NovelToon NovelToon
PREMAN MASUK PESANTREN

PREMAN MASUK PESANTREN

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Faris Arjunanurhidayat

Dunia malam mengenal Faris Arjuna sebagai Panglima Terminal, namun semesta mengenalnya sebagai pewaris tahta yang hilang.
​Di bawah bimbingan sang kakak, Arjuna Hidayat—Sang Paku Bumi Sidoarjo yang sakti mandraguna—Faris harus menanggalkan jaket kulitnya untuk mengenakan beskap kehormatan. Namun, kejutan terbesar muncul dari sosok Simbok (Nyai Gayatri Sekar Arum). Di balik kesederhanaannya, beliau adalah pemegang restu darah Raja Majapahit yang menguasai istana gaib dan sepuluh dayang piningit.
​Kini, paseduluran dua Arjuna ini bukan lagi sekadar soal urusan pesantren, melainkan menjaga amanah leluhur Nusantara. Saat kegelapan masa lalu mulai mengusik kedaton mereka, Faris harus membuktikan bahwa seorang berandal pun bisa memiliki wibawa seorang Raja.
​Doa Simbok adalah jimatnya, bimbingan Kangmas adalah kompasnya, dan Keris Kyai Jalak Suro adalah takdirnya. Siapkan diri, karena kasekten Majapahit telah bangkit di tanah Sidoarjo!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Faris Arjunanurhidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Pilihan Langit

Suasana tenang pagi hari di Pesantren Al-Huda mendadak pecah. Suara raungan knalpot brong dari puluhan motor sport terdengar mendekat dari arah jalan raya Gedangan. Debu mengepul hebat saat sekitar 40 anggota geng motor "Macan Terminal" berhenti tepat di depan gerbang pesantren.

"Faris! Keluar lo! Panglima nggak pantes di tempat kayak gini!" teriak pimpinan mereka, si Brewok, sambil terus menggeber motornya.

.

Para santri yang sedang menyapu halaman langsung lari ketakutan masuk ke dalam. Kabar tentang kedatangan geng motor ini sampai ke telinga Faris yang sedang belajar melilitkan sarung di asrama. Faris menghela napas, ia tahu masa lalunya tidak akan membiarkannya pergi begitu saja.

Faris melangkah keluar dengan tenang. Ia tidak lagi memakai jaket kulit, melainkan baju koko putih dan sarung goyor hijau. Penampilannya benar-benar berubah, namun tatapan matanya tetap setajam silet.

"Pulang kalian semua. Aku sudah pensiun," ucap Faris tegas saat sampai di depan gerbang. Suaranya yang berat membuat beberapa anggota geng motor yang tadinya berisik mendadak diam.

"Nggak bisa, Bos! Tanpa lo, kita nggak punya taring! Masuk pesantren itu buat orang lemah, Bos!" sahut si Brewok sambil tertawa mengejek.

Namun, di tengah ketegangan itu, tiba-tiba terdengar suara merdu dari arah gedung santriwati. Ternyata, para santriwati sedang melakukan tadarus pagi secara bersama-sama. Suara mereka yang lembut, bening, dan kompak itu menggema ke seluruh penjuru pesantren, bahkan terdengar sampai ke gerbang.

"Subhanallah... Suara apaan itu, Bos?" tanya seorang anggota geng motor bernama Jono. Ia mendadak mematikan mesin motornya.

Satu per satu anggota geng motor lainnya mulai terdiam. Mereka yang tadinya garang dengan wajah penuh emosi, tiba-tiba tertegun mendengar lantunan ayat suci yang begitu menyejukkan telinga. Apalagi saat beberapa santriwati lewat dengan kerudung rapi dan wajah yang tampak bersinar meski tanpa make-up.

"Gila... sejuk banget di kuping. Jauh banget sama suara knalpot kita," bisik Jono sambil matanya nggak kedip melihat ke arah pesantren.

Faris melihat kesempatan ini. "Itu suara kedamaian yang nggak akan kalian temukan di jalanan. Kalau kalian mau tetap jadi sampah terminal, silakan pergi. Tapi kalau mau rasa tenang kayak gitu, turun dari motor kalian."

Tiba-tiba, Jono turun dari motornya dan melepas helmnya. "Bos Brewok, sori ya... gue kayaknya dapet hidayah gara-gara suara santriwati tadi. Gue mau ikut Mas Faris aja!"

"Gue juga! Gue capek dikejar polisi terus, mending di sini dengerin yang adem-adem!" sahut lima orang lainnya sambil ikut turun dari motor.

Brewok melongo melihat anak buahnya justru "membelot" hanya karena suara mengaji. "Woi! Kalian gila?! Kita ke sini mau jemput Bos, bukan mau ikut mondok!"

Tapi teriakan Brewok tidak digubris. Jono dan kawan-kawannya malah sudah berdiri di samping Faris, siap menanggalkan jaket geng mereka demi bisa mendengar lebih dekat suara santriwati yang bikin hati mereka "adem". Sang Panglima Terminal kini punya pengikut baru, tapi kali ini bukan untuk tawuran, melainkan untuk belajar sabar.

Brewok hanya bisa melongo melihat lima anak buahnya malah berdiri di belakang Faris dengan wajah penuh harapan. Suasana makin tidak terkendali saat Jono, salah satu anggota geng motor yang paling sangar, mulai bertanya dengan suara pelan.

"Mas Faris... kalau mau dengar suara santriwati yang tadi itu lebih jelas, kita harus daftar ke mana?" tanya Jono sambil menggaruk kepalanya yang penuh tato.

Faris menahan tawa, tapi wajahnya tetap dibuat serius. "Daftar ke akhirat lewat jalur taubat! Sudah, kalau mau ikut, lepas jaket kalian. Simpan di motor, jangan bawa aura terminal ke dalam sini."

Dengan patuh, Jono dan kawan-kawannya melepas jaket kulit penuh emblem tengkorak itu dan meletakkannya di atas jok motor. Mereka berjalan masuk mengekor di belakang Faris dengan langkah yang dibuat sesopan mungkin, meski tato di leher dan lengan mereka masih terlihat jelas.

"Woi! Gak setia kawan kalian ya!" teriak Brewok dari luar gerbang. Karena merasa ditinggal dan penasaran, akhirnya Brewok pun ikut mematikan mesin motornya. "Tunggu! Gue juga mau lihat... cuma mau lihat ya, bukan mau mondok!"

Akhirnya, rombongan yang tadinya mau bikin onar itu malah berjalan beriringan menuju serambi masjid. Saat mereka sampai di sana, puluhan santri yang sedang membersihkan masjid langsung berhenti dan menatap heran. Baru kali ini ada "pemandangan" langka: satu preman sarungan diikuti sepuluh pria berambut gondrong dan bertato.

Kyai Ahmad yang sedang duduk santai di teras rumahnya melihat rombongan itu. Beliau bukannya marah, malah tersenyum lebar seolah sudah menunggu kedatangan mereka.

"Walah... Faris, ini kamu bawa rombongan sirkus atau rombongan pengajian?" canda Kyai Ahmad dengan logat Jawanya yang kental.

Faris langsung mendekat dan mencium tangan Kyai, diikuti oleh Jono dan kawan-kawannya yang ikut-ikutan antre buat salim. "Ngapunten, Mbah Kyai. Ini teman-teman saya dari terminal. Katanya mau minta air doa supaya hati mereka tidak panas terus," jawab Faris sambil melirik Jono.

"Inggih, Mbah... Tadi dengar suara santriwati ngaji langsung adem hati saya. Kayak disiram es dawet di tengah hari bolong," celetuk Jono jujur yang langsung dihadiahi pelototan tajam dari Faris.

Kyai Ahmad tertawa terbahak-bahak. "Hidayah itu memang jalannya macam-macam, Le. Ada yang lewat musibah, ada juga yang lewat suara santriwati. Ya sudah, karena kalian sudah di sini, sekarang ikut Faris ke tempat wudhu. Cuci dulu muka-muka kalian yang penuh debu jalanan itu."

Bukannya disuruh pulang, mereka malah diminta untuk bersuci. Brewok yang tadinya paling keras kepala, kini hanya bisa terdiam saat Kyai Ahmad menepuk pundaknya dengan sangat lembut. Aura sang Kyai benar-benar melumpuhkan mental preman mereka.

"Nanti sore ada jadwal setor hafalan. Faris, tolong diajari teman-temanmu ini cara pakai sarung yang benar. Jangan sampai lari-lari gara-gara sarungnya melorot," pesan Kyai Ahmad sebelum kembali masuk ke dalam rumah.

Maka dimulailah hari paling bersejarah di Pesantren Al-Huda. Sepuluh preman terminal kini sibuk diajari Faris cara melilitkan kain sarung, sementara pikiran mereka masih terbayang-bayang suara merdu dari gedung sebelah.

Sore harinya, pemandangan di serambi masjid Pesantren Al-Huda benar-benar tidak lazim. Faris duduk bersila di tengah-tengah, dikelilingi oleh sepuluh anak buahnya yang kini sudah memakai sarung secara paksa. Ada yang sarungnya ketinggian sampai kelihatan betis penuh tatonya, ada juga yang melintir sampai hampir lepas.

"Ayo, ikuti aku. A... Ba... Ta..." ucap Faris sambil menunjuk papan tulis kecil.

"Aaaa... Baaaa... Taaaa..." sahut Jono dan kawan-kawannya dengan suara ngebass dan serak. Bukannya terdengar seperti santri mengaji, suaranya malah terdengar seperti paduan suara supporter sepak bola yang lagi protes wasit.

"Pelan-pelan, jangan teriak! Ini ngaji, bukan lagi demo di depan balai kota!" tegur Faris sambil memijat pelipisnya yang mulai pening.

Brewok, yang ternyata diam-diam ikut duduk di pojokan, mulai protes. "Susah bener ini, Bos. Lidah gue kayaknya udah kaku gara-gara kebanyakan makan aspal. Kenapa huruf 'Kha' suaranya kayak orang lagi keselek duri bandeng Sidoarjo sih?"

"Ya itu seninya, Brewok! Kalau gampang, semua preman terminal sudah jadi ustadz dari dulu!" balas Faris tegas.

Di tengah perjuangan berat itu, tiba-tiba sekelompok santriwati lewat di jalan setapak samping masjid menuju dapur umum. Suara tawa kecil mereka terdengar seperti lonceng di telinga para preman itu. Sontak, Jono yang tadi malas-malasan langsung tegak, membusungkan dada, dan mengeluarkan suara paling merdu yang dia punya.

"ALIIIIFFFF.... BAAAAA.... TAAAAAA...." teriak Jono dengan penuh perasaan, berharap ada santriwati yang menoleh.

Faris langsung menjitak kepala Jono. "Gak usah pamer! Fokus ke kitabnya, jangan fokus ke kerudungnya!"

Kyai Ahmad yang memperhatikan dari jauh hanya bisa geleng-geleng kepala sambil tersenyum. Beliau mendekat dan membawakan sepiring gorengan tempe hangat. "Sudah, jangan dipaksa. Belajar agama itu pelan-pelan, yang penting istiqomah. Ini, dimakan dulu tempenya supaya lidahnya tidak kaku lagi."

Jono dan kawan-kawannya langsung berebutan tempe tersebut. "Wah, tempe pesantren rasanya beda ya, Mbah. Kayak ada berkah-berkahnya gimana gitu," ucap salah satu anggota sambil mengunyah lahap.

Malam pun tiba. Geng motor "Macan Terminal" yang biasanya menguasai jalanan Surabaya, kini terlelap di lantai asrama yang keras dengan beralaskan sarung. Faris menatap mereka satu per satu. Ia sadar, tugasnya sekarang bukan lagi memimpin tawuran, tapi menuntun kawan-kawannya ini agar tidak kembali ke lubang yang sama.

"Selamat tidur, kawan-kawan. Besok subuh kita bangun, jangan ada yang telat atau aku siram pakai air kolam!" gumam Faris sambil menyelimuti dirinya sendiri dengan sarung kesayangannya.

Malam semakin larut di Gedangan. Ketika semua mantan anggota geng motor itu sudah mendengkur keras karena kelelahan belajar mengaji, Faris masih terduduk di serambi masjid. Ia menatap langit malam Sidoarjo yang cerah, mencoba mencari jawaban atas ketenangan yang baru saja ia rasakan.

.

"Belum tidur, Faris?" suara Kyai Ahmad terdengar pelan namun berwibawa. Beliau berjalan mendekat sambil membawa sebuah kotak kayu tua yang terlihat sangat sakral.

Faris langsung membetulkan posisi duduknya. "Belum, Mbah. Masih kepikiran sama teman-teman tadi. Apa benar mereka bisa betah di sini?"

Kyai Ahmad duduk di samping Faris, lalu meletakkan kotak kayu itu di antara mereka. "Faris, kamu tahu kenapa Ibumu sangat ingin kamu kembali ke sini? Bukan cuma karena kamu nakal di terminal, tapi karena kamu adalah orang pilihan."

Faris mengerutkan dahi, tertawa kecil dengan nada getir. "Orang pilihan bagaimana, Mbah? Saya ini cuma tukang pukul. Tangan saya kotor."

Kyai Ahmad perlahan membuka kotak kayu tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah tasbih kayu kuno dan sepucuk surat usang bertanda tangan almarhum ayah Faris. "Ayahmu dulu bukan orang sembarangan. Beliau adalah penjaga pesantren ini secara rahasia. Dan sekarang, tongkat estafet itu jatuh ke tanganmu."

Faris tertegun. Ia menyentuh tasbih itu, dan seketika ada getaran aneh yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Getaran yang tidak pernah ia rasakan saat memegang senjata tajam apa pun. Seolah-olah jiwanya yang selama ini liar, kini menemukan "rumah" yang sebenarnya.

"Kamu punya bakat memimpin yang besar, Faris. Tapi selama ini kamu gunakan untuk merusak. Sekarang, saatnya bakat itu digunakan untuk melindungi," lanjut Kyai Ahmad sambil menatap tajam mata Faris. "Kamu dipilih bukan karena kamu suci, tapi karena kamu punya keberanian yang tidak dimiliki santri lain."

Tiba-tiba, dari arah luar gerbang, terdengar suara gesekan ban mobil yang mengerem mendadak. Faris langsung berdiri, insting panglimanya bereaksi cepat. Meskipun ia sudah bersarung, cara berdirinya tetap menonjolkan aura pemimpin yang siap tempur.

"Sepertinya ada tamu yang tidak diundang, Mbah," ucap Faris dingin. Matanya menatap ke arah gerbang yang terlihat gelap.

Kyai Ahmad tersenyum tipis, seolah sudah tahu apa yang akan terjadi. "Itulah tugasmu sebagai orang pilihan, Faris. Melindungi kedamaian tempat ini dengan caramu sendiri. Pergilah, temui mereka, tapi ingat... jangan gunakan amarahmu."

Faris mengangguk. Ia melilitkan sarungnya lebih kencang, lalu berjalan menuju gerbang dengan langkah mantap. Sang Panglima kini sadar, takdirnya di pesantren ini jauh lebih besar daripada sekadar belajar mengaji. Ia adalah tameng gaib bagi tempat suci ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!