Seorang mahasiswi magang asal Indonesia bernama Kirana, yang tinggal di Taipei, tanpa sengaja menemukan sebuah amplop merah berisi uang di taman sepi saat Bulan Hantu. Ia mengambilnya karena mengira rezeki biasa. Namun, amplop itu ternyata adalah mahar dari seorang pengantin arwah laki-laki dari zaman Dinasti Ming yang telah meninggal sebelum sempat menikah. Dengan mengambil amplop tersebut, Kirana secara tidak sadar telah menerima lamaran gaib. Ia kini terikat benang merah takdir dengan arwah pengantin tersebut, yang datang menagih janji di bulan ketika pintu alam roh terbuka lebar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lilack Sunrise, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SUASANA KANTOR
Siang itu, Kirana datang ke kantor lebih awal dari biasanya. Wajahnya masih pucat, tapi matanya jernih bukan seperti orang yang semalaman bergelut dengan hal-hal gaib. Di dalam tasnya, tersimpan bunga merah berkelopak hati pecah itu, yang hingga siang masih terasa hangat dan tidak layu.
Wei, teman sekantornya yang ikut pingsan semalam, sudah duduk di meja masing-masing dengan segelas kopi hitam pekat. Begitu melihat Kirana masuk, ia mengangkat alis.
“Lu udah makan siang? Muka lo kayak habis ketemu setan beneran.”
Kirana tersenyum kecil. “Memang ketemu.”
Wei hampir menyemburkan kopinya. “Gila lo, Kir. Masih siang-siang udah bercanda serem.”
Kirana tidak menjawab. Ia meletakkan tas di meja, lalu mengeluarkan jimat kuning yang kini berwarna abu-abu dan retak. Wei menatapnya lama.
“Itu jimat dari semalam?” Kirana mengangguk. “Lo simpan? Bukannya harusnya dibuang?”
“Bukan jimatnya yang penting,” ucap Kirana pelan. “Tapi bunganya.” sambil memasukan bunga itu ke dalam laci meja kerjanya . ( "Aku tidak melupakanmu Li Wei ).
Wei makin bingung. Namun sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, Bu Dewi kepala divisi mereka muncul dari ruangannya sambil membawa setumpuk dokumen.
“Kirana, Wei, tolong entry data laporan keuangan kuartal kemarin. Hari ini harus selesai.”
Suasana kantor langsung berubah riuh dengan bunyi ketikan keyboard dan suara telepon berdering. Kirana menyalakan komputernya, tapi matanya sesekali mencuri pandang ke laci meja tempat ia menyimpan bunga merah itu.
Wei menyodorkan selembar sticky note. Di atasnya tertulis: “Lo yakin nggak perlu cerita ke siapa-siapa? Aku juga mimpi aneh, lho. Ada laki-laki baju merah yang pamit.”
Kirana membalas dengan satu kalimat: “Dia sudah pergi. Biarlah.”
Jam makan siang tiba. Kirana memilih duduk sendirian di ruang pantry. Ia mengeluarkan bunga merah itu dan meletakkannya di atas meja. Di bawah lampu neon kantor, kelopak bunga yang berbentuk hati pecah itu tampak begitu nyata merah menyala seperti masih berdarah.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Pesan dari Wei: “Kir, laporan keuangan kuartal kemarin... ada anomali. Tanggal 23 malam itu adalah hari di mana kita berdua pingsan. Di kolom tanda tangan, ada nama yang nggak ada di data karyawan. Namanya... Li Wei.”
Kirana menelan ludah. Ia menatap bunga di tangannya, lalu mengetik balasan: “Jangan disentuh. Nanti aku yang urus.”
Ia tidak takut. Entah mengapa, sejak semalam, ia merasa ada benang merah yang tidak putus bukan untuk mengikat, tapi untuk menuntun. Mungkin ini caranya Li Wei berterima kasih. Atau mungkin... ini baru awal dari sesuatu yang lain.
Di luar jendela kantor, angin sore bertiup pelan. Kirana merasakan pergelangan tangannya berdenyut hangat lagi. Sekarang ia yakin: itu bukanlah rasa sakit. Itu adalah sisa-sisa ketulusan yang ditinggalkan seorang hantu pengantin pria, di sebuah pohon beringin tua, di malam di mana ia akhirnya berhenti menunggu.
Kirana menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku rok. Napasnya terasa sedikit lebih berat, tapi ia berusaha tenang. Li Wei. Nama yang sama persis dengan hantu pengantin pria yang tadi malam pamit pergi. Bukan kebetulan. Kirana yakin itu.
Ia bangkit dari kursi pantry, membawa bunga merah itu kembali ke mejanya. Begitu duduk, Wei sudah menatapnya khawatir dari seberang meja.
“Lo serius mau ngurus sendiri?” bisik Wei, ikut menunduk agar tidak terdengar rekan kerja lain. “Itu laporan keuangan, Kir. Bukan mainan. Kalau sampai bermasalah, kita yang kena.”
“Aku tahu,” jawab Kirana sambil membuka file laporan itu di komputer. Ia menggulir layar ke bagian tanggal 23 malam hari mereka pingsan. Di kolom tanda tangan verifikator, memang tertera nama Li Wei dengan tinta hitam. Padahal sehari sebelumnya kolom itu kosong.
“Lihat,” Kirana menunjuk layar. “Ini bukan tanda tangan biasa. Ini... tulisan kuno. Kayak aksara Mandarin tapi bentuknya aneh.”
Wei mendekatkan wajahnya. Matanya membulat. “Itu bukan aksara Mandarin, Kir. Itu... aku pernah lihat di buku sejarah. Aksara Dinasti Ming.”
Keduanya terdiam. Suasana kantor yang ramai tiba-tiba terasa jauh, seperti suara dari balik dinding kaca. Kirana menghela napas, lalu mengeluarkan jimat abu-abu retak dari dalam tasnya. Ia meletakkannya di samping keyboard.
“Mungkin ini pesan terakhirnya,” ucap Kirana lirih. “Bukan untuk menakut-nakuti. Mungkin... dia ingin memperbaiki sesuatu.”
“Memperbaiki apa?”
“Aku tidak tahu. Tapi satu hal yang aku yakini,” Kirana menatap Wei lurus. “Dia sudah tidak marah. Tidak pula sedih. Dia hanya... pergi dengan damai. Tapi sebelum pergi, dia meninggalkan jejak. Dan jejak itu ada di sini, di laporan kantor kita.”
Wei mengusap wajahnya kasar. “Gila. Bener-bener gila. Oke, Kir. Aku percaya lo. Tapi kita harus hati-hati.”
Kirana mengangguk. Ia meraih jimat abu-abu itu dan menggenggamnya erat. Hangat. Masih hangat, meski warna jimat sudah pudar dan retak. Perlahan, ia membuka genggaman tangannya.
Di telapak tangannya, jimat itu berubah menjadi debu halus berwarna perak. Debu itu tidak jatuh ke lantai, melainkan melayang tipis di udara sejenak, lalu mengarah ke layar komputer tepat ke kolom tanda tangan Li Wei.
Dan di depan mata Kirana dan Wei, nama itu... mulai pudar. Perlahan, seperti ditulis dengan tinta yang menguap. Lalu digantikan oleh satu baris kalimat pendek dalam bahasa Indonesia:
“Untuk Kirana, yang tertawa kecil saat memungut amplopku. Untukmu, aku titipkan bunga itu. Jangan pernah berhenti tersenyum.”
Setelah itu, layar komputer kembali normal. Kolom tanda tangan verifikator kosong lagi. Tidak ada nama aneh. Tidak ada aksara kuno.
Kirana memejamkan mata. Ia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh pergelangan tangannya seperti benang merah yang dulu, tapi kini lebih terasa seperti... pelukan lepas. Lalu lenyap.
“Dia benar-benar pergi,” bisik Kirana, air matanya menetes pelan tanpa sebab yang jelas. Bukan sedih. Bukan takut. Hanya... haru.
Wei diam saja. Ia hanya menepuk pundak Kirana pelan. “Udah, jangan nangis. Sekarang kita harus entry data laporan ini. Soalnya Bu Dewi udah melotot dari tadi.”
Kirana tersenyum sambil menyeka air matanya. “Iya. Ayo kerja.”
Dan di dalam lacinya, bunga merah berkelopak hati pecah itu masih utuh. Masih hangat. Masih setia menemani, tanpa pernah layu seperti janji yang tak terucap, tapi terasa selamanya. tiba" ia teringat mimpinya.