NovelToon NovelToon
Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Dibakar Hidup-hidup: Profesor Balaskan Dendam Istri Jendral

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Romansa Fantasi
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: supyani

Di abad 21 aku Anna Chandrawathi, wanita karir yang dihormati.
> Satu kedipan, aku terbangun di tahun 1980 sebagai "si jelek"—istri yang dibenci Jendral Chandra, dikurung 5 tahun di gudang tua, dinyatakan mati terbakar.
> Tapi aku nggak mati. Aku melahirkan.
> Putraku cerdas, ayahnya Jendral yang membenciku.
> Aku bisa saja pergi. Tapi pemilik tubuh ini menitipkan satu pesan: "Bersihkan namaku."
> Maka aku akan keluar. Menghadapi selir-selir haus kuasa, ibu tiri licik, dan suami yang menganggapku sampah.
> Sebab kali ini, yang terbakar bukan aku. Tapi mereka.
> *Yuk ikuti kisahku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon supyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Profesor anindya?

“Profesor Anindya?”

Suara itu jatuh di tengah ruang tamu kayak granat yang lupa dicabut pinnya. Semua kepala nengok. Semua napas ketahan.

Di tengah kebingungan itu, Ratna langsung setel mode korban-nya. Dalam 0,5 detik wajahnya berubah dari ular jadi domba. Mata dibikin berkaca-kaca, bibir gemeter, bahu turun seolah dunia udah nggak adil sama dia sejak lahir. Jurus andalan: nelangsa level dewa.

“Nenek, syukurlah nenek datang. Selamatkan keluarga ini, Nek. Kita ditipu. Dia... dia mau ambil harta keluarga kita.” Ucap Ratna sambil nunduk-nunduk dramatis ke lantai marmer, tangannya gemeteran nunjuk Anna. Telunjuknya tepat, suaranya pas, air matanya tinggal nunggu aba-aba.

Sayang, lawannya bukan juri FTV.

Lawannya Nyai Ageng Kurniasari.

Nama itu bukan tempelan. Gelar “Nyai Ageng” dianugerahi langsung oleh Kaisar setelah Perang Kemerdekaan Kedua. Jabatannya di militer? Bukan jenderal meja. Bukan jenderal sidang. *Marsekal Besar.* Bintang lima. Satu-satunya perempuan yang punya.

Kurniasari bukan golongan militer abal-abal yang doyan motong pita. Dia berdirinya bukan di belakang meja mahoni. Bukan di depan barisan tentara yang lagi upacara.

Dia berdiri di barisan pertama. Di tengah medan perang. Di antara peluru sama tanah merah.

Wanita tangguh. Gagah. Berwibawa. Umurnya 70 tapi punggungnya lebih tegak dari letnan umur 25. Nggak ada yang tau persis udah berapa banyak penjajah yang ia kirim pulang tinggal nama. Nggak ada yang catat udah berapa banyak perang yang dia pimpin sebelum negara ini punya nama di peta.

Kurniasari itu anomali. Dia adil sampe bikin musuh segan. Jiwanya pahlawan sampe diabadikan di buku sejarah SD halaman 14. Dia bidadari di depan orang baik — suaranya bisa nenangin bayi nangis. Tapi dia iblis di depan musuhnya — tatapannya cukup buat bikin regu senapan lari kocar-kacir.

Dan sekarang, iblis itu lagi berdiri di ruang tamunya Chandra.

Ratna masih sujud. Nunggu belas kasihan.

Yang dia dapat? Risih.

Kurniasari bahkan nggak ngelirik. Matanya ngelewatin Ratna kayak ngelewatin keset. Fokusnya ngunci ke satu titik: perempuan ber-cheongsam merah yang berdiri kaku di pojok, Anna.

Tapi di bibir Kurniasari, nama yang keluar beda.

“Anindya…”

Bukannya kasihan, Kurniasari malah angkat dua jari. Kode kecil. Penjaga di belakang langsung maju, berdiri di sisi Ratna. Gesturnya jelas: *pegangin. Jangan sampe lepas.* Kaya nanganin binatang buas yang bisa ngamuk kapan aja.

Ratna ngangkat muka. Bengong. Ini nggak sesuai skenario.

Karena langkah Kurniasari malah nyelonong ninggalin dia. Nyamperin Anna. Langkahnya cepat buat ukuran nenek 70 tahun. Langkah orang yang nemu harta karun hilang.

Kaget. Seneng. Kecampur bahagia yang nggak bisa ditutupin wibawa militer.

Sementara Anna? Otak cerdasnya nge-hang. Bluescreen.

_Hah?_

Ibu bangsawan yang selama ini ia rawat di Klinik Rembulan Malam — yang suka ngeluh lututnya ngilu, yang doyan bubur sumsum, yang manggil dia “Neng” ternyata Nyai Ageng Kurniasari. Neneknya Chandra. Marsekal Besar. Manusia yang ada di buku sejarah.

Dunia Anna jungkir balik.

Belum sempat otaknya reboot, ada rudal kecil nyelonong.

Cikal.

Bocah itu kenal wajah keriput itu. Familiar. Wajah yang seminggu lalu ngasih dia permen kacang pas di klinik. Tanpa takut, tanpa segan, Cikal lari.

“Wanita cantik!” serunya kenceng. Terus langsung gelendotan di kaki Kurniasari. Meluk betis yang udah nendang seribu musuh. Kayak meluk nenek sendiri.

Satu ruangan nahan napas. Arjuna udah siap nyentak. Penjaga udah siap nyingkirin.

Tapi Kurniasari? Nggak nolak.

Malah ketawa. Renyah. Terus bongkok, gendong Cikal kayak nggak ada beban pangkat di pundak. “Cikal, ya? Si ganteng.” Ucapnya sambil kening ketemu kening, terus cipika-cipiki pipi bocah itu berkali-kali. Bau minyak kayu putih sama bubuk mesiu kecampur jadi satu.

Baru setelah puas cium Cikal, matanya balik ke Anna. Masih nyengir. Masih kaget.

“Anindya, kamu ngapain ke sini?” Tanyanya. Nada bingung, tapi buntutnya ada lega. Kayak nemu cucu yang hilang di pasar malam.

Anna cuma diem. Bibirnya mangap mau jawab, tapi kosakata cuti semua. Otak cerdasnya yang biasa ngerangkai 10 argumen dalam 3 detik, sekarang cuma muter loading.

_Anindya? Profesor? Apa-apaan ini?_

“Bu, emang kalian saling kenal? Ini Anna, bukan Anindya. Dia bukan Profesor.”

Arjuna yang nyela. Suaranya hati-hati, tapi penasaran pembaca udah sampai ubun-ubun.

Jawaban Kurniasari? Satu kata. Pelan. Tapi setajam sabel.

“Shut. Diam, Bocah.”

Arjuna langsung kicep. Nyali 1000 pasukan, tapi di depan ibunya, disuruh diem rasanya kayak ditembak di tempat. Dia mundur satu langkah. Tegak. Diam. Patuh.

Kurniasari nggak peduli. Dia jalan ke kursi tunggal ukir naga yang biasa didudukin Chandra. Duduk. Elegan. Punggung tegak. Cikal masih di pangkuan, mainin bintang lima di kerah bajunya.

Posenya persis ibu guru TK mau mendongeng. Tapi mata itu... mata itu lagi liat masa lalu.

Dia angkat dagu, natap Anna yang masih beku.

Terus bibirnya kebuka. Satu kalimat. Pelan. Tapi bikin satu ruangan lupa caranya napas.

1
Anne
kereeen thor.. bru ketemu ini td malam.. baca marathon.. eh udh kelar aja smp bab ini.. ditunggu y updateny thor..
Rosmawati
bgus cerita nya
lnjut thor
awesome moment
gubrak g c?
Anne
kopi thor... udh dikrm
supyani: makasih onty, yang betah ya sampe cikal gede.
total 1 replies
Rubi Yati
cikal keren😍😍😍
supyani: makasih onty😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!