NovelToon NovelToon
BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA

BANGKITNYA KEKUATAN LEGENDA

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Fantasi Timur / Kultivasi
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Mochamad Fachri

Seorang siswa culun yang hidupnya selalu di warnai luka dan derita, ternyata memiliki garis keturunan dewa kultivator. Ia belum menyadarinya hingga suatu hari, ia nyaris tewas karena di keroyok oleh siswa lainnya yang tak suka kepadanya.

Di saat ia sekarat, seorang gadis cantik membawanya masuk ke dalam sebuah dimensi yang jauh dari peradaban manusia.

Namun, tentu saja hal itu membuatnya menjadi bingung saat tersadar, ia menganggap dirinya sudah mati, lalu bagaimana cara ia memulai kembali kehidupannya di dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5 Siapa mereka?

“APA!”

Semua orang terkejut, begitu bola basket itu tepat mendarat di tangan Nova. Termasuk Dion, orang yang sengaja melempar bola basket ke arahnya.

Nova refleks berdiri, lalu menoleh ke arah belakang dengan tatapan yang dingin sehingga membuat Dion langsung membeku di tempatnya.

“D-dia kenapa?” ucap Dion di dalam hatinya, bahkan untuk menelan ludah pun terasa berat.

Agus yang berada di sampingnya ikut bergetar saat melihat tatapan Nova yang langsung tertuju ke arah mereka.

“Si culun aneh...” ucap Agus dengan suara yang bergetar.

Nova masih berdiri sambil memegang bola basket dan memutar-mutar bola di atas jari telunjuknya, hal itu membuat suasana menjadi senyap dan mencekam.

Nova tersenyum miring lalu melempar bolanya ke arah Dion dengan cepat sehingga saat bola itu menghantam dada Dion tubuhnya langsung terhempas.

Brak!!

“Uhuk!”

Semua orang terdiam, suasana kantin yang biasanya bising dengan denting sendok dan tawa siswa, seketika berubah menjadi senyap seolah oksigen di sana baru saja disedot habis. Bau kuah bakso dan aroma es jeruk yang tadinya menggoda, kini tertutup oleh ketegangan yang pekat.

Aruna dan Kinan, yang duduk tepat di hadapan Nova, masih mematung dengan mulut setengah terbuka. Tetesan jus alpukat di sedotan Kinan jatuh ke meja tanpa ia sadari. Mereka mengenal Nova sebagai pemuda yang hanya menunduk jika dibentak, si 'Culun' yang tidak akan melawan bahkan jika makanannya dicuri.

Tapi hari ini, Nova yang mereka lihat bukan lagi Nova yang sama.

Aruna memperhatikan jemari Nova yang tadi memutar bola dengan presisi yang mustahil bagi seorang pemula. Ada aura dingin yang menyelimuti pemuda itu, sesuatu yang muncul setelah dia menghilang secara misterius selama tiga hari dan kembali dengan bekas luka kecil di balik telinganya.

"Nova... kamu..." suara Kinan tercekat di tenggorokan.

Nova tidak menjawab. Ia melangkah tenang melewati meja-meja kantin menuju Dion yang masih tersungkur di lantai, memegangi dadanya yang terasa sesak. Setiap langkah Nova menciptakan bunyi ketukan sepatu yang berirama, mendominasi kesunyian.

Nova berhenti tepat di depan Dion yang masih terbatuk-batuk. Ia berjongkok, menatap Dion dengan pandangan datar yang jauh lebih mengerikan daripada kemarahan.

"Dion," suara Nova rendah, namun menggema di setiap sudut kantin. "Apa yang kamu tanam, maka itu yang akan kamu tuai."

Dion seketika terdiam, mulutnya seakan terkunci tak seperti biasanya ia selalu memaki dan mengejek pemuda di hadapannya itu.

Nova kemudian berdiri, entah kenapa ia merasakan sesuatu yang bergejolak di dalam dirinya, sesuatu yang mendorongnya untuk melakukan hal itu.

“Sial! Awas aja lo Nova,”

***

Setelah kejadian di kantin tadi Nova memilih menuju ke taman sekolah, di ikuti oleh Aruna dan Kinan. Nova hanya membiarkan keduanya tanpa melarang ataupun meminta keduanya untuk menjauh.

Sesampainya di taman, Nova duduk dengan sebotol es teh dingin di tangannya. Aruna dan Kinan ikut duduk di sebelahnya.

Tanpa disadari oleh Nova, beberapa siswa laki-laki dan perempuan memperhatikannya dari arah lantai dua gedung sekolah. Wajah mereka terlihat berbeda dengan wajah siswa lainnya, terlihat lebih tampan dan cantik, tapi... kulit mereka sedikit pucat, dan mereka cenderung menjauh dari siswa lainnya.

Dua gadis berambut hitam legam bersandar di tembok sambil memperhatikan Nova di taman, dan Tiga pemuda tinggi dan tampan menyandarkan tangannya ke pembatas balkon sambil melihat dan mengamati sosok Nova.

“Apa kalian merasakan nya juga?” ucap salah satu dari mereka.

Salah satu gadis yang berambut pendek, menjawab sambil melangkah ke arah balkon.

“Yaa, aku rasa memang dia orangnya. Kita harus memastikannya dulu, sebelum membawanya ke hadapan nona Zoya,” ucapnya.

Yang lainnya mengangguk setuju, lalu kembali memperhatikan Nova yang sedang berada di taman.

Kembali ke Nova yang sedang menenggak habis minumannya.

“Nova, apa kamu yakin, kamu baik-baik aja?” tanya Aruna mencoba meyakinkan kembali.

Nova menoleh sambil tersenyum, ekspresinya itu jauh di bandingkan saat dirinya di kantin. Hal itu membuat Aruna dan Kinan saling bertukar pandang.

“Tentu saja aku baik-baik saja, memangnya kenapa?” jawabnya santai walaupun sebenarnya ia juga sedikit heran, mengapa ia dapat melakukan itu bahkan untuk memegang bola basket saja ia takut, takut jika orang-orang akan mengejeknya.

Namun, tadi saat di kantin Nova merasakan sesuatu yang aneh pada dirinya. Entah apa itu, sulit untuk di jelaskan oleh logikanya sendiri.

Aruna dan Kinan dibuat terdiam, saat mendengar jawaban Nova.

***

Jam pelajaran telah berakhir, semua murid membubarkan diri. Nova berjalan santai di koridor sekolah bersama Aruna di sampingnya, sementara Kinan sudah lebih dulu pulang bersama jemputannya.

“Nova, apa kamu mau ikut aku ke perpustakaan kota?” ucap Aruna dengan penuh harap.

Nova menoleh dengan santai lalu kembali memperhatikan jalan di depannya.

“Boleh, sekaligus aku mau mencari buku bacaan baru.”

Mendengar itu Aruna bersorak di dalam hatinya, Nova yang melihat perubahan ekspresi Aruna ikut tersenyum, ia tahu sudah bertahun sejak ia awal masuk sekolah mengabaikan sosok Aruna, dan baru menyadari bahwa Aruna begitu baik kepadanya jika mengingat semua kejadian di masalalu. Ia menjadi menyesal karena mengejar sosok Vanesha yang bahkan tak membalas sedikitpun perasaannya.

Nova duduk santai di jok belakang, bersama Aruna menuju perpustakaan kota. Sepanjang jalan ia terus memperhatikan pemandangan dari balik jendela.

“Ada sesuatu yang aneh di dalam tubuhku, sejak kejadian tempo hari.”

Aruna yang menyadari Nova hanya melamun, menepuk pundaknya dan membuat Nova langsung menoleh ke arahnya.

“Kenapa?”

Aruna pun tersenyum.

“Kenapa dari tadi kamu cuma diam aja?”

Nova terkekeh pelan sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.

“Ahh, itu ya. Aku cuma nggak biasa naik kendaraan mewah seperti ini,” jawab Nova dengan polosnya.

Sontak jawaban Nova membuat Aruna dan sopir pribadi Aruna tertawa. Nova yang melihat reaksi Aruna dan pak sopir langsung tersipu malu.

Menyadari perubahan ekspresi Nova, Aruna segera mengalihkan pembicaraan mereka.

“Nanti, kamu mau cari buku apa disana?” tanya Aruna.

Nova sejenak berpikir, banyak sebenarnya buku yang dia cari. Namun, ia tahu bahwa uang sakunya tidak akan cukup untuk membeli dua buku sekaligus, jikapun bisa ia harus mengorbankan uang tabungannya selama ini.

“Sepertinya fiksi ilmiah, aku suka membaca buku seperti itu.”

Aruna mengangguk pelan, ternyata Nova seorang yang jauh dari bayangannya. Kejeniusan dan kepintarannya selalu membuatnya kagum dari sisi manapun.

Sementara itu, di dimensi yang berbeda. Seorang gadis berambut putih dengan pakaian ketat mengkilap berwarna perak dengan garis putih di sisinya sedang terlihat bermeditasi. Ia membuka matanya secara perlahan dan menatap ke arah langit dimensi yang berwarna jingga.

Wajahnya tenang, cantik dan mata birunya yang indah akan membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona.

“Anak itu, harus segera ku latih.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!