''Semua laki-laki sama, termasuk kamu."
Duniaku hancur saat tahu Ayah punya keluarga lain. Malam itu juga, aku pergi meninggalkan rumah, kenangan, dan laki-laki yang paling mencintaiku tanpa satu pun kata pamit. Bagiku, cinta hanya sebuah kepalsuan.
Lima tahun berlalu, aku kembali sebagai wanita mandiri yang keras hati. Namun, takdir mempertemukanku lagi dengannya di sebuah persimpangan.
Dia tidak lagi mengejarku. Dia hanya memilih duduk di sampingku saat aku menangis, mendengarkan tanpa banyak tanya, dan menjagaku dari kejauhan.
Apakah aku sanggup membuka hati, saat bayang-bayang pengkhianatan Ayah masih menghantui? Bisakah aku berdamai dengan luka, jika memaafkan saja terasa begitu mustahil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Selasa pagi tiba terlalu cepat. Aku sudah duduk di ruang rapat kecil—sengaja kupilih ruangan yang lebih sempit agar pertemuan ini terasa cepat dan efisien. Namun, aku salah perhitungan. Ruangan sempit justru membuat keberadaan Farez terasa berkali-kali lipat lebih menyesakkan.
Pintu terbuka, dan Farez melangkah masuk. Hari ini dia tidak memakai jas formal, hanya kemeja biru navy dengan lengan yang digulung hingga siku. Penampilan yang jauh lebih santai, namun entah kenapa justru mengingatkanku pada sosoknya yang dulu sering menungguku di depan gerbang sekolah dengan motornya.
"Selamat pagi, Rana," sapanya. Suaranya rendah, soft-spoken, dan tetap memiliki daya pikat yang sama seperti lima tahun lalu.
"Pagi, Pak Farez. Bisa kita mulai?" jawabku tanpa basa-basi, langsung membuka tablet kerjaku.
Farez tidak langsung duduk. Dia berjalan memutari meja, lalu meletakkan sebuah kantong kertas kecil di depanku. Aroma yang keluar dari kantong itu sangat familiar. Croissant mentega dan kopi susu gula aren dari kedai dekat SMA kita dulu—tempat kami biasa nongkrong sepulang sekolah.
"Aku ingat dulu kamu sering melewatkan sarapan karena buru-buru berangkat sekolah," ucapnya pelan sembari menarik kursi tepat di depanku.
Aku menatap kantong itu sejenak, lalu mendorongnya perlahan menjauh. "Terima kasih, tapi saya sudah sarapan. Mari kita fokus pada progres laporan mingguan."
Aku bisa melihat kilat kecewa di matanya, tapi Farez hanya mengangguk kecil. Sepanjang presentasi, dia kembali melakukan hal yang sama: memperhatikanku. Dia tidak banyak menginterupsi teknis pekerjaan, tapi matanya seolah sedang memindai setiap inci perubahan pada wajahku—mencari sisa-sisa gadis SMA yang dulu ia cintai.
"Ada yang salah dengan data saya, Pak Farez?" tanyaku, merasa terganggu karena tatapannya yang terlalu intens.
Farez menyandarkan punggungnya ke kursi, menatapku dengan berani. "Datanya sempurna, Rana. Tidak ada yang salah. Yang salah hanyalah bagaimana kamu memperlakukanku seolah kita baru bertemu kemarin pagi di halte bus."
"Kita memang hanya rekan bisnis sekarang, Pak Farez," tegasku, tanganku mengepal di bawah meja.
"Lima tahun, Na. Lima tahun aku mencarimu tanpa henti. Sejak hari di mana kamu hilang tepat setelah kelulusan SMA kita. Aku mendatangi rumah eyangmu yang kosong, aku bertanya pada semua teman-teman sekolah kita, tapi kamu hilang seperti ditelan bumi. Kamu memutus semua akses saat aku baru saja ingin merencanakan masa depan bersamamu di bangku kuliah."
Suaranya tidak meninggi, tapi ada getaran luka yang sangat dalam di sana. Luka dari seorang laki-laki yang ditinggal tanpa penjelasan di puncak rasa cintanya.
Aku mematikan layar tabletku dengan kasar. "Anda ingin tahu kenapa saya lari? Karena saat itu saya menyadari bahwa laki-laki paling baik di hidup saya—Ayah saya—ternyata adalah pembohong besar. Dan saat saya melihatmu, saya hanya melihat bayangan dia. Orang yang bisa terlihat begitu tulus tapi menyimpan rahasia di belakang."
Farez terdiam. Wajahnya mengeras. "Jadi kamu menghukumku atas dosa ayahmu? Kamu membuangku karena kamu takut aku akan sama seperti dia?"
"Saya hanya melindungi diri saya sendiri, Pak Farez. Sekarang, jika tidak ada lagi yang perlu dibahas mengenai proyek, silakan tinggalkan ruangan saya."
Farez bangkit dari kursinya. Dia melangkah mendekat hingga jarak kami hanya tersisa beberapa jengkal. Aku bisa mencium aroma parfumnya yang memabukkan, bercampur dengan sisa aroma kopi.
"Aku bukan dia, Rana. Dan aku tidak akan pernah menjadi dia," bisiknya tepat di depanku. "Aku akan membuktikannya padamu, setiap minggu, di ruangan ini. Sampai kamu ingat bahwa tidak semua laki-laki adalah pengkhianat."
Dia berbalik dan keluar, meninggalkan kantong berisi kopi dan roti yang mulai mendingin di hadapanku. Aku luruh di kursi, menutup wajahku dengan tangan. Jantungku berkhianat, ia berdetak kencang bukan karena marah, tapi karena aku menyadari satu hal yang menakutkan: Farez tidak pernah berhenti mencintaiku sejak masa SMA itu.