Yudi seorang pria dari dunia modern terlempar ke Tahun 700 masehi di pulau Buton, saat ayahnya meninggal Ayahnya mengatakan Bahwa ibunya ada di Bumi bagian utara
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RRS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10: Darah di Luoyang dan Salju Merah Himalaya
10 September 700 Masehi — Luoyang, Tiongkok & Perbatasan Tibet
Langit di atas Luoyang tampak seperti dibakar. Asap hitam membubung tinggi dari gerbang barat kota, tempat pasukan pemberontak yang didukung oleh sisa-sisa loyalis Dinasti Tang mencoba meruntuhkan kejayaan Dinasti Zhou. Genderang perang berdentum, memekakkan telinga, berpadu dengan teriakan ribuan pria yang meregang nyawa.
Maharani Wu Lin berdiri di atas kereta perang emasnya. Rambutnya terikat kencang, dan zirah emasnya kini berlumuran darah musuh. Di tangan kanannya, ia menggenggam pedang pusaka kekaisaran yang berkilat tajam. Di sampingnya, Yue Qing bergerak seperti hantu; kipas baja miliknya melesat di udara, memotong tenggorokan lawan dengan presisi yang mematikan.
"Habisi mereka! Jangan biarkan satu pun pengkhianat menginjakkan kaki di aula leluhur!" teriak Wu Lin dengan suara yang menggetarkan nyali pasukannya.
Di barisan belakang, dijaga ketat oleh pasukan pengawal elit, berdiri empat pemuda remaja dengan pakaian zirah yang megah namun tampak tegang. Mereka adalah adik-adik laki-laki Yudi, putra Wu Lin dari pernikahan politiknya di istana.
Si kembar, Zhou Long dan Zhou Hu yang berusia 15 tahun, menggenggam tombak dengan tangan gemetar namun berusaha menunjukkan keberanian. Di belakang mereka, Zhou Cheng (13 tahun) dan si bungsu Zhou Jian (12 tahun) menatap ngeri ke arah medan tempur. Mereka tahu bahwa jika ibu mereka jatuh, takhta ini akan menjadi kuburan bagi mereka semua.
"Kakak Long, apakah kita akan menang?" bisik Zhou Jian dengan wajah pucat.
Zhou Long menatap punggung ibunya yang sedang menebas musuh di depan sana. "Ibu tidak akan kalah. Kita adalah naga dari Dinasti Zhou. Diamlah, dan tetap di posisimu!"
Pertempuran itu berlangsung hingga fajar menyingsing. Dengan kepemimpinan Wu Lin yang tanpa ampun dan strategi senyap Shadow Phoenix di bawah Yue Qing, pasukan pemberontak akhirnya kocar-kacir. Luoyang berhasil dipertahankan, namun harga yang dibayar adalah ribuan nyawa yang melayang di parit kota.
Di Jalur Pegunungan Himalaya — Perbatasan Tibet
Di saat yang hampir bersamaan, ribuan mil ke arah barat, hawa dingin yang menusuk tulang menyelimuti konvoi monster baja milik Yudi. Lima Armored Car militer itu bergerak perlahan mendaki jalur sempit yang diapit oleh jurang curam. Namun, ketenangan pegunungan itu pecah oleh suara terompet tanduk yang melengking panjang.
[Peringatan: Deteksi Ancaman Militer...]
[Target: 3.000 Pasukan Kavaleri dan Pemanah Kekaisaran Tibet terdeteksi di tebing kiri dan kanan.]
"Tuan! Kita disergap!" teriak Galuh melalui radio antar kendaraan.
Dari atas tebing, ribuan anak panah yang ujungnya telah dibakar menghujani konvoi tersebut. Pasukan kavaleri Tibet dengan kuda-kuda gunung yang tangguh meluncur turun dari lereng, mengayunkan kapak perang besar mereka ke arah kendaraan-kendaraan yang mereka anggap sebagai monster logam.
"Pengawal! Keluar dan bentuk formasi pertahanan! Gunakan senjata kalian!" perintah Yudi melalui pengeras suara kendaraan.
100 pengawal yang sudah dilatih menggunakan senapan semi-otomatis dan crossbow modern segera keluar dari pintu belakang Armored Car. Suara tembakan pun memecah kesunyian Himalaya. Duar! Duar! Duar!
Pasukan Tibet yang hanya bermodalkan baju zirah kulit dan pedang perunggu terperangah. Kuda-kuda mereka meringkik ketakutan mendengar suara ledakan senjata api. Namun, jumlah mereka terlalu banyak. Mereka menyerang dengan nekat, mengabaikan rekan-rekan mereka yang tumbang bersimbah darah.
Yudi keluar dari kendaraan komandonya, memegang sebuah senapan serbu. Ia menembak dengan tenang, menjatuhkan setiap komandan Tibet yang mencoba mendekat. Namun, sebuah kesalahan taktis terjadi. Saat Yudi mencoba menarik seorang pengawalnya yang terjepit di bawah kuda musuh, seorang pemanah terampil dari suku pegunungan melepaskan anak panah dari jarak jauh yang tak terdeteksi radar radar karena tertutup badai salju tipis.
Jleb!
"Tuan!" Galuh menjerit.
Sebuah anak panah menancap tepat di bahu kiri Yudi. Rasa panas menjalar seketika. Yudi terhuyung, namun ia segera menembak mati si pemanah sebelum jatuh terduduk di salju yang mulai memerah oleh darahnya sendiri.
Melihat pemimpin mereka terluka, 100 pengawal Yudi mengamuk. Mereka memberondongkan peluru tanpa ampun, mengubah lembah itu menjadi ladang pembantaian. Pasukan Tibet yang tersisa akhirnya melarikan diri dengan ketakutan, mengira mereka baru saja melawan pasukan iblis.
Dua Hari Kemudian — Istana Luoyang
Kemenangan di Luoyang dirayakan dengan pesta besar, namun di ruang kerja Maharani, suasana tetap sunyi. Wu Lin duduk di singgasana dengan luka yang sudah dibalut, sementara keempat putranya duduk di hadapannya dengan kepala tertunduk hormat.
"Kalian sudah melihat sendiri," ucap Wu Lin dengan nada berat. "Dunia ini kejam. Takhta ini hanya milik mereka yang kuat."
Tiba-tiba, Yue Qing masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya menunjukkan kecemasan yang belum pernah dilihat Wu Lin sebelumnya. Di tangannya, ia memegang sebuah gulungan hitam—pesan rahasia dari Shadow Phoenix.
"Yang Mulia... laporan dari India," Yue Qing menelan ludah, suaranya sedikit bergetar.
Wu Lin langsung berdiri. "Apakah itu Yudi? Katakan padaku!"
"Pasukan kita yang membuntuti dari jauh melapor bahwa... konvoi Pangeran diserang oleh ribuan pasukan Kekaisaran Tibet di jalur Himalaya. Terjadi pertempuran besar dengan senjata yang mengeluarkan petir dan ledakan," Yue Qing berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca karena obsesinya yang mendalam membuatnya merasa sakit saat mendengar kabar ini. "Laporan menyebutkan... Pangeran terlihat jatuh terkena panah musuh."
Braakk!
Wu Lin menghantam meja kayu mahoni hingga retak. Wajahnya memucat pasi, sementara keempat putra yang ada di sana terkejut mendengar bahwa mereka memiliki seorang kakak laki-laki yang sedang berada di ujung dunia.
"Siapkan pasukan," desis Wu Lin, suaranya terdengar seperti bisikan kematian. "Aku tidak peduli jika aku baru saja memenangkan perang di sini. Jika sesuatu terjadi pada putra sulungku, aku akan meratakan seluruh daratan Tibet dengan tanah!"
Yue Qing mengepalkan tangannya. Obsesinya kini berubah menjadi kemarahan murni. "Hamba akan berangkat lebih dulu dengan unit Shadow Phoenix tercepat, Yang Mulia. Hamba tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh milik hamba lebih jauh lagi."
Di pegunungan Himalaya yang dingin, Yudi terbaring di dalam kabin medis Armored Car-nya, menahan sakit saat Galuh mencoba mencabut anak panah itu. Sistem di matanya terus berkedip, memberikan peringatan medis. Namun, di balik rasa sakitnya, Yudi tersenyum tipis. Perang ini baru saja membangkitkan sisi gelapnya yang tertidur.
"Tibet..." gumam Yudi lirih. "Kalian baru saja menandatangani surat kematian kerajaan kalian sendiri."
Konvoi baja itu kembali menderu, tidak lagi bergerak dengan santai, melainkan melaju dengan amarah yang membara di bawah bayang-bayang puncak Everest yang membeku. Sejarah dunia sedang bergeser, dan darah sang pangeran di salju Himalaya akan menjadi pemicu kehancuran sebuah kekaisaran besar.