Sinopsis / Deskripsi
Adella hanyalah seorang perempuan sederhana yang menjalani hidup dengan ritme yang tenang—mungkin terlalu tenang hingga terasa hampa. Kesehariannya berubah ketika ia bertemu dengan sosok pendidik yang karismatik, seseorang yang menawarkan "kehangatan" dan perhatian yang belum pernah Adella rasakan sebelumnya.
Bagi Adella, guru ini adalah pelindung, tempatnya bersandar dari kerasnya dunia. Namun, di balik tutur kata yang lembut dan tatapan yang menenangkan, tersimpan rahasia gelap yang tersusun rapi di balik dinding rumahnya yang sunyi.
Satu per satu kejanggalan mulai muncul. Perhatian yang semula terasa manis perlahan berubah menjadi obsesi yang menyesakkan. Adella segera menyadari bahwa kehangatan yang ia dambakan bukanlah sebuah pelukan, melainkan sebuah jerat. Di dunia yang penuh intrik ini, Adella harus memilih: tetap terbuai dalam kenyamanan yang semu, atau melarikan diri sebelum ia menjadi bagian dari koleksi rahasia sang guru.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Malam sebelum hari Sabtu terasa begitu panjang. Adella menghabiskan waktunya dengan menggeledah kamarnya sendiri. Ia tidak mencari barang yang hilang, melainkan memastikan tidak ada "mata" tambahan di sana. Ia memeriksa sela-sela bingkai foto, bagian bawah meja, hingga ke dalam boneka beruang tua di pojok kasur.
Nihil. Setidaknya untuk saat ini, rumahnya masih menjadi zona aman.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah balasan masuk dari nomor tak dikenal.
Nomor Tak Dikenal: Siapa kamu? Dari mana kamu mendapatkan barang itu? Jangan main-main, ini sudah tiga tahun.
Adella menarik napas panjang. Jarinya menari di atas layar.
Adella: Saya siswinya sekarang. Saya punya bros burung walet perak dengan inisial N.A. di belakangnya. Besok jam 10 pagi, saya akan bertemu dengannya di perpustakaan kota. Datanglah, tapi jangan terlihat. Pantau dari jauh.
Tidak ada balasan lagi setelah itu. Adella mematikan ponsel rahasianya, melepas baterainya, dan menyembunyikannya di dalam lipatan kaus kaki yang paling dalam.
Sabtu, 10.00 WIB.
Perpustakaan kota adalah gedung tua berlantai tiga dengan arsitektur kolonial yang langit-langitnya tinggi. Suaranya selalu diredam oleh rak-rak kayu jati yang masif dan aroma kertas lapuk yang menyengat. Lantai dua, bagian referensi, adalah tempat yang paling jarang dikunjungi karena isinya hanya ensiklopedia tua dan mikrofilm.
Adella melangkah menaiki tangga kayu yang berderit. Ia mengenakan kardigan rajut berwarna krem dan rok panjang sederhana—penampilan "gadis polos" yang sempurna. Namun, di dalam tas selempangnya, ia membawa alat perekam yang sudah menyala dan sebuah semprotan merica kecil yang ia selipkan di saku kardigan.
Di sudut ruangan, dekat jendela besar yang tertutup gorden beludru berat, Pak Adwan sudah duduk. Ia tidak mengenakan seragam guru. Pria itu memakai sweater turtleneck hitam yang membuatnya terlihat seperti kurator seni yang elegan sekaligus predator yang tenang.
Di depannya, sebuah buku tebal bersampul kulit hitam tergeletak.
"Tepat waktu. Saya selalu menghargai kedisiplinan, Adella," ujar Pak Adwan tanpa mendongak dari bukunya.
Adella mendekat, menarik kursi di hadapannya. "Maaf membuat Bapak menunggu."
Pak Adwan menggeser buku itu ke arah Adella. The Collector karya John Fowles. "Bacalah bagian yang sudah saya tandai. Tentang bagaimana seorang pria mencoba menjaga keindahan yang ia cintai dengan cara mengoleksinya. Mirip dengan bagaimana saya melihatmu."
Adella membuka buku itu. Di halaman yang ditandai, ada selembar pembatas buku berupa pita sutra merah. "Ini tentang menculik seseorang untuk dicintai, kan Pak? Bukankah itu egois?" tanya Adella sambil menatap mata Pak Adwan, matanya terlihat jernih namun otaknya sedang memetakan posisi pintu keluar.
Pak Adwan tersenyum tipis, kali ini senyumnya terasa lebih berani karena mereka tidak berada di sekolah. "Egois bagi dunia, tapi suci bagi sang pencinta. Dunia luar hanya akan merusak gadis sepertimu, Adella. Kamu butuh wadah yang tepat untuk tetap bersinar."
"Seperti Nadia?"
Pertanyaan itu meluncur begitu saja dari bibir Adella dengan nada yang sangat tenang, seolah ia hanya menanyakan nama seorang teman sekelas.
Suasana mendadak beku. Bunyi jam dinding di kejauhan terdengar seperti dentuman palu.
Gerakan tangan Pak Adwan yang sedang merapikan lengan sweater-nya terhenti. Pupil matanya mengecil selama satu fraksi detik sebelum kembali normal. Sebuah reaksi mikro-ekspresi yang hanya bisa ditangkap oleh pengamat setajam Adella.
"Nadia?" Pak Adwan mengulang nama itu, suaranya tetap stabil namun ada nada tajam yang terselip. "Siapa itu?"
Adella memiringkan kepalanya, berpura-pura bingung. "Oh, kemarin saat map Bapak jatuh, saya melihat nama itu. Saya pikir dia murid teladan Bapak yang dulu. Saya hanya ingin menjadi sehebat dia agar Bapak bangga."
Pak Adwan menatap Adella lama sekali. Ia seolah sedang mencoba membedah apakah gadis di depannya ini benar-benar naif atau sedang bermain api.
"Dia hanya masa lalu, Adella. Masa lalu yang... tidak berakhir dengan baik karena dia tidak patuh," Pak Adwan memajukan tubuhnya, tangannya terjulur ke atas meja, hampir menyentuh jemari Adella. "Jangan jadi seperti dia. Tetaplah menjadi Adella yang penurut."
Saat itu, dari sudut matanya, Adella melihat siluet seorang pria jangkung berbaju jaket gelap di balik rak buku ensiklopedia, beberapa meter dari mereka. Pria itu memegang ponsel, seolah sedang mengambil foto.
Itu pasti kakak Nadia.
Adella merasakan kemenangan kecil, namun ia tahu ia sedang berada di posisi paling berbahaya sekarang. Pak Adwan tiba-tiba berdiri.
"Ayo, Adella. Ruangan ini mendadak terasa terlalu menyesakkan. Saya ingin menunjukkan sesuatu di mobil saya. Saya punya koleksi foto-foto referensi sastra yang pasti kamu suka."
Itu dia. Tahap isolasi dimulai. Pak Adwan ingin membawanya ke ruang tertutup miliknya sendiri.
"Sekarang, Pak?" Adella berdiri, tasnya tersampir erat di bahu. "Tapi saya belum selesai melihat buku ini."
"Buku itu bisa kamu bawa pulang. Mari, mobil saya diparkir di area belakang yang sepi," tangan Pak Adwan kini mencengkeram lengan atas Adella. Tidak keras, tapi cukup kuat untuk memberi tahu bahwa penolakan bukanlah pilihan.
Adella melirik ke arah rak buku tempat kakak Nadia tadi berada. Pria itu sudah menghilang dari pandangan. Jangan tinggalkan aku sekarang, bisik Adella dalam hati.
"Baik, Pak. Saya ikut," jawab Adella pelan.
Saat mereka berjalan menuju tangga belakang yang gelap dan jarang dilewati, Adella merogoh saku kardigannya. Ia memastikan semprotan merica itu siap, dan jarinya menekan tombol send di ponselnya yang sudah ia siapkan di kantong—sebuah pesan berisi lokasi GPS terkininya.
Permainan slow burn ini baru saja berubah menjadi pengejaran maut.
Langkah kaki Pak Adwan di tangga kayu yang gelap itu terdengar begitu berwibawa, namun bagi Adella, setiap detaknya seperti hitung mundur menuju bahaya. Cengkeraman tangan Pak Adwan di lengannya tidak lagi terasa seperti bimbingan seorang guru; itu adalah cengkeraman seorang pemilik yang tak ingin asetnya lepas.
Cengkeraman tangan Pak Adwan di lengan Adella terasa semakin dingin, seolah-olah pria itu bukan lagi manusia, melainkan mesin yang sedang menggiring mangsanya masuk ke dalam kotak penyimpanan. Tangga belakang perpustakaan itu terbuat dari semen kasar, lembap, dan minim cahaya. Suara langkah sepatu pantofel Pak Adwan bergema dengan ritme yang sangat teratur—terlalu teratur untuk seseorang yang baru saja mendengar nama korbannya disebut.
Happy reading ini novel ku terbaru
Jika ada kesalahan atau dialog tidak Nyambung tolong koreksi ya
see you later
happy great day
happy soon