NovelToon NovelToon
Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Aku Benar-Benar Manusia Biasa, Percayalah!

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Action
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: WANA SEBAYA

​"Sialan! Kenapa transmigrasiku tidak memberiku kekuatan super?!"

​Ye Xuan adalah seorang pemuda dari Bumi yang terbangun di Benua Sembilan Cakrawala, sebuah dunia di mana para kultivator bisa membelah lautan dengan satu tebasan pedang. Sialnya, ia menempati tubuh seorang Tuan Muda Klan Ye yang dibuang karena tidak memiliki bakat kultivasi sedikit pun.

​Tanpa energi spiritual, tanpa sistem bela diri, Ye Xuan terpaksa hidup terasing di sebuah puncak gunung terpencil. Untuk bertahan hidup, ia hanya bisa berkebun ubi, menyapu halaman, dan memancing di kolam belakang gubuknya.

​Namun, yang tidak Ye Xuan sadari adalah:

​Air bekas cucian ubi yang ia buang sebenarnya adalah Cairan Kehidupan Abadi yang diperebutkan para Kaisar.

​Sapu lidi tua miliknya adalah Senjata Pemusnah Dao yang ditakuti seluruh iblis.

​Dan ubi bakar yang ia anggap "makanan rakyat jelata" sebenarnya adalah Obat Dewa yang bisa membuat seseorang menerobos ranah dalam semalam!

​Ketika para dewi sekte suci d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WANA SEBAYA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

​BAB 5: LUKISAN KERINDUAN DAN AIR MATA SURGA

​Siang itu, setelah Jenderal Long dan pasukannya pergi dengan membawa mangkuk ubi yang mereka jilat sampai bersih seolah itu adalah pusaka suci, keheningan kembali menyelimuti Puncak Awan Tersembunyi. Namun, keheningan kali ini terasa berbeda. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menghimpit dada Ye Xuan.

​Ia berdiri di ambang pintu, menatap langit yang biru bersih. Ingatannya tiba-tiba melayang pada fragmen memori pemilik tubuh ini sebelumnya. Bayangan tentang seorang pria gagah yang memeluknya erat di tengah hujan darah, dan seorang wanita lembut yang membisikkan kata "hiduplah" sebelum tubuh mereka ditelan oleh cahaya ledakan energi.

​Ayah... Ibu... batin Ye Xuan perih.

​Meskipun ia adalah seorang transmigrator, memori itu terasa begitu nyata, seolah-olah rasa sakit itu tertanam di dalam sumsum tulangnya. Ia merasa bersalah. Orang tuanya tewas melindunginya karena ia dianggap "sampah" yang tidak bisa berkultivasi, dan sekarang, ia tetap merasa dirinya sampah yang hanya bisa bersembunyi di gunung.

​"Senior? Apakah ada yang mengganggu pikiran Anda?" suara lembut Lin Meier memecah lamunannya.

​Lin Meier dan Jian Chengyue berdiri tidak jauh darinya. Mereka bisa merasakan perubahan atmosfer. Tadi, saat Ye Xuan memukul karpet, auranya adalah kehancuran yang mutlak. Namun sekarang, aura di sekitar Ye Xuan terasa begitu pilu, begitu kesepian, hingga bunga-bunga di halaman pun tampak layu karena ikut merasakan kesedihan tersebut.

​Ye Xuan tersenyum pahit, matanya sedikit berkaca-kaca. "Tidak ada apa-apa, Nona Lin. Hanya saja... terkadang aku merasa dunia ini terlalu luas untuk orang sepertiku. Ada banyak hal yang ingin kukatakan pada mereka yang sudah pergi, tapi aku bahkan tidak punya cara untuk mencapainya."

​Ye Xuan berjalan menuju meja kayunya. Ia membentangkan selembar kertas rami tua. "Tiba-tiba aku ingin melukis. Mungkin dengan ini, rasa sesak di dadaku bisa sedikit berkurang."

​Ye Xuan mengambil kuas bulu dombanya. Ia tidak meminta bantuan sistem. Ia tidak memikirkan poin keberuntungan. Ia hanya ingin menuangkan kerinduannya.

​Begitu ujung kuas menyentuh tinta, seluruh Benua Sembilan Cakrawala tiba-tiba mengalami fenomena aneh. Hujan mulai turun, namun bukan hujan badai, melainkan gerimis tipis yang terasa hangat seperti air mata manusia. Di berbagai sekte besar, para tetua yang sedang bermeditasi tiba-tiba terbangun, merasakan kesedihan yang begitu mendalam mengalir di dalam jiwa mereka.

​Siapa... siapa yang sedang menangis hingga membuat Langit ikut berduka? gumam para ahli di seluruh penjuru dunia.

​Di halaman pondok, Lin Meier dan Jian Chengyue menahan napas. Mereka melihat Ye Xuan mulai menggerakkan tangannya. Gerakannya tidak lagi terlihat seperti orang biasa. Setiap goresan kuasnya membawa ritme alam semesta.

​Ye Xuan melukis dua figur manusia dari belakang—seorang pria dan wanita yang berjalan menuju cahaya. Ia tidak melukis wajah mereka, karena ia sendiri tidak berani menatap wajah orang tua yang telah mengorbankan segalanya untuknya.

​Sret... sret...

​Bagi Ye Xuan, itu hanya lukisan tinta hitam putih yang sederhana. Namun di mata Lin Meier, lukisan itu memancarkan "Dao Cinta Kasih" yang begitu murni. Ia melihat bayangan orang tua Ye Xuan di dalam lukisan itu seolah hidup, memancarkan aura perlindungan yang sanggup menahan serangan dari dewa sekalipun.

​"Selesai," bisik Ye Xuan. Setetes air mata jatuh dari pipinya, tepat mengenai sudut kertas.

​BOOM!

​Begitu air mata itu menyentuh kertas, lukisan itu memancarkan cahaya keemasan yang membumbung tinggi, menembus awan, dan langsung menuju ke Dunia Surgawi Atas. Di langit, suara nyanyian para dewa terdengar samar, seolah menyambut persembahan emosi dari seorang anak.

​Jian Chengyue, yang biasanya keras kepala, kini sudah menangis sesenggukan. Ia merasakan penyesalan yang mendalam atas kesombongannya selama ini.

​"Senior... lukisan ini... ini bukan sekadar seni," isak Jian Chengyue. "Ini adalah kehendak yang melampaui hidup dan mati. Saya... saya merasa sangat kecil di hadapan ketulusan Anda."

​Ye Xuan menoleh, melihat kedua gadis itu menangis. Ia langsung panik dan merasa malu. Aduh, Ye Xuan! Kau ini laki-laki, kenapa malah bikin cewek nangis gara-gara lukisan jelekmu?!

​"Eh, maaf! Maafkan aku!" Ye Xuan buru-buru menggulung lukisannya. "Aku tahu lukisanku buruk dan terlalu sedih. Tolong jangan menangis, aku akan membuatkan sesuatu yang ceria sebagai gantinya. Bagaimana kalau aku menggoreng ubi dengan gula? Manis bisa membuat suasana hati lebih baik, kan?"

​Lin Meier menyeka air matanya, menatap Ye Xuan dengan pandangan yang lebih dari sekadar pemujaan pada seorang ahli. Ada rasa empati dan kasih sayang di sana. Senior Ye... meskipun Anda memiliki kekuatan yang bisa mengguncang dunia, hati Anda tetap selembut ini. Anda masih meratapi orang tua Anda seolah-olah Anda adalah manusia biasa. Betapa mulianya jiwa Anda.

​"Senior, tidak perlu minta maaf," ucap Lin Meier lembut. "Justru kami yang berterima kasih. Anda telah menunjukkan kepada kami bahwa puncak tertinggi dari kultivasi bukanlah kekuatan untuk menghancurkan, melainkan kemampuan untuk tetap memiliki perasaan."

​Ye Xuan berkedip, merasa sangat bingung. Puncak kultivasi? Aku cuma lagi kangen rumah dan gagal bikin lukisan yang bagus! Kenapa pembicaraan ini jadi sangat berat?

​"Ya, ya... begitulah," jawab Ye Xuan asal-asalan demi menghentikan kecanggungan. "Nah, Nona Jian, tolong ambilkan kayu bakar yang kau belah tadi. Kita butuh api yang besar untuk menggoreng ubi gula."

​Jian Chengyue segera berdiri, menghapus air matanya dengan lengan bajunya, dan kembali bersemangat. "Siap, Senior! Saya akan membawakan kayu bakar terbaik!"

​Saat Jian Chengyue berlari ke tumpukan kayu, ia menyadari sesuatu. Kapak yang ia gunakan tadi kini bersinar putih bersih. Begitu ia menyentuh kayu bakar itu, kayu-kayu itu berubah menjadi "Kayu Gaharu Surgawi" hanya karena terkena sisa emosi dari lukisan Ye Xuan.

​Malam itu, di bawah rembulan yang tampak lebih terang dari biasanya, tiga orang itu duduk di halaman. Bau manis ubi goreng memenuhi udara. Ye Xuan bercerita tentang "negeri jauh" (Bumi) di mana orang-orang tidak perlu berkelahi untuk hidup, sementara kedua gadis itu mendengarkan dengan penuh kekaguman, menganggap itu adalah gambaran tentang Dunia Dewa yang sebenarnya.

​Ye Xuan merasa sedikit lebih tenang. Meskipun ia menganggap dirinya lemah, kehadiran dua gadis ini membuatnya merasa tidak lagi sendirian di dunia yang asing ini.

​Mungkin... menjadi petani ubi di gunung ini tidak seburuk itu, batin Ye Xuan sambil tersenyum menatap bintang.

BAB 6: TAMU YANG TIDAK DIUNDANG DAN STANDAR HIDUP DEWA

​Pagi itu, Ye Xuan memutuskan untuk melakukan sesuatu yang sangat "inovatif" menurut standarnya: Membangun sistem irigasi untuk kebun ubinya. Karena ia bosan menyiram manual, ia menggunakan beberapa batang bambu tua dan mengukir beberapa saluran air kecil di atasnya.

​"Kalau cuma bambu biasa, airnya cepat berlumut," gumam Ye Xuan. Ia kemudian mengambil sebuah pisau dapur karatan dan mengukir beberapa pola acak yang ia ingat dari sirkuit motherboard komputer di Bumi. "Nah, dengan pola sirkuit ini, mungkin aliran airnya jadi lebih stabil. Estetika teknologi Bumi di dunia fantasi, tidak buruk juga."

​Ia tidak tahu bahwa "pola sirkuit" yang ia ukir sebenarnya adalah Struktur Formasi Makro yang bisa memurnikan energi spiritual tingkat rendah menjadi Cairan Kosmik murni.

​Saat itu, Lin Meier sedang membantu mengikat bambu. Ia melihat pola ukiran tersebut dan matanya hampir meledak. Itu... itu bukan sekadar formasi! Itu adalah 'Hukum Pengaturan Semesta'! Senior sedang menciptakan ekosistem dewa hanya untuk menyiram ubi?!

​Namun, kedamaian itu pecah ketika langit di atas Puncak Awan Tersembunyi mendadak terbelah oleh deru mesin perang udara yang megah. Tiga kapal terbang raksasa dengan simbol Klan Ye Surgawi muncul, menutupi matahari.

​Di geladak utama, berdiri seorang pemuda tampan dengan jubah emas yang sangat sombong, Ye Ba. Ia adalah sepupu Ye Xuan yang dulu ikut menendang Ye Xuan dari klan setelah orang tuanya tewas. Di sampingnya stands seorang penatua berambut putih, Penatua Gu, yang memiliki kultivasi ranah Spirit Severing.

​"Jadi di sini sampah itu bersembunyi?" Ye Ba meludah ke bawah. "Klan mendengar rumor bahwa ada 'Ahli Agung' di gunung ini yang mengalahkan Sekte Bayangan Darah. Mereka takut itu adalah Ye Xuan yang mendapatkan warisan rahasia Ayahnya. Tapi lihatlah... dia tetap saja seorang petani yang bermain dengan bambu."

​Penatua Gu menyipitkan mata. "Tuan Muda, jangan gegabah. Aura di gunung ini... sangat aneh."

​"Aneh apanya?! Dia hanya menggunakan trik sulap untuk menipu gadis-gadis bodoh itu!" Ye Ba berteriak, suaranya dikeraskan dengan energi spiritual sehingga menggelegar sampai ke bawah. "Ye Xuan! Budak sampah! Keluar dan berlutut! Serahkan warisan Ayahmu, atau aku akan meratakan gubuk ini sekarang juga!"

​Di bawah, Ye Xuan sedang memegang palu, hendak memaku bambu. Suara teriakan itu membuatnya tersentak dan jarinya hampir terpukul palu.

​"Aduh! Siapa sih yang teriak-teriak pakai toa?!" Ye Xuan mendongak dengan wajah sangat kesal. Ia melihat kapal-kapal terbang raksasa itu. "Lagi-lagi tamu tidak diundang. Dan mereka memanggilku 'budak'? Apa ini rombongan debt collector klan lama itu lagi?"

​Rasa takut sempat muncul, tapi rasa kesalnya lebih besar. Bayangan wajah Ye Ba yang dulu sering merundungnya muncul di ingatan.

​"Nona Jian, tolong ambilkan jemuran pakaian di belakang," perintah Ye Xuan tiba-tiba.

​Jian Chengyue bingung. "Jemuran, Senior? Sekarang?"

​"Iya! Orang-orang di atas sana sangat berisik. Mereka membuat debu berterbangan ke jemuranku. Aku harus mengibasnya!" Ye Xuan mengambil selembar seprai putih yang baru dicuci.

​Ye Xuan tidak menyadari bahwa seprai itu telah direndam dalam air sumurnya yang mengandung esensi Dao, dan saat ia mengibasnya ke udara dengan perasaan jengkel, ia sebenarnya sedang melepaskan "Tirai Penutup Langit".

​Wush!

​Ye Xuan mengibaskan seprai putih itu ke arah langit. Di matanya, itu hanya gerakan mengusir debu. Tapi bagi orang-orang di kapal terbang, mereka melihat selembar kain putih raksasa yang tiba-tiba menutupi seluruh cakrawala, memutus hubungan mereka dengan energi spiritual dunia.

​"Apa yang terjadi?! Mesin kapal mati!" teriak awak kapal.

​Kapal-kapal perang megah milik Klan Ye tiba-tiba kehilangan daya dan meluncur jatuh seperti batu yang dilempar ke sumur.

​Brak! Gubrak!

​Ketiga kapal itu jatuh di kaki gunung, hancur berantakan. Beruntung bagi mereka, energi di gunung itu menahan benturan sehingga mereka tidak mati, tapi mereka semua kini merangkak keluar dari reruntuhan dengan kondisi kacau balau.

​Ye Ba, dengan mahkota emasnya yang miring, merangkak menuju pagar Ye Xuan dengan marah. "Kau! Kau berani menyerang kapal klan?! Kau sudah bosan hidup?!"

​Ye Xuan berjalan menuju pagar, masih memegang seprai putih di pundaknya seperti handuk. Ia menatap Ye Ba dari atas pagar kayu.

​"Dengar, sepupu jauh atau siapa pun kau," suara Ye Xuan terdengar sangat dingin (karena ia sebenarnya sedang menahan emosi agar tidak gemetar ketakutan). "Aku sudah keluar dari klan. Aku tidak punya warisan apa-apa. Yang kupunya hanyalah kebun ubi ini. Kalau kau datang hanya untuk merusak cucianku, lebih baik kau pergi sebelum aku benar-benar marah."

​Ye Ba tertawa histeris. "Marah? Kau ingin menyerangku dengan seprai? Penatua Gu, bunuh dia!"

​Penatua Gu maju, berniat melepaskan serangan penghancur jiwa. Namun, saat ia melangkah maju, kakinya menginjak saluran irigasi bambu yang baru dibuat Ye Xuan.

​Seketika, Penatua Gu membeku. Ia merasakan energi dari bambu itu mengalir ke tubuhnya—bukan energi yang menyerang, melainkan energi yang "Mengkoreksi" seluruh jalur kultivasinya.

​"Ini... ini mustahil..." Penatua Gu jatuh berlutut, air mata mengalir. "Selama tiga ratus tahun aku terjebak di ranah Spirit Severing karena cacat di meridianku... tapi hanya dengan menginjak air cucian ubi di bambu ini, cacatku sembuh? Rahasianya... ada di pola ukiran ini!"

​Penatua Gu memandang Ye Xuan dengan ngeri yang bercampur pemujaan. Ia menyadari satu hal: Ye Xuan tidak menggunakan serangan, karena bagi Ye Xuan, Klan Ye bahkan tidak layak untuk diserang. Ye Xuan hanya sedang "Menjalani Hidup", dan standar hidup Ye Xuan sudah terlalu tinggi sehingga keberadaan orang jahat di sekitarnya secara otomatis "dibersihkan" oleh aura lingkungannya.

​"Tuan Muda Ye Ba... berhentilah," bisik Penatua Gu sambil bersujud ke arah Ye Xuan. "Kita bukan datang ke rumah seorang sampah... kita baru saja menerobos masuk ke dalam Istana Dewa Tertinggi."

​Ye Ba melongo. "Penatua? Apa yang kau lakukan?!"

​"Diam!" Penatua Gu menekan kepala Ye Ba ke tanah. "Senior Ye Xuan sedang memberikan kita belas kasihan dengan tidak membunuh kita saat kapal kita jatuh! Lihatlah bambu itu! Pola itu adalah desain sirkuit Surga! Kita bahkan tidak pantas menjadi pupuk di ladang ubinya!"

​Ye Xuan berdiri di sana, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lho? Sekarang mereka malah sujud ke bambu irigasi? Apa bambu ini ada kutukannya?

​"Sudahlah, Nona Lin, tolong beri mereka masing-masing satu ubi mentah dan suruh mereka pergi," ucap Ye Xuan lemas. "Aku lelah. Berurusan dengan orang-orang gila ini lebih melelahkan daripada mencangkul."

​Lin Meier tersenyum bangga. Ia mengambil beberapa ubi mentah dan melemparkannya ke arah Ye Ba dan Penatua Gu seolah melemparkan tulang ke anjing. "Ini pemberian Senior. Pergilah dan jangan pernah kembali ke Puncak suci ini!"

​Ye Ba, yang kini sudah hancur mentalnya, memegang ubi mentah itu. Begitu ia mencium aromanya, seluruh kebencian di hatinya menguap, digantikan oleh rasa syukur yang aneh. Ia menyadari bahwa selama ini ia mengejar kekuasaan yang fana, sementara sepupunya yang ia buang sudah menguasai hakikat kehidupan.

1
Pecinta Gratisan
semangat💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!