NovelToon NovelToon
Maduku Teman Kerjaku

Maduku Teman Kerjaku

Status: sedang berlangsung
Genre:Poligami / Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:13.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Bismillah ....

14 tahun menikah tanpa dikarunia anak dan hari ini aku mendengar kabar jika suamiku menikah siri dengan selingkuhannya yang sudah memiliki anak darinya

Seluruh tubuhku mendadak bergetar nyaris limbung ke tanah. Entah apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Namun yang membuat dadaku lebih sakit lagi ternyata wanita yang dinikahi suamiku merupakan rekan kerjaku, perempuan yang dulunya selalu usil dengan kondisiku yang sudah puluhan tahun tidak bisa memberikan anak.
Di saat semua orang menuntutku menerima keadaan, aku memilih bertahan. Bukan untuk mengalah… tapi untuk membuktikan bahwa aku tidak selemah yang mereka kira.
Namun tanpa kusadari, perlahan ada hal lain yang mulai mengusik pikiranku. Mimpi-mimpi aneh, perasaan kehilangan yang tak bisa dijelaskan, hingga sebuah pertemuan tak terduga dengan seorang anak kecil yang memanggilku “Mama”.
Seolah… ada bagian dari hidupku yang selama ini disembunyikan.
Dan semakin aku bertahan di rumah itu, semakin banyak rahasia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Setelah kepergian wanita tadi, rumah ini benar-benar sunyi, Sintia sedikit menghela nafas lega meskipun ia tahu masalah belum selesai begitu saja.

Ia berdiri cukup lama di ruang tamu. Tatapannya kosong, tapi pikirannya berisik. Bagaimana jika rencananya kali ini gagal? Bagaimana jika Adinda mengetahui terlebih dahulu? Tangannya tanpa sadar mengepal.

“Tidak boleh,” bisiknya pelan. “Semuanya harus tetap seperti ini.”

Namun sebelum ia sempat menenangkan diri sepenuhnya— Suara langkah kaki terdengar dari luar lalu disusul suara pintu terbuka.

Ceklek.

Sintia langsung menoleh.

Airin masuk lebih dulu, diikuti Arya di belakangnya, sementara Luna berjalan sambil menggendong anaknya yang tampak sudah mengantuk. Dari cara mereka berpakaian, jelas mereka baru saja menghadiri sebuah acara.

“Tadi rame banget, sumpah,” celetuk Airin sambil melepas sepatu.

“Iya, apalagi pas bagian—” ucap Luna, tapi terhenti saat melihat Sintia berdiri diam di ruang tamu.

Langkah mereka melambat, Arya mengernyit pelan. “Bu?” panggilnya.

Sintia tersentak sedikit, seolah baru kembali dari pikirannya sendiri. “Kalian… sudah pulang?”

“Iya,” jawab Arya pelan, matanya meneliti wajah ibunya. “Ibu kenapa?”

Sintia langsung menggeleng cepat. “Gak apa-apa.”

Tapi wajahnya yang pucat dan tegang tidak bisa disembunyikan. Dan jelas seperti baru saja menghadapi sesuatu.

Airin dan Luna saling melirik sebentar, menangkap hal yang sama.

Arya melangkah mendekat. “Serius, Bu… Ibu kenapa?” suaranya lebih rendah sekarang.

Sintia menelan ludah. “Cuma capek.”

“Capek kayak orang ketakutan gitu?” tanya Arya tanpa basa-basi.

Kalimat itu membuat suasana langsung berubah, Sintia terdiam beberapa detik, ia tidak tahu harus cerita dengan siapa? Karena masalah ini benar-benar hanya dia yang tahu.

Ketidaksukaannya dengan Adinda membuatnya harus bersekongkol dengan seseorang yang merupakan ibu tiri dari Adinda.

"Kok Ibu mendadak aneh gitu, lain kali kalau kita keluar ajak saja, takutnya seperti ini lagi," ucap Arya seolah di rumah ini tidak ada wanita lain yang semestinya harus ia utamakan selain ibunya.

“Enggak ada apa-apa kok,” potong Sintia segera.

Arya menyipitkan mata. “Apa Ibu habis bertengkar lagi sama Dinda?"

"Tidak, Dinda ada barusan ia datang dan langsung masuk ke dalam kamar," sahutnya dengan cepat.

"Lalu kenapa?" tanya Arya kembali.

"Sudah dibilang Ibu hanya kecapean saja, ya sudah kalau gitu Ibu mau ke kamar dulu," ucapnya seolah tidak mau diintrogasi lebih dalam oleh anaknya.

Arya sedikit bingung dengan sikap ibunya yang tiba-tiba berubah, entah apa yang dirasa pria itu, sepertinya ibunya itu tengah menyembunyikan sesuatu yang teramat besar dari dirinya.

"Ada apa lagi ini, jangan sampai Ibu berantem lagi sama Adinda," gumamnya pelan.

☘️☘️☘️☘️

Sementara di sisi lain. Adinda duduk di tepi ranjangnya, punggungnya bersandar pada dinding. Lampu kamar hanya menyala redup, cukup untuk menerangi wajahnya yang tampak lelah tapi pikirannya jelas belum berhenti.

Tangannya masih memegang ponsel. Layar terbuka pada catatan yang Naya tunjukkan tadi siang.

Lima tahun lalu, itu bukan waktu yang sedikit, bahkan di waktu itu ia mengingat sendiri bagaimana dirinya menjalin hubungan dengan Arya, tapi kenapa bisa ia kaitkan dengan sesuatu yang tidak bisa ia ingat sama sekali.

Adinda memejamkan mata. entah kenapa bayangan itu tiba-tiba muncul dalam pikirannya, tapi sekilas—hanya sekilas, seperti numpang lewat. Cahaya putih dan suara alat medis, serta tangisan bayi.

Matanya langsung terbuka. “Ya Allah…” bisiknya pelan.

Tangannya tanpa sadar berpindah ke perutnya sendiri, kosong, tidak ada apa-apa. Tapi entah kenapa dadanya terasa sesak.

Seolah tubuhnya mengingat sesuatu… yang pikirannya tolak, lalu tiba-tiba ponselnya bergetar lagi.

Nama Naya muncul di layar. Adinda langsung mengangkat.

“Din,” suara Naya terdengar lebih cepat dari biasanya. “Aku dapet akses ke rumah sakit itu.”

Jantung Adinda langsung berdegup kencang.

“Maksud kamu… kita bisa ke sana?” tanyanya pelan.

“Bisa,” jawab Naya. “Tapi gak lama. Data lama kayak gitu biasanya sensitif.”

Adinda terdiam beberapa detik, ini yang ia cari siapa tahu dari tempat itu ia bisa mengingat sesuatu yang terlewatkan begitu saja. Tapi di sisi lain ia juga merasa takut.

Takut jika tidak bisa menghadapi kenyataan yang ada.

“Kapan?” tanyanya akhirnya.

“Besok pagi." Adinda sedikit menghela nafas pelan.

Naya melanjutkan, lebih pelan, lebih hati-hati. “Din… kalau kamu belum siap—”

“Aku harus siap,” potong Adinda cepat.

Entah dorongan dari mana hingga membuatnya berani mengambil keputusan besar itu bahkan tidak ada ragu di suaranya kali ini,

Hanya tekad, karena untuk pertama kalinya. Ia merasa hidupnya mungkin bukan seperti yang ia ingat.

Setelah mendapat telepon dari Naya Adinda menurunkan kepalanya ke bantal menatanya ia paksa untuk terpejam, namun belum lama kemudian suara ketukan pintu terdengar.

"Boleh aku masuk Din," suara Arya terdengar pelan.

Adinda tidak menyahuti namun pria itu tetap membuka meskipun tanpa ada sahutan.

"Sudah tidur Din?" tanya Arya.

Adinda langsung membuka matanya dengan malas. "Aku capek Mas, kalau mau bicara besok saja."

"Bagaimana aku bisa bicara Din," ucapnya lagi. "Wong kamu seperti tidak ada waktu padahal aku masih suamimu."

"Suami? Mungkin bagimu, tapi bagiku kamu bukan suami lagi," sahutnya datar.

"Jangan keras kepala, biar bagaimanapun kamu masih punya kewajiban melayani aku," ujarnya pelan.

Sementara Adinda sedikit tersenyum pahit. "Melayani? Kalau begitu tunaikan dulu kewajibanmu, sudah hampir setahun kamu tidak menafkahi ku, masih untung aku baik, eh kamu malah belagu sok-sokan selingkuh, sekarang nikmati saja hidupmu."

Arya terdiam sejenak, rahangnya mengeras sebelum akhirnya berucap pelan, “Kamu pikir semua yang terjadi itu cuma salah aku?”

"Iya terus maumu salah aku gitu, kalau begitu keluar dari kamarku sebelum aku ngamuk, belum tahu kan aku ngamuk!" sarkas Adinda.

Arya pun tidak bisa apa-apa lagi kakinya mulai melangkah meskipun rasanya berat, ingin sekali ia menceritakan keluh kesahnya karena selama ini Adinda selalu menjadi pendengar yang baik. Tapi wanita itu berubah karena ulahnya sendiri.

🍀🍀🍀🍀🍀

Keesokan paginya..

Langit masih pucat ketika mobil yang ditumpangi Adinda berhenti di depan sebuah bangunan besar.

Rumah sakit itu tampak biasa dari luar, tidak terlalu ramai, tapi juga tidak sepi. Tapi entah kenapa langkah Adinda terasa lebih berat saat turun.

Ia berdiri sejenak menatap bangunan itu lama, perasaan aneh mulai bermunculan, tempat ini seperti tidak asing, tapi juga tidak benar-benar ia kenali.

“Din?” Suara Naya menyadarkannya.

Adinda menoleh. Naya sudah berdiri di sampingnya, membawa map tipis di tangan, namun pikiran Adinda masih dipenuhi dengan hal-hal yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

"Perasaan apa ini?" batin Adinda.

“Masih mau lanjut?” tanya Naya pelan.

Adinda menelan ludah, lalu mengangguk.

“Iya.”

Langkah pertama terasa ringan, lalu menyusul langkah kedua mulai berat. Dan saat pintu otomatis terbuka. Udara khas rumah sakit langsung menyambut.

Bau antiseptik, suara langkah kaki. Dan ingatan sekilas itu mulai muncul kembali memenuhi pikirannya.

Deg.

Adinda berhenti mendadak.Tangannya refleks mencengkeram lengan Naya.

“Naya…” bisiknya.

Naya langsung menoleh. “Kenapa?”

Adinda menatap lurus ke depan.

Matanya mulai berkaca-kaca. “Aku… pernah ke sini.”

Kalimat itu keluar tanpa ia rencanakan. Dan hal itu benar-benar membuat Naya spontan membulatkan matanya.

Bersambung .....

1
cinta semu
penasaran yg ngasih info sm Bu Sintia sapa ya🤔mg bkn Naya saja ...Krn hampir mirip kode ny
Sugiharti Rusli
ah semakin degdeg an gatuh menunggu ke mana Adinda akan bergerak dan gimana dia mencegah usaha musuh" nya nanti
Sugiharti Rusli
sepertinya Adinda juga harus bersikao waspada yah, apalagi dia memiliki ibu mertua yang disinyalir bagian dari orang yang turut mencelakainya dulu
Sugiharti Rusli
tapi Adinda sekarang juga tidak aman dalam penyelidikannya, bahkan mungkin itu saudara tirinya juga sudah menebar ancaman dengan mengikuti pergerakannya
Sugiharti Rusli
makanya dia membuat pertahanan demi kebaikan sang putri dan juga cucunya sih, meski belum tahu apa yang direncanakan oleh istrinya,,,
Sugiharti Rusli
ternyata sang ayah sudah tahu kelemahan putrinya yang mudah dikendalikan yah ini
Oma Gavin
ternyata hidup adinda dilingkungan toxic dan haus harta semoga semua dilancarkan sampai semua hak adinda didapatkan
Suanti
apa jgn2 naya sekongkol dgn mereka 🤭
Sugiharti Rusli
ah penasaran sama berkas yang ditunjukan oleh asisten ayahnya itu, kira" tentang apa yah kalo bukan tentang perusahaan,,,
Sugiharti Rusli
jadi penasaran apa yah maksud ayah Adinda agar dia dijauhkan sementara dari semuanya saat dia tidak ingat masa itu🙄
Sugiharti Rusli
kalo si Sintia sampai pura" mendekati Adinda, itu malah bagus kan bagi Adinda bergerak tanpa dia sadari,,,
Sugiharti Rusli
memang bisa dilihat perubahan strategi yang Adinda lakukan sih terhadap suami dan keluarganya, meski mereka juga ada curiga tapi tidak tahu apa
Sugiharti Rusli
karena sepertinya ibunya si Sinta belum sekali buka mulut ke putranya,,,
Sugiharti Rusli
si Arya tidak/belum berubah karena memang dia tidak tahu sama sekali atau menyembunyikan sesuatu yah,,,
Nar Sih
kira,,apa isi dlm map itu yaa ,lanjutt kak
Nar Sih
lsnjutt kakk👍
Nana Geulise
jangan yang telp sama sintia adalah naya..🤔🤔🤔.jadi naya juga terlibat cuma naya mau tahu dinda simpan hartanya sama siapa🤔...kalau naya terlibat hancurkan srmuanya dinda jangan kasih ampum/Panic/
Ayumarhumah: bukan Kak ...
total 1 replies
Sugiharti Rusli
apalagi si Arya juga tidak tahu kalo istrinya pernah hamil dan melahirkan anaknya, yang di sana warisan itu sangat besar kalo dia tahu,,,
Sugiharti Rusli
dan dia malah ikut menjadi orang yang membiarkan menantunya tidak ingat periode dia hamil dan melahirkan
Sugiharti Rusli
logikanya yah dia membuat si Dinda tidak ingat pernah hamil dan melahirkan cucunya, yang notabene itu jalan tol kalo dia tahu,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!