih untuk mengikuti Arash.
Ceklek Brakkk....
Suara dua daun pintu itu terbuka lebar. Langkah kaki Arash mulai melangkah memasuki rumah dan diikuti Shafiya yang juga masuk kedalam ruam dengan kepala berkeliling melihat bagaimana luas dan tingginya kediaman suaminya itu.
Rumah mewah itu tampak begitu rapi dan elegan dengan susunan furniture di dalam rumah dari desainer terkenal itu tampak begituan.
Tak...tak...tak...tak...
Pandangan Shafiya mengarah pada anak tangga ketika terdengar suara langkah kaki begitu santai dan terlihat dua wanita menuruni anak tangga tersebut. Wanita paruh baya dengan wajah tampak bekas penuh misterius tidak asing bagi Shafiya.
Amelia, dia mengingat wanita itu yang hadir di hari pernikahan dan sementara satu wanita lagi yang berjalan berdampingan dengan Amelia memperlihatkan wajah bengis dengan tatapan mata tertuju padanya.
"Kamu sudah kembali Arash..." sahut Amelia dengan melanjutkan langkahnya dan sampai akhirnya tepat di hadapan Arash.
"Iya," jawab Arash singkat.
Mata Amelia tertuju pada Shafiya yang membuat Shafiya tersenyum ramah pada wanita yang terus memperhatikannya dari ujung kaki sampai atas.
"Ternyata kamu tetap membawa wanita ini, wanita ini memilih kamu dibandingkan Zidan," ucapan Amelia dengan kata-katanya tidak tersusun dengan rapi.
Bahasa yang digunakan sebenarnya tidak cocok untuk dengan kata wanita, sementara Amelia mengetahui darah istri Arash.
"Shafiya selamat datang di rumah ini dan selamat menghadapi kehidupan yang baru," ucap Amelia.
Shafiya merespon dengan menganggukkan kepala, sesungguhnya Shafiya juga tidak mengetahui bagaimana hubungan suaminya dengan wanita tersebut, terbesit di dalam pikiran Shafiya wanita itu merupakan ibunya.
"Aku pikir siapa yang datang ke rumah ini dan ternyata dia, sudahlah aku ingin melanjutkan aktivitasku untuk shopping," sahut Tami.
"Arash aku pergi dulu," ucap Tami tersenyum pada Arash membuat Arash menganggukkan kepala.
Bught....
Tami dengan sengaja menabrak bahu Shafiya ketika melewati Shafiya dan bahkan Shafiya terlihat hampir saja berbalik karena benturan itu benar-benar cukup keras. Shafiya juga tidak mengerti apa maksud dari Tami dan bahkan pergi begitu saja.
Arash tidak peduli apapun melanjutkan dengan menaiki anak tangga. Shafiya saat ini masih dipenuhi dengan kebingungan, suaminya tidak mencoba untuk menjelaskan bagaimana situasi di rumah itu dan apa yang harus dia lakukan.
"Kamu sekarang sudah tinggal di rumah ini dan kamu harus memenuhi peraturan di rumah ini, jangan membuat masalah atau kesalahan sekecil apapun itu," ucap Amelia memberi pesan kepada Shafiya.
"Baik Tante," jawab Shafiya.
"Masuklah ke kamarmu dan semoga nyaman tinggal di rumah ini," ucap Amelia.
Shafiya menganggukkan kepala, karena sopir hanya meletakkan kopernya sampai ruang tamu saja dan mau tidak mau Shafiya harus mengangkat kedua koper berat itu menaiki anak tangga yang sangat panjang.
"Hah!" Amelia mendengus kasar melihat bagaimana kesusahan yang di alami Shafiya, tetapi dia tidak memiliki keinginan untuk membantu sama sekali.
Shafiya sekarang sudah berada di kamar mewah milik Arash, kamar pria pada umumnya, terlihat luas dengan ranjang king size, teras yang cukup luas kamar mandi dan lemari yang begitu panjang dengan dominan berwarna biru.
Arash tidak ada di sana dan tadi saat Shafiya memasuki kamar itu ternyata dibantu oleh asisten rumah tangga karena memang tidak mengetahui di mana kamar suaminya.
Bersambung.....