NovelToon NovelToon
Terlahir Kembali Menjadi Miliader

Terlahir Kembali Menjadi Miliader

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Sistem / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:12.8k
Nilai: 5
Nama Author: cloudia

[cp akan terlambat]
negara : Indonesia

sinopsis:
Mati setelah seumur hidup bekerja sendirian itu melelahkan. Ketika Olyvia Arabella membuka mata, ia kembali ke usia 20 tahun—tepat saat calon ibu mertua menyodorkan amplop "uang perpisahan" yang ternyata hanya berisi seratus ribu. Dunia sudah gila: nilai uang menurun 10.000 kali lipat, dan hanya Olyvia yang sadar karena rekening bank masa depannya ikut terbawa. Sekarang ia menjadi satu-satunya konglomerat di dunia yang mendadak miskin. Tapi kekayaan tak membuat hidupnya lebih mudah, terutama saat para pria dari masa lalunya kembali—kali ini dalam keadaan jauh lebih melarat. Balas dendam tak cukup dengan uang. Tapi setidaknya, Olyvia bisa membeli waktu untuk memilih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cloudia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mobil untuk Bapak, Kehebohan Warga karena Mobil Baru di Desa

Hari Senin pagi di Desa Sumberrejo biasanya dimulai dengan suara ayam berkokok dan para petani yang berangkat ke sawah dengan cangkul di bahu. Tapi pagi ini berbeda. Suara klakson mobil yang halus dan berirama terdengar dari ujung jalan desa, membuat para warga yang sedang duduk di teras atau membuka warung sontak menoleh.

Sebuah mobil SUV hitam mengkilap melaju pelan memasuki jalan paving block desa. Bodi mobil itu masih terbungkus plastik putih di beberapa bagian, pertanda bahwa kendaraan ini benar-benar baru keluar dari dealer. Di balik kemudi, seorang pria berseragam dealer duduk dengan wajah bingung karena harus melewati gang sempit. Di kursi penumpang depan, Olyvia duduk dengan santai sambil memberikan arahan.

"Kiri dikit, Mas. Iya, di depan rumah yang ada warung kecil itu."

Mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan rumah Olyvia. Warga yang penasaran mulai mendekat. Anak-anak kecil berlarian mengelilingi mobil sambil berteriak kegirangan. Beberapa ibu-ibu berbisik-bisik di kejauhan.

"Itu mobil siapa? Kok baru banget?"

"Kayaknya punya orang kota yang nyasar."

"Lho, itu kan Mbak Olyvia. Anaknya Bu Sumarni yang kuliah di kota."

Bu Sumarni yang sedang menata jajanan di warung langsung berdiri tegak begitu melihat mobil mewah berhenti di depan rumahnya. Matanya membelalak, mulutnya sedikit terbuka. Ia mengenali sosok Olyvia yang turun dari kursi penumpang.

"Olyvia! Ini mobil siapa?" tanyanya setengah panik.

Olyvia tersenyum lebar. Ia berjalan mendekati ibunya sambil membawa sebuah map berisi dokumen. "Buat Bapak, Bu. Olyvia beliin Bapak mobil."

Bu Sumarni terpaku. "Ha? Mobil? Kamu beliin Bapak mobil?"

"Iya, Bu. Biar Bapak gak usah jalan kaki ke sawah lagi. Sama biar Ibu juga bisa dipake ke pasar atau arisan."

Orang gila mana yang ke sawah pakai mobil? Iya si olyvia lah, ke sawah kok jalan kaki :v

Sementara itu, Pak Harjo yang baru keluar dari kamar mandi dengan handuk di bahu langsung berhenti melangkah. Ia menatap mobil hitam di depan rumahnya, lalu menatap Olyvia, lalu menatap mobil lagi. Wajahnya campur aduk antara bingung, takjub, dan sedikit takut.

"Nduk... ini beneran buat Bapak?"

Olyvia menghampiri ayahnya dan menyerahkan map berisi dokumen. "Iya, Pak. Ini surat-suratnya. Atas nama Bapak. Bapak tinggal tanda tangan di sini."

Pak Harjo menerima map itu dengan tangan gemetar. Ia membukanya perlahan. Di dalamnya ada Surat Tanda Nomor Kendaraan, Buku Pemilik Kendaraan Bermotor, dan faktur pembelian. Semuanya tertulis atas nama Harjo Sentono.

"Ini... ini atas nama Bapak?" suaranya bergetar.

"Iya, Pak. Mobil ini punya Bapak sekarang."

Pak Harjo tidak berkata apa-apa. Ia hanya menatap mobil itu lama sekali. Lalu, tanpa suara, air matanya jatuh. Pria setengah baya yang biasanya tegar dan pendiam itu menangis di depan anaknya.

Olyvia merangkul ayahnya. "Pak, jangan nangis. Olyvia cuma mau Bapak hidupnya lebih mudah. Bapak udah capek jalan kaki puluhan tahun. Sekarang waktunya Bapak naik mobil."

Bu Sumarni ikut menangis di dekat warung. Siska dan Galang yang baru keluar rumah langsung heboh begitu melihat mobil baru.

"MOBIL! MBAK BELIIN MOBIL!" teriak Galang sambil melompat-lompat.

Siska langsung mengeluarkan kameranya dan mulai merekam. "Gila, Mbak. Ini mobil beneran. Bukan mainan."

Kehebohan tidak berhenti di situ. Warga desa yang tadinya hanya berbisik-bisik kini mulai berkerumun. Mereka menyentuh bodi mobil, mengintip ke dalam kabin, dan mengajukan seribu pertanyaan.

"Wah, Bu Sumarni, selamat ya. Anaknya sukses."

"Ini mobil apa, Mbak? Kok bagus banget."

"Harganya pasti mahal. Puluhan ribu ya?"

Olyvia tersenyum mendengar kata "puluhan ribu". Puluhan ribu? Di dunia gue yang dulu, mobil ini harganya empat ratus juta. Sekarang cuma empat puluh ribu rupiah. Cukup uang jajan seminggu.

Memang, saat ia membeli mobil itu di dealer kemarin, harganya hanya Rp40.000,-. Empat puluh ribu rupiah. Bahkan dengan tambahan asuransi, pajak, dan aksesoris, totalnya hanya Rp52.000,-. Olyvia membayarnya dengan kartu debit tanpa rasa bersalah.

Tapi bagi warga desa, empat puluh ribu adalah jumlah yang sangat besar. Itu setara dengan penghasilan mereka selama berbulan-bulan. Jadi wajar jika mereka menganggap Olyvia sebagai "anak sukses dari kota".

Seorang ibu tetangga bernama Bu RT mendekati Bu Sumarni. "Bu, anakmu itu kerja apa sih di kota? Kok bisa beli mobil baru?"

Bu Sumarni yang masih bingung menjawab seadanya. "Katanya sih main saham, Bu. Saya juga gak ngerti."

"Saham? Itu yang kayak judi ya?"

Olyvia yang mendengar langsung menimpali dengan sopan. "Bukan judi, Bu RT. Investasi. Saya beli saham perusahaan teknologi, terus nilainya naik. Alhamdulillah dapat untung."

Bu RT mengangguk-angguk meski jelas tidak mengerti. "Oh, gitu. Pinter ya kamu, Vy. Dulu waktu kecil kamu suka main tanah, sekarang udah bisa beli mobil."

Olyvia tersenyum. Dulu gue main tanah. Sekarang gue main saham. Bedanya, tanah gak ngasih cuan.

Sementara itu, Pak Harjo masih berdiri di samping mobil dengan tangan menyentuh kap mesin. Wajahnya masih tidak percaya. Ia membuka pintu kemudi dan duduk di dalam. Tangannya menyentuh setir, dashboard, dan jok kulit yang masih beraroma baru.

"Nduk, Bapak gak bisa nyetir," katanya pelan.

Olyvia menyembulkan kepala ke jendela. "Makanya besok Olyvia daftarin Bapak kursus nyetir. Biar bisa. Gampang kok, Pak. Bapak kan orangnya telaten."

Pak Harjo mengangguk. "Iya, Bapak belajar. Bapak pengen bisa bawa Ibu kamu jalan-jalan."

Di belakang, Bu Sumarni yang mendengar itu langsung salah tingkah. "Ah, Bapak ini. Udah tua gini mau jalan-jalan."

Olyvia tertawa melihat interaksi orang tuanya. Ini yang gue mau. Mereka bahagia. Mereka punya harapan baru.

Setelah kerumunan mulai berkurang, Olyvia masuk ke rumah. Ia duduk di kursi tamu dan menghela napas panjang. Ponselnya bergetar. Ia melirik sekilas.

Nomor tidak dikenal. Blokir otomatis.

Masih aja nyoba. Udah seminggu lebih lo gak bisa kontak gue, Jun. Harusnya lo udah nyerah.

Tapi kemudian ia melihat pesan dari Karina di grup WhatsApp sahabat.

Karina: Vy, lo tau gak? Si Arjuna sekarang suka nongkrong di depan apartemen lo. Satpamnya sampe bosen ngusirin. Kasian juga gue liatnya.

Sela: Kasian apanya? Itu stalker. Harusnya dilaporin polisi.

Olyvia mengetik balasan.

Olyvia: Biarin aja. Gue lagi di kampung. Dia mau nunggu sampe kapan juga gak bakal ketemu. Paling juga bosen sendiri.

Karina: Lo kapan balik?

Olyvia: Belum tau. Masih mau nemenin keluarga. Ntar kalo udah deket kuliah lagi, gue balik.

Sela: Hati-hati ya, Vy. Jangan sampe lo ketemu dia sendirian. Dia makin aneh aja kelakuannya.

Olyvia membaca pesan itu dengan tatapan datar. Aneh? Lo belum liat yang di kehidupan pertama, Sel. Di sana dia nikah sama cewek lain sambil bawa semua piala gue. Sekarang mah masih level satu.

Sore harinya, mobil baru itu masih terparkir di depan rumah. Kali ini dengan penutup mobil yang dibelikan Olyvia agar tidak terkena debu. Pak Harjo duduk di teras sambil memandangi mobilnya. Sesekali ia tersenyum sendiri.

Olyvia duduk di sebelah ayahnya. "Pak, seneng?"

Pak Harjo mengangguk. "Seneng banget, Nduk. Bapak gak nyangka bakal punya mobil sendiri. Biasanya cuma liat mobil orang lewat."

"Nanti kalo udah bisa nyetir, Bapak mau kemana aja?"

Pak Harjo berpikir sejenak. "Bapak pengen ke makamnya Mbah Kakung. Selama ini Bapak cuma bisa ke sana setahun sekali karena jauh. Kalo ada mobil, Bapak bisa sering-sering nyekar."

Olyvia meraih tangan ayahnya. "Nanti Olyvia anterin, Pak. Kita sekeluarga."

Pak Harjo menatap anaknya dengan mata berkaca-kaca. "Nduk, Bapak sama Ibu itu gak pernah minta apa-apa dari kamu. Yang penting kamu sukses, bahagia, itu udah cukup. Tapi kamu malah ngasih Bapak ini semua. Bapak jadi bingung."

"Bapak gak perlu bingung. Olyvia ngasih ini karena Olyvia mau. Karena Bapak sama Ibu pantes dapet yang lebih baik."

Mereka berdua duduk dalam diam, menikmati sore yang mulai berwarna jingga. Di kejauhan, suara anak-anak bermain bola terdengar samar. Di warung, Bu Sumarni sibuk melayani pembeli yang datang sambil terus ditanya soal mobil baru.

"Mobilnya bagus ya, Bu. Anak Ibu pinter."

"Iya,. Doakan aja biar makin sukses."

Malam harinya, setelah semua tidur, Olyvia duduk di kamar sambil membuka laptop. Ia mulai serius memikirkan langkah selanjutnya.

Siska sudah mendaftar universitas dan tinggal menunggu ujian. Galang sudah punya PlayStation dan sepatu baru, nilainya di sekolah juga mulai membaik. Ibu sudah punya warung dengan stok melimpah dan perhiasan emas. Bapak sudah punya mobil dan akan segera bisa menggunakannya.

Tapi ini belum cukup. Gue harus bikin mereka punya sumber penghasilan yang stabil. Bukan cuma bergantung sama gue.

Ia mulai mencari-cari informasi di internet. Harga ruko di pusat kota: Rp18.000,- sampai Rp25.000,- per unit. Apartemen tipe studio: Rp30.000,- per unit. Tanah kosong di pinggir jalan raya: Rp5.000,- per meter persegi.

Dengan saldo gue yang hampir enam miliar, gue bisa beli puluhan ruko dan apartemen. Tinggal disewain. Hasil sewanya bisa buat Ibu sama Bapak setiap bulan. Mereka gak perlu kerja keras lagi.

Ia mulai mencatat daftar properti yang akan dibeli. Semuanya atas nama ibunya. Ia juga mulai menghitung estimasi pendapatan sewa bulanan. Jika ia membeli dua puluh ruko dan sepuluh apartemen, pendapatan sewa per bulan bisa mencapai Rp2.000,- sampai Rp3.000,-. Itu sudah lebih dari cukup untuk hidup nyaman di dunia dengan harga barang super murah.

Dan gue masih bisa lanjutin rencana balas dendam ke Arjuna. Dua-duanya jalan.

Ia menutup laptop dan merebahkan diri. Di luar, mobil baru itu terparkir dengan gagah di bawah sinar bulan. Sebuah simbol bahwa kehidupan keluarga ini sudah berubah.

Olyvia menatap langit-langit kamar. Terima kasih, Tuhan. Atas kesempatan kedua ini. Gue gak akan nyia-nyiain.

Ia memejamkan mata. Besok ia akan mulai mensurvei properti. Dan lusa, ia akan mendaftarkan Bapak ke kursus mengemudi. Rencana tinggal rencana sampai dieksekusi. Dan Olyvia sudah siap mengeksekusi semuanya.

Mobil udah. Properti next. Terus bantu Siska keterima universitas. Terus... saatnya Arjuna merasakan apa yang gue rasakan di kehidupan pertama.

Dengan senyum tipis, Olyvia tertidur.

1
Fauziah Daud
terharu sangat... trusemangattt
nana
bagus banget
Fauziah Daud
seru bangat... trusemangattt
Fauziah Daud
seru.. trusemangattt
Fauziah Daud
trusemangattt
Kirina
hmmm tadinya bingung mau komentar apa, tapi e... nama agen nya kok sama semua ya sama nama ibu nya arjuna yaitu 'Ratna', apa jangan2 mereka kemabar lagi🤣🤣🤣🤣
Kirina: bagaimana dengan mia, reva, melinda, silviana, cecil, siska, moli, fani, novi, fitri, atau yang lainnya gitu....
total 2 replies
Andira Rahmawati
pindah apart aja ..yg tingkat keamanannya lebih tinggi..👍
Andira Rahmawati
hadirr...thorr💪💪💪
Kirina
ini kapan beli properti buat ibunya thor kok di undur mulu heran atau author lupa lagi
Kirina: gak papa 😇 tetep ya kak🤗 stay strong💪
total 5 replies
Yusna Wati
semangat ya thor up nya💪🤗
Ahmad Fauzi
bagus seru
Ellasama
salfok SM PP mu kak,,,/Chuckle/
sakura: kenapa dengan PP ku, bagus ya🤭
total 1 replies
Ellasama
puas banget,, nah kan gini baru bener si fl harus strong anti badai
Dewiendahsetiowati
hadir thor
Fauziah Daud
trusemangattt n lanjuttt
Ellasama
kok si olyv gak cepet nindak si Juna sih, seenggaknya kan jangan dibiarin gitu aja nanti dia nya makin ngelunjak lagi
sakura: pakai kapak aja gak sih?🤭
total 1 replies
Ellasama
tenang aja mbak mu itu supper super kaya tujuh turunan tujuh tanjakan /Hey/
Ellasama
monyet 🐒 gak tuh/Facepalm//Curse/
Ellasama
waduhhh, ni dunia cocok bgt buat isi kantong aku/Hey/
Ellasama
wihh satu dunia kek nya nak dibeli sama si olyv deh
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!