NovelToon NovelToon
Love In Chaos

Love In Chaos

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ry_chan04

Adrian Alfarezel adalah CEO yang menderita germaphobia ringan dan sangat gila keteraturan. Hidupnya yang membosankan berubah total saat ia bertemu Zevanya (Zeva), seorang gadis pengantar paket yang hobi motoran, bicaranya ceplas-ceplos, dan tidak takut pada siapa pun—termasuk Adrian.
​Pertemuan mereka dimulai dari insiden "helm melayang" yang mengenai mobil mewah Adrian, berlanjut ke skema "pacar kontrak" untuk menghindari perjodohan kolot kakek Adrian.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ry_chan04, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Gaun Perang dan Jantung yang Berkhianat

Malam yang menentukan itu akhirnya tiba. Langit Jakarta diguyur hujan gerimis, menciptakan pantulan lampu kota yang dramatis di atas aspal. Bagi Adrian Alfarezel, malam ini adalah pertaruhan reputasi. Jika Zeva gagal memerankan perannya, Kakek Wijaya tidak hanya akan menertawakannya, tapi juga akan mempercepat perjodohan paksa dengan wanita pilihan keluarga.

​Namun bagi Zeva, malam ini terasa seperti hukuman mati yang dibungkus dengan kain sutra.

​Sejak pukul dua siang, Adrian telah mengirimkan tim "permak" ke apartemen kecil Zeva. Seorang penata rias, penata rambut, dan dua asisten desainer menyerbu ruang tamu Zeva yang sempit. Mpok Leha hanya bisa menonton dari ambang pintu dengan mulut menganga, memegang penggorengan seolah-olah siap membela keponakannya jika para orang kota itu macam-macam.

​"Aduh, Nona, kulit Anda ini sebenarnya eksotis, tapi kenapa banyak bekas luka kecil begini?" keluh sang penata rias sambil menatap kaki Zeva.

​"Itu kenang-kenangan dari knalpot, jatuh dari pohon mangga, sama kena sabetan kawat pas benerin pagar, Mbak. Udah, tutupin aja pakai bedak yang tebel," sahut Zeva santai sambil mengunyah kacang atom.

​"Jangan dipanggil Mbak, panggil saya Archie!" seru sang penata rambut sambil menyemprotkan hairspray yang baunya membuat Zeva bersin berkali-kali.

​Tepat pukul tujuh malam, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan gang. Adrian keluar dengan setelan tuksedo custom-made berwarna biru tua yang sangat gelap hingga hampir hitam. Ia tampak seperti pangeran dari negeri dongeng yang tersesat di pemukiman padat penduduk. Adrian melirik jam tangannya—ia tepat waktu, namun sarafnya menegang.

​"Mana dia?" tanya Adrian saat bertemu Archie di depan pintu apartemen.

​"Sabar, Pak Adrian. Mahakarya butuh waktu. Silakan masuk, tapi tolong jangan kaget," bisik Archie dengan senyum misterius.

​Adrian melangkah masuk. Ruangan itu berbau parfum mahal yang bertabrakan dengan bau masakan Mpok Leha. Di tengah ruangan, seorang wanita sedang berdiri membelakanginya, mencoba menyeimbangkan tubuh di atas sepatu hak tinggi sepuluh sentimeter.

​Wanita itu mengenakan gaun malam berwarna merah marun dengan potongan A-line yang elegan namun tetap memberikan ruang untuk bergerak. Punggungnya yang tegak—hasil siksaan Madam Citra selama tiga hari—terlihat sangat cantik. Rambut kuncir kuda yang biasanya berantakan kini disulap menjadi sanggul modern yang sedikit longgar, menyisakan beberapa helai yang membingkai wajahnya.

​Zeva berputar perlahan. "Gimana, Bos? Udah mirip manusia belum, atau masih kayak monyet pakai bedak?"

​Adrian terdiam. Kata-katanya seolah tersangkut di tenggorokan.

​Zevanya yang berdiri di depannya bukan lagi gadis pengantar paket yang belepotan jelaga. Riasan wajahnya tipis namun berkelas, menonjolkan tulang pipinya yang tegas dan mata cokelatnya yang tajam namun kini terlihat sedikit malu-malu. Bibirnya yang biasanya mengeluarkan sumpah serapah kini berwarna merah lembut yang sangat menggoda.

​"Adrian? Halo? Lu kesambet setan gang depan ya?" Zeva melambaikan tangannya di depan wajah Adrian.

​Adrian berdeham keras, mencoba mengembalikan kewarasaannya. "Anda... lumayan. Setidaknya saya tidak perlu malu membawa Anda masuk ke restoran bintang lima."

​"Lumayan doang? Heh, perjuangan gue napas pakai korset ini taruhannya nyawa tahu nggak!" protes Zeva, meski wajahnya sedikit memerah mendengar kata 'lumayan' dari Adrian. Ia tahu, dalam kamus Adrian yang perfeksionis, 'lumayan' berarti 'luar biasa'.

​"Ayo berangkat. Kakek benci menunggu," ajak Adrian sambil mengulurkan lengannya.

​Zeva ragu sejenak, lalu melingkarkan tangannya di lengan Adrian. Ia terkejut merasakan betapa kokohnya otot lengan pria itu di balik jas mahalnya. Begitu juga dengan Adrian; ia bisa merasakan kehangatan kulit Zeva yang membuatnya merasa aneh.

​Di dalam mobil, suasana menjadi sangat sunyi. Zeva berkali-kali menarik bagian bawah gaunnya, merasa tidak nyaman.

​"Zevanya, berhenti gelisah. Anda merusak tatanan gaunnya," tegur Adrian, meski matanya tetap menatap jalanan.

​"Gue nggak biasa, Adrian! Rasanya kayak gue lagi menyamar jadi orang lain. Lu yakin ini bakal berhasil? Gimana kalau kakek lu nanya soal pendidikan gue atau silsilah keluarga gue?"

​Adrian menoleh sekilas. "Kakek saya tidak akan peduli soal itu jika Anda bisa menunjukkan bahwa Anda punya karakter. Masalahnya, karakter Anda terlalu... meluap-luap. Tolong, untuk malam ini saja, simpan kamus bahasa jalanan Anda di saku. Jangan sebut 'Om', jangan sebut 'Gue-Elo', dan demi Tuhan, jangan seruput supnya."

​Zeva menghela napas panjang. "Iya, iya. Gue—maksudnya, Saya—akan berusaha jadi Nona yang sopan. Tapi kalau kakek lu mulai menghina profesi bibi gue, gue nggak janji tangan gue nggak melayang ya."

​Adrian tersenyum tipis. "Jika dia melakukan itu, saya sendiri yang akan mengizinkan Anda melayangkan tangan. Tapi sampai itu terjadi, tetaplah pada skenario: kita bertemu saat saya kecelakaan, dan saya terpesona pada ketangguhan Anda."

​"Ketangguhan atau kegalakan?"

​"Mungkin keduanya," gumam Adrian pelan.

​Restoran yang dipilih Kakek Wijaya berada di atap sebuah hotel mewah dengan pemandangan 360 derajat kota Jakarta. Saat mereka masuk, semua mata tertuju pada mereka. Adrian Alfarezel, sang bujangan paling diinginkan, membawa seorang wanita asing yang sangat cantik namun memiliki aura yang berbeda.

​Kakek Wijaya sudah duduk di meja bundar yang besar. Di sampingnya, duduk seorang wanita muda cantik bernama Clarissa—anak dari rekan bisnis Kakek yang memang disiapkan untuk menjadi calon istri Adrian.

​"Kakek," Adrian menyapa sambil membungkuk hormat.

​Wijaya Alfarezel menatap Zeva dengan mata elangnya yang tajam. "Jadi, ini alasan kau menolak sepuluh pilihan Kakek?"

​Adrian menarik kursi untuk Zeva—sebuah gerakan yang ia pelajari agar terlihat sangat perhatian. "Kakek, perkenalkan. Ini Zevanya. Wanita yang sudah mengubah perspektif saya tentang hidup."

​Zeva tersenyum kaku. Ia teringat pelajaran Madam Citra. "Selamat malam, Bapak Wijaya yang terhormat. Suatu kehormatan bisa bertemu dengan Anda."

​Clarissa mendengus pelan, menatap Zeva dari ujung kepala hingga ujung kaki. "Zevanya? Nama yang unik. Dari keluarga mana ya? Sepertinya saya belum pernah mendengar nama itu di pertemuan socialite."

​Zeva merasakan darahnya mulai naik ke kepala, tapi ia merasakan remasan lembut tangan Adrian di bawah meja.

​"Saya bukan dari kalangan socialite, Nona Clarissa," jawab Zeva dengan nada yang diusahakan tetap tenang. "Keluarga saya bergerak di bidang... pelayanan kuliner tradisional. Kami lebih suka bekerja di lapangan daripada di ruang dansa."

​"Pelayanan kuliner? Maksudmu pelayan?" Clarissa tertawa kecil, menatap Wijaya seolah minta dukungan.

​Adrian hendak bicara, tapi Zeva lebih cepat. Ia menatap Clarissa tepat di mata. "Lebih kepada memastikan bahwa orang-orang mendapatkan makanan yang jujur dan bergizi, Nona. Sesuatu yang mungkin sulit ditemukan di balik perhiasan berlian yang terlalu berat."

​Kakek Wijaya sedikit menaikkan alisnya. Ia belum pernah melihat wanita yang berani membalas Clarissa dengan begitu tenang namun tajam di depannya.

​"Cukup soal latar belakang," potong Wijaya. "Mari kita makan. Saya ingin tahu apakah pilihan cucu saya ini memiliki selera yang sebanding dengan penampilannya."

​Ujian dimulai. Pelayan mulai menyajikan makanan pembuka: Escargot (siput Prancis). Zeva menelan ludah. Ia belum pernah belajar cara makan siput dengan capit khusus.

​Ia melirik Adrian. Adrian memberikan instruksi melalui tatapan mata. Zeva mengambil capit itu, tangannya sedikit gemetar. Ia berhasil mengambil daging siputnya, tapi saat hendak memasukkannya ke mulut, capitnya tergelincir.

​TING!

​Daging siput itu meluncur indah di udara dan mendarat tepat di dalam gelas wine milik Clarissa.

​Suasana meja makan seketika membeku. Clarissa menjerit kecil, wajahnya merah padam. Adrian memejamkan mata, merasa dunianya akan segera berakhir. Kakek Wijaya hanya menatap gelas itu tanpa ekspresi.

​"Aduh, maaf ya! Siputnya sepertinya masih pengen berenang," ceplos Zeva tanpa sadar kembali ke mode aslinya.

​"Adrian! Ini yang kau sebut wanita berkelas?" teriak Clarissa sambil berdiri. "Dia bahkan tidak tahu cara menggunakan alat makan dasar!"

​Zeva berdiri, emosinya meledak. Ia sudah muak dengan korset yang sesak, sepatu yang menyakitkan, dan wanita sombong di depannya. "Eh, Nona Berlian! Alat makan ini nggak menentukan kelas seseorang. Gue emang nggak tahu cara makan siput pake tang, karena di tempat gue, siput itu adanya di sawah, bukan di piring cantik! Tapi setidaknya gue punya sopan santun buat nggak ngerendahin pekerjaan orang lain dari tadi!"

​"Zevanya, duduk!" perintah Adrian, tapi suaranya tidak terdengar marah, melainkan penuh kekhawatiran.

​"Nggak, Adrian! Kakek lu mau tahu siapa gue kan? Oke, gue kasih tahu. Nama gue Zevanya, gue pengantar paket, gue jago benerin kompor, dan gue benci siput!" Zeva menoleh ke arah Kakek Wijaya. "Maaf ya, Kek. Saya emang bukan menantu idaman Kakek. Tapi kalau Kakek butuh seseorang yang bisa jaga cucu Kakek dari cewek-cewek palsu kayak dia, saya orangnya. Tapi saya nggak bakal bisa jadi boneka pajangan di sini!"

​Zeva kemudian melepas sepatu hak tingginya, menjinjingnya di tangan, dan mulai berjalan keluar dari restoran dengan kaki telanjang, meninggalkan seluruh ruangan dalam keheningan yang mencekam.

​Adrian tertegun. Ia melihat punggung Zeva yang menjauh. Ia melihat kakeknya, lalu melihat Clarissa.

​"Kakek, saya rasa... itulah karakter yang saya maksud," ujar Adrian. Tanpa menunggu jawaban, Adrian berlari mengejar Zeva.

​Di depan hotel, hujan turun semakin deras. Zeva berdiri di bawah kanopi, menggigil dalam gaun mahalnya yang kini mulai basah. Ia merasa bodoh. Ia merasa telah merusak segalanya dan mungkin akan segera dikirim ke penjara karena utang ganti rugi mobil.

​"Zevanya!" teriak Adrian.

​Zeva menoleh, matanya berkaca-kaca. "Sori, Adrian. Gue rusak semuanya. Gue emang barbar. Gue nggak pantes ada di sana."

​Adrian berhenti tepat di depan Zeva. Jasnya mulai basah, tapi ia tidak peduli. Ia menatap Zeva yang tampak hancur namun tetap terlihat berani.

​"Anda benar," kata Adrian.

​"Tuh kan, lu juga setuju—"

​"Anda benar bahwa alat makan tidak menentukan kelas seseorang," potong Adrian. Ia melepas jas birunya dan menyampirkannya ke bahu Zeva. "Dan Anda benar soal siput itu. Saya juga sebenarnya benci rasanya, tapi saya terlalu takut untuk mengatakannya di depan Kakek selama bertahun-tahun."

​Zeva menatap Adrian tidak percaya. "Hah? Lu beneran?"

​Adrian tersenyum, kali ini senyum paling lebar yang pernah Zeva lihat. "Tindakan Anda tadi... adalah hal paling berani yang pernah terjadi di meja makan keluarga Alfarezel. Anda tidak merusak segalanya, Zevanya. Anda justru baru saja memenangkan pertarungan itu."

​Tiba-tiba, ponsel Adrian berbunyi. Pesan singkat dari Kakek Wijaya: 'Bawa gadis barbar itu makan siang di rumah besok. Dia jujur. Aku suka.'

​Adrian menunjukkan pesan itu pada Zeva. Zeva membacanya dan matanya membelalak. "Kakek lu... sakit jiwa ya?"

​"Mungkin," tawa Adrian pecah di tengah hujan. "Tapi sepertinya, kita baru saja resmi memulai kontrak ini dengan cara yang paling kacau."

​Di bawah guyuran hujan Jakarta, di depan hotel bintang lima, sang CEO dan Si Gadis Barbar tertawa bersama. Benih permusuhan yang ditanam beberapa hari lalu kini telah tumbuh menjadi sesuatu yang belum mereka sadari: sebuah aliansi yang akan mengubah hidup mereka selamanya.

1
Desy Bengkulu
hooo begitu rupanya
tapi kok bisa si kakek gak tau kalo zeva adlh anak dari sahabat nya
Desy Bengkulu
ceritanya bagus , awalnya kek membosankan tapi pas mulai masuk rasa penasaran semakin merota🤣🤣
aksi zevanya sungguh di luar nurul dan di luar prdiksi bmkg🤣🤣🤣

semngat kak tokoh cwek nya kuat badas gak menye menye , aku suka kk author mantan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!