Arlan butuh bantuan buat menertibkan arsip OSIS yang berantakan demi akreditasi sekolah. Ghea, yang butuh poin tambahan karena nilai fisikanya terjun bebas, terpaksa jadi "asisten" Arlan. Masalahnya, Arlan itu disiplin tingkat dewa, sementara Ghea adalah ratu rebahan. Di antara tumpukan kertas dan debat kusir, ada rasa yang mulai tumbuh, tapi terhalang sama masa lalu Arlan yang belum selesai.
Tokoh Utama:
Arlan: Ganteng sih, tapi aslinya clueless soal perasaan. Ketua OSIS yang sok sibuk padahal sering stres sendiri.
Ghea: Cewek yang hidupnya santai banget, hobi tidur di perpustakaan, dan punya prinsip "hidup itu jangan dibawa susah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon salsabilah *2009, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Balas Dendam Shinta dan Kejutan di Sekolah
Jika ada satu hal yang lebih panas dari kuah seblak level 10 Ghea, itu adalah hati Shinta. Sejak kejadian di ruang rapat guru dan pengusiran Ghea dari rumah Arlan (yang sebenarnya Shinta ketahui dari hasil "laporan" asisten rumah tangga Arlan yang dia sogok pakai pulsa), Shinta merasa dia sudah di atas angin.
"Liat aja, bentar lagi si cewek berisik itu bakal didepak dari kehidupan Arlan," gumam Shinta sambil memulas lip tint di depan cermin toilet sekolah.
Namun, rencana Shinta bukan cuma sekadar gosip lagi. Dia tahu sebentar lagi akan ada pemilihan "Siswa Teladan" yang poin utamanya adalah reputasi dan nilai akademik. Jika dia bisa menjatuhkan reputasi Arlan melalui hubungannya dengan Ghea, maka Arlan akan kehilangan dukungan sekolah, dan otomatis Ghea akan dianggap sebagai "benalu" yang harus dibersihkan.
Pagi hari di kelas 11-IPA-4, Ghea sedang sibuk mencoba memahami hukum Newton II. Kepalanya berasap. "Newton, Newton... kenapa sih lo nggak duduk di bawah pohon durian aja pas itu? Biar nggak usah ada hukum-hukuman begini," gerutu Ghea sambil mencoret-coret bukunya.
Tiba-tiba, Juna masuk dengan wajah yang lebih panik dari biasanya. Dia nggak bawa cilok, yang berarti ini masalah gawat darurat.
"Ghe! Gawat, Ghe! Lo liat mading depan nggak?" Juna menarik tangan Ghea tanpa permisi.
"Eh, apa-apaan sih, Jun? Gue lagi berusaha jadi pinter nih demi masa depan!" protes Ghea, tapi dia tetap mengikuti langkah kaki Juna yang lebar.
Begitu sampai di depan mading, kerumunan siswa sudah menyemut. Di sana tertempel sebuah poster besar—tapi bukan poster acara sekolah. Itu adalah kliping nilai-nilai Ghea dari semester satu sampai sekarang, yang disandingkan dengan foto Arlan yang sedang membantunya belajar di ruang arsip.
Di bawahnya ada tulisan besar: "APAKAH INI ASISTEN ATAU BEBAN? NILAI 45 MAU JADI PENDAMPING KETUA OSIS TELADAN? JANGAN BIARKAN STANDAR SEKOLAH KITA TURUN!"
Ghea tertegun. Rasanya seperti disiram air es di tengah musim hujan. Dia tahu nilainya jelek, tapi melihat itu semua dipajang untuk dipermalukan di depan seluruh sekolah... itu level jahat yang beda.
"Gila ya, siapa sih yang tega banget begini?" bisik salah satu siswi yang berdiri di samping Ghea tanpa sadar kalau orang yang dibicarakan ada di belakangnya.
"Gue yang naruh."
Suara itu datang dari arah belakang. Shinta berdiri di sana dengan dagu terangkat, dikelilingi oleh gengnya. "Kenapa, Ghea? Kaget? Gue cuma mau buka mata semua orang kalau lo itu nggak pantes ada di dekat Arlan. Lo itu cuma bikin dia jatuh. Liat aja, gara-gara lo, fokus Arlan pecah dan nilai dia kemarin sempat turun di kuis Matematika."
Ghea mengepalkan tangannya. Dia ingin marah, ingin teriak, tapi suaranya seolah hilang.
Tiba-tiba, sebuah tangan besar menarik poster itu dari mading dengan sekali sentakan kuat. Krrreeet!
Arlan berdiri di sana. Wajahnya dingin, lebih dingin dari biasanya. Matanya menatap Shinta dengan tatapan yang bisa bikin orang menggigil.
"Arlan! Kamu liat kan? Aku cuma mau kasih tahu kalau—"
"Selesai, Shinta," potong Arlan pendek. Suaranya rendah tapi bergema di koridor yang mendadak sunyi. "Siapa yang pantes atau nggak pantes ada di samping gue, itu bukan urusan lo. Dan soal nilai Ghea... itu urusan gue karena gue yang jadi tutornya."
Arlan meremas poster itu jadi bola kertas dan melemparnya tepat ke dalam tempat sampah di samping mading. "Jangan pernah pakai nama gue buat ngejatuhin orang lain lagi. Atau lo bakal berurusan sama gue secara resmi di ruang OSIS."
Arlan kemudian menoleh ke arah Ghea. Dia melihat mata Ghea yang sudah berkaca-kaca. Tanpa sepatah kata pun, Arlan menarik pergelangan tangan Ghea, membawa cewek itu menjauh dari kerumunan.
Mereka berakhir di tempat persembunyian favorit mereka: ruang arsip. Arlan menutup pintu, tapi kali ini dia tidak menyuruh Ghea bekerja.
Ghea duduk di atas kardus, menunduk. "Ar... sori. Gara-gara gue, nama lo jadi jelek."
Arlan berdiri di depan Gel, dia menghela napas panjang. "Ghe, liat gue."
Ghea menggeleng. "Bener kata Shinta. Gue emang beban. Gue nggak pinter, nilai gue memalukan, dan gue cuma bisa bawa masalah buat lo. Mungkin... mungkin gue harus berhenti jadi asisten lo."
Arlan tiba-tiba memegang kedua pundak Ghea. Ghea kaget dan mendongak.
"Denger ya, Ghea yang bawel," ucap Arlan, suaranya melembut. "Nilai 45 itu bisa diperbaiki. Tapi nemuin orang yang bisa bikin gue ketawa pas dunia gue kerasa mau runtuh, itu nggak ada rumusnya di buku Fisika manapun. Lo bukan beban. Lo itu... charger gue. Lo paham?"
Ghea terdiam. Kalimat Arlan barusan jauh lebih manis daripada boba manapun yang pernah dia minum. "Tapi Ar, bokap lo..."
"Bokap gue bakal makin marah kalau liat gue jadi robot yang nggak punya perasaan lagi," Arlan melepaskan pegangannya, lalu mengambil sebuah buku paket Fisika yang tebalnya kayak bantal. "Sekarang, mumpung ruang arsip lagi sepi, kita buktiin ke Shinta dan seluruh sekolah kalau lo bisa dapet nilai bagus."
"Hah? Sekarang?"
"Iya, sekarang. Kita mulai dari Hukum Newton. Kalau lo nggak paham juga, gue bakal jelasin pakai perumpamaan seblak sampai lo ngerti," Arlan duduk di lantai, membuka bukunya.
"Ih, serius amat sih! Gue kan lagi sad girl mood nih!" protes Ghea, tapi dia ikut duduk di samping Arlan.
"Nggak ada waktu buat sad girl. Orang pinter itu nggak cuma yang dapet nilai 100, tapi yang nggak menyerah pas dihina. Lo mau kan bikin Shinta melongo pas liat nilai ujian tengah semester lo nanti?"
Ghea mengepalkan tangannya. "Oke! Gaspol, Robot! Ajarin gue sampai gue bisa ngalahin Einstein!"
Selama dua jam berikutnya, ruang arsip berubah jadi ruang bimbingan belajar paling intensif. Arlan ternyata adalah guru yang sangat sabar, meskipun sesekali dia harus memijat keningnya karena Ghea menghitung 5 dikali 5 hasilnya 30.
"Ghea, 5 dikali 5 itu 25. Kenapa bisa jadi 30?" tanya Arlan pasrah.
"Ya kan ditambah pajak PPN 10 persen, Ar! Masa lo nggak tahu sih?" jawab Ghea tanpa dosa.
Arlan cuma bisa geleng-geleng kepala sambil tertawa kecil. Komedi di antara mereka selalu muncul di saat-saat paling tidak terduga. Di tengah sesi belajar itu, pintu ruang arsip diketuk pelan.
Juna masuk membawa dua bungkus siomay. "Woy, pasangan paling hits se-Garuda! Nih, asupan gizi buat otak Ghea yang udah mulai berasap."
"Makasih, Jun! Lo emang penyelamat!" Ghea langsung menyambar siomay itu.
"Eh, denger-dengar Shinta lagi nangis di kelas karena tadi dibentak Arlan di depan mading," bisik Juna sambil cengengesan. "Tapi hati-hati, Ar. Gue denger dia lagi ngerencanain sesuatu pas acara malam keakraban OSIS minggu depan. Dia mau ngundang bokap lo sebagai tamu kehormatan."
Arlan terdiam. Sumpitnya tertahan di udara. "Tamu kehormatan?"
"Iya. Dia mau bikin momen di mana lo harus milih antara jabatan lo atau... ya, asisten lo ini," Juna menunjuk Ghea.
Ghea berhenti mengunyah siomaynya. Ketegangan kembali terasa. Ternyata kemenangan di depan mading tadi cuma ronde pertama. Ronde yang sesungguhnya—di mana Arlan harus benar-benar berhadapan dengan ayahnya di depan publik—akan segera datang.
Arlan menatap Ghea, lalu menatap Juna. "Biarkan dia undang Ayah. Gue udah capek lari."
Ghea memegang tangan Arlan pelan. "Apapun yang terjadi minggu depan, gue nggak akan biarin lo sendirian, Ar. Gue bakal dandan paling cantik, terus kalau perlu gue bakal kasih presentasi ke bokap lo kenapa kerupuk kaleng itu sehat buat jiwa."
Arlan tersenyum, kali ini senyumnya terlihat lebih berani. "Gue pegang janji lo, Ghe."
Malam itu, Shinta sedang duduk di kamarnya, menelepon seseorang. "Iya, Om. Arlan sangat sibuk minggu depan, tapi dia pasti seneng kalau Om datang di acara malam keakraban. Ada sesuatu yang harus Om lihat sendiri tentang perilaku Arlan di sekolah."
Di sisi lain telepon, suara berat Papa Arlan menjawab singkat, "Saya akan datang."
Badai besar sedang bersiap menerjang SMA Garuda. Dan pusat badainya adalah sebuah ruangan kecil di lantai tiga berisi kertas-kertas tua.