Sejak bangku taman kanak-kanak, sekolah dasar, menengah, hingga ruang kuliah, mereka selalu dipertemukan, seolah takdir tak ingin memisahkan langkah keduanya. Namun perbedaan watak dan sifat menjadikan mereka dua kutub yang selalu berlawanan, sering berselisih paham atas hal-hal kecil, dan saling memandang dengan dingin. Kini, dua jiwa yang dulu saling menjauh dan penuh pertikaian, terpaksa disatukan dalam satu ikatan pernikahan. Di atas janji yang tertulis di atas kertas, tersembunyi sebuah tanya besar: mungkinkah benci yang lama terjalin perlahan meleleh, berubah menjadi rasa cinta yang tumbuh diam-diam di tengah perbedaan dan perselisihan yang selama ini ada di antara mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Saat Dia Mulai Peduli
Langit pagi itu tampak mendung kelabu, angin sejuk berhembus pelan menyelinap masuk lewat celah jendela ruang kerja. Hati Farzhan Ibrahim terasa tidak enak sejak kejadian semalam. Rasa bersalah itu terus menghantuinya seperti bayangan yang tak mau pergi, mengikutinya ke mana pun ia melangkah.
Bagaimana bisa ia membentak Vira yang sama sekali tidak bersalah, hanya karena emosinya di kantor tidak tertahan? Gadis itu tidak menunjukkan kemarahan sedikit pun, bahkan hanya berbicara dengan nada santai bahwa Farzhan ternyata manusia biasa, bukan sosok yang dingin dan kaku seperti yang orang lain kira.
Justru karena sikap Vira yang begitu lembut dan pengertian, Farzhan merasa semakin bersalah. Vira terlalu baik, sementara dirinya terlalu kasar dan keras kepala.
"Baiklah, Farzhan. Kamu harus memperbaiki kesalahan ini. Kamu harus memberinya sesuatu yang membuatnya senang. Buktikan bahwa kamu bisa menjadi suami yang penuh perhatian," gumam Farzhan pada dirinya sendiri, nada bicaranya tetap datar dan rendah, sama dinginnya seperti biasa, namun matanya tampak penuh keraguan. Ia duduk tegak di kursi besarnya, memandang keluar jendela ke arah langit yang mulai menurunkan rintik hujan halus.
Ia menekan tombol interkom di atas meja kerjanya.
"Zikri, kemari."
Beberapa saat kemudian, pintu ruangan terbuka. Zikri, sekretaris pribadinya yang setia, melangkah masuk dengan wajah penuh kewaspadaan. Sejak proyek film besar itu berjalan, bosnya ini dikenal sangat keras, tegas, dan jarang sekali tersenyum.
"Ada perintah, Pak?" tanya Zikri dengan sopan, berdiri tegak di dekat meja kerja.
Farzhan mengangkat wajahnya. Ekspresinya tetap serius, dingin, dan tenang, namun ada sedikit kilat kegugupan yang samar terlihat di balik tatapan tajamnya.
"Zikri, aku ingin kamu mencarikan sesuatu."
"Siap, Pak. Apakah ini berhubungan dengan dokumen penting atau urusan proyek?"
"Bukan," jawab Farzhan singkat, lalu ia berdeham pelan, berusaha tetap menjaga wibawanya.
"Aku ingin kamu mencarikan toko kue atau tempat pembuatan kue yang paling terkenal dan paling enak di kota ini. Tempat yang biasanya disukai oleh wanita." Ia menggaruk pelan kepalanya yang sama sekali tidak terasa gatal, gerak-geriknya sedikit canggung.
"Yang berisi makanan manis, tampilannya indah dan yang terpenting, terjamin kehalalannya."
Zikri mengerutkan kening, bingung. "Toko kue? Apakah untuk diberikan kepada tamu penting, Pak?"
"Bukan untuk tamu!" potong Farzhan cepat, nadanya sedikit meninggi namun masih terkontrol, tidak kasar seperti biasanya.
"Ini untuk..." Ia berhenti sejenak, menoleh ke samping seolah malu untuk mengatakannya, lalu kembali menatap sekretarisnya dengan nada yang sedikit bangga namun juga canggung.
"Untuk istriku. Aku tau dia sangat menyukai makanan manis. Aku mau membelikannya kue enak sebagai tanda permintaan maaf dan bukti perhatianku padanya."
Mata Zikri membelalak lebar. Mulutnya hampir terbuka tak percaya. Ia menatap wajah bosnya itu, memastikan apakah ia tidak salah dengar.
Farzhan Ibrahim? Pria yang seluruh hidupnya hanya dipenuhi pekerjaan, angka, dan aturan ketat? Pria yang dikenal dingin seperti es dan sulit didekati? Sekarang ingin membeli kue manis untuk istrinya?
"Pa... Pak Farzhan?" tanya Zikri memastikan kembali. "Apakah aku tidak salah dengar? Bukan untuk disumbangkan atau keperluan acara kantor?"
"Benar sekali! Kenapa kamu bertanya begitu? Cukup diam dan lakukan saja!" Farzhan membuang wajah ke arah jendela, telinganya perlahan memerah meski raut wajahnya tetap berusaha dingin dan tenang.
"Cepat cari! Pastikan yang terbaik kualitasnya! Jangan pilih yang biasa saja!"
"Siap, Pak! Siap! Segera akan saya urus!" Zikri buru-buru mengangguk berulang kali, berusaha menahan senyum yang ingin melebar di bibirnya. Dalam hati ia bergumam: Wah, ternyata bosku ini benar-benar sudah mulai jatuh hati. Perubahannya sangat terasa, meski sikap dinginnya masih terlihat.
"Dan ada satu hal lagi," tambah Farzhan sebelum Zikri beranjak, suaranya tetap datar namun tegas.
"Carikan juga seikat bunga. Tapi jangan gunakan bunga mawar, itu terlihat terlalu berlebihan dan biasa saja. Cari jenis bunga yang warnanya cerah, tampilannya manis, dan cocok untuk wanita yang ceria dan lembut seperti dia."
"Siap, Pak! Sudah saya catat semuanya!"
Zikri keluar dari ruangan dengan langkah cepat sambil menutup mulut dengan senyum yang tertahan. Luar biasa... berubah secara perlahan namun pasti. Dulu dingin sekeras batu, sekarang mulai pandai memberikan perhatian. Ternyata perasaan cinta memang bisa mengubah seseorang, pikirnya.
Siang harinya, hujan sudah berhenti, menyisakan udara yang sejuk dan tanah yang basah berbau khas. Farzhan pulang lebih awal dari jam biasanya. Di tangannya, ia membawa sebuah kotak kue mewah berwarna merah muda dan putih, serta seikat bunga matahari yang tampak cerah dan indah. Wajahnya yang biasanya kaku kini tampak sedikit santai, namun tatapannya tetap tajam dan tenang, menyembunyikan rasa penasaran di dalam hati.
Ia membayangkan wajah Vira yang pasti akan terkejut dan senang bukan kepalang saat melihat pemberiannya.
Pasti dia akan sangat senang. Siapa sangka pemimpin besar yang dingin ini bisa bersikap seperhatian ini, batin Farzhan, meski senyum tipis belum terlukis di bibirnya.
Dengan langkah tenang dan teratur, ia membuka pintu rumah secara perlahan.
"Vira... aku sudah pulang. Lihatlah apa yang aku bawa..." serunya, berusaha menyesuaikan nada bicaranya agar terdengar lebih lembut, meski masih terdengar tegas dan rendah.
Namun... suasana rumah terasa hening dan sepi.
Tidak ada Vira yang berlari menyambutnya seperti biasa. Tidak ada aroma masakan yang menggugah selera yang biasanya memenuhi ruangan. Hanya ada keheningan yang terasa asing dan membuatnya tidak tenang.
"Vira?" Farzhan meletakkan kotak kue dan bunga di atas meja ruang tengah, lalu berjalan menyusuri setiap ruangan dengan langkah mantap.
Ia memeriksa dapur, kosong. Ruang tengah, sepi. Akhirnya ia berhenti di depan pintu kamar Vira yang sedikit terbuka.
Farzhan mendorong pintu itu pelan-pelan.
Di dalam ruangan yang agak redup itu, ia melihat Vira terbaring meringkuk di atas kasur. Wajahnya tampak sangat pucat, mata terpejam rapat, dan napasnya terdengar berat serta cepat. Tubuhnya tampak sedikit menggigil meski sudah tertutup selimut tebal hingga ke dada.
Jantung Farzhan seketika terasa berhenti berdetak sejenak. Raut wajahnya yang dingin langsung berubah, senyum samarnya hilang seketika digantikan oleh kekhawatiran yang mendalam.
"Vira?!" Ia langsung bergerak cepat mendekat, duduk di tepi kasur dengan gerakan yang jarang sekali ia tunjukkan, tergesa-gesa namun tetap terjaga. Tangannya yang besar dengan cepat menyentuh dahi istrinya.
"Ya Tuhan... kamu demam tinggi," gumam Farzhan, kali ini nada dinginnya hilang sepenuhnya, digantikan oleh nada cemas yang nyata. "Vi! Bangunlah! Vira!"
Vira membuka matanya perlahan, pandangannya masih kabur dan sulit untuk fokus. Saat sosok Farzhan mulai terlihat jelas di hadapannya, ia mencoba tersenyum lemah.
"Zhan... kamu sudah pulang..." suaranya terdengar serak dan sangat pelan.
"Kenapa kamu diam saja? Kenapa kamu tidak bilang kalau kamu sedang sakit?!" tanya Farzhan, nadanya penuh kekhawatiran, sama sekali tidak ada nada marah atau ketus seperti dulu.
"Kamu lagi demam tinggi, apakah kamu tidak sadar?"
"Aku... aku tidak ingin mengganggu pekerjaanmu..." jawab Vira dengan suara lirih, matanya kembali terpejam karena kelemahan yang melanda seluruh tubuhnya.
"Kepalaku terasa berat, dan seluruh badanku terasa sakit..."
Melihat istrinya yang tampak begitu lemah dan tak berdaya, sesuatu di dalam hati Farzhan terasa tersayat tajam. Niat awalnya untuk memberikan kejutan manis berubah sepenuhnya menjadi rasa khawatir yang mendalam dan perasaan ingin melindungi.
Ia sadar, selama ini Vira-lah yang selalu mengurusnya, melayaninya dengan sabar, dan menghadapi sifat kerasnya dengan penuh pengertian. Sekarang saat Vira sedang jatuh sakit, Farzhan merasa ada kewajiban besar yang harus ia penuhi.
Inilah saatnya ia membuktikan bahwa ia juga mampu peduli dan perhatian.
"Sudah, jangan banyak bicara dulu. Istirahatlah dengan tenang," kata Farzhan lembut, jari-jarinya yang kasar menyisir rambut Vira dengan gerakan sangat hati-hati dan halus.
"Aku sudah pulang. Mulai sekarang, aku yang akan mengurusmu sepenuhnya."
Farzhan langsung bergerak sigap dan terarah. Ia sama sekali tidak memedulikan pakaian kerjanya yang mahal dan rapi, juga melupakan kotak kue dan bunga yang masih tertinggal di ruang tengah. Hal yang paling penting saat ini adalah kesembuhan Vira.
Ia bergegas ke dapur untuk mengambil air hangat dan handuk kecil. Kembali ke kamar, ia mulai mengompres dahi dan pelipis Vira dengan penuh kehati-hatian, persis seperti cara Vira dulu merawatnya saat ia sakit.
"Bersabarlah, setelah demamnya turun nanti kamu akan merasa lebih baik," bisik Farzhan, matanya tak pernah beralih menatap wajah istrinya, tatapannya teduh dan penuh perhatian, jauh berbeda dari tatapan tajam yang biasa ia berikan kepada orang kantor.
Vira yang berada dalam keadaan setengah sadar tersenyum tipis. Ia bisa merasakan tangan besar itu menyentuh dahinya dengan sangat lembut, dan suara suaminya terdengar begitu hangat, jauh lebih hangat dari selimut yang menutupi tubuhnya.
"Zhan..." panggil Vira dengan suara lirih.
"Ya? Apakah kamu mau minum air? Atau ada makanan yang mau kamu makan?"
"Tidak..." Vira menggeleng pelan, lalu tangannya yang dingin dan gemetar menggenggam ujung lengan baju Farzhan dengan lemah. "Tetap di sini ya... jangan pergi ke mana-mana..."
Farzhan tersentak sejenak, lalu raut wajah tegasnya melunak sepenuhnya. Ia mengangguk perlahan, lalu duduk lebih dekat ke tepi kasur, menggenggam tangan Vira dengan tangannya yang kokoh dan hangat.
"Baiklah. Aku tidak akan pergi ke mana-mana. Tidurlah dengan tenang," jawab Farzhan lembut, nada bicaranya begitu jauh berbeda dari sosok dingin, galak, dan kaku yang dulu dikenal semua orang.
Malam itu, Farzhan benar-benar mengubah peran sepenuhnya. Ia yang menyiapkan obat sesuai takaran, ia yang menyuapi makanan sedikit demi sedikit agar Vira bisa menelannya, dan ia yang terus-menerus mengganti kompres air hangat agar demam istrinya segera turun. Ia bahkan rela melewatkan tidur nyenyaknya, duduk di kursi di samping kasur sambil terus memegang tangan Vira, memastikan gadis itu tidur dengan tenang dan aman.
Kue lezat dan bunga indah yang ia beli dengan susah payah mungkin belum sempat ia berikan, namun perhatian serta kasih sayang yang ia berikan sepanjang malam itu jauh lebih berharga dan bermakna daripada apa pun yang bisa dibeli dengan uang.
Farzhan sadar sepenuhnya sekarang. Ia tidak lagi melihat Vira sebagai beban, atau seseorang yang harus diajarkan disiplin dan aturan. Ia mulai melihat Vira sebagai wanita yang sangat berharga dan berarti, seseorang yang ingin ia jaga dan ia lindungi seumur hidupnya.
Ternyata... merasa peduli dan ingin menjaga seseorang itu rasanya seperti ini, batin Farzhan sambil menatap wajah tenang Vira yang sedang tertidur pulas. Tenanglah, Mulai hari ini dan seterusnya, aku akan selalu menjagamu.