Aku mati karena terlalu percaya pada cinta dan persahabatan. Kini, aku terlahir kembali di dunia baru sebagai anak yang dibenci kerajaan. Mereka menyebutku sampah tanpa bakat? Silakan. Saat kalian memohon pada Dewa, aku melatih tinjuku untuk menghancurkan takhta kalian. Aku Arlan, dan kali ini, aku tidak akan membiarkan siapa pun hidup setelah mengkhianatiku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naramas_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama Dan Diskriminasi Kelas
Lonceng raksasa di menara pusat Akademi Astra berdentang tujuh kali, mengirimkan suara getaran rendah yang bergema di seluruh Distrik Akademis. Bagi ribuan mahasiswa, suara itu adalah panggilan untuk memulai perjuangan meraih masa depan. Namun bagi Arlan, suara itu terdengar seperti genderang perang yang menandai dimulainya babak baru dalam rencana besarnya. Arlan berdiri di depan cermin besar di dalam kamar rumah barunya, merapikan kerah seragam ksatria yang berwarna abu abu gelap. Seragam ini terbuat dari bahan kain yang sangat kuat namun tetap fleksibel, dirancang khusus untuk menahan gesekan saat bertarung. Arlan menatap pantulan dirinya sendiri. Wajah anak berusia tujuh tahun itu terlihat sangat tenang, namun matanya memancarkan ketajaman seorang pria yang sudah melewati ribuan badai kehidupan.
Elena masuk ke dalam kamar dengan membawa sebuah tas kulit kecil berisi perbekalan. Dia menatap Arlan dengan perasaan yang campur aduk. Ada rasa bangga karena anaknya berhasil masuk ke institusi pendidikan paling bergengsi di kerajaan, namun ada juga rasa takut yang mendalam mengenai bagaimana Arlan akan diperlakukan di sana. Elena tahu bahwa ibu kota jauh lebih kejam daripada desa terpencil mereka. Di sini, musuh tidak menggunakan batu atau kayu untuk menyerang, melainkan menggunakan hukum, status, dan kekuatan sihir yang sangat besar.
"Hati hati di sana, Arlan," bisik Elena sambil memberikan tas tersebut. "Ingat, jangan terpancing emosi jika ada yang menghinamu. Ibu hanya ingin kamu pulang dengan selamat setiap hari."
Arlan menerima tas itu dan memberikan senyum tipis untuk menenangkan ibunya. "Aku mengerti, Ibu. Di dunia bisnis dulu, aku belajar bahwa orang yang paling berisik biasanya adalah orang yang paling lemah. Aku tidak akan membuang tenagaku untuk hal hal yang tidak penting."
Arlan melangkah keluar dari rumahnya, menyusuri jalanan Distrik Akademis yang masih diselimuti kabut tipis. Di sepanjang jalan, dia melihat banyak mahasiswa lain yang berjalan menuju gerbang utama akademi. Mereka bergerak dalam kelompok kelompok kecil berdasarkan status sosial mereka. Para anak bangsawan tinggi berjalan dengan dagu terangkat, dikelilingi oleh pelayan pelayan yang membawa perlengkapan mereka, sementara anak anak dari keluarga pedagang atau bangsawan rendah berjalan lebih menepi. Arlan berjalan sendirian di tengah, mengabaikan tatapan mata yang penuh rasa ingin tahu dan bisikan bisikan yang menyebut namanya. Berita tentang kemenangannya di Oakhaven dan pertemuannya dengan Putri Seraphina kemarin rupanya sudah menyebar luas.
Sesampainya di aula utama akademi, sebuah pengumuman besar terpampang di papan sihir raksasa yang melayang di udara. Ini adalah daftar penempatan kelas bagi mahasiswa baru tahun ini. Arlan berjalan mendekat dan mulai memindai daftar tersebut. Dia melihat nama Julian berada di urutan teratas Kelas A, kelas bagi para elit yang memiliki potensi mana tertinggi. Arlan terus mencari namanya ke bawah. Dia melewati Kelas B dan Kelas C, namun namanya tidak ada di sana. Hingga akhirnya, dia menemukan namanya di daftar Kelas D.
Kelas D adalah kelas yang dikenal oleh seluruh mahasiswa sebagai Kelas Sampah. Ini adalah tempat bagi mereka yang memiliki potensi mana sangat rendah, mereka yang masuk melalui jalur belas kasihan, atau mereka yang dianggap tidak memiliki masa depan sebagai ksatria atau penyihir. Penempatan Arlan di Kelas D adalah sebuah penghinaan yang disengaja oleh dewan direksi akademi. Meskipun Arlan telah mengalahkan Julian di depan umum, para penguasa akademi tetap menggunakan alasan potensi mana nol sebagai dasar untuk menempatkannya di kelas terendah.
"Lihat itu, si Medali Undangan Langit ternyata hanya masuk ke Kelas D," suara ejekan terdengar dari belakang Arlan.
Arlan berbalik dan melihat sekelompok mahasiswa baru yang mengenakan pin Kelas B. Mereka menatap Arlan dengan tawa mengejek. "Ternyata rumor itu benar. Dia hanyalah seorang pengkhianat yang tidak punya bakat sedikit pun. Master Eldrian pasti sudah pikun karena memberikan medali itu pada sampah sepertinya."
Arlan tidak menanggapi. Dia hanya menatap mereka dengan pandangan kosong selama beberapa detik, membuat tawa mereka perlahan lahan menghilang karena merasa tidak nyaman dengan tatapan Arlan yang sangat dingin. Arlan kemudian berbalik dan berjalan menuju gedung Fakultas Ksatria bagian belakang, tempat di mana Kelas D berada. Dia menyadari bahwa akademi sedang mencoba menghancurkan mentalnya dengan cara mengisolasinya. Di kehidupan lamanya, Adit pernah mengalami hal serupa saat para kompetitornya mencoba mengeluarkannya dari asosiasi bisnis. Namun Adit justru menggunakan momen itu untuk membangun kekuatannya sendiri tanpa pengawasan orang lain. Arlan akan melakukan hal yang sama di sini.
Gedung Kelas D sangat berbeda dengan gedung gedung utama akademi. Bangunannya terlihat lebih tua, dengan dinding batu yang sedikit berlumut dan jendela jendela kecil yang kusam. Fasilitas di sini sangat minim. Arlan masuk ke dalam ruang kelas dan menemukan sekitar lima belas anak lainnya yang sudah duduk dengan wajah yang sangat lesu. Mereka semua tampak tidak memiliki semangat hidup, seolah olah mereka sudah menerima takdir bahwa mereka adalah sampah di akademi ini.
Arlan mengambil tempat duduk di barisan paling belakang, dekat jendela. Dia meletakkan tasnya di atas meja kayu yang sudah penuh dengan coretan. Dia memperhatikan teman teman sekelasnya satu per satu. Ada seorang gadis dengan kacamata tebal yang terus menundukkan kepalanya, dan ada seorang pemuda bertubuh kurus yang tampak sangat gemetar. Mereka semua adalah korban dari sistem kasta yang kejam.
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka dengan suara derit yang keras. Seorang pria paruh baya dengan pakaian yang sangat berantakan dan rambut yang acak adakan masuk ke dalam kelas. Dia membawa sebuah botol minuman yang baunya sangat tajam dan sebuah tumpukan buku yang sudah robek. Pria ini adalah instruktur Kelas D, yang dikenal sebagai Profesor Silas.
"Selamat datang di tempat pembuangan sampah," ucap Silas dengan suara yang serak dan tidak bertenaga. Dia meletakkan buku bukunya di meja dengan kasar. "Namaku Silas. Aku tidak peduli siapa kalian atau dari mana kalian berasal. Di sini, kalian tidak akan diajarkan sihir tingkat tinggi atau teknik pedang legendaris. Tugas kalian hanya satu, bertahan hidup sampai lulus tanpa membuat masalah yang bisa membuatku kehilangan pekerjaan ini."
Suasana kelas menjadi semakin suram mendengar ucapan Silas. Namun Arlan justru merasa tertarik. Dia bisa merasakan ada sesuatu yang disembunyikan oleh pria di depan kelas ini. Meskipun Silas terlihat seperti seorang pemabuk yang gagal, Arlan bisa merasakan aliran energi yang sangat stabil di dalam tubuh Silas. Itu adalah ciri khas dari seseorang yang sangat kuat namun memilih untuk menyembunyikan kekuatannya.
Silas mulai memberikan pelajaran dasar tentang sejarah kerajaan, namun caranya mengajar sangat membosankan dan tidak teratur. Mahasiswa lain mulai mengantuk atau menggambar di meja mereka. Arlan tetap terjaga, dia tidak mendengarkan pelajaran sejarah tersebut, melainkan sedang fokus melatih kontrol sarafnya di bawah meja. Dia mencoba melakukan teknik pemurnian tulang yang baru saja dia pelajari dari gulungan kakek tua. Dia merasakan panas yang menjalar di sepanjang tulang belakangnya, namun dia tetap menjaga ekspresi wajahnya agar terlihat seperti mahasiswa yang sedang bosan.
Di tengah pelajaran, pintu kelas tiba tiba didobrak dari luar. Dua orang mahasiswa dari Kelas A masuk dengan wajah yang sangat angkuh. Mereka mengenakan seragam biru cerah dengan sulaman emas yang sangat mewah. Salah satu dari mereka membawa sebuah kotak kayu besar berisi peralatan latihan yang berat.
"Hei, Profesor Pemabuk!" teriak salah satu mahasiswa Kelas A tersebut. "Gedung kami sedang direnovasi sedikit di bagian gudang, jadi instruktur kami memerintahkan kami untuk meletakkan peralatan latihan lama ini di sini. Kelas D adalah tempat yang cocok untuk barang barang rusak, bukan?"
Silas hanya melirik mereka sekilas lalu kembali menatap bukunya. "Letakkan saja di pojok sana dan segera pergi. Kalian mengganggu waktu tidurku."
Kedua mahasiswa Kelas A itu tertawa meremehkan. Mereka sengaja menjatuhkan kotak kayu itu di dekat meja Arlan, membuat debu beterbangan ke arah Arlan. Mereka kemudian menatap Arlan dengan pandangan penuh provokasi.
"Oh, lihat siapa yang ada di sini. Si pendekar tanpa mana sedang duduk di kelas sampah," ucap salah satu dari mereka sambil menendang kaki meja Arlan. "Arlan Vandermir, kan? Julian mengirimkan salam untukmu. Dia bilang, nikmatilah sisa hidupmu di tempat kotor ini sebelum dia benar benar menghancurkan mu di festival musim gugur nanti."
Arlan perlahan lahan mengangkat kepalanya. Dia menatap mahasiswa Kelas A tersebut dengan pandangan yang sangat tenang, namun tekanannya begitu kuat hingga membuat mahasiswa itu sedikit mundur selangkah tanpa sadar.
"Kotak ini menghalangi jalanku," ucap Arlan dengan suara yang sangat rendah. "Ambil kembali dan letakkan di tempat yang benar."
Mahasiswa Kelas A itu merasa terhina. Dia adalah anak dari seorang bangsawan menengah dan tidak pernah diperintah oleh siapa pun, apalagi oleh seorang anak kelas D. "Apa katamu? Kamu berani memerintah ku, sampah?"
Dia mencoba meraih kerah baju Arlan, namun sebelum tangannya bisa menyentuh seragam Arlan, Arlan sudah bergerak. Gerakan Arlan sangat cepat dan tidak terdeteksi oleh indra mana mahasiswa tersebut. Arlan hanya menggunakan satu jari untuk menekan titik saraf di pergelangan tangan mahasiswa itu.
"Akhhh!" mahasiswa itu menjerit kesakitan dan segera menarik tangannya kembali. Tangannya tiba tiba menjadi lemas dan tidak bisa digerakkan, seolah olah semua ototnya telah menghilang.
"Aku tidak suka mengulangi perkataanku," ucap Arlan lagi.
Suasana kelas menjadi sangat tegang. Mahasiswa Kelas D lainnya menatap Arlan dengan rasa tidak percaya. Mereka belum pernah melihat seseorang di kelas mereka berani melawan mahasiswa Kelas A. Profesor Silas berhenti membaca bukunya dan menatap Arlan dengan pandangan yang sangat dalam. Ada setitik ketertarikan yang muncul di mata Silas yang biasanya kuyu.
Mahasiswa Kelas A yang satunya lagi ingin menyerang Arlan, namun rekannya yang kesakitan segera menahannya. "Ayo pergi! Anak ini punya ilmu hitam yang aneh. Kita akan melaporkan ini pada instruktur kita!"
Mereka berdua lari keluar kelas dengan perasaan malu dan marah. Arlan kembali duduk dengan tenang, seolah olah tidak terjadi apa apa. Dia tahu bahwa tindakannya barusan akan membawa masalah lebih lanjut, namun dia harus menetapkan batas sejak hari pertama. Jika dia membiarkan dirinya diinjak sekarang, maka seluruh masa studinya di sini akan dipenuhi oleh gangguan yang tidak perlu.
Silas menutup bukunya dan berdiri. Dia berjalan mendekati meja Arlan. "Bocah, kamu punya nyali yang besar. Tapi di akademi ini, nyali saja tidak cukup. Kamu baru saja menantang struktur kekuasaan yang sudah ada selama ratusan tahun. Kamu tahu apa yang akan terjadi pada orang orang seperti itu?"
"Mereka akan mencoba menghancurkan ku," jawab Arlan tenang. "Dan aku akan menghancurkan mereka kembali sebelum mereka sempat melakukannya."
Silas tertawa terbahak bahak, tawa yang terdengar sangat jujur untuk pertama kalinya. "Hahaha! Jawaban yang sangat sombong! Aku menyukainya. Baiklah, sepertinya mengajar di kelas ini tidak akan sebosan yang aku kira."
Silas kemudian kembali ke mejanya dan melanjutkan pelajaran. Arlan tetap diam, namun dia menyadari bahwa hari pertamanya di akademi telah memberikan hasil yang dia inginkan. Dia telah menarik perhatian orang yang tepat, yaitu Silas, dan dia telah memberikan peringatan kepada musuh musuhnya.
Di luar gedung, matahari mulai bergerak menuju puncak langit. Arlan menatap ke arah gedung utama akademi yang megah. Dia tahu bahwa di dalam sana, Julian dan para bangsawan lainnya sedang merencanakan cara untuk menjatuhkannya. Namun Arlan tidak takut. Di kehidupan keduanya ini, dia telah membuang rasa takutnya bersama dengan kematiannya di jembatan itu. Dia adalah Arlan Vandermir, dan dia akan memastikan bahwa Kelas D yang dianggap sampah ini akan menjadi tempat di mana dia akan melatih pasukannya sendiri untuk mengguncang fondasi Kerajaan Astra.
Babak baru kehidupan Arlan di ibu kota baru saja dimulai, dan diskriminasi yang dia terima hari ini hanyalah bahan bakar tambahan bagi api ambisinya yang tidak akan pernah padam.