Seorang Kaisar Abadi yang berkuasa dan ditakuti di seluruh alam semesta dikhianati dan dibunuh oleh orang-orang terdekatnya. Namun, alih-alih jiwanya hancur, ia terbangun kembali sebagai seorang pemuda tak berguna di sebuah klan kecil yang hampir punah, ribuan tahun di masa depan. Dengan semua ingatan dan pengetahuannya yang luas dari kehidupan sebelumnya, ia memulai kembali perjalanan kultivasinya. Kali ini, ia tidak akan mengulangi kesalahan yang sama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24: Guncangan di Lembah Batu Tujuh
Jari-jari Arga baru saja menyentuh permukaan liontin berbentuk bulan sabit itu ketika dunia di sekelilingnya bergetar hebat. Bukan gempa biasa—ini adalah getaran yang berasal dari dalam bumi sekaligus dari dalam dirinya sendiri. Liontin di balik bajunya—yang berbentuk lingkaran—tiba-tiba memanas, berdenyut liar seperti jantung yang baru saja disengat listrik.
"Apa yang kau lakukan?!" Suara Sinta terdengar dari kejauhan, tenggelam oleh suara gemuruh batu-batu yang bergeser.
Arga ingin melepaskan tangannya, tapi tidak bisa. Liontin bulan sabit itu seolah menempel di telapak tangannya, mengalirkan energi yang tidak bisa ia hentikan. Energi itu mengalir melalui lengannya, menuju dadanya, dan bertemu dengan liontin lingkarannya sendiri. Dua energi dari dua pecahan Liontin Langit bertabrakan di dalam tubuhnya.
Sakit.
Rasa sakit yang tidak bisa ia deskripsikan. Seolah-olah seluruh sel di tubuhnya direnggangkan dan disatukan kembali secara bersamaan. Benang Emas di Dantian-nya berdenyut kencang, mencoba menstabilkan aliran energi yang kacau. Pandangannya berkunang-kunang. Suara gemuruh di sekelilingnya semakin keras.
Dan di tengah kekacauan itu, ia melihat sesuatu.
Visi.
Seorang wanita berdiri di puncak menara yang menjulang ke langit. Rambutnya hitam panjang, berkibar tertiup angin yang tidak wajar. Wajahnya... wajahnya mirip dengan wanita dalam potret yang pernah dilihat Arga di kamar ibunya. Tapi lebih muda. Jauh lebih muda.
Di tangannya, tiga liontin bersatu. Lingkaran, bulan sabit, dan bintang. Ketiganya menyatu menjadi satu bentuk sempurna—sebuah mandala cahaya yang berputar perlahan.
"Maafkan aku," bisik wanita itu. "Aku harus memisahkan mereka. Demi keselamatan semua."
Cahaya membutakan. Lalu visi itu menghilang.
---
"ARGAAA!"
Suara Sinta membentaknya kembali ke kenyataan. Arga tersadar. Ia masih di Lembah Batu Tujuh. Liontin bulan sabit kini berada di genggamannya, tidak lagi menempel. Energinya sudah stabil, berdenyut pelan seirama dengan liontin lingkarannya.
Tapi lembah di sekelilingnya telah berubah.
Tujuh batu raksasa yang tadinya berdiri melingkar kini retak-retak. Beberapa bahkan pecah menjadi tumpukan puing. Tanah di bawah kaki Arga rekah, mengeluarkan uap panas dari dalam bumi. Pohon-pohon di sekeliling lembah tumbang, akar-akarnya tercabut dari tanah.
"APA YANG TERJADI?!" Sinta berlari mendekatinya, pedangnya masih terhunus. Wajahnya—yang biasanya datar dan dingin—kini menunjukkan sesuatu yang jarang terlihat: keterkejutan.
"Aku... tidak tahu." Arga menatap liontin di tangannya. "Aku hanya menyentuhnya, lalu..."
"Lalu seluruh lembah hampir runtuh menimpa kita!" Sinta meraih lengannya dan menariknya. "Bicara nanti! Kita harus keluar dari sini! Sekarang!"
Mereka berlari. Di belakang mereka, batu-batu terus bergeser. Salah satu batu raksasa—yang tertinggi dari ketujuhnya—mulai miring. Perlahan, lalu semakin cepat, ia rubuh ke arah tengah lembah.
BRAK!
Debu dan serpihan batu beterbangan. Arga dan Sinta nyaris terkena, tapi Langkah Bayangan Bulan membawa Arga melesat keluar dari jangkauan reruntuhan. Sinta mengikutinya dengan kecepatannya sendiri.
Di luar lembah, tiga pemburu senior sudah menunggu. Mereka telah mengamankan dua tahanan—dua anggota Lingkaran Naga Hitam yang masih hidup. Tapi pria berjubah abu-abu tidak ada di antara mereka.
"Mana pemimpinnya?" tanya Sinta, napasnya masih memburu.
"Hilang," jawab salah satu pemburu. "Saat lembah berguncang, dia menghilang dalam asap hitam. Kami tidak bisa mengejarnya."
Sinta mengumpat pelan. Ia menatap Arga, lalu ke liontin di tangannya. "Itu penyebabnya?"
Arga mengangguk. "Pecahan Liontin Langit. Yang kedua."
"Berikan padaku."
Arga ragu sejenak. Tapi ia tahu menolak hanya akan menimbulkan kecurigaan. Ia menyerahkan liontin bulan sabit itu pada Sinta.
Wanita itu mengamatinya. Liontin itu tampak biasa sekarang—hanya sepotong giok ungu tua berbentuk bulan sabit, tanpa kilauan atau denyutan. Tapi Sinta bisa merasakan ada sesuatu di dalamnya. Sesuatu yang berat. Sesuatu yang... hidup.
"Kita bawa ini ke Darmaji," katanya akhirnya. "Dia yang akan memutuskan."
---
Perjalanan kembali ke markas dilakukan dalam keheningan. Dua tahanan dibawa dengan tangan terikat dan mulut disumpal. Arga berjalan di belakang, pikirannya berkecamuk.
Visi tadi. Wanita di menara. "Aku harus memisahkan mereka." Itu pasti leluhurnya. Mungkin ibunya sendiri, di masa muda. Atau seseorang dari garis keturunan yang sama.
Dan tiga liontin itu—lingkaran, bulan sabit, bintang—adalah tiga pecahan Liontin Langit. Satu sudah di tangannya (lingkaran, dari ibunya). Satu lagi kini di tangan Sinta (bulan sabit). Dan yang terakhir... bintang. Masih hilang.
Apa yang terjadi jika ketiganya bersatu?
Ia teringat kata-kata dalam kitab warisan: "Saat ketiganya disatukan, gerbang akan terbuka." Gerbang ke Langit Kesepuluh. Tapi visi tadi menunjukkan wanita itu justru memisahkan mereka. "Demi keselamatan semua." Berarti menyatukan mereka membawa bahaya.
Bahaya apa?
---
Markas Ordo Pemburu Bayangan menyambut mereka dengan keheningan yang tidak biasa. Darmaji sudah menunggu di ruang utama, wajahnya serius. Entah bagaimana, ia sudah tahu sesuatu telah terjadi.
"Laporkan," katanya singkat.
Sinta menceritakan semuanya. Pria berjubah abu-abu. Peti berisi liontin. Sentuhan Arga yang memicu guncangan. Pemimpin musuh yang menghilang. Ia meletakkan liontin bulan sabit di atas meja batu.
Darmaji menatap liontin itu lama. Lalu menatap Arga.
"Kau menyentuhnya, dan seluruh lembah berguncang."
"Ya."
"Kenapa?"
Arga menatapnya balik. "Aku tidak tahu."
"Kau berbohong." Suara Darmaji tenang, tapi tajam. "Tapi tidak apa-apa. Aku sudah menduga kau menyembunyikan sesuatu sejak awal." Ia bangkit dan berjalan mendekati Arga. "Tapi sekarang, rahasiamu hampir membunuh timku. Hampir membunuhmu sendiri. Jadi aku akan bertanya sekali lagi: apa yang sebenarnya terjadi saat kau menyentuh liontin itu?"
Keheningan memenuhi ruangan. Sinta dan tiga pemburu lainnya menatap Arga. Dua tahanan—meski mulut mereka disumpal—ikut menatap dengan mata penuh rasa ingin tahu.
Arga menghela napas panjang. Ia tahu momen ini akan datang. Ia hanya tidak menyangka akan secepat ini.
Ia merogoh balik bajunya dan mengeluarkan liontin lingkarannya sendiri. Liontin giok ungu gelap itu berdenyut pelan di telapak tangannya, dan saat cahaya obor kristal menerpanya, semua orang di ruangan bisa melihatnya.
"Karena aku juga punya satu."
hancurkan dia Arga
Lanjutt