NovelToon NovelToon
MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

MALAM TERLARANG BERSAMA MANTAN SUAMI KAKAKKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Duda
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Jangan pernah sebut Luna pelakor! Dia jauh lebih terhormat dibanding kamu yang berselingkuh di belakangku."

​Demi menyelamatkan kakaknya dari ancaman penjara, Luna Maharani terpaksa menyerahkan dirinya. Masuk ke dalam jebakan pernikahan kontrak bersama Devano—sang CEO dingin sekaligus mantan suami kakak kandungnya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Interogasi di Balik Meja Makan

BAB 10: Interogasi di Balik Meja Makan

​Langkah kaki Luna Maharani terasa sangat berat saat dia menapaki lantai teras rumahnya yang berubin kusam. Malam telah larut, hampir menyentuh pukul sebelas lewat tiga puluh menit. Angin malam yang berembus kencang terasa menusuk hingga ke tulang, namun rasa dingin itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan gejolak ketakutan yang kini mencengkeram erat dada Luna.

​Sebelum membuka pintu kayu depan, Luna berhenti sejenak. Dia merogoh tas kerjanya, mengambil sebuah cermin saku kecil untuk memeriksa penampilannya di bawah temaram lampu teras yang kekuningan. Wajahnya begitu pias, matanya yang sembap sudah dia basuh berkali-kali di toilet kantor tadi, namun gurat-gurat kelelahan batin dan sisa air mata itu tidak bisa disembunyikan sepenuhnya. Luna menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu memutar anak kunci dengan sangat pelan.

​Klek.

​Luna mendorong pintu dan melangkah masuk dengan sangat hati-hati, berharap seluruh penghuni rumah sudah terlelap. Namun, begitu kakinya melewati batas ruang tamu menuju koridor tengah, harapannya seketika pupus.

​Lampu di area meja makan masih menyala benderang, memancarkan cahaya putih yang terasa begitu menyilaukan dan mengintimidasi. Di balik meja makan kayu yang sederhana itu, dua sosok wanita sudah duduk menunggunya dengan posisi tangan bersedekap di dada.

​Siska dan Bu Rahma. Atmosfer di dalam rumah itu mendadak berubah menjadi begitu dingin, pekat, dan mencekam, persis seperti ruang interogasi di kantor polisi.

​Siska, yang riasan tebalnya kini sudah mulai sedikit luntur namun masih mengenakan gaun malam merah ketat yang sama seperti di kantor Devano tadi, langsung berdiri dari kursinya begitu melihat sosok Luna. Sepatu hak tingginya sengaja dia hentakkan keras ke lantai marmer, menciptakan bunyi nyaring yang memecah keheningan malam.

​"Dari mana saja kamu, Luna?!" bentak Siska, suaranya melengking tinggi penuh amarah yang tertahan. Dia melangkah mendekati Luna, menatap adiknya dengan pandangan mata yang menyipit penuh kecurigaan dan rasa benci.

​Luna menghentikan langkahnya, menundukkan kepala dan meremas tali tasnya erat-earat. "Aku... aku baru pulang dari kantor, Kak."

​"Baru pulang dari kantor, kamu bilang?!" Siska terkekeh sumbang, sebuah tawa yang dipenuhi rasa frustrasi karena pengusiran kejam Devano beberapa jam lalu masih membakar harga dirinya. "Tadi jam sembilan malam Mas Devano bilang sendiri di depanku kalau kamu sudah dipulangkan sejak dua jam sebelumnya untuk mengurus berkas di luar! Lalu kenapa kamu baru sampai rumah jam setengah dua belas malam, Luna?! Kamu pergi ke mana?! Kamu sengaja kelayapan dan membiarkan Kakak seperti orang bodoh mencari-cari kamu di lobi bawah?!"

​Dada Luna bergemuruh hebat. Otaknya dipaksa bekerja berputar dua kali lipat lebih cepat di tengah rasa lelah yang teramat sangat. Dia tidak boleh salah bicara sedikit pun. Jika Siska tahu bahwa selama kakaknya berada di dalam ruangan itu, Luna sebenarnya sedang meringkuk ketakutan di balik punggung tegap Devano, maka hancurlah sudah seluruh hidupnya.

​"Maaf, Kak... tadi setelah mengurus berkas di luar, ponselku mati karena kehabisan baterai," lirih Luna, mencoba mengatur nada suaranya agar terdengar setenang mungkin meski lututnya sudah gemetar hebat. "Ternyata ada berkas laporan fisik yang tertinggal di gudang arsip lantai bawah. Jadi, aku terpaksa kembali lagi ke gedung kantor untuk mencarinya setengah mati di sana sendirian. Makanya aku baru bisa pulang larut begini."

​Siska menatap tajam ke dalam manik mata Luna, mencoba mencari celah kebohongan dari ekspresi wajah adiknya yang pucat. Siska mendengus kasar, lalu membalikkan badannya dengan kesal.

​"Dasar tidak berguna! Kamu tahu tidak, gara-gara kamu tidak ada di tempat dan tidak membantuku membukakan jalan, Mas Devano tadi marah besar!" Siska menggebrak pinggiran meja makan, membuat Bu Rahma yang duduk di sampingnya ikut tersentak. "Mas Devano mengusirku seperti sampah, Luna! Dia menghinaku! Dan itu semua terjadi karena kamu tidak becus menjadi asisten pribadinya! Harusnya kamu itu bisa membujuk dia, menceritakan hal-hal baik tentangku setiap hari, bukannya malah membuatku menanggung malu sendirian di kantornya!"

​Bu Rahma, yang sejak tadi hanya diam memperhatikan, kini ikut berdiri. Beliau melangkah mendekati Luna, menatap putri bungsu dengan pandangan mata yang sangat menuntut dan dingin.

​"Luna, dugaanku ternyata benar. Kamu memang tidak punya hati ya melihat kakakmu menderita?" ucap Bu Rahma dengan nada suara yang sarkas dan menyakitkan. "Kamu harus tahu diri, Luna. Siapa yang melunasi utang-utang judi almarhum ayahmu sampai bersih? Siapa yang membiayai seluruh pengobatan rumah sakit Ibu untuk satu tahun ke depan? Itu semua uang dari Devano! Dan Devano memberikan itu semua karena dia masih menghormati keluarga kita melalui posisi kerjamu!"

​Ibu mencengkeram bahu Luna dengan sedikit tekanan yang menyakitkan. "Tugas kamu di kantor itu cuma satu, Luna: turuti semua kemauan Siska, bantu kakakmu untuk bisa rujuk kembali dengan Devano demi masa depan keluarga kita! Kalau kamu terus-terusan tidak becus bekerja seperti ini, bagaimana kalau Devano mendadak membatalkan semua pelunasan utang itu dan membiarkan Ibu diseret ke penjara?! Kamu mau melihat Ibu mati terkena serangan jantung?!"

​Hantaman kata-kata dari ibunya sendiri terasa seperti ribuan jarum yang menusuk tepat di ulu hati Luna. Air mata yang sejak tadi dia tahan mati-matian di kantor kembali menggenang di pelupuk matanya. Batin Luna menjerit dalam kesunyian yang teramat perih. Ibu tidak tahu... Kak Siska tidak tahu... kalau pria yang kalian agung-agungkan itu baru saja menginjak-injak harga diriku di atas meja kerjanya... Dia menganggapku wanita murahan yang bisa dibeli dengan uang utang itu...

​"Iya, Bu... maafkan Luna. Besok... besok Luna akan bekerja lebih baik lagi," bisik Luna dengan suara yang serak menahan tangis. Dia tidak sanggup lagi berdiri di bawah tatapan menghina dari ibu dan kakaknya.

​"Halah, alasan saja! Masuk sana ke kamarmu! Menggangu pemandangan saja!" usir Siska dengan ketus sembari mengibaskan tangannya seolah Luna adalah seonggok kotoran yang mengganggu.

​Luna menunduk dalam, lalu melangkah dengan cepat menuju kamarnya yang sempit di sudut belakang rumah. Begitu pintu kamar tertutup rapat, Luna langsung mengunci pintunya dari dalam. Dia menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang lapuk itu, lalu perlahan merosot jatuh duduk di atas lantai yang dingin. Luna menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan, membiarkan tangisnya pecah tanpa suara di dalam kegelapan kamar. Bahunya terguncang hebat meratapi takdir hidupnya yang terjepit begitu kejam di antara dua sisi dosa.

​Setelah beberapa menit mencoba menenangkan diri, Luna menghapus air matanya dengan kasar. Dia bangkit berdiri, menyalakan lampu kamar yang remang-remang, lalu meletakkan tas kerjanya di atas meja belajar kecil. Luna bermaksud untuk segera berganti pakaian dan membersihkan tubuhnya agar bisa beristirahat.

​Namun, baru saja tangan Luna hendak membuka kancing kemeja sutra putihnya, ponsel di dalam tas kerjanya tiba-tiba bergetar satu kali dengan intensitas yang kuat.

​Drrt.

​Jantung Luna seketika berdegup kencang kembali. Perasaan tidak enak mendadak merayap di tengkuknya. Dengan tangan yang dingin dan gemetar, dia meraih ponselnya dari dalam tas, membuka kunci layar, dan melihat sebuah pesan singkat dari nomor tidak dikenal yang dia tahu betul siapa pemiliknya.

​Itu adalah sebuah kiriman foto.

​Luna membuka foto tersebut, dan detik itu juga, seluruh pasokan udara di dalam paru-parunya seolah tersedot habis. Wajah Luna mendadak berubah menjadi seputih kertas, dan tubuhnya mendadak kaku membeku di tempat dengan mata yang terbelalak sempurna karena syok yang teramat luar biasa.

​Di dalam foto yang dikirimkan lewat aplikasi hijau itu, terlihat permukaan meja kerja kaca tebal milik Devano yang megah di kantor tadi. Di atas meja tersebut, tergeletak sebuah lipstik berwarna merah muda menyala milik Siska yang tertinggal saat kakaknya diusir tadi malam. Namun, yang membuat jantung Luna serasa berhenti berdetak adalah barang yang sengaja diletakkan tepat di sebelah lipstik tersebut.

​Itu adalah sebuah jepit rambut perak berbentuk bunga kecil milik Luna—jepit rambut yang terlepas dari kepalanya saat Devano mencengkeram rahangnya dan menyudutkannya di meja kerja beberapa jam yang lalu.

​Di bawah foto yang sangat mengerikan itu, sebuah pesan singkat tertulis dengan kalimat yang sarat akan ancaman psikologis yang mematikan dari sang CEO:

​[Nomor Tidak Dikenal]: "Kakakmu meninggalkan ini di meja kerjaku malam ini. Dan jepit rambutmu tertinggal di bawah sofa ruang kerjaku. Menurutmu, Asisten Luna... apa yang akan terjadi jika besok pagi aku menyuruh sekretaris pribadiku untuk mengantarkan dan mengembalikan jepit rambut perak ini langsung ke tangan Siska di rumahmu?"

​Ponsel di tangan Luna nyaris saja terjatuh ke lantai marmer. Dia membeku di tengah kamarnya yang sunyi, merasakan cengkeraman teror tak terlihat dari Devano yang kembali melilit lehernya meski jarak mereka berjauhan. Pria itu adalah seekor serigala yang tidak akan pernah membiarkannya bernapas tenang, meskipun Luna sudah menutup rapat pintu kamarnya sendiri.

1
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!